
Tenggorokanku rasanya haus banget. Kulirik jam dinding di kamar, jam 11 malam. Tempat tidur di sampingku kosong, dimankah Dio? Apakah Ia belum tidur sejak tadi?
Aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Kuambil segelas air putih dan meminumnya. Setelah selesai minum aku menuju halaman belakang, pasti Dio disana deh.
Tebakanku ternyata benar. Dio sedang membuat ukiran kayu untuk pemanis di kitchen set yang dibuatnya.
Sejak menandatangani kontrak dengan Pak Dhana 2 hari lalu, Dio terlihat amat bersemangat. Dalam sorot matanya terlihat kalau Ia amat senang menjalani hobby dan juga cita-citanya yang Ia idamkan sejak dulu.
Aku kembali lagi ke dapur dan membuatkan segelas susu cokelat hangat untuknya.
"Udah malam, io. Walau besok libur tapi jangan sampai begadang, ingat untuk menjaga kesehatan." aku meletakkan susu cokelat hangat buatanku di meja kosong deķatnya.
"Loh kamu bangun, Sayang? Maaf ya aku gak nemenin kamu tidur jadinya kamu gak bisa tidur deh."
"Aku bangun karena haus, io. Kamu gak capek apa dari pulang kerja masih harus kerja lagi? Jangan kecapean nanti kamu sakit, io."
"Iya, sebentar lagi ya Sayang. Dikiiit lagi. Kamu balik tidur lagi ya."
"Ya sudah aku tidur lagi. Jangan lupa diminum susu cokelatnya mumpung masih hangat."
"Iya, Sayang."
Aku kembali lagi ke kamar dan melanjutkan tidurku.
******
"Ayu.... Sayang... bangun dong." Dio membangunkanku sambil membelai lembut rambutku.
Aku membuka mataku dengan malas. Rasanya aku belum lama tidur eh sudah dibangunkan. Kuambil Hp yang aku taruh di nakas. Jam setengah 6 pagi.
"Kenapa? Kok bangunin aku pagi-pagi?" kataku sambil menguap. Kuregangkan tanganku.. ah... mengulet emang paling nikmat rasanya.
"Kita ke pasar yuks."
"Ngapain? Kan minggu kemarin sudah belanja banyak?"
"Jam 8 nanti teman-temanku dari Bengkel Kayu akan datang. Kita beli cemilan buat mereka. Mau ya?"
"Oh yaudah aku cuci muka dulu ya." aku bangun dan langsung mencuci mukaku di kamar mandi. Kuganti piyama tidurku dengan celana joger dan jaket hodie.
Dio sudah menunggu diatas motor scoopynya. Aku langsung naik di kursi penumpang. Dio lalu melajukan motornya pelan karena udara masih dingin.
"Kamu semalam tidur jam berapa?"
__ADS_1
"Gak lama kamu balik ke kamar aku langsung beresin kerjaan aku, mandi dan tidur deh." jawab Dio sambil tetap konsentrasi mengemudi.
"Gak ngantuk?" aku kembali menguap.
"Gak kok. Aku kalau semangat ngelakuin sesuatu rasanya gak butuh tidur he..he...he..."
"Ya jangan gitulah. Harus tetap cukup istirahat. Jangan terlalu di forsir tenaganya. Btw kita mau beli cemilan apa aja sih?" aku memeluk Dio makin erat.
"Hmm... beli kopi pastinya. Mulai sekarang kita harus stok kopi buat yang kerja di rumah. Lalu beli pisang. Kamu bisa kan bikin pisang goreng?"
"Bisalah. Itu mah gampang. Mau aku buatkan bakwan juga? Atau tahu berontak sekalian? Aku bisa kok bikin itu semua." aku menyombongkan kemampuanku memasak. Tak sia-sia Mama selalu mengajarkanku memasak sejak remaja.
"Beneran kamu bisa? Wah hebatnya istriku ini."
"Bisa banget deh mujinya. Maniiiiisss banget."
"Aku yang manis? Bukan manis aja kali, Yu. Ganteng, baik hati, bertalenta, berwibawa, suka menolong......."
"Panjaaaaaangggg banget deh poin kegeeran kamu."
"Itu bukan ge er, Yu. Itu fakta."
"Ya...ya...ya..."
*****
Pisang goreng mentega sudah selesai kugoreng. Aku tinggal membuat kopi lalu menghidangkannya.
