Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 70


__ADS_3

⚘⚘⚘⚘ Yang kalian tunggu-tunggu tiba. Yuks kita lihat POV Dio. Jangan lupa vote dan like jangan sampai kenddooooorrr yaks 😘😘⚘⚘⚘⚘


POV Dio


Aku tersenyum senang melihat karyawanku amat semangat bekerja karena terbuai janjiku mengajak mereka jalan-jalan. Aku bukan hanya sekedar berjanji, tapi aku juga harus menepatinya.


Keringat di tubuhku sudah mulai mengering sendiri. Aku terbiasa olahraga di pagi hari. Kadang lari di treadmill dan terkadang yoga untuk menenangkan pikiran.


Buah kerja kerasku lari diatas treadmill adalah perutku yang dulu buncit sekarang sudah memiliki roti sobek alias six pack. Aku juga rajin angkat barbel homemade alias bikin barbel sendiri dengan mengisi kaleng kosong dengan semen. Karyawanku yang mengajari. Daripada pergi ke Gym lebih baik olahraga di rumah.


Selain gratis juga aku tak akan risih. Aku membeli treadmill juga bukan tanpa sebab. Dulu aku suka lari keliling komplek perumahan dan perkampungan warga. Awalnya banyak yang melihatku eh lama kelamaan banyak ibu-ibu yang ikutan lari bareng aku sekalian tebar pesona.


Jadilah aku seperti induk ayam yang diikuti oleh anak ayam. Kalau jumlahnya sedikit sih oke, terkadang satu grup senam ikutan semua. Selain risih juga aku sering mendapat pandangan kurang mengenakkan dari suami mereka.


Kehebohan ibu-ibu tak berhenti sampai disitu. Setelah tahu kalau aku tinggal seorang diri mereka mulai berasumsi sendiri. Aku dibilang duren alias duda kerenlah. Ada juga yang bilang aku broman alias brondong manis. Ada-ada saja deh ulah mereka. Karena itulah aku memutuskan untuk membeli treadmill dan berolahraga di dalam rumah saja daripada beresiko besar jika berurusan dengan emak-emak. Hadehhhh...


Aku tinggal seorang diri sejak kepergian istri dan calon anakku 3 tahun lalu. Sejak insiden hari itu, aku terus mengurung diri di rumah. Aku ingat saat aku mengejar taksi yang membawa Ayu pergi namun taksi tersebut tetap melaju kencang meninggalkanku.


Tubuhku yang masih demam ditambah dengan tekanan yang besar membuat aku tak kuat berlari jauh. Tubuhku pun jatuh pingsan di jalanan komplek. Mama yang mengejarku melihat tubuhku tak tergeletak tak berdaya langsung berteriak minta tolong dan akhirnya aku dilarikan ke rumah sakit.


Aku didiagnosis stress berat dan demam yang tak kunjung turun. Aku bahkan tidak sadarkan diri selama 3 hari. Ketika aku bangun aku sudah kehilangan segalanya.


Mama yang selalu menemaniku. Kemarahan Mama sudah memuncak apalagi melihat keadaanku yang sampai tak sadarkan diri selama 3 hari. Dengan penuh keyakinan bahkan Mama meminta Papa menceraikannya.


Bukan hanya gertakan saja, Mama juga membawa barang-barangnya dan memindahkannya ke rumah kontrakkan kecilku. Mama tak pernah pulang ke rumah dan terus menemaniku sampai aku pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


Papa terus berusaha meminta maaf sama Mama namun tak Mama pedulikan. Yang ada di pikiran Mama adalah bagaimana menyembuhkanku.


Setelah sadar aku hanya melamun dengan pikiran kosong. Tak ada semangat lagi dalam menjalani hidup. Kerjaan terbengkalai. Untunglah Pak Ari bisa menghandle selama aku dalam keadaan down.


Papa selalu datang ke rumah sakit dan selalu dicuekkin oleh Mama. Tak hanya Mama, aku juga tak menggubris kedatangan Papa. Aku seperti cangkang kosong yang tak ada isinya. Ragaku ada tapi jiwaku sudah terbang melayang entah kemana.


Mama terus menangisi keadaanku. Mama pun memanggil Psikiater terkenal untuk menyembuhkanku. Setelah terapi beberapa sesi aku sudah mulai membaik.


Aku akhirnya pulang ke rumah kontrakkanku lagi. Papa bersikeras mengajak aku dan mama kembali ke rumahnya. Mama menolaknya sedangkan aku bahkan tak menganggap sama sekali setiap perkataan Papa.


Rumah kontrakkanku yang dulu begitu hangat dengan senyum manis Ayu dan setiap sentuhannya di tiap sudut rumah sekarang begitu kosong. Pak Ari dan teman-teman Bengkel Kayu masih rajin membersihkannya jadi rumah senantiasa bersih dan rapi. Tapi tetap saja terasa amat kosong.


Selama di rumah Mama juga selalu menemani. Ia bahkan sudah menganggap kontrakkanku sebagai rumahnya sendiri. Ia benar-benar sudah tidak mau lagi pulang ke rumah.


Papa yang kelimpungan. Setiap hari harus membujuk Mama agar pulang. Sudah ribuan kata maaf Ia ucapkan pada Mama dan aku, tetap saja hati kami masih sakit akibat perbuatanya yang menyebabkan Ayu pergi.


Saat aku sudah sehat dan benar-benar pulih dari sakit, aku berencana menjemput kembali Ayu. Tentunya semua ini kulakukan setelah Papa akhirnya menyerah karena aku mengundurkan diri dari perusahaannya. Papa tak lagi mengancamku karena kalau Papa sampai mengancamku maka Mama benar-benar akan melayangkan gugatan cerai untuknya.


