
⚘⚘⚘ Hi Semua! Jangan lupa baca novel terbaruku ya yang berjudul WARM YOUR HEART ya. Aku tunggu vote dan like dari kalian semua. Luv u all 😘😘😘😘⚘⚘⚘
Kevin terlihat amat sangat bahagia berenang bersama Daddy dan Akinya. Papa Putra juga tak segan-segan berbuat sesuatu yang konyol hanya demi mendapatkan simpati dan perhatian dari Kevin.
"Tuh kamu lihat, Yu. Anak sekecil Kevin aja bisa meluluhkan gunung es kayak Papa." Mama Lia menunjuk ke arah ketiga laki-laki yang asyik bermain air itu.
"Kevin memang hadir membawa kebahagiaan untuk semua orang, Ma." kataku dengan bangga.
"Mama iri saja sama Kevin. Baru kenal sudah langsung membuat Papa luluh tak berkutik. Sementara Mama harus sering ngambek dan pergi ke Semarang agar Papa mau mengalah sama Mama." curhat Mama.
"Oh iya ya aku sebenarnya mau nanya sama Mama. Kenapa sih Mama ke Semarang melulu? Guntur sering cerita kalau Mama lagi nginep ke Semarang dan yang terakhir waktu Mama buatkan kentang balado buat Guntur juga Mama lagi ke Semarang kan?"
"Kamu tahu juga ya? Iya sih kan kamu selama ini ikut Guntur kerja di Palembang jadi masih tau sedikit banyak tentang Mama."
"Sebenernya kentang mustofa yang Mama buatkan waktu itu inisiatif Guntur karena aku kangen masakan Mama. Dan karena Mama buatnya gak pedes Kevin doyan banget loh." aku memuji masakan Mama yang memang enak tersebut sampai Kevin aja suka.
"Yang bener? Wah gak sia-sia dong ya Mama sampai berkutat di dapur ternyata demi menantu dan anak Mama ternyata." Mama tersenyum senang. Bangga dengan hasil masakannya.
"Bener Ma. Enak pokoknya. Oh iya tadi kan kita lagi ngebahas Mama yang suka kabur ke Semarang. Gimana ceritanya? Ayu boleh tau gak cerita Mama?"
"Boleh dong Sayang. Sebenarnya Mama gak boleh cerita sama Dio, tapi Mama rasa kamu harus tahu." Mama diam sejenak mengatur perkataan apa yang akan Ia ucapkan. Ia tak mau sampai perkataannya nanti malah membuat keadaan yang sudah baik seperti sekarang malah memburuk lagi.
"Setelah kepergian kamu, Dio sempat down. Ia sampai dirawat di Rumah Sakit selama sebulan."
Aku langsung memotong ucapan Mama. "Yang bener, Ma? Kok Dio gak bilang? Ini pasti semua karena salah Ayu yang ninggalin Dio deh."
__ADS_1
"Kamu tenang dulu Sayang. Nanti Dio melihat ke arah kita dan malah marah sama Mama." aku menarik nafas mencoba menenangkan diriku. "Dio kan memang waktu itu lagi gak enak badan, tambah down lah kondisi fisiknya saat itu. Nah Mama pikir sekalian aja Dio perawatan untuk kondisi mentalnya juga."
"Disitu Mama mulai memikirkan omongan kamu. Kalau Mama gak berani siapa yang akan melindungi Dio dari sikap arogan Papanya. Mama sedih Yu melihat keadaan anak Mama. Bukan... Dio bukan tertekan karena kamu Yu. Ia tertekan karena dirinya yang pengecut dan tidak tegas untuk mempertahankan keluarganya sendiri hanya karena bimbang dengan apa yang Ia sebut cinta. Jadi Mama memutuskan untuk berpisah saja dengan Papa dan hidup berdua dengan Dio. Mama hanya fokus dengan Dio. Menyembuhkan trauma masa lalunya dan juga membangkitkan semangat hidupnya lagi."
"Saat itu Papa mulai menyadari harta yang sebenarnya Ia tak hargai yakni keluarga justru adalah harga yang paling berharga. Harta benda yang Ia banggakan justru tak Ia pedulikan lagi. Papa pun mulai merubah dirinya. Papa mulai introspeksi diri. Kalau Papa mulai arogan ya Mama tinggal aja ke Semarang, langsung deh Papa ngemis-ngemis cinta Mama lagi."
"Gak usah kamu pikirkan lagi Yu. Semua sudah berakhir. Kamu lihat saja sekarang. Papa dan Dio terlihat amat akrab dan dekat. Dulu mana pernah? Dio tuh kayak kerbau yang dicocok hidungnya. Manut banget sama perkataan Papa. Sekarang Dio sudah berpikir dewasa. Papa juga sudah kehilangan taringnya. Kita ambil hikmahnya saja atas kejadian masa lalu. Yang penting kita sekarang hidup rukun dan damai selamanya."
