Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 21


__ADS_3

"Sudahlah, Wa. Hubungan diantara kita sudah selesai. Walau pernikahanku dan Dio terpaksa namun pernikahan tetaplah pernikahan. Tetap sah di mata Tuhan. Begitu pun pernikahan kamu dan istrimu. Janji suci yang kalian ikrarkan saat kalian menikah tolong dijaga. Itu besar pertanggung-jawabannya nanti di hadapan Tuhan."


Hanya nasehat yang bisa aku berikan. Dulu kami memang saling mencintai, bahkan sampai sekarang pun masih. Namun saat ini kami berdua sama-sama memiliki pasangan hidup.


"Andai kamu, Yu. Andai waktu itu kamu minta pertanggung-jawaban perbuatan kamu malam itu sama aku, pasti aku akan menikahi kamu Yu." ucap Dewa dengan putus asa.


"Kamu mungkin bisa bilang kayak gitu sama aku sekarang. Tapi 3 bulan lalu? Aku ingat betul wajah kecewa kamu saat bertemu denganku dan kubilang aku sudah menikah. Apakah kamu pikir saat aku mengalami malam terkutuk itu aku tidak memikirkan tetap bersama kamu saja? Aku malu, Wa. Aku udah kotor. Udah gak suci lagi." Aku lalu mengusap air mata yang menetes di pipiku.


Aku melanjutkan lagi perkataanku. "Aku yakin, kalaupun kamu waktu itu menerimaku, pasti suatu saat nanti masalah ini akan kamu ungkit lagi dan akan mengganjal pernikahan kita kelak. Aku gak mau itu, Wa. Karena itu aku membiarkan Dio yang bertanggung-jawab atas perbuatannya padaku. Hubungan kita udah usai, Wa. Namun aku masih ingin berteman dengan kamu. Dan pertemanan kita mungkin lebih abadi dibanding hubungan percintaan kita."


Dewa masih terdiam. Ada setitik air mata di pelupuk mata hitamnya yang sejak tadi Ia tahan agar tidak tumpah.


Kami saling pandang namun dengan pemikiran yang berbeda. Aku yang merasa bersalah dan menyesali perbuatan bodohku sedangkan Dewa yang sepertinya memikirkan sesuatu yang baru kutahu setelah Ia akhirnya mengatakannya.


"Yu, aku punya satu permintaan sama kamu."


Kini Dewa menatapku dengan amat serius.


"Apa?"


Dewa menghirup nafas dalam dan menghembuskannya.


"Bercerailah dengan Dio. Aku pun akan bercerai dengan istriku. Lalu kita berdua menikah. Kamu mau kan?"


"Jangan gila kamu, Wa. Permintaan macam apa itu? Kamu terlalu memaksakan hubungan kita yang sudah berakhir. Sadarlah, Wa. Our relationship is over. Finish. Kita udah berakhir Wa."


"Tapi aku masih cinta sama kamu Yu. Cuma kamu yang aku cintai. The one and only."


"Aku juga masih cinta sama kamu, Wa. Tapi kita gak bisa bersama. Sadarlah. Terlalu banyak rintangan yang harus kita hadapi. Kita sudahi ya percakapan ini. Aku akan menganggap apa yang kamu bicarakan tidak pernah terjadi, oke?"


Dewa kembali terdiam.


"Wa."


"Iya. Baiklah. Kalau memang itu mau kamu. Ingatlah satu hal, aku akan selalu ada untuk kamu. Jika suatu hari nanti Dio menyakiti hati kamu, ada aku yang akan selalu setia menunggumu."

__ADS_1


"Iya, Wa. Akan aku ingat. Jalanilah pernikahanmu sebaik-baiknya. Sama denganku, aku juga akan menjalani pernikahanku sebaik mungkin. Mungkin ini sudah jalan takdir Tuhan untuk kita. Ayo kita makan nanti keburu dingin. Aku juga harus kembali ke kantor lagi." aku langsung melahap makananku dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Dewa bisa move on dan tidak membahas hubungan kami. Jujur saja aku pun juga sakit hati mengingat kandasny hubungan kami yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya.


Dewa pun menyadari kalau aku tidak mau membahas hubungan kami lagi. Ia pun memulai obrolan agar kami kembali akrab.


"Yu, kamu semenjak nikah suka masak gak?"


"Suka dong. Kemampuam memasak aku makin jago dong." pamerku.