Mereka berkumpul di garasi depan rumah yang sudah disulap Dio menjadi ruang kerja. Biasanya garasi tersebut buat tempat bobo Scoopy hitam saja karena kami tidak punya mobil.
Kayu yang Dio pesan juga sudah sampai. Pokoknya berantakan deh depan rumah kami. Ibu-ibu komplek yang lewat suka curi-curi pandang melihat apa yang kami lakukan.
Aku menyajikan kopi dan cemilan lalu kutaruh di meja depan.
"Yu, sini kenalan dulu sama teman-teman aku." Dio melambaikan tangannya memanggilku.
Kuhampiri Dio yang sedang asyik membicarakan rencana dan model kitchen set yang akan dibuat.
"Kenalin ini istri aku. Ayu namanya." satu persatu aku memperkenalkan diri. Pak Budi dan Pak Ari adalah yang berusia 45 tahunan. Yang seumuran Dio bernama Yono dan Anto.
"Cantik sekali istri kamu, io." puji Pak Budi.
"Iya dong, pinter kan saya milihnya?" pamer Dio.
__ADS_1
"Bisa aja, Kang Kayu milihnya." celetuk Yono.
"Udah jangan kebanyakan diliatin. Nanti semuanya ngiler lagi pengen punya istri kayak gini. Ayo dinikmatin cemilan dan kopinya."
Aku meninggalkan mereka yang sibuk dengan urusannya. Aku lanjut membereskan rumah dan berkutat dengan setumpuk cucian yang belum di setrika.
Suara pahatan kayu dan ketuk-ketuk paku sekarang sudah menjadi alunan musik yang akan terdengar di rumahku. Aku senang melihat Dio yang terlihat bersemangat menjalaninya.
Kerjaan rumah sudah beres, waktunya aku mandi lalu lanjut nonton drakor kesukaanku. Aku baru saja selesai mandi ketika bertemu Dio di ruang tamu.
Pandangan Dio langsung membelalak saat melihatku. Aku yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk merasa bingung kenapa Dio sekaget itu melihatku.
"Kenapa, io?"
"Itu celana kamu."
"Kenapa celana aku? Ada yang sobek?" aku melihat ada kesalahan apa di celanaku sambil Dio membelalakkan matanya seperti itu.
"Bukan sobek. Ganti sekarang! Aku gak mau orang lain melihat paha mulus kamu!" omelnya.
"Kan aku hanya di rumah aja, io. Kalau aku keluar nanti aku ganti celana." kataku berdalih.
"Kalau mereka mau ke kamar mandi gimana? Pasti mereka akan ngeliat kamu pakai baju sexy begitu kan? Pokoknya ganti. Aku gak mau tau!" kalau Dio sudah bertitah aku bisa apa?
"Iya..iya... Aku ganti sekarang." kataku sambil memanyunkan bibirku.
"Nah gitu dong. Baru istri yang baik. Sini aku cium dulu...." Sebelum Dio mencium, aku langsung kabur masuk ke kamar untuk mengganti celanaku.
Dio sudah kembali lagi ke halaman depan dengan teman-temannya. Aku memilih judul drama yang aku ingin tonton lalu menyetelnya.
Episode pertama seru filmnya. Mulai episode ketiga aku mulai ngantuk karena filmnya monoton. Akhirnya aku pun ketiduran di depan TV. Film kemana aku kemana.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Saat aku bangun aku sudah memeluk gulingku dengan erat. Pasti Dio yang memindahkanku ke kamar. Aku berjalan ke dapur untuk minum air putih.
Dio terlihat sedang makan siang di meja makan.
"Kamu yang mindahin aku ke kamar ya?" kataku sambil meneguk segelas air putih.
"Iyalah. Kamu ngantuk banget soalnya sampai ketiduran gitu." Dio terlihat makan dengan lahap. Tadi aku sudah masak dan menyiapkannya untuk Dio makan siang.
"Mana teman-teman kamu?" mataku celingukan mencari keberadaan teman-teman Dio yang tak kelihatan.
"Lagi istirahat. Nanti mereka balik lagi. Aku mau tidur sebentar ya Yu. Bangunkan aku kalau mereka sudah datang."
__ADS_1
"Iya." Aku merapihkan bekas makan Dio. Kasihan Dio. Pasti Ia capek menyiapkan semua ini. Semoga Tuhan merestui jalan kami memulai usaha ini. Amin.