
POV Dio
1 jam lagi meeting akan segera dimulai. Kuangkat telepon dan menekan angka 1. Sambungan telepon langsung ke sekretaris pribadiku, Ratna.
"Na, ke tempat saya sekarang!" perintahku. Aku melanjutkan lagi mempelajari materi meeting nanti. Proposal yang sudah diajukan beberapa kepala bagian sedang kupelajari. Ada untungnya juga aku dulu kuliah mengikuti kemauan Papa. Ilmu yang kuperoleh di bangku kuliah membuatku mengerti isi dari proposal yang mereka ajukan tanpa terlihat terlalu bloon dihadapan profesional seperti mereka.
Suara ketukan di pintu pertanda Ratna sudah datang. Aku menyuruhnya masuk. Ratna sekretaris yang pintar. Sebelumnya Ia sudah menjadi sekretaris Papa untuk waktu yang lama. Jangan bayangkan Ratna cantik seksi seperti dalam drama kebanyakan. Ratna berusia lebih dari 40 tahun. Sosok wanita single parent yang tangguh dan pantang menyerah. Penampilannya rapi bak sekretaris, namun rok yang dipakainya pun sopan tidak pendek dan menonjolkan keseksian tubuh seperti sekretaris kebanyakan.
"Ada apa, Pak?" tanya Ratna dengan sopan.
Aku menyerahkan sebuah amplop cokelat berukuran besar padanya. Agak bingung namun Ratna menerimanya juga.
"Tolong buatkan surat nikah dan akta lahir atas anak yang ada di dalam amplop tersebut. Aku gak sempat ngurus proses administrasinya. Tolong kamu suruh aja joki untuk mengurus semua nanti aku yang bayar pakai uang pribadiku."
"Ini surat nikah punya Pak Dio?" tanya Ratna setelah membuka amplop yang kuberikan. "Pak Dio udah nikah?"
"Iya, sudah tapi belum didaftarkan. Dan dalam surat keterangan lahir itu adalah anak saya. Tolong kamu urus ya."
"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu." Ratna pun meninggalkan ruanganku.
Aku melanjutkan lagi mempelajari proposal yang tadi kubaca. Melihatnya dengan mendetail. Tak kubiarkan sedikit celah pun lolos.
Memegang jabatan ini bukanlah sekedar prestige saja. Harga diri memang meningkat. Pandangan hormat memang tertuju. Tapi mau sampai kapan? Saat aku salah langkah dan salah dalam memutuskan sesuatu maka habislah sudah. Yang tersisa hanya pandangan penuh cela dan tatapan merendahkan pada pimpinan bodoh yang naik karena koneksi saja bukan karena prestasi.
Aku tahu banyak yang menantikan kejatuhanku. Mantan atasanku yang dulu sering mengomeliku karena kerjaanku tak becus contohnya. Saat kenaikan jabatanku, Ia dengan mulut manisnya memuji dan memuji kerjaanku dulu saat menjadi bawahannya, padahal dulu Ia mengomeliku habis-habisan. Dan aku tahu dibalik pujiannya tersimpan suatu kalimat "Habislah kau kalau sampai salah langkah".
Sebenarnya tak ada satu pun yang kurasa mendukungku untuk mengambil jabatan ini. Aku hanya dianggap anak bau kencur yang belum bisa kerja. Mereka tak tahu saja kalau aku mendirikan sendiri perusahaanku dari nol sampai bisa maju seperti saat ini. Aku akan buktikan pada mereka yang menganggapku lemah dan merendahkanku kalau aku bukan lagi Dio yang dulu. Ada anak kecil menggemaskan dan istri cantik di seberang pulau sana yang akan menantikan kedatanganku.
__ADS_1
Jam 10 pagi. Meeting pun dimulai. Aku sudah tiba di ruang meeting 10 menit sebelumnya. Aku tak mau ada omongan kalau aku tukang ngaret padahal baru saja menjadi pimpinan.
Meeting pun di mulai. Benar saja, ketidakberadaan Papa di sampingku membuat aku dibantai oleh mereka yang saling pamer kemampuan. Aku diam saja mendengarkan mereka mempresentasikan pekerjaan mereka dengan penuh kebanggaan. Muak sih sama kesombongan mereka. Tapi aku dengarkan saja, sekalian menambah ilmu. Orang pintar adalah orang yang mau terus belajar sampai kapanpun bukan orang yang berhenti belajar karena sudah dapat nilai tinggi.
Sambil mendengarkan, aku mencatat satu persatu kekurangan dan masukkan yang akan aku kasih. Tiba saatnya mereka mendengarkan pendapatku. Aku mengemukakan pendapat berdasarkan yang tadi aku baca dan hasil presentasi mereka. Dengan gamblang aku jabarkan hasil keputusanku. Dan hasilnya.... mereka semua spechless. Tak ada yang menyangka mantan kacung kampret seperti aku ternyata punya keputusan yang tidak kalah hebat dibanding Papa. Mereka akhirnya mengakui kemampuanku.
******
Aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Lelahnya tubuh dan pikiran ini. Remuk redam rasanya. Sudah seminggu lebih aku kerja keras bagai kuda. Enak kali ya kalau ada yang mijitin tiap pulang kerja.
