Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 36


__ADS_3

"Memangnya kapan Mama mau dikasih cucu? Dio mah siap-siap aja, Ma." ih Si Dudul ini, malah nantangin Mama.


"Wah Dio juga kebelet pengen punya anak ya? Mama maunya sih secepatnya." ini lagi si Mama, kompak bener sama menantunya, hadeh....


"Siap, Ma. Dio segerakan ya titah Mama."


"Iya Ki Sanak. Laksanakan!"


"Ayu tuh sst....sst..." Dio membisikkan sesuatu di telinga Mama.


"Ah masa sih? Seharusnya kamu sst....sst...sst.." gantian Mama membisikkan sesuatu ke Dio.


Lah mereka berdua kayak lagi shooting Angling Dharma???


"Cut! Kalian ngapain sih?" aku harus menengahi mereka berdua sebelum mereka bersatu padu dan menciptakan kegilaan lainnya.


"Lagi bikin perencanaan pembuatan cucu buat Mama. Kamu jangan ganggu, Yu." loh kok malah aku yang didiskualifikasi sih?


"Tau ah. Kalian bisik-bisik aja berdua. Ayu mau ke kamar Alya. Pusing liatin ulah kalian berdua!" aku akhirnya meninggalkan mereka berdua yang masih bisik-bisik ngomongin aku. Huh.. sejak kapan mereka berdua seakrab ini?


Aku menghampiri Alya yang sedang tengkurap di atas kasur di kamarnya sambil bermain Hp. Dulu kami tidur berdua di kamar ini sebelum aku menikah.


"Papa kemana, Dek? Kok gak ada Kakak cariin?" Alya menengok ke arahku.


"Lagi ke Kantor RW, Kak. Katanya ada pemilihan ketua RW yang baru. Papa jadi panitianya. Habis pemilihan ada makan-makannya jadi panitianya rempong nyiapin makanan."


"Oohh... pantesan aja gak ada. Biasanya lagi nonton berita kalau minggu sore. Dek, gak ada cemilan apa?" aku tahu Alya pasti punya cemilan yang disimpannya rapi.


"Ada. Tuh ambil aja di lemari bawah."


Aku membuka lemari bawah seperi yang ditunjuk Alya. "Wah ada cokelat nih. Bagi ya?"


"Ambil aja, Ka. Besok juga aku dapet lagi."


"Sombong amat. Siapa sih yang kasih kamu cokelat melulu?" Alya adikku juga tak kalah cantik. Fansnya lumayan banyak. Cokelat dari fansnya hampir setiap hari ada aja yang ngasih.

__ADS_1


"Udah seminggu dikasih sama Dimas."


"Kamu suka sama Dimas, Ya?" kubuka kertas pembungkus silverqueen mede kesukaanku lalu memakannya.


"Gak suka." Alya masih berkutat dengan Hpnya.


"Andi gak suka, Lion gak suka, terus sekarang Dimas juga gak suka. Kamu sukanya siapa? Jangan PHP-in anak orang melulu, kasihan!"


"Siapa yang PHP-in? Mereka aja yang sering kasih aku cokelat. Aku gak pernah minta kok. Gak ada yang aku suka. Habisnya gak ada yang seganteng Kak Dio sih?!"


"Lah? Kenapa bawa-bawa Dio dah? Ngefans banget kamu sama Dio?"


Alya pun duduk dan menatapku. "Emangnya Kak Ayu gak ngefans sama Kak Dio? Suami Kakak tuh the best tau. Jauh sama Kak Dewa. Ganteng. Tajir. Baik. Sabar. Gak sombong lagi. Aku tuh mau punya suami kayak Kak Dio tau. Kakak aja yang lebih beruntung dari aku."


Aku mengernyitkan keningku. "Alya, kadang apa yang kamu lihat itu gak seindah kenyataannya. Jangan bandingkan Dio dengan Dewa. Bagaimanapun Dewa amat mencintai Kakak, begitu sebaliknya. Dewa juga baik kok."


"Kakak kok malah belain Kak Dewa bukan suaminya sendiri?" aroma curiga dalam nada suara Alya menyadarkanku.


"Em.. bukan gitu. Maksud Kakak tuh... kamu belum tau sih Dio suka nyebelin. Jangan dilihat gantengnya aja."


"Iya sih ganteng. Ah sudahlah. Ngapain malah bahas Dio? Kamu sama aja kayak Mama. Kalian sudah satu kubu sama Dio nih. Nyebelin!"


Aku mengambil bangal lalu tiduran sambil memakan cokelat di samping Alya.


"Kak."


"Hemm.."


"Kakak bahagia gak sih nikah sama Kak Dio?"


"Dio lagi, Dio lagi. Kepo banget deh sama Dio."


