
POV Dio
"Apa itu artinya kamu juga mencintai Ayu?"
Aku menghela nafas panjang. "Mungkin." jawaban yang menggantung dan tidak jelas. Sheila sudah mulai sebal.
"Bagaimana rasanya melihat penyakitku kumat untuk kedua kalinya?" pertanyaan ini sudah dari tadi ingin kutanyakan.
"E... Em... Biasa aja." Sheila mulai gelagapan. Aku tahu kalau Ia berbohong. Jelas tadi aku melihat Ia sangat benci kala melihatku seperti itu.
Aku menyunggingkan senyum setengah pipiku. "Kayak orang gila ya kalau aku lagi kayak gitu?" kembali aku memancing reaksi Sheila.
"Em... Kata siapa? Aku gak kaget kok. Kan... aku udah... udah pernah liat sebelumnya. Aku biasa aja kan tadi?" Sheila memasang senyum yang kutahu itu amat dipaksakan.
"Gak apa-apa kok. Aku udah biasa ditatap dengan pandangan aneh dan kasihan oleh orang lain. Santai aja lagi."
"Kata siapa aku melihat kamu dengan pandangan kasihan? Aku gak gitu kok."
Tapi kamu menatap aku dengan tatapan aneh dan benci. Aku lihat itu Sheila.
"Sudahlah tak usah dibahas lagi. Kamu sekarang sudah tahu statusku. Menurut kamu gimana?" Aku menatap wanita cantik di sampingku. Ia sedang memainkan kukunya. Aku tahu Ia sedang grogi kalau Ia memainkan kukunya.
"Ya kamu harus pilih aku-lah. Masalah wanita itu.... Ayu maksudnya, kamu tinggalin aja. Kasih tunjangan bulanan 25 juta sebulan pasti Dia senang. Kalau anaknya lahir nanti aku yang tambahin lagi deh 10 juta. Gak bakal hidup susah Dia kalau ditinggal kamu."
Emosiku mulai terpancing lagi mendengar perkataan Sheila. Aku ingat pesan Mama untuk tetap tenang dan menjaga emosiku, jangan sampai kumat lagi.
"Gaji aku sebulan aja gak sampai 10 juta, La. Gimana mau kasih sebulan 25 juta? Bisa minus dong."
"Ah masa sih Papa Putra kasih kamu gaji kecil banget? Gak mungkin! Dulu kamu bisa traktir aku tas dan jam mewah. Uang dari mana kalau bukan dari uang gaji kamu?"
"Itu pakai kartu kredit milik Mama. Pas Papa tahu aku belanjain barang-barang mahal langsung disita. Sekarang gaji aku sebulan hanya 8 juta. Tok. Gak bakalan bisa jajanin kamu yang mahal lagi." Aku melirik lagi ke arah Sheila. Ia nampak gelisah sekarang.
"Yaudah aku yang akan bayarin biaya hidup Ayu dan anak kamu kelak. Asalkan kamu ceraikan Dia."
"Tapi aku gak mau pakai uang kamu gimana dong?"
"Maunya kamu apa sih io?" Sheila mulai kehilangan kesabarannya.
"Aku cuma mau memastikan aja. Kamu siap gak menikahi suami yang punya gaji 8 juta aja?"
"Uang tuh bisa dicari, io. Tapi cinta gak bisa!"
"Kata siapa? Cinta mah gak usah dicari pasti akan datang sendiri. Justru uang yang harus dicari. Kamu bisa gak melepas gaya hidup kamu yang glamor demi hidup bersama lelaki yang mencintai kamu tapi kere?"
__ADS_1
"Aku kan bilang kalau aku bisa kerja cari uang. Kamu gak akan hidup kere kalau sama aku. Aku bisa kasih kamu banyak uang."
"Aku gak mau nanti setelah menikah pakai uang kamu. Aku maunya kita hidup cukup tidak cukup semuanya dengan uang gaji aku. Kamu bisa gak?"
