Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 57


__ADS_3

⚘⚘ **Ayo mana nih yang vote? Mulai sepi nih... Hmm... Apakah authornya harus ngambek dulu baru votenya banyak? #langsungngambekngacakngacakgigi. Yuks vote dan like lagi yang buaaaanyaaaakkk sebelum ngambeknya makin parah ⚘⚘⚘


Masih POV Dio**


Kurasakan bahuku ditepuk dengan lembut. Aku mengangkat pandanganku dan melihat Mama. Ia menyerahkan segelas air putih hangat untuk kuminum. Senyum penuh keteduhan Ia sunggingkan. Mama pun bergabung denganku dan duduk di pinggiran kolam renang.


Selama beberapa saat Mama tidak mengatakan apapun. Aku menghabiskan air hangat yang Mama berikan. Kutatap lagi wanita yang sudah memasuki usia paruh baya tersebut.


Mama amatlah cantik. Seperti putri. Di keluarganya Mama-lah yang paling cantik. Mama adalah anak kesayangan kakek. Banyak pengusaha kaya yang berniat meminang Mama.


Mama adalah anak kebanggan Papa. Otak bisnisnya amatlah encer. Awalnya Mama yang memegang perusahaan milik kakek. Namun setelah Mama mengenal dan jatuh cinta dengan Papa Ia tidak tertarik lagi dengan perusahaan.


Mama mulai terhanyut dengan pesona Papa. Hubungan mereka mendapat tentangan kakek. Mama tak peduli. Ia terus saja memperjuangkan cintanya sampai akhirnya Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun.


Mama akhirnya menikah dengan Papa tanpa dihadiri keluarganya sama sekali. Merasakan susahnya merintis usaha bersama Papa. Sampai akhirnya berkat bantuan Papa Sheila akhirnya bisnis Papa bangkit dan berkembang makin besar.


Mama awalnya membantu manajemen bisnisnya Papa. Mama yang mencari supplier dan vendor terkemuka. Kemampuannya dalam memenangkan tender besar membawa perusahaan Papa makin di kenal.


Mama juga sibuk dengan pekerjaannya, sama seperti Papa. Mama mulai sering keluar kota mengurusi bisnis di luar kota. Sampai akhirnya saat Mama pulang dari Semarang Ia melihat bagaimana Papa memperlakukan anak semata wayangnya selama Ia tinggal keluar kota.


Mama amat marah begitu mengetahui bahwa aku sampai menderita gangguan kecemasan karena ulah Papa. Emosinya membuncak saat itu. Tanpa kenal takut Ia pun mengancam akan menggugat cerai Papa jika berani membuatku seperti itu lagi.


Papa tak berkutik dengan ancaman Mama. Ia takut Mama akan meninggalkannya seorang diri. Dengan penuh penyesalan Papa memohon ampunan Mama. Hati Mama terlalu lemah, Ia pun menerima ampunan Papa dengan syarat Ia tak mau lagi membantu Papa di perusahaan. Ia akan mendampingi dan mengawasi tumbuh kembangku.

__ADS_1


Tetap saja Mama kalah dengan Papa, karena Papa tetap saja membuatku sibuk belajar dan les tambahan. Ia tak lagi memarahiku karena nilai namun Ia memarahi Mama yang dianggapnya tak becus dalam mendidikku.


Hal ini bukan membuatku sembuh, malah aku tambah takut jika Papa akan mengomeli Mama lagi. Papa sudah bisa memegang perusahaan sendiri tanpa bantuan Mama. Membuat Papa makin besar kepala. Mama pun tak mungkin mengancam akan bercerai terus, Ia sudah diusir dari rumah Kakek mau pergi kemana lagi?


Mama makin lama makin kehilangan powernya untuk membelaku. Hanya dengan menuruti ucapan Papa akan membuat Papa dan Mama bertengkar. Aku pun demikian. Tak ingin terus menerus melihat Mama sedih akhirnya aku hanya manut saja dengan setiap perintah Papa.


Aku masih diam-diam membuat sketsa design furniture. Dengan seni aku bisa membuat diriku merasa tenang dan dapat mengontrol rasa cemas dalam diriku.


Aku menatap Mama yang masih diam tanpa mengeluarkan suara apapun. Wajahnya yang dulu cantik jelita sudah mulai dihiasi dengan kerutan halus dimana-mana. Matanya masih bengkak bekas tangisannya tadi. Ia juga butuh menenangkan diri seperti yang aku lakukan saat ini.


