
"Pa, sudah... Malu dilihat banyak orang. Kita bicarakan di dalam saja ya." Mama Lia berusaha meredakan amarah Papa walaupun tadi tangannya sempat Papa tepis.
Papa menghembuskan nafas dengan kesal. Perkataan istrinya ada benarnya juga. Ia akan membuat malu nama baiknya sendiri jika bertengkar hebat dengan anaknya kandungnya dan dilihat banyak orang. Bagaimanapun Ia adalah orang penting. Ia tak mau rumor buruk tentangnya menyebar dari mulut ke mulut.
"Masuklah! Kita bicarakan di dalam!" perintahnya dengan suara dingin dan berat. Ini adalah salah satu titah yang tidak boleh dibantah lagi.
Mama Lia menunduk ke arah aku dan Dio. Memberi tanda kalau kami harus ikuti kemauan Papa dan menyelesaikannya di dalam.
Papa dan Mama pun masuk ke dalam rumah. Dio berbalik dan menatap teman-temannya.
"Maaf ya, aku bicarakan dulu dengan Papaku. Kalian istirahat aja dulu." Dio lalu berjalan ke dalam. Saat di depanku Ia mengulurkan tangannya dan aku pun menggenggam tangan Dio. Genggaman tanganku adalah salah satu kekuatan dalam menghadapi cobaan.
"Kita hadapi sama-sama, Yu. Walau keputusan akhirnya akan memberatkan kita berdua. Aku yakin kita bisa." Aku mengangguk memberikan Dio dukunganku.
Papa sudah duduk dengan melipat tangannya di dada. Mama hanya duduk diam di sampingnya, Mama pun tak berani berkata apapun yang malah akan membuat Papa makin emosi.
"Duduklah kalian!" Perintah Papa. Aku dan Dio pun duduk di kursi seberang Papa.
"Berapa orang yang memesan furniture sama kamu?" Interogasi Papa pun dimulai.
"Satu, Pa. Ini pemesanan yang kedua kalinya." jawab Dio dengan tenang. Tangannya masih menggenggam erat tanganku. Mata Papa melirik ke arah genggaman tangan kami berdua.
__ADS_1
"Berapa banyak pesanannya kali ini?"
"20 pc."
Papa mengerutkan dahinya. Ada keterkejutan di dalam sorot matanya yang terbaca olehku. Ia pasti tidak percaya kalau kemampuan anaknya membuat furniture dihargai oleh orang lain, bahkan sampai memesan banyak pula.
"Kenapa kamu mengambil orderan itu? Kamu tahu kalau Papa akan marah kalau tahu kamu mengambilnya?" Suara Papa mulai terdengar penuh tekanan.
"Karena ini pertama kalinya ada yang menghargai hasil kerja Dio, Pa."
"Memangnya Papa tidak pernah menghargai hasil kerja kamu?!" Papa mulai tersulut emosi kembali.
"Jujur, Pa. Tidak." Papa makin menatap kami tajam. Tanganku mulai keringetan karena mulai gentar menghadapi kemarahan Papa.
"Baru diomelin depan umum saja nyali kamu sudah ciut. Gimana kamu memimpin perusahaan besar Papa nanti?" Ucapan Papa malah membuat Dio makin emosi saja.
"Dio gak pernah menginginkan perusahaan Papa. Gak pernah, Pa. Papa yang selalu memaksa Dio menuruti segala keinginan Papa. Alasan Papa selalu saja kalau Dio akan meneruskan perusahaan Papa kelak. Itu bukan passion Dio, Pa!"
