
"Jangan aneh-aneh deh, io. Ini tuh di kantor tau. Malu aku kalau sekretaris kamu tiba-tiba masuk." Aku masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Dio namun tenagaku tidak ada apa-apanya dibanding pelukan erat yang Dio lakukan.
"Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok, Yu. Biarkan begini dulu sebentar aja."
Aku berhenti melawan. "Ada apa?" tanyaku setelah melihat perubahan sikap dan wajahnya.
"Gak ada apa-apa. Rasanya nyaman banget meluk kamu kayak gini."
"Bohong. Pasti ada sesuatu deh. Cerita dong jangan dipendam sendirian aja. Kita kan sudah berjanji akan saling berbagi." Aku mengusap lembut rambut Dio.
Dio menghembuskan nafas berat. "Rasanya lebih enak jadi Kang furniture Yu dibanding jadi bos perusahaan. Disini tuh terlalu banyak tekanan."
"Tekanan apa aja? Ceritain semua sama aku. Mungkin aku cuma bisa kasih solusi sama kamu. Tapi setidaknya dengan bercerita bisa mengurangi sedikit beban pikiran kamu. Sharing is caring you know?" kataku mengulang kata-kata di channel Youtube anak-anak yang biasa Kevin tonton.
Dio makin menyembunyikan wajahnya di pelukanku. Aku biarkan saja Ia merasa nyaman dengan posisinya saat ini walau aku sendiri tak nyaman dan takut ada orang yang tiba-tiba masuk.
"Jujur aja, aku kadang tidak percaya dengan kemampuanku dalam memimpin perusahaan ini, Yu. Saat ini sih masih ada Papa yang banyak membantu aku. Kalau Papa sudah benar-benar lepas tangan gimana? Pandangan mata karyawan aku kan kamu lihat sendiri tadi. Penuh dengan selidik dan pandangan tidak yakin akan kemampuanku. Di depan mereka aja aku berusaha kelihatan baik-baik saja dan sok kuat. Tapi kalau di depan kamu, mana bisa?"
Walau belum pernah mengalami yang Dio rasakan tapi aku tahu bagaimana kekhawatiran Dio. "Aku yakin kamu pasti bisa. Rajinlah belajar dari Papa Putra. Ambil ilmu yang Beliau pakai untuk memimpin perusahaan ini. Aku memang belum pernah ada di posisi kamu tapi satu yang pasti." Aku menangkupkan kedua tanganku pada wajah Dio. "Daddynya Kevin pasti Daddy yang hebat dan bisa melakukan semuanya dengan kemampuannya sendiri." Aku tersenyum menguatkan Dio. Gak ada yang bisa aku lakukan selain memberikan support dan dukunganku padanya.
Dio pun ikut tersenyum. Aku melihat semangat kembali membara dalam mata Dio. "Makasih Sayang. Kamu memang bidadari yang Tuhan kirim untuk menguatkan aku." Dio memelukku lagi dengan erat. Bebannya sudah hilang, tapi beban pikiranku yang belum.
__ADS_1
"Hmm... Dio."
"Kenapa?"
"Mengenai Papa. Aku sama Papa kan belum ada kata baikan tapi karena ada Kevin diantara kita jadi ya.... ya mengalir aja gitu kayak gak ada permasalahan sebelumnya."
Dio mengangkat kepalanya lagi dari pelukanku. "Loh bagus dong. Anggep aja gak ada masalah apa-apa. Iya gak?"
"Ya gak bisa gitu dong, io. Aku kan gak enak. Aku ngerasa kalau aku tuh perlu minta maaf sama Papa atas perbuatanku dulu." Dio menatap ke dalam mataku. Ia lalu memegang tanganku dan menepuknya pelan.
"Sama seperti kamu. Papa juga mungkin mau minta maaf atas kesalahannya sama keluarga kita. Cuma terkadang ada hal-hal yang lebih baik tidak usah diucapkan dengan perkataan dan lebih baik dibuktikan dengan perbuatan. Sikap Papa yang mendekati Kevin duluan itu salah satu pembuktian kalau Papa berniat memulai hubungan baik dengan kamu dan Kevin. Mungkin Papa malu mengakui kesalahannya. Biarkan saja. Maklumi saja kita sebagai anaknya sebaiknya menutupi malu orang tuanya. Kita ikutin aja Papa maunya gimana. Anggap saja permasalahan di masa lalu sudah case close. Kita buka lembaran baru dimana kita hidup bahagia bersama selamanya. Dan yang pasti rukun juga."
Aku yang gantian menatap Dio. Seakan tidak percaya kalau Dio sudah berubah sedewasa seperti sekarang. Ternyata dalam 3 tahun ini Dio belajar menjadi lebih dewasa dan menerima keadaan. Aku makin salut dengan sikapnya tersebut.
