
Aku sudah selesai mandi dan menyisir rambut panjangku. Aku memakai pelembab wajah dan bedak bayi tabur serta lip gloss. Semuanya agar tidak ada yang mengetahui kalau semalam aku kurang tidur. Biarlah mereka menganggap wajahku segar karena tidur pulas padahal mereka tidak tahu apa yang semalam terjadi.
Aku mengenakan celana joger dan atasan kaus warna hitam tangan pendek. Rambut basahku biarkan saja agar kering sendiri. Hair dryer lupa kubawa dan tak ada di kamar tamu jadi aku hanya mengeringkannya asal saja dengan handuk.
Aku langsung menuju halaman belakang yang terdengar ramai oleh obrolan. Aku tak membawa Hp karena sudah kusetel alarm dan kutaruh di nakas agar Dio bangun nanti.
Benar saja di halaman belakang sudah ramai. Ada Mama Lia, Tante Irma dan sisanya aku tidak tahu. Aku berjalan mendekati Mama Lia yang langsung tersenyum melihat kedatanganku.
"Eh ada Ayu. Sini duduk, Yu." Tante Irma menyuruhku duduk di sebelahnya. Mereka semua duduk di lantai dan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mengelap daun pisang, ada yang membuat kulit dadar dan ada juga yang bagian finishing.
"Buat apa Tante?" sapaku memulai percakapan.
"Bikin sosis solo Yu. Terus bikin kue pisang bugis ketan hitam."
"Ayu bisa bantuin apa nih Tante?"
"Yu, kamu kenalan dulu dong sama yang disini." Mama Lia mengingatkanku bahwa aku belum mengenal yang ada disini selain Mama Lia dan Tante Irma. "Ini Tante Yuli, istrinya Om Ridho adik Mama."
Aku mencium tangan Tante Yuli yang sedang sibuk membuat kulit dadar untuk sosis solo. "Ini siapa, Mbak?" tanya Tante Yuli heran.
"Oalah aku lupa cerita. Ini tuh istrinya Dio. Ayu namanya." Mama Lia memukul keningnya karena lupa hal yang penting.
"Istrinya Dio? Loh bukannya Dio pacarannya sama Sheila yang model internasional itu? Ups..." Tante Yuli spontan menutup mulutnya yang keceplosan itu. Ia lalu menatap Mama Lia dengan pandangan minta maaf. Sekarang gantian Mama Lia yang memelototi kebodohan Tante Yuli.
"Ini Bule Herni, Yu. Adiknya Almarhum Bapak. Udah kayak Neneknya Dio sendiri. Kamu manggilnya samaan aja kayak Dio. Panggil Uti Ni." Tante Irma mencairkan suasana dengan mengenalkanku pada perempuan yang sudah sepuh yang sedang membungkus kue bugis setelah diisi campuran gula dan kelapa.
__ADS_1
Aku lalu menyalami Uti Ni. "Cantik kamu, Ndo. Pantas saja Dio suka. Uti lebih suka Dio sama kamu daripada bekas pacarnya yang gak sopan itu."
Deg. Kok semua udah kenal Sheila? Apakah Sheila pernah diajak dan diperkenalkan dengan semua keluarga Dio? Aku berusaha menyembunyikan beragam pertanyaanku dengan memasang senyum.
"Ayu bantuin Tante Yuli aja boleh? Kayaknya seru bikin kulit dadar." Tante Yuli yang tidak enak karena sudah keceplosan langsung memasang muka senang karena pada akhirnya tugasnya ada yang menggantikan.
"Boleh banget, Yu. Sini Tante Yuli ajarin." ternyata Tante Yuli tidak semenyebalkan yang aku bayangkan. Asyik kok orangnya. Mungkin terlalu ceplas-ceplos saja.
"Dio mana, Yu?" Mama Lia mencari keberadaan putra semata wayangnya yang tak kunjung datang padahal para pria sudah berkumpul di depan, sarapan sekaligus ngopi.
"Masih tidur, Ma. Mau Ayu bangunkan?" aku bersiap melepaskan wajan kulit dadar untuk membangunkan Dio.
