
Aku terjaga dari tidur dan tak mendapati Dio berada di sampingku. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 1 malam. Kemana Dio? Biasanya juga ***** alias nempel langsung molor.
Sejak menikah dengan Dio, aku sudah terbiasa tidur cepat dan tidak bisa tidur jika tidak ada Dio di sampingku seakan ada sesuatu yang hilang. Aku turun dari tempat tidur berniat mencari laki-laki yang sekarang menjadi suamiku tersebut.
Ruang tamu masih gelap lampunya sejak aku matikan tadi. Aku mencari ke dapur dan kulihat taman belakang rumah ternyata Dio ada disana.
Dio masih asyik membuat design furniture baru. Wajahnya terlihat amat bersemangat. Baru kali ini aku lihat Dio seakan hidup, setelah selama ini seakan kosong.
"Kamu belum tidur?"
Dio yang tidak mengetahui kedatanganku mendongak kaget.
"Eh Ayu. Belum. Lagi bikin model baru nih." katanya dengan semangat yang terpancar dari sorot matanya.
"Sudah malam. Tidurlah. Besok bisa kamu lanjutkan lagi."
"Aku kalau ada kamu malah gak konsen Yu lebih baik saat kamu lagi tidur he..he..he.."
"Aku tau kamu excited banget ngerjain semuanya. Tapi.... tapi...." aku ragu meneruskan ucapanku.
"Tapi apa?" Dio menghentikan kerjaannya demi mendengarkan ucapanku.
"Aku... Aku gak bisa tidur nih kalau gak ada kamu!" Aku menundukkan wajahku yang malu. Pasti sudah merona merah sekarang.
Dio tersenyum mendengar pernyataanku. Ganteng banget senyumnya, sumpah deh.
"Yaudah aku selesai ngerjain ini baru tidur ya. Dikit lagi kok." Aku mengangguk dan menunggu Dio sambil menyandarkan kepalaku di kursi. Tanpa terasa aku pun terlelap dan saat bangun aku sudah di kamar.
*****
Aku sedang menyiapkan sarapan pagi untuk aku dan Dio ketika pintu rumah diketuk oleh seseorang. Kumatikan kompor dan mencuci tanganku yang kotor lalu berjalan ke arah pintu.
Ternyata tamu yang datang adalah Papa dan Mama Dio. Papa dan Mama habis bersepeda dan main ke rumahku. Kubukakan pintu dan tak lupa mencium tangan mereka yang sekarang juga menjadi orang tuaku.
"Silahkan masuk Ma... Pa..." kataku sambil tersenyum lebar.
"Iya Sayang." Mama dan Papa pun masuk.
Berbeda dengan Mama yang selalu riang, Papa lebih banyak diam. Aku yakin kalau bukan karena kejadian malam itu dengan Dio, pasti Ia tidak akan mau memiliki menantu dari keluarga yang tidak sederajat dengannya, seperti aku ini.
__ADS_1
"Dio mana?" tanya Papa setelah duduk di sofa ruang tamu.
"Masih tidur, Pa. Ayu bangunkan dulu. Papa sama Mama mau minum apa? Kopi atau teh? Nanti sekalian kita sarapan bersama ya."
"Mama teh saja. Kalau Papa kopi hitam satu sendok gulanya setengah sendok saja." sahut Mama.
Aku pun meninggalkan ruang tamu untuk membangunkan Dio yang masih tertidur lelap. Aku kasihan sebenarnya karena Ia masih ngantuk habis begadang tapi berhubung kedua orang tuanya datang ya harus aku bangunkan.
"Dio... io... bangun.." kutepuk bahunya pelan. Tidak seperti Dio yang suka menendang kakiku kalau membangunkanku.
"Hmm... kenapa? Aku masih ngantuk nih. Bobo lagi aja yuk." Dio malah merangkulkan tangannya ke pinggangku.
"Iissh.. bangun. Ada Mama dan Papa kamu di ruang tamu."
Dio langsung duduk tegak. "Papa sama Mama kesini?" tanyanya memastikan.
"Iya. Mereka bersepeda kesini. Sana cuci muka dan temui orang tua kamu. Aku siapin minumam dan sarapan buat kita nanti."
Dio langsung bangun dan mencuci mukanya. Sepertinya Dio amat takut dengan Papanya. Mungkin karena Papa terlalu tegas. Aku juga merasa takut jika berhadapan dengan Papa Mertuaku itu. Killer istilah waktu aku sekolah dulu.
Aku menyuguhkan teh dan kopi untuk Mama dan Papa. Dio tak lama keluar dan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Memangnya tidak boleh Mama kesini?" tanya Mama balik.
"Boleh dong, Ma. Dio kan kangen sama Mama." Dio pun bermanja-manja dengan Mamanya.
Aku meninggalkan mereka dan melanjutkan membuat nasi goreng untuk menu sarapan nanti. Sayup-sayup kudengar percakapan mereka.