"Nah gitu dong. Baru nanya Nyonya Agdio yang terhormat. Kevin masih lama nih kayaknya. Kita juga mau jalan-jalan di mall gak?"
Aku menggelengkan kepalaku menolak ajakan Dio. "Gak usah. Nanti kalau Kevin nyariin aku pas pulang gimana?"
"Hmm.... yaudah kita jalan-jalannya muterin area kantor aku aja mau gak?"
"Memangnya ada apa aja disini?" tanyaku penasaran. Karena kantorku dulu hanya ada ruang kantor dan sebuah mini cafe dilantai bawah.
__ADS_1
"Banyak. Ada kedai kopi. Ada kantin karyawan. Ada ATM corner. Ada Aula yang biasanya suka ada acara bazar. Sekarang kayaknya ada bazar deh di lantai 15. Mau kesana?"
Aku sebenarnya mau tapi pasti akan bertemu dengan karyawan Dio nanti. "Kalau karyawan kamu lihat gimana?"
"Ya gak apa-apa, Yu. Santai aja. Sekalian memperkenalkan kamu sama karyawanku yang lain. Biar gak ada yang berani godain kamu kalau ketemu di jalan." goda Dio.
"Gak salah tuh? Bukannya biar gak ada cewek-cewek yang rese suka ngejar-ngejar kamu makanya nyuruh aku jadi pagar betis kamu?"
Dio tertawa mendengar perkataanku. "Tau aja kamu. Cewek-cewek sekarang makin agresif. Gak boleh liat suami orang cakep sedikit uh langsung diembat. Gak mikirin itu suami udah punya anak dan istri di rumah. Gak mikirin perasaan sesama perempuan. Hanya memikirkan kepuasan sendiri aja. Makanya aku takut juga kalau banyak yang ngedeketin aku kayak gitu. Kalau aku lari pagi aja banyak ibu-ibu komplek yang ngintilin."
"Aku selalu minta kamu bawain bekal karena jujur aja aku takut makan di kantin karyawan. Waktu awal pertama kerja disini aku pernah enggak dibawain makan sama Mama terus aku makan di kantin. Eh, yang ngeliatin banyak banget. Cewek-cewek karyawan baru juga ngeliatin. Yang senior lebih gila lagi, ada yang sengaja taruh tempat makan siangnya deket tempat duduk aku. Terus mereka cekikikan deh sambil ngegosipin aku. Mereka pikir aku masih single kali jadi lumayanlah buat dijadiin gebetan. Kamu tau kan gimana kegantengan aku?" kenapa harus diakhiri dengan sikap percaya dirinya yang tinggi ya? Padahal dari tadi kami bicara dari serius sampai santai dan berakhir dengan mendengarkan dirinya memuji diri sendiri?
"Iya... iya... iya... aku percaya. Jadi kamu maunya gimana? Mau aku buatin spanduk yang gede berisi surat nikah kita? Atau mau di tulisin di jidat kamu tulisan sold out?"
Dio tertawa melihat ekspresi sebal pada mukaku. "Gak usah Yu. Temenin aku kesana aja yuks. Biar seisi kantor aku tahu kalau aku udah ada yang punya. Mau kan?"
"Iya aku mau. Ayo ah nanti Kevin keburu datang." Aku pun turun dari pangkuan Dio.
Dio membukakan pintu untukku lalu tak lupa menggandeng tanganku. Aku dan Dio bak pengantin yang sedang berjalan diatas red carpet diiringi dengan pandangan penuh keingintahuan dari para karyawannya.
Dio melakukan hal yang selama 2 bulan ini selalu Ia ingin lakukan, yakni memesan jus alpukat dan makan rujak buah. Ah simple sekali keinginannya. Aku juga memesan bakwan goreng dan tahu goreng serta es teh manis sebagai minumannya. Kami makan dengan asyiknya diiringi tatapan mata tidak percaya dari karyawan Dio.
__ADS_1
Sesekali Dio menyuapiku rujak buah. Sengaja banget sih Dia ingin membuat karyawan yang lainnya melihat hubungan kami berdua. Tidak apa-apalah, siapa tahu dengan berbuat begini besok Dio akan nyaman kalau ke kantin tanpa perlu dilihatin dan didekati oleh anak buahnya lagi.
⚘⚘⚘HI Semua! Aku mau infoin nih judul novel aku yang baru. Judulnya WARM YOUR HEART. Aku terbitinnya mulai besok ya. Langsung vote yang banyak biar langsung masuk top rangking novel baru, oke? Maacih😘😘😘⚘⚘⚘