"Ish bukan gitu Kak. Alya penasaran aja. Kakak kan nikah sama Kak Dio karena KLB alias Kejadian Luar Biasa. Nah setelah menikah Kakak gimana? Bahagia apa enggak?" aku menangkap kekhawatiran di dalam pertanyaan yang diajukan adikku tersayang itu.


"Kakak bahagia kok. Tenang saja. Dio itu memang baik seperti kata kamu, jadi ya kita tidak sulit untuk saling beradaptasi. Kami sudah seperti teman saja sekarang. Suka curhat dan susah senang bersama."

__ADS_1


"Susah senang? Memangnya Dio setajir itu masih susah hidupnya?" pertanyaan Alya menyadarku. Aku lupa kalau keluargaku belum tahu aku tinggal dimana dan bagaimana keadaanku selama menikah. Aku selama ini belum cerita karena menurutku itu masalah rumah tanggaku.


"Kakak belum cerita ya sama kamu? Kakak sama Kak Dio gak tinggal di rumah Papa Putra yang tajir melintir itu. Sejak menikah, kakak dan Dio tinggal di rumah kontrakkan yang disewa Papa selama setahun. Kakak dan Kak Dio hidup mandiri tanpa bantuan Papa Putra. Jadi kamu jangan membayangkan kehidupan mewah yang Kakak dapatkan setelah menikah."


"Beneran Kak? Kok Kak Ayu gak pernah cerita sih? Mama sama Papa tahu gak?"


"Belum tahu, Ya. Kakak belum sempat kasih tahu. Tapi kamu gak usah khawatir. Walau sederhana kami hidup berkecukupan kok. Dio bertanggung jawab dan menghidupi Kakak. Malah gaji bulanan Kakak utuh karena semuanya Dio yang biayain. Kami lagi sama-sama berjuang, Dek. Mulai semuanya dari bawah. Doain Kakak ya sama Kak Dio." Aku mengusap lembut rambut adikku Alya yang panjang dan lurus seperti rambutku.


"Tenang aja Kak. Pasti Alya doain kok. Tapi Kakak juga harus cerita juga sama Mama dan Papa ya tentang hal ini. Jangan sampai mereka enggak tahu."


"Mama sudah tahu kok." Mama yang berdiri di depan pintu kamar Alya langsung menyahuti obrolan kami. "Dio sudah cerita sama Mama barusan." Mama lalu menghampiriku dan gabung bersamaku dan Alya di tempat tidur.


"Tidak apa-apa kok, Yu. Itu bagus malah. Kalian mandiri tanpa bantuan Papa Mertua kalian. Mama dan pastinya Papa akan bangga mendengarnya. Apalagi Dio bilang Ia sedang memulai usaha furniture berkat dorongan kamu." Aku menaruh kepalaku di paha Mama. Rasanya nyaman sekali. Berlindung dalam dekapan Mama seakan tak ada beban dan masalah hidup. Damai.


"Dio sekarang sedang memberitahu Papa. Mama yakin kalau Papa juga bisa menerimanya dan merasa bangga seperti yang Mama rasakan saat ini. Dio cerita sama Mama kalau kamu masih mengkonsumsi pil KB. Benar itu Yu?"


"Pil KB itu supaya gak hamil ya?" Alya langsung menyahuti omongan Mama.


"Sst! Anak kecil diem aja. Ini urusan orang gede!" Mata Mama langsung melotot ke arah Alya. Dalam sekejap Alya langsung merapatkan mulutnya dan memasang telinganya untuk memenuhi rasa penasarannya.


"Dio bewel nih. Masalah begini aja pake ngadu sama Mama!" gerutuku.


"Hush! Jangan gitu, Yu. Dio cerita pasti ada tujuannya. Seorang laki-laki apalagi sampai menceritakan tentang alat kontrasepsi sama Mertuanya pasti kalau tidak terpaksa tidak akan dilakukan. Dio juga malu kali Yu ceritanya. Ini bukti kalau Dio menginginkan anak dari kamu, Yu. Dio sayang dan cinta sama kamu, Yu. Kalau tidak Ia tidak akan mau punya anak dari kamu."


Perkataan Mama masih melekat di pikiranku. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam saja. Aku merenungi setiap perkataan Mama. Benarkah Dio begitu menginginkan anak dariku? Tanpa sadar aku melepaskan pegangan dari besi di belakang jok dan memeluk tubuh Dio erat. Hangat dan aku merasa terlindungi.


******


Hi semuanya!!!!!


Kok votenya dikit sih?


kok yang like dikit sih?


Padahal Authornya lagi rajin loh Up tiap hari.

__ADS_1


Ayo dong vote dan like yang banyak. Biar masuk top rangking. #ngarep.


__ADS_2