"Ah masa? Dulu aja udah jago kok sekarang makin jago? Aku jadi penasaran nih. Buatkan aku macaroni schotel andalan kamu dong. Aku doyan banget tuh."


"Kamu beneran mau aku masakkin? Yaudah besok aku bawain ya. Tapi kamu besok kesini lagi?"


"Kalau kamu bawain macaroni schotel pasti aku akan datang. Kangen banget sama masakan kamu. Sama kamu juga sih." Dewa tersenyum padaku. Akhirnya kami bisa mengobrol tanpa canggung lagi.


"Oke. Besok aku bawain ya."


"Asyik."


******


Jalanan hari ini seperti biasa, macet dimana-mana. Rasanya lelah banget tiap hari harus kayak gini. Enak kali ya kalau bisa punya apartemen di tengah kota. Dulu Apartemen Dio tidak jauh dari kantorku, namun semenjak menikah semua fasilitas dicabut oleh Papa.


"Yu."


"Hmm."


"Makan dulu yuk. Aku lapar nih."


"Iya. Terserah kamu aja."


Setelah mendapat persetujuanku, Dio pun melipirkan motornya ke warung bakso pinggir jalan. Ia lalu memesankan 2 porsi untuk kami berdua.


Tak lama pesanan bakso kami datang. Aku memberikan setengah porsiku untuk Dio.


"Loh, kok kamu makannya dikit banget?" tanya Dio heran.

__ADS_1


"Masih kenyang."


"Tumben banget. Biasanya kalau makan bakso gak pernah nolak." Dio menuangkan saus cabe, sambal dan kecap dalam mangkok baksonya lalu mengaduknya rata.


"Tadi siang abis makan makanan Korea." Aku melakukan yang Dio lakukan menuangkan saus cabe dan sambal lalu mengaduknya.


Dio mengernyitkan alisnya. Seakan punya feeling akan sesuatu. "Sama siapa?"


"Sama De-" Aku langsung menutup mulutku yang keceplosan.


Dio menaruh sendok dan garpunya lalu menatapku tajam. "Dewa? Kamu ketemuan sama Dewa?"


Sambil menunduk aku pun mengangguk. "Iya tadi gak sengaja ketemu lalu ngajak aku makan siang bareng." kataku takut-takut.


"Kamu mau gitu? Gak nolak?" kali ini Dio melipat kedua tangannya di dada. Sepertinya level kemarahannya bertambah.


"Ya kan walau sudah jadi mantan aku harus tetap berteman baik dengannya." kataku membela diri.


"Apa aja yang udah diomongin sama Dia?" Bakso milik Dio sama sekali belum tersentuh. Ia masih saja menginterogasiku.


"Nanya apakah aku masih suka masak apa tidak, aku jawab aja masih."


"Terus?"


"Sudahlah kamu makan dulu nanti baksonya dingin." Aku menghentikan percakapan kami. Tak ada gunanya diteruskan.


"Terus ngomongin apa lagi? Aku udah gak nafsu makan sekarang." Dio meminum es teh manis yang Ia pesan tadi.


"Gak ngomongin apa-apa kok. Udah sih gak usah dibahas. Gak penting juga." Aku lalu memakan baksoku dengan harapan Dio akan memakan bakso miliknya seperti yang aku lakukan.


Aku terus saja makan tanpa memperdulikan tatapan tajam Dio yang meminta jawaban dariku. Dan akhirnya Dio pun ikut makan tanpa bertanya lagi. Ah leganya hatiku.


Kupikir masalah sudah selesai. Case close. Namun ternyata belum usai. Setelah membayar Dio langsung ke motor dan sepanjang perjalanan Ia hanya diam saja sampai kami tiba di rumah.


Di rumah pun Ia sama sekali tidak bicara padaku. Selesai mandi seperti biasa Ia melanjutkan pekerjaan kantornya dan aku menonton drama korea favoritku. Bedanya adalah biasanya Dio mengerjakan pekerjaannya sambil menemaniku nonton drakor tapi sekarang Ia mengerjakannya di halaman belakang, tempat Ia membuat furniture mini.

__ADS_1


Aku tahu Dio marah, namun setelah tahu apa yang aku dan Dewa bicarakan pasti Ia akan lebih marah lagi. Aku membiarkan saja Dio dengan kemarahannya dan kami tidak bertegur sapa selama seminggu lebih. Sifat egois kami yang membuat kami seperti ini. Tak ada yang akan mengalah.


__ADS_2