
"Kamu hebat, Yu. Kamu memang istri yang hebat." kata Dio sambil mengusap-usap rambutku.
"Iya, aku tahu kalau aku hebat. Kamu udah ngomong kayak gini puluhan kali, io. Hampir seratus kali kayaknya deh. Kamu gak bosen apa muji-muji aku terus?" kami berdua sudah bersiap hendak tidur. Aku baru saja kembali dari kamar Kevin dan mengucapkan selamat tidur untuknya.
Baru saja aku hendak memejamkan mataku, Dio kembali memuji-muji aku. Sejak di mobil tadi Ia terus memujiku hebat. Awalnya aku merasa amat bangga sampai pipi aku merona. Namun karena keseringan dipuji rasanya pujian itu jadi hambar.
"Habisnya kamu hebat banget sih." puji Dio lagi.
"Iya...iya...iya... aku tahu. Udah tidur sana. Sudah malam. Gak capek apa seharian udah kerja masih aja belum tidur. Udah jam 10 malam nih."
"Aku masih mau muji-muji kamu soalnya."
"Yaudah puji-puji aja gak apa-apa kok. Tapi aku tidur duluan ya. Met bobo." Aku menarik selimut menutupi tubuhku yang memakai piyama tidur tanpa lengan tersebut. Aku tidak kuat dingin. Kalau tidur dengan kamar ber-AC, aku pasti menyelimuti seluruh tubuhku dengan bed cover.
"Yah.... jangan tidur dulu dong."
"Ngantuk, io. Besok pagi kan harus nyiapin kamu sarapan dan bekal buat makan siang."
"Gak usah. Besok aku makan siang di kantin aja. Aku udah berani sekarang. Sarapan yang simple aja. Nasi goreng kampung buatan kamu yang super yahud itu. Boleh kan?"
"Itu mah gak simple namanya. Kalau simple tuh cuma roti oles blue band sama tabur gula pasir aja. Kalau nasi goreng lumayan ribet keles."
"Jadi gak mau nih buatin aku nasi goreng?" kata Dio merajuk. Lah kok Dio jadi baper.
"Aku mau kok. Besok aku bikinin ya buat kamu."
"Bener?"
"Iya. Udah sekarang tidur. Aku capek tau." aku menyelimuti tubuh Dio dengan selimut. Seperti sedang meninabobokan Kevin, aku pun menepuk-nepuk badan Dio. Tak lama Dio pun terlelap, aku pun ikut terlelap bersamanya.
*****
Nasi goreng kampung sudah siap. Susu hangat pun sudah siap. Tak lupa roti oles selai cokelat untuk Kevin juga sudah siap.
Aku mencari keberadaan Dio, tadi Dio bilang mau olahraga dulu tapi aku cari di tempat tread mill tidak ada keberadaannya. Aku cari ke kamar Kevin juga tidak ada. Apa mungkin ke rumah sebelah?
__ADS_1
Aku ingin menyusul Dio ke rumah sebelah namun Kevin keburu bangun. Aku memeluknya sebentar lalu mengajak Kevin mandi. Peraturanku adalah, kalau mau mandi air hangat harus mandi dikala pagi hari, kalau mandinya sudah jam 8 lewat pakai air dingin.
Kevin yang amat menyukai mandi air hangat tidak akan drama saat dimandikan pagi. Asal ya dengan air hangat. Selesai memandikan dan memakaikan Kevin baju aku mengajaknya untuk sarapan. Sudah ada Dio di meja makan.
Dio sedang membaca koran Kompas. Walau ada dalam bentuk digital, namun Dio lebih suka baca dalam bentuk fisik koran.
"Daddy. Kevin udah mandi dong."
Dio melipat korannya. Akan Ia baca nanti didalam mobil. "Ah yang bener? Coba Daddy cium. Masih bau apa enggak."
Kevin menyodorkan pipinya untuk Dio cium. Dio lalu mencium pipi Kevin kanan dan kiri. "Gak bau kan?" pamer Kevin lagi.
"Iya bener. Udah gak bau acem lagi." puji Dio.
"Acemnya udah dibuang sama Mommy." kata Kevin dengan bangganya.
"Ah yang bener nih udah dibuang. Memangnya udah dibuang ya Mommy acemnya Kevin?" tanya Dio.
"Udah dong." jawabku.
"Mommynya mah kayak mecin. Gurih dan bikin nagih." balasku.
"Ah yang bener? Pantesan aja Daddy ketagihan. Bener kan Kevin?" Dio meminta dukungan Kevin.
"Benel." ah Kevin. Benar bener aja. Kayak kamu ngerti aja maksud perkataan orang dewasa.
Aku dan Dio menertawakan kelucuan Kevin. "Udah cepet sarapan. Nanti kesiangan. Kamu kan belum mandi." aku menyerahkan piring yang sudah kusendokkan nasi goreng pada Dio.
"Kevin ayo duduk yang manis dan makan roti kesukaan Kevin ya. Susunya juga diminum. Harus dihabiskan, biar Kevin sehat dan kuat. Oke?" Aku mengangkat Kevin dari pangkuan Dio dan mendudukkanny di kursi makan.
"Oce Mommy."