"Lalu kalau kamu tidak meneruskan perusahaan Papa bagaimana dengan perusahaan? Enak saja kamu bilang tidak mau mewarisi perusahaan. Dasar bocah. Mikir kamu! Siapa yang akan memimpin perusahaan nanti? Ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan Papa. Ada keluarga mereka yang harus diberi makan. Kalau kamu tidak meneruskan kepemimpinan Papa kelak, bagaimana dengan nasib mereka dan keluarganya?" Dio terbelalak mendengar perkataan Papa. Ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Kenapa? Baru sadar kamu sekarang? Kamu mau bilang kalau serahkan saja kepemimpinan pada Manajemen saja? Heh bocah, bagaimanapun Manajemen adalah orang luar. Papa orang yang mendirikan perusahaan ini dari awal. Tak ada rasa cinta sebesar Papa pada perusahaan. Manajemen hanya peduli pada keuntungan mereka sendiri, bahkan tak segan mem-PHK karyawan yang sudah Papa anggap keluarga sendiri. Mau kamu perusahaan jatuh pada orang tamak seperti mereka?"Dio menggelengkan kepalanya. Ia merasa tertohok dengan perkataan Papa. Tak ada kata-kata perlawanan yang terucap lagi dari mulutnya. Papanya sepenuhnya benar. Ia memikul tanggung jawab atas perut ribuan karyawannya.
__ADS_1
"Dan sekarang yang kamu lakukan adalah main-main dengan furniture bukannya fokus bekerja dan belajar di perusahaan. Bagaimana Papa akan menyerahkan tanggung jawab di perusahaan Papa nanti sama kamu?"
"Dio gak main-main, Pa. Seperti halnya Papa yang mendirikan perusahaan dari awal. Dio juga mau seperti Papa. Mendirikan perusahaan dari nol yang nantinya akan bisa menghidupi banyak orang. Kita sama, Pa. Sama-sama punya tujuan baik. Apa salahnya Papa mendukung usaha Dio? Dio janji akan tetap fokus bekerja di perusahaan Papa. Tapi biarkan Dio juga mendirikan perusahaan Dio sendiri Pa."
Papa terdiam. Ia sedang memikirkan perkataan Dio. Sebenarnya Dio mengingatkannya akan masa mudanya dulu. Jiwanya menggelogak ingin merintis sebuah perusahaan. Ia tak ingin Dio mengalami jatuh bangun seperti Ia dulu. Ia hanya ingin anak dan istrinya hidup nyaman dari hasil jerih payahnya sejak muda dulu.
Papa menghembuskan nafas berat. Keputusan sulit harus Ia ambil sekarang. "Kamu bukan tipikal anak yang akan menuruti setiap ucapan Papa. Baik. Papa akan kasih kamu pilihan. Kamu tetap memimpin perusahaan atau perusahaan akan Papa serahkan pada Om Lim, adik kandung Papa sendiri?"
Dio langsung merespon cepat perkataan Papa. "Pa, kenapa harus Om Lim sih? Papa tahu sendiri gimana watak Om Lim? Om Lim tuh serakah dan suka judi, perusahaannya saja hancur karena hutang judinya dimana-mana. Bagaimana karyawan kita nanti? Papa bilang kalau Papa memikirkan nasib mereka, kenapa malah akan Papa serahkan pada Om Lim?"
Papa tersenyum menyeringai. Ia tahu kalau Dio sudah masuk dalam rencananya. "Jadi kamu gak mau Papa menyerahkan perusahaan pada Om Lim?"
Dio menggelengkan kepalanya dengan yakin. Ia sangat tahu watak Om nya tersebut.
"Berarti kamu yang akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan kan?"
"Iya. Tapi dengan syarat Dio boleh sambil merintis usaha Dio sendiri. Dio akan berusaha menjalankan keduanya dengan sejalan. Ayu akan membantu dalam manajemen usaha pribadi Dio, Pa."
Papa tersenyum lagi. Kok aku ngeri ya, kayak mau jatuhin bom gitu senyumnya. Senyum penuh kelicikan.
"Oke. Kamu punya syarat, Papa pun punya syarat. Papa akan ijinkan kamu mengambil alih perusahaan dan juga menjalankan usaha kamu. Syarat Papa mudah dan pasti kamu suka. Nikahi Sheila. Ia anak rekan bisnis Papa. Dengan menikahi Sheila perusahaan Papa makin besar, makin banyak karyawan yang bisa kita hidupi. Bagaimana, mudah kan syarat dari Papa? Kamu bisa punya dua istri, pacar yang sudah lama kamu pacari dan juga istri dari hubungan cinta semalam kamu."
__ADS_1
******
Hmm... Dio akan pilih apa ya? Ayo dong vote dulu yang banyak biar rating novelnya naik. Jangan lupa like ya. Biasanya kalau keasyikan baca suka lupa like dan vote nih 🤭🤭🤭