Aku menghapus air mata yang tak kuasa kubendung. Ada penyesalan dalam dadaku meninggalkan suami yang dulu begitu rapuh. Aku dulu hanya memikirkan diriku sendiri. Aku memikirkan kalau dunia begitu kejam padaku dan bayi dalam kandunganku.
Hatiku masih menyimpan sakit hati yang besar. Sakit hati karena Dio tidak mengejarku sampai ke rumah dan membujukku agar tidak pergi. Setidaknya kalau Ia dulu membujukku mungkin aku tidak jadi pergi. Sampai saat aku menengok ke belakang sebelum pergi dengan Guntur, aku tak mendapati keberadaan Dio.
Sekarang aku baru tahu. Alasan Dio tidak mengejarku saat itu. Alasan Dio baru ke rumah orang tuaku setelah lebih dari sebulan kepergianku merantau ke Palembang.
Kalau saja aku tahu, tak akan kubiarkan Dio terus berlutut di rumah orang tuaku. Tak akan kubiarkan Dio menanggung sendiri beban deritanya selama ini.
"Jangan lari Sayang. Licin. Takut jatuh!" jiwa keibuanku keluar. Naluri akan bahaya yang akan menimpa anakku kalau Ia tak mendengarkan nasehat yang kuucapkan.
"Daddy gendong aja ya. Takut kamu jatuh." Dio dengan sigap menggendong Kevin. Aku terpukau dengan pemandangan otot Dio yang menonjol dimana-mana. Indaaaahhh sekali. Rasanya tak rela dibagi-bagi.
"Sini pakai handuk dulu. Keringkan badannya biar enggak kedinginan." Aku memakaikan jubah mandi pada tubuh mungil Kevin. "Susu hangatnya minum dulu. Kelamaan berenang bibir kamu sudah membiru tuh." Kevin menurut saja dengan perintahku. Ia duduk di dekat Mama Lia dan meminum susunya.
"Buat aku mana?" tanya Dio tak mau kalah. Aku memberikan jubah mandinya dan segelas susu hangat juga untuk Dio.
Dio memperhatikan mataku yang masih agak memerah karena habis menangis. "Kamu kenapa Sayang? Kamu habis nangis?" tuh kan. Dio tuh peka kalau menyangkut perasaanku.
__ADS_1
"Ah gak apa-apa kok. Hanya kelilipan aja." aku tahu kalau aku gak jago berbohong. Namun Dio bisa mengerti pasti aku ada alasan tidak mengatakannya sekarang.
"Nanti cerita ya sama Aku ada apa. Oke?"
Aku mengangguk. Dio pun tersenyum lalu mengusap rambutku.
"Kalian nginep kan disini?" Papa Putra yang baru datang langsung bertanya padaku dan Dio.
"Iya. Tenang aja Pa. Kita nginep kok." jawab Dio.
"Baguslah. Rumah ini sepi banget kalau cuma Mama sama Papa aja yang tinggal berduaan. Kevin tinggal disini aja ya sama Papa. Nanti kalian buat aja adeknya Kevin lagi yang banyak." kata Papa Putra dengan santainya.
"Enak aja bikan bikin. Emangnya gak pake tenaga dan urat?" protes Dio.
"Ya kalian pergi bulan madu saja. Ke mana saja terserah kalian. Tinggalin Kevin sama Mama. Nanti perusahaan Papa yang pegang. Yang penting kamu kasih banyak cucu buat Mama dan Papa."
"Nih Aki-Aki enak banget kalo nyuruh ya. Tapi boleh juga sih memang Dio pengen bulan madu sih. Eh jangan deh, Dio kan udah janji mau ajak anak buah Dio ke Dufan. Nanti Dio titip Kevin ya sama Papa dan Mama."
Kali ini Mama yang sejak tadi diam ikut protes. "Enak aja mau nitipin sama Mama. Ya Mama sama Papa juga mau ikut ke Dufanlah. Nanti pas kalian main permainan ekstrim biar Kevin sama Mama Papa ke Istana Boneka. Gimana?"
"Boleh. Dio setuju tuh kalau gitu. Jadi Dio pesen tiket dulu ya buat ke Dufan. Minggu depan aja gimana? Tapi jangan weekend nanti penuh. Weekday aja, gimana?"
"Papa setuju. Nanti Papa suruh sekretaris kosongin jadwal kita berdua."
"Oke ya sudah diputusin nih. Papa kabarin bisanya kapan nanti Dio pesankan tiket."
__ADS_1
"Iya."
Aku memperhatikan kekompakkan Dio dan Papa Putra dalam diam. Benarkah yang kulakukan dulu sudah benar? Seperti perkataan Mama, kepergianku membuat anak dan bapak itu makin dekat. Kalau memang seperti itu aku tak akan terlalu menyalahkan diriku sendiri lagi.