Aku akhirnya datang ke rumah Ayu. Keluarganya menyambutku dengan emosi seperti yang sudah kuduga. Aku bahkan sampai berlutut meminta mereka sudi memaafkanku.


Keluarga Ayu sungguh berbeda dengan keluargaku. Mereka memang emosi tapi tak sampai menggamparku seperti Papa Putra yang langsung menggampar Ayu sampai pipinya bengkak dan berdarah. Mereka marah namun lebih banyak menangisi nasib Ayu.


Papa Ayu yang pertama menenangkan diri. Ia menanyakan kemana keberadaanku selama sebulan ini. Aku menceritakan tentang aku tidak sadar selama 3 hari dan harus menjalani sesi terapi baru aku bisa bangkit dari keadaan terpurukku.


"Papa minta biarkan Ayu hidup tenang, io. Biarkan Ayu memulai hidup barunya. Berikan Ia sedikit ruang. Papa tahu kamu gak salah. Keadaan yang membuat kalian terpisah. Selesaikanlah masalah kamu terlebih dahulu. Mulailah hidup baru kamu juga." pinta Papa Ayu.

__ADS_1


"Tapi Ayu lagi mengandung anak Dio, Pa. Dio harus bertanggung jawab merawat dan membesarkan anak Dio. Beritahu Dio keberadaan Ayu, Pa." aku meminta bahkan sambil berlutut dan menangis.


"Maaf, Papa gak bisa. Kalau Ayu bersama kamu lagi akan banyak yang terluka. Akan banyak masalah lagi. Kasihanilah Ayu. Ayu pergi juga karena Ia sangat sayang sama kamu. Ia gak mau hidup kamu terus tertekan selama bersama dengannya. Ikhlaskanlah Ayu...."


Papa lalu meninggalkanku yang masih berlutut di teras rumahnya. Sampai malam hari aku menunggu namun tak juga ada keluarga Ayu yang keluar untuk memberitahukan keadaan Ayu.


Aku lalu pulang dan terus merenung, kenapa semua ini terjadi padaku. Aku sayang Ayu dan aku cinta Sheila. Namun saat Ayu pergi bahkan kehadiran Sheila pun tak kurasa dapat mengisi kekosongan di hatiku.


Sampai di rumah Mama menanyakan kenapa aku pulang tanpa membawa Ayu. Saat kuberitahu Ayu sudah pergi dan aku tak diberitahu keberadaannya Mama pun ikut menangis bersamaku.


Ya, aku udah kehilangan wanita yang amat berarti dalam hidupku. Wanita yang dulu aku nomorduakan keberadaannya ternyata telah pergi membawa seluruh hatiku. Membawa buah cinta kita berdua. Meninggalkan aku sendirian yang mencoba untuk bangkit demi menemukan dimana keberadaanya dan untuk membuktikan pada Ayu saat kami bertemu kelak kalau aku sudah kuat dan bisa melindungi keluarga dengan usahaku sendiri.


Semangat untuk bangkit dari keterpurukan pun semakin membara dalam dadaku. Aku mulai mempelajari pembukuan yang sudah Ayu buat. Mempelajari strategi bisnis yang Ayu sudah rencanakan dan mempelajari teknik pemasaran yang selama ini aku lakukan.


Aku terus belajar entah dari buku, seminar bahkan aku terjun langsung dalam mengembangkan bisnisku. Quality kontrol produk aku cek sendiri lebih mendetail agar customer tidak kecewa.


Dengan uang hasil orderan Pak Dhana yang pertama aku mulai menyewa rumah kontrakkan di samping rumahku dan menambah modal usahaku. Seharusnya uang tersebut untuk membelikan Ayu sebuah mobil second agar Ia bisa pulang dan pergi kerja tanpa kepanasan dan kehujanan. Namun aku sudah pergi tak tahu kemana.


Aku mulai gencar promosi di social media. Teknik fotografi juga aku pelajari agar hasil fotoku lebih bagus lagi. Usahaku akhirnya membuahkan hasil. Pak Dhana repeat order lagi padaku. Pembeli dari tetangga sekitar juga makin banyak.


Aku menambah jumlah karyawan sampai akhirnya aku memiliki 10 orang karyawan. Sebagian keuntungan kupakai untuk membeli mobil pick up untuk memudahkan proses pengantaran. Sebagiannya lagi kutabung untuk memperbesar modal.


Sekarang walau aku tinggal di kontrakkan kecil namun aku mampu membeli sebuah rumah dengan cash. Aku juga sudah punya mobil pribadi, walau tidak sekeren ferrariku yang di rumah Papa.


Aku menatap lagi wallpaper hp yang selalu kupandangi kala hatiku sedang rindu. Bayi mungil laki-laki yang ingin sekali kupeluk dan kucium. Saat menerima foto ini dari Mama semangatku langsung terpecut. Aku harus secepatnya sukses agar bisa membawa mereka ke sisiku lagi.

__ADS_1


Aku berusaha mencari keberadaan Ayu namun nihil. Budi, salah satu anak buahku bahkan aku sewakan kontrakkan di depan rumah orang tua Ayu sebagai mata-mata jika Ayu pulang Ia akan menginformasikan padaku. Namun sudah 3 tahun dan Ayu tak pernah pulang ke rumah. Tapi aku tak pernah menyerah, aku akan membuktikan pada Ayu kalau aku yang sekarang bukanlah Dio yang lemah seperti 3 tahun lalu. Dio yang sekarang akan mampu melindungi anak dan istrinya.


⚘⚘⚘⚘ POV Dio belum kelar yo. Besok lanjutin lagi. Jangan lupa vote dan likenya jangan sampai kendoor oke???? ⚘⚘⚘⚘😘😘😘


__ADS_2