Kutatap rumah kontrakkanku yang terasa amat kosong dan gelap. Andai ada mereka berdua disini. Aku pun jatuh terlelap dalam mimpiku.
Aku bermimpi sedang bermain dengan Kevin dan juga mengerjai Ayu. Ah dalam mimpi pun masih saja aku hobby jailin Ayu.
"Dio...Dio.... Bangun. Sudah siang!" mataku langsung memicing saat sinar matahari masuk ke dalam kamarku. "Kamu semalam enggak mandi dulu ya dan langsung tidur? Dasar jorok! Kalau kayak gitu bisa sakit kamu nanti. Tidur kok pakai baju kotor. Sana cepat mandi dan siap-siap sarapan. Papa sudah menunggu di meja makan." omel Mama.
Mama memang kuberikan kunci rumah cadangan karena selama ini Mama yang mengurusiku. Stok makanan di kulkas juga tak pernah kosong berkat Mama. Dengan malas aku masuk ke dalam kamar mandi. Benar sih kata Mama, aku memang jorok. Masa aku tidur pakai jas kantor?
"Nih, Ma. Jangan kasih liat aki-aki sebelah Mama." aku menyerahkan album foto yang kemarin Ayu tunjukkan padaku. Album berisi foto Kevin sejak lahir sampai foto terbarunya. Aku sengaja meminjamnya sama Ayu untuk kutunjukkan pada Mama.
"Apa ini?" Mama menghentikan membuat bekal dan mengambil album yang kukasih. Pandangan mata Papa melirik mencari tahu apa yang kami lakukan.
"Inget, Ma. Jangan kasih lihat aki-aki sebelah Mama." ucapanku makin membuat Papa penasaran.
"Apaan sih? Pakai rahasia-rahasiaan segala sama Papa." Papa melirik album foto yang sedang Mama buka. Tangannya hendak meraih album tersebut namun langsung dipukul sama mama.
"Udah jangan kepo. Sana liatin aja harga saham!" omel Mama. Agak bingung Mama terus membuka lembar demi lembar foto anak kecil menggemaskan yang amat Ia ingat wajahnya mirip sekali dengan Dio saat kecil dulu. Air mata Mama pun mulai mengalir. Mama mulai menangis terisak. Tangisannya membuat Papa khawatir.
__ADS_1
"Ma, kamu kenapa?" tak menjawab pertanyaan yang Papa ajukan, Papa pun beralih padaku. "Apa yang kamu kasih sama Mama, io?" tanya Papa bingung.
Mama menyeka air matanya. "Kamu... kamu akhirnya bisa menemukan mereka? akhirnya.... dimana mereka sekarang?"
Aku tetap santai menikmati roti bakarku. Tatapan mata penuh keingintahuan dari Mama dan Papa mengiringi setiap suapan roti yang masuk ke mulutku.
"Kalian bicaraian siapa sih?" tanya Papa bingung.
"Mereka ada dimana, io? Kenapa kamu gak langsung bawa kesini aja?" tanya Mama penasaran.
Aku meneguk susu hangat karena takut tersedak kebanyakan pertanyaan dari mereka. "Sabar. Aku lagi sarapan nih." jawabku santai.
"DIO!" teriak Papa dan Mama bersamaan.
Aku tertawa ngakak melihat wajah mereka yang emosi. Yang satu emosi karena kadar keponya tinggi dan satu lagi emosi karena kadar kangennya tinggi.
"Seminggu lagi aku jemput mereka. Aku ngurusin kerjaan dulu nih di kantor Papa. Mana banyak banget lagi penjilat di kantornya. Bisa banget sih Papa kerja bertahun-tahun dengan orang kayak gitu. Ih Dio mah geuleuh."
"Bodo amat sama perusahaan Papa. Kamu belum jawab pertanyaan Mama. Dimana kamu temuin mereka? Lalu siapa nama cucu Mama?" Mama mulai tak sabaran.
"Cucu? Maksudnya dari tadi kalian ngomongin Ayu dan anaknya?" tanya Papa yang akhirnya mulai mudeng. "Sini Papa lihat albumnya." Papa berusaha mengambil album yang masih didekapan Mama.
"Ih! Jangan lihat-lihat!" Mama menepak tangan Papa yang berusaha mengambil album foto dari dekapannya.
"Memang kenapa sih? Papa kan juga mau lihat!" ujar Papa kesal karena Mama tak juga melepaskan album foto tersebut.
"Gak boleh! Nanti Papa jahatin mereka lagi!" larang Mama.
__ADS_1
Aku memperhatikan ulah kakek dan nenek yang bertengkar layaknya anak kecil. Diam-diam kuambil tas kerja dan bekal yang sudah kurapihkan sendiri. Aku mengendap-endap meninggalkan mereka yang masih berebut album.
"Dio! Jangan kabur kamu! Sini bantuin Mama!" teriak Mama dari dalam rumah. Aku tak gubris, mobil yang menjemputku sudah datang. Aku siap berjibaku dengan kerjaan lagi.