"Gak usahlah, Yu. Pasti Dio masih kecapean karena banyak kerjaan kemarin. Di pesawat aja Dia masih ngerjain tugas kantornya. Biarlah Dia tidur lebih lama gak usah digangguin." larang Mama Lia. Huh tidak tahu saja Mama kalau Dio bukan capek karena kerjaan kantor melainkan karena mengerjaiku semalam dengan membuat jejak kissmark dimana-mana.
Aku duduk kembali dan berkutat dengan tugasku membuat kulit dadar. Tante Yuli sekarang mengisi kulit dadar buatanku dengan daging sapi isiannya.
"Hmm... Dio baik kok. Dan juga bertanggung-jawab." jawabanku tidak memuaskan rasa ingin tahu Tante Yuli.
"Terus? Romantis gak?" tuh kan Tante Yuli masih penasaran.
"Gimana ya Tante? Dio mah jahil orangnya. Gak ada romantis-romantisnya sama sekali." jawabku dengan jujur.
Tak kusangka ternyata jawabanku membuat Tante Yuli dan yang lainnya malah tertawa. Loh ada yang lucu ya?
"Menurut Tante, Cowok yang tidak romantis itu tipikal cowok setia loh Yu. Daripada cowok yang romantis dan menebar pesona pada setiap wanita, ya gak?" Tante Yuli meminta dukungan dari yang lain.
__ADS_1
"Betul." jawab yang lain kompak.
"Iya juga sih." jawabku pendek. Ah masa setia? sampai sekarang saja Dio masih berhubungan dengan Sheila.
"Tapi Dio memang anak yang baik sih, Yu. Satu lagi, Dio tuh penurut apa perkataan orang tuanya. Kan anak yang sayang orang tuanya pasti akan sayang istrinya juga." Tante Yuli belum selesai memuji keponakan suaminya tersebut.
"Iya." aku memasang seulas senyum. Mereka lalu melanjutkan obrolan yang lain. Aku kembali terdiam. Dio memang penurut apa perkataan orang tuanya. Apakah Dio akan menuruti keinginan Papa untuk menikahi Sheila sesuai rencananya? Kali ini aku ingin Dio jadi anak durhaka demi kebahagiaanku. Aku tak ingin Dio mengikuti saja keinginan Papa seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
Orang yang diomongin pun tiba. Tahu saja Dio kalau Ia menjadi trending topik di kalangan emak-emak. Dio datang dan langsung mendekatiku.
"Yu, mau itu dong." Dio menunjuk tampah berisi sosis solo yang sudah selesai dibuat. Aku yang sekarang membantu mengisi sosis solo pun mengambilkan untuknya.
"Ini."
"Belum cuci tangan. Suapin." ih ada apa dengannya? ini kan di depan keluarganya kenapa juga minta disuapin? Pake alesan belum cuci tangan lagi, memangnya pas mandi gak pakai sabun?
Aku pun menuruti saja kemauan Dio. Kubuka plastik pembungkusnya dan menyuapi Dio.
"Cie... masih anget jadi pengantin baru... jadi ngiri nih Tante." ah si usil Tante Yuli pasti langsung komen deh sesuai dugaan.
"Memang mereka kayak gitu sejak di bandara. Saya aja ngeliatnya pengen mesra-mesraan kayak mereka eh Papanya Dio malah melotot." pernyataan Mama Lia mendapat sambutan tawa dari yang lainnya.
"Katanya Dio gak romantis, Yu. Ini apa namanya kalau bukan romantis?" Tante Irma sekarang mempertanyakan jawabanku tadi.
"Ayu mah pemahlu Tante. Pahdahal mah suhka kalou Dio beghinih." Dio ikut mengomentari dengan mulutnya yang penuh dengan suapan sosis solo dariku.
__ADS_1
"Cie...cie..." semuanya kompak menggodaku sampai wajahku memerah karena malu. Yang lebih parahnya lagi.....cup... Dio tiba-tiba mencium pipiku lalu kabur membuat semua yang ada di halaman belakang tertawa dengan ulah jahilnya.
"Sudah... sudah... kalian meledek aja. Kasihan kan Ayu jadi malu. Mukanya merah tuh." Uti Ni bagai penyelamatku. Sesi menggodaku pun selesai. Dio juga sudah kembali ke kumpulan para bapak-bapak di depan.