"Kata Pak Wahyu atasan kamu sekarang kamu pulang on time terus ya? Mana loyalitas kamu terhadap perusahaan?" tegur Papa.
"Iya, Pa. Aku harus jemput Ayu pulang kerja. Kasihan kalau Dia naik kendaraan umum jauh dan macet pula. Papa gak usah khawatir, pekerjaan kantor yang belum selesai Dio bawa ke rumah kok. Jadi tetap Dio kerjakan tepat waktu." Aku tiba-tiba merasa bersalah pada Dio. Demi menjemputku Dio sampai ditegur sama Papanya. Apa lebih baik aku naik kendaraan umum saja ya?
"Jangan membuat malu nama Papa disana. Walau seisi kantor tidak tahu siapa kamu, tetap saja kamu harus menjaga nama baik Papa. Jangan sampai ketika mereka tahu kamu anak Papa ada komentar negatif tentang kamu." kali ini Papa lebih kearah mengancam dibanding menegur.
"Iya, Pa. Sekarang Dio udah lebih baik kok. Udah gak pernah diomeli Pak Wahyu lagi." Dio berusaha membanggakan hasil kerjanya dan aku merasa kasihan kok sepertinya Papa tidak menghargai Dio ya?
Sarapan sudah siap dan sudah kusajikan diatas meja. Aku lalu memanggil mertua dan suamiku untuk makan bersama.
Menu sarapan kami sederhana saja. Hanya nasi goreng dan nugget. Itu pun nugget aku buat sendiri dengan campuran sayuran agar kami berdua lebih sehat.
__ADS_1
Aku menyendokkan nasi ke piring Dio. Sedangkan Mama menyendokkan ke piring Papa. Papa melihat masakanku dengan under estimate.
"Sarapan kalian minimalis sekali. Kamu selalu menyajikan ini untuk anak Papa?" ucap Papa yang terasa amat nyelekit di hatiku.
"Papa coba dulu dong masakan Ayu. Walau minimalis tapi Ayu buat semuanya homemade. Contohnya nugget ini, bikin sendiri Dia. Didalamnya ada sayuran yang Dio gak suka tapi setelah dibuat nugget, Dio suka banget." Dio berusaha membelaku. Aku melemparkan pandangan penuh terima kasih padanya.
"Oh." jawab Papa singkat lalu memakan sarapan yang kubuat. "Lumayanlah."
Aku hanya tersenyum lega setidaknya Papa menyukai masakanku.
"Enak Yu. Kamu pinter masak juga ya rupanya." puji Mama.
"Cuma yang gampang aja kok, Ma." aku berusaha merendah.
"Ini mah enak Yu namanya. Mama suka masakan kamu. Oh iya bagaimana selama kalian menjalani rumah tangga ini?"
Aku suka Mama Mertuaku. Baik dan ramah. Pantas saja Dio memuji Mamanya sedemikian rupa. Selain cantik juga penuh kehangatan.
"Ya kita jalanin aja Ma suka dan dukanya. Masih tahap saling mengenal." jawabku.
"Mama sih maunya cepat dikasih cucu sama kalian."
"Uhukk...uhuk..." Dio yang asyik makan pun tersedak. Cepat-cepat kutuangkan air putih untuk Ia minum.
"Pelan-pelan atuh Io. Minum dulu." kataku sambil menepuk-nepuk lembut punggung Dio. Setelah meminum air dariku tersedaknya pun hilang.
"Kamu segitu groginya mama tagih masalah cucu. Mentang-mentang sering bikinin Mama cucu ya?" Mama tertawa senang.
"Ma." suara teguran Papa menghentikan tawa Mama.
"Iya." jawab Mama sambil menatap Papa takut-takut. Ia tahu kalau suaminya memintanya tidak membahas masalah cucu hanya dengan satu teguran kata saja.
"Papa dengar Sheila akan balik lagi ke Indonesia. Kapan?" kok tiba-tiba Papa bertanya tentang Sheila. Didepanku lagi. Perasaanku yang awalnya senang dipuji karena masakanku enak tiba-tiba berganti menjadi tak enak.
"Iya. Gak tahu kapan. Dio tanya gak pernah dijawab. Sibuk kali." jawab Dio dengan acuh.
"Kalian masih berhubungan kan? Jangan karena pernikahan kamu dan Ayu kalian tidak berhubungan lagi. Bagaimanapun Sheila anak teman Papa. Jangan kamu sakiti hatinya." ucap Papa ketus.
Deg... Aku kaget dengan perkataan Papa barusan. Maksudnya apa? Kenapa Dio tidak boleh menyakiti hatinya sedangkan hatiku yang saat ini sakit tidak ada yang memperdulikan. Aku menatap Dio minta dukungan agar membelaku seperti tadi. Tapi betapa kecewanya aku saat mendengar jawaban Dio.
__ADS_1
"Iya, Pa." ternyata Dio pun menuruti perkataan Papanya.