Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 77


__ADS_3

POV Author


Dio memandangi para karyawannya yang amat bahagia berfoto bersama. Ia pun juga turut bahagia. Selama 3 tahun ini Dio terlalu larut dalam kesedihannya. Hari-harinya hanya disibukkan dengan bekerja dan bekerja.


Tidak ada yang sia-sia. Perekonomiannya dan karyawannya pun meningkat. Bisnis maju pesat. Tapi rasanya dada terlalu sesak. Liburan kali ini benar-benar menyegarkan untuk pikirannya.


Tertawa dan bercanda bersama karyawan yang layaknya teman dan keluarga sendiri. Bahkan Dio lupa kalau dirinya punya Anxiety Disorder . Ini adalah terapi terbaik dibandingkan yang dokter berikan. Vacation is the best medicine.


Dio dan karyawannya pun pergi ke tepi danau. Agak jauh dari taman yang banyak pengunjungnya. Ternyata istrinya Pak Ari sudah menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


Dengan beralaskan tikar mereka duduk menikmati makan dengan menu ikan bakar, sambal tomat yang rasanya amat pedas dan ikan asin. Dio yang basicnya orang kaya sejati tidak pernah makan ngeriung kayak gitu. Pengalaman pertama baginya.


Awalnya Dio bingung kenapa makannya tidak pakai piring dan hanya pakai nasi yang dibungkus daun pisang. Tak ada sendok juga selain sendok untuk mengambil lauk.


"Ha..ha..ha... dasar orang kaya. Gak pernah makan nasi liwet kayak gini ya?" Yono tertawa puas menertawakan kebodohan Dio.


"He..he..he... aku emang gak pernah makan kayak gini. Terus cuci tangannya dimana?" tanya Dio bingung.


"Ya pakai air danau lah. Itu air kan bersih. Nanti lap pakai tisu basah nih." Budi menyerahkan tisu basah yang Ia bawa.


Dio pun mengikuti arahan mencuci tangannya di air danau lalu di lap dengan tisu basah. Ia pun mencoba makanan yang disajikan.


"Hmm.... enak banget ternyata. Sambelnya pedes tapi mantap." puji Dio yang dengan cepat menghabiskan nasi miliknya.


"Nambah lagi, io. Biar kenyang. Jarang-jarang kita liburan kayak gini." Pak Ari memberikan lagi nasi timbel untuk Dio.


"Iya. Nanti kita jalan-jalan lagi tapi kalau kerjaan di kantor Papa udah senggang ya. Tapi kayaknya gak bisa keluar kota deh. Ke dufan aja ya." Dio membuka bungkus nasi timbel kedua dan menyendokkan sambel untuk melanjutkan ronde keduanya.


Yono yang langsung senang mendengar keputusan Dio. "Asyik kita ke dufan. Gitu dong Bos. Jalan-jalan terus."


"Iya. Tapi kerjanya juga mesti lebih rajin lagi ya. Biar kita banyak untungnya, oke?"


"Oke." jawab semuanya kompak.


******


Minggu pagi Dio berniat lari mengelilingi sekitar rumah Pak Ari. Jam 6 pagi Ia keluar dengan memakai celana jogger dan jaket. Udara masih dingin dan berkabut.


Dio menghirup dalam-dalam udara yang segar tersebut. Ia pun berlari dengan tenang mengitari jalan raya. Tak ada ibu-ibu komplek kecentilan yang suka ikutan lari dibelakangnya sambil ngajak selfi.

__ADS_1


Beberapa kali Dio berlari bolak balik. Daerah disini masih banyak anjing liar berkeliaran. Jinak tapi tetap saja bagi yang takut anjing akan menghindar. Setelah dirasa tubuhnya mulai berkeringat banyak Dio pun hendak pulang. Ia berpapasan dengan Pak Ari, Yono dan Anto yang hendak ke pasar.


"Pas banget kita ketemu. Ayo ikut ke Pasar Simpang Sender. Nyari sarapan." ajak Pak Ari.


"Oh yang dekat belokan itu?"


"Iya." jawab Pak Ari.


"Udah ayo ikut aja. Bawa dompet kan? Sekalian belanjain jajanin kita gitu." Yono langsung memalak Dio.


"Gak bawa. Tapi bawa duit 200rb doang nih. Cukup kan?" Dio mengeluarkan duit seratus ribuan yang ada di kantong celana jogernya.


"Cukup. Ayo jalan. "


Dio pun mengikuti mereka masuk ke pasar. Makan makanan khas sana dan membantu Pak Ari belanja sayuran untuk dimasak nanti siang. Dio pun teringat Ayu. Dulu Ia dan Ayu rajin ke pasar seminggu sekali untuk membeli sayuran. Ah Dio kangen sekali dengan masa-masa itu. Entah mengapa berada di Palembang ini seakan dirinya amatlah dekat dengan Ayu.


Dio pun jadi ikutan belanja. Sayurannya yang masih segar membuatnya ingin borong semua. Kalau tidak diajak pergi Yono sudah kalap Dio belanja. Selain harganya murah juga kualitasnya bagus. Jiwa emak-emak Dio pun keluar. Tak jarang Ia tawar menawar dengan para pedagang.


Rencana hari ini adalah berenang di tepi Danau Ranau. Ada kolam renang sederhana disana. Pemandangannya langsung membelakangi Danau Ranau. Lagi-lagi Dio menikmati acara berenang dengan para karyawannya. Biasanya Dio berenang dengan bebas di rumah megah milik Papanya, kali ini Ia harus berenang satu kolam renang bareng.