******
Setelah memikirkan dengan matang, akhirnya aku dan Dio memutuskan memakai jasa ART pulang pergi. Pagi hari Ia akan datang dan membersihkan rumah serta mencuci pakaian. Siang hari Ia akan menyetrika dan menjaga Kevin kalau aku sedang masak.
__ADS_1
Lumayan membantu mengurangi pekerjaan rumahku. Aku juga bisa membantu mengurusi Ayu Furniture lagi. Semenjak Dio pegang perusahaan Papa, Ayu Furniture kuambil alih lagi. Bukan tidak menghargai Pak Ari, namun Ayu Furniture mengalami kemunduran sedikit sejak Ia pegang. Tak ingin profit makin berkurang aku putuskan mengelola kembali, itu pun setelah Dio berkali-kali membujukku.
Dio masih memberikan sketsa gambar yang menjadi role model Ayu Furniture. Aku juga belajar sedikit demi sedikit dalam membuat model. Dio yang mengoreksi hasil design yang kubuat. Menarik juga. Lumayan mengisi waktu senggang.
Mama dan Papaku juga beberapa kali main ke rumah kontrakkan kami. Eh sudah bukan rumah kontrakkan lagi deh karena statusnya sudah menjadi milik Dio. Mereka tak mempermasalahkan keputusanku dan Dio untuk kembali lagi bersama. Bagi mereka keputusanku adalah demi Kevin juga.
Weekend ini aku dan Dio berencana main ke rumah Papa Putra dan Mama Lia. Aku yang selama ini belum pernah main kesana pun penasaran, seperti apa rumah mereka.
Aku menitipkan rumah pada ART ku yang masih bersih-bersih. Dengan membawa perlengkapan Kevin, kami pun ke rumah Mama Lia.
Aku membawakan Mama Lia kue bolu buatanku. Bingung mau bawakan apa, kan Mama Lia udah punya segalanya.
Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh Papa dan Mama. Beraneka ragam hidangan sudah tersedia. Aku yang masih terpukau dengan kemewahan rumah Mama dan Papa hanya tersenyum saja menanggapi percakapan mereka.
Benar-benar rumah yang mewah dan besar. Sayang sekali mereka hanya tinggal berduaan saja di rumah sebesar ini. Oh bukan berarti aku mau tinggal disini ya. Cuma aku jadi berpikir saja. Dio selama ini pola hidupnya amat sederhana. Gak ada yang menduga kalau Dio terbiasa dengan segala kemewahan.
Mana ada sih anak sekaya Dio terbiasa belanja sayuran di pasar? Sehari-harinya Dio hanya memakai motor untuk berangkat dan pulang kerja. Bukan mobil ferrarinya yang Ia biarkan teronggok tak terpakai di garasi mobil orangtuanya.
Mana ada anak orang kaya terlihat amat humble seperti Dio yang asyik keluar kota rela lewat jalur darat dan semobil dengan karyawannya? Lebih mudah naik pesawat.
Mana ada anak orang kaya rela uang jajannya sehari hanya 50 ribu? Itu sudah termasuk untuk ongkos dan jajan loh. Mana ada selain Dio?
Batinku sedikit teriris. Aku kasihan juga dengan nasib Dio selama ini. Pengalaman hidupnya yang membuat Dio makin kuat dan dewasa. Mungkin cara mendidik Papa Putra yang membuat Dio seperti ini. Walau keras namun sekarang bisa dipetik hasilnya sekarang.
"Dimakan Yu cemilannya. Sejak tadi Mama perhatikan kamu melamun aja. Lagi mikirin apa sih?" tanya Mama Lia.
Pandanganku masih saja tertuju pada Kevin yang sedang asyik berenang bareng Daddy dan Akinya sambil tertawa-tawa bersama. "Gak apa-apa kok, Ma. Lagi banyak merenung aja."
"Renungin apa? Cerita dong sama Mama. Siapa tahu Mama bisa kasih masukan gitu." Mama menyendokkan puding ke piring kecil dan memberikannya padaku.
"Lagi renungin kenapa Dio mau aja hidup menderita sama aku, Ma. Padahal Dio kan bisa aja hidup senang jika menurut kemauan Papa. Bukan malah memilih jalan memutar dan melawan Papa sejak dulu." Aku menatap wajah Mama, menangkap sorot kecewa atas perkataanku barusan. "Maaf, Ma. Gak usah ditanggapi perkataan Ayu barusan."
"Gak apa-apa Yu. Mama justru senang Dio mengenal kamu dan pada akhirnya mencintai kamu. Bukan karena didikan Papa yang keras yang mengubah Dio jadi sehebat sekarang. Tapi karena besarnya cinta Dio sama kamu yang membuatnya jadi hebat seperti sekarang."
Aku senang dengan pujian Mama. Membuat Dio berubah jadi lebih baik itu memang keinginanku. Membuat Dio lebih dewasa memang sudah kupikirkan karena pada akhirnya aku dan Kevin akan menggantungkan hidup kami pada Dio.
__ADS_1
⚘⚘⚘⚘ Hi semua! Jangan lupa baca novel baruku WARM YOUR HEART. Bisa lihat di profilku kok. Jangan lupa like dan vote ya darleeeengg 😘😘😘⚘⚘⚘⚘