Aku menggenggam tangan Mama. Sejak dulu kami saling menguatkan seperti ini. Tangannya yang dulu kencang sudah mulai berkerut. Namun kehangatan yang Ia berikan masih tetap sama.


"Maafin Mama.... Semua karena Mama. Kamu sampai stress dan kumat lagi juga karena pertengkaran Mama dan Sheila. Seharusnya Mama lebih bisa menahan diri. Maafin Mama Nak...."


Aku menggelengkan kepalaku dan memasang senyum seolah semua baik-baik saja. Aku tak mau Mama merasa bersalah dan semakin menyalahkan dirinya sendiri. "Mama gak salah kok. Mama tuh Mama yang hebat. Mama yang bisa membela anaknya. Dio salut dan bangga sama Mama." Kupeluk Mama dengan erat.


"Tapi Ma....."


Belum selesai aku berbicara dengan Mama datanglah Sheila dengan langkah yang sengaja dihentakkan agar aku dan Mama menoleh kepadanya.


"Aku mau bicara sama kamu, io. Ber-dua sa-ja." dengan nada penekanan secara tak langsung Sheila mengusir keberadaan Mama.


"Kamu jangan bersikap kayak gitu sama Mama aku, La. Hormati Dia. Cepat minta maaf!" kali ini aku yang harus membela Mama. Sudah cukup Mama membelaku selama ini.

__ADS_1


"Tapi kan Tante Lia yang memulai keributan sama aku?! Kenapa aku yang harus minta maaf?"


"Kalau kamu gak mau menghargai Mama aku dan gak mau minta maaf, aku juga gak mau bicara sama kamu!" aku berkata dengan tegas.


Sheila akhirnya merasa kalah. Ia tahu kalau aku sudah tegas maka tak akan pernah goyah lagi. "Baiklah. Aku minta maaf, Tan." Sheila mengulurkan tangannya yang langsung ditariknya cepat setelah Mama menyambut uluran tangannya.


"Mama masuk ke dalam dulu ya, io. Ingat, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu harus tetap tenang."


"Iya, Ma."


Mama pun meninggalkanku dengan Sheila.


Hari sudah mulai malam. Air kolam renang sudah mulai dingin. Aku mengeluarkan kakiku dari dalam kolam renang. Aku bangun dan duduk di gazebo. Sheila mengikuti kemana pun aku pergi.


Aku diam tak memulai percakapan diantara kami. Sebenarnya sampai kemarin aku sangat merindukan keberadaan Sheila. 6 bulan kami tidak bertemu. Sheila yang bak bidadari dan selalu bersikap lembut padaku.


Semua berubah saat aku tadi melihat Sheila yang bahkan tak segan-segan menyerang Mama dengan perkataannya. Sheila telah berubah. Bukan hanya rambutnya yang berubah model jadi pendek, aku tak mempermasalahkan itu mungkin tuntutan pekerjaan. Satu yang pasti, Sheila sudah berubah.


"Saat aku mendengar kalau kamu sudah menikah, jujur aku sangat kaget. Aku tidak menyangka kalau kamu akan mengkhianati hubungan kita."


Aku menatap wanita yang kucintai ini. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Aku tahu ini bukan sekedar akting. Sheila sungguh amat kecewa dan sedih setelah tahu tentang pernikahanku.


"Yang lebih membuat aku kecewa adalah kamu yang pada akhirnya membuat istri kamu hamil. Itu lebih membuatku shock dibanding cerita kamu telah menikah karena one night stand. Papa pun kaget. Papa bilang kalau Ia tak mengira hubungan kamu dan istri kamu akan sejauh itu. Papa pikir kalian hanyalah terjebak hubungan pernikahan karena suatu bentuk tanggung jawab moral saja. Ternyata kalian benar-benar menjalani kehidupan berumah tangga. Apa kamu sudah menggantikan posisi aku dengan wanita itu, io?"

__ADS_1


Aku menghela nafas berat. Pertanyaan ini sulit kujawab. Dalam hatiku bukan hanya ada rasa cinta untuk Sheila. Namun ada rasa sayang untuk Ayu dan calon anak kami kelak. Kembali rasa ragu dan galau melingkapiku. Persetan dengan penilaian orang yang mengatakan aku labil lah, gak berpendirianlah. Aku hanya berusaha jujur pada diriku sendiri. Apa kalian gak pernah merasakan ada 2 nama yang terukir di hati kalian?


"Kamu tetap wanita yang aku cintai, La. Namun kini ada nama Ayu sebagai wanita yang aku sayang."


__ADS_2