Lomba renang pun terjadi, sudah ketahuan siapa pemenangnya. Siapa lagi kalau bukan Dio? Tubuhnya yang bugar karena rajin berolahraga membuatnya menang dengan mudah. Selesai berenang Dio pun mentraktir karyawannya makan Popmie. Ah, makan Popmie sehabis berenang memang paling top deh. Gak ada duanya. Ajib.....



Tanpa Guntur tahu Dio tidak berencana menemuinya hari minggu ini. Dio mau menghabiskan waktu dengan karyawannya dulu mengeksplorasi keindahan alam sekitar rumah Pak Ari baru besoknya mengajak seluruh karyawannya belanja oleh-oleh di tempat Guntur.


Tinggalah Ayu yang bingung dengan perubahan sikap Guntur. Ia yang berencana masuk karena akan banyak penjualan hari ini malah disuruh libur. Ayu sih senang saja, toh di rumah Ia bisa menghabiskan waktu dengan Kevin yang sejak kemarin bercelotek tentang Uncle Ganteng. Ah siapa sih Uncle Ganteng itu? Bikin penasaran aja.


******


"Dio, jangan lupa bawa uang dan atm yang banyak. Karena hari ini kita mau kuras abis saldo Dio. Setuju?" Yono berteriak penuh semangat.


Diam.


Hening.


"Ah gak seru nih. Sama Dio aja takut." Yono mulai memanas-manasi rekan lainnya agar mau ikut serta memalak Dio.


Dio melihat saja ulah anak buahnya yang paling tengil itu sambil melipat kedua tangannya. "Udah belum ngomporin yang lainnya?"

__ADS_1


"He..he..he.. Peace, io. Peace...."


"Yaudah ayo kita berangkat. Jauh nih perjalanan kita." Dio pun mengajak anak buahnya masuk ke mobil dan langsung menuju ke kota.


Dio yang sedang malas menyetir memberikan tugas menyetir hari ini pada Yono. Dibutuhkan kesigapan karena medan yang mereka tempuh amat berliku dan rawan longsor. Dio sih santai saja menikmati tidurnya.


Sekitar jam 3 sore mereka sampai di kota. Dio meregangkan tubuhnya yang pegal sehabis menempuh perjalanan jauh. Mobil Pajero Dio parkir di halaman parkir toko oleh-oleh milik Guntur.


Dio berdecak kagum melihat besarnya toko oleh-oleh yang Guntur miliki. Hebat sekali sepupunya tersebut. Bolehlah nanti Putra Group ikut join sebagai penanam saham. Hush... otak bisnis Dio mulai jalan. Hari ini waktunya liburan, bukan mikirin kerjaan.


"Udah lengkap semua?" Dio menghitung jumlah karyawannya. Pas 10 orang. "Oke. Ayo kita shopping!"


"Hore...." Dio tersenyum melihat kebahagiaan karyawannya.


Dio menunggu sampai semua karyawannya masuk ke dalam toko baru yang terakhir dirinya. Dio memasukkan kacamata sunglass yang dipakainya lalu diselipkan di kerah kaosnya.


Dio melihat karyawannya sudah menyebar mencari oleh-oleh yang mereka suka. Dio membudgetkan satu orang 500 ribu untuk oleh-oleh. Terserah mau beli apa. Dio baru mau mengambil keranjang belanja ketika seorang bocah kecil berlari menghampirinya.


"Uncle Ganteng!" teriak bocah itu.


Dio mencari asal suara. Ternyata Kevin. Bocah yang kemarin bertemu dengannya. Senyum Dio langsung mengembang melihat anak kecil yang sudah melekat di hatinya.


"Kevin." Dio berjongkok dan membuka kedua tangan. Membiarkan Kevin berlari menghambur ke dalam pelukannya.


"Kevin ada disini rupanya. Sama siapa Kevin disini?" Dio celingukan mencari keberadaan pengasuh Kevin yang biasanya selalu ada di samping bocah ganteng itu.


Dio menggendong Kevin dengan tangan kanannya. "Kevin jangan lari-larian. Nanti hilang. Disini banyak orang. Bibi kamu mana?" tanya Dio pada bocah yang masih belum ngeh dengan pertanyaan Dio. Kevin asyik memainkan kacamata Dio. Dio tersenyum. Ia melepaskan kacamata tersebut dan memakaikannya pada Kevin.


"Kevin suka?"


"Suka, Uncle."


"Yaudah buat Kevin aja. Oh iya, Uncle bawakan jam tangan stegosaurus buat Kevin nih."


Dio menurunkan Kevin dari gendongannya. Dio hendak mengambil jam tangan milik Kevin yang selalu Ia bawa-bawa.


"Kevin tunggu seben-" ternyata Kevin sudah menghilang.


Ya ampun tuh anak lincah banget. Kalo ilang aja. Siapa sih orang tuanya.- Dio.

__ADS_1


Dio langsung menutup tasnya dan mencari keberadaan anak ganteng itu. Dio khawatir anak itu akan hilang.


⚘⚘⚘⚘⚘Hayo semakin penasaran kan? Vote dulu yang banyak baru Dio ketemu Ayu 🤣🤣🤣🤣 ⚘⚘⚘⚘⚘⚘


__ADS_2