Sheila terdiam. Pertanyaanku tadi sebenarnya sudah bisa ditebak akan dijawab apa oleh Sheila. Pasti Ia tak sanggup.
"Uang 8 juta. Bayar kontrakan sebulan 1 juta. Ongkosku sebulan 1,5 juta. Sisa 5,5 juta untuk makam sehari-hari dan bayar tagihan. Kamu sanggup?"
"Kamu.... Bagaimana mungkin hanya 5,5 juta untuk semuanya? Perawatanku di salon aja bisa puluhan juta perbulannya. Kamu mau meledek aku ya?"
"Bisa kok. Kata siapa gak bisa? Selama 6 bulan ini aku dan Ayu menjalaninya. Bahkan Ayu bisa menghemat 500 ribu sampai 1 juta setiap bulan. Uang gajinya pun utuh." Aku mulai membanggakan Ayu di depan Sheila. Aku tahu tak ada satu pun wanita yang akan terima jika dibandingkan dengan wanita lain, apalagi saingan dalam cintanya sendiri.
"Itu dengan Dia. Jangan samakan aku dengan Dia. Istri kamu aja yang ****. Mau aja Dia terima dikasih gaji segitu. Dia kan bisa nego sama Papa Putra. Setahu aku Papa Putra amat loyal kok orangnya. Dasar Ia tidak bisa mengambil hati Papa Putra aja." Sheila melipat kedua tangannya didadanya.
"Tolong, La, jangan ngomong sekasar itu tentang Ayu. Bahkan Ayu pun gak pernah ngomong kasar tentang kamu."
"Tuh kan! Lagi-lagi kamu bandingkan aku sama perempuan itu! Aku gak suka ya kamu kayak gitu! Aku tuh beda sama Dia. Beda. Inget itu!"
Aku menghela nafas panjang lagi. "Sebenarnya aku sangat kangen sama kamu. Tapi entah mengapa sikap kamu sekarang amat berubah. Dulu kamu lembut dan tidak kasar seperti sekarang. Dalam waktu 6 bulan kamu berubah." Aku berdiri dari dudukku. "Sudah malam. Aku lelah dan mau pulang."
Aku baru berjalan dua langkah ketika Sheila memanggilku. "Kamu gak mau antar aku pulang?"
Aku berhenti dan berbalik badan. "Aku bawa motor. Motor matic. Kamu mau diantar naik motor?"
"Aku udah dilarang bawa Ferrari lagi sama Papa. Sekarang aku bawanya Scoopy. Kalau kamu mau ayo aku antara naik Scoopy."
"Biar aku bilang Papa Putra. Pasti Ia akan kasih kamu ijin bawa Ferrari kamu lagi deh." Sheila hendak berlari dan merengek pada Papa. Secepat kilat aku menarik lengannya.
"Gak usah. Aku juga gak mau bawa Ferrari lagi. Kalau kamu gak mau aku antar naik Scoopy yasudah. Kamu minta diantar supir aja atau naik taksi. Sudah malam, aku lelah. Aku pulang dulu."
Aku melanjutkan langkahku lagi dan meninggalkan Sheila yang kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Aku terus berjalan dan tak menghiraukan tatapan Papa. Hanya Mama yang menghampiriku.
"Dio pulang dulu ya, Ma." Kupeluk dan kucium kening wanita yang sangat menyayangiku tersebut lalu melenggang pulang.
********
POV Ayu
Sudah jam 11 malam. Dio belum pulang. Mataku kering sejak tadi menunggunya dengan cemas. Mengkhawatirkan keputusan apa yang Ia buat.
Aku mengelus perutku yang sekarang sedang ada buah cintaku dengan Dio. Ups... hanya buah cintaku dan nafsu Dio. Aku lupa itu.
__ADS_1
Sayang, kamu harus kuat ya. Mama tak sabar menunggu sampai kamu lahir di dunia ini lagi. Mama amat senang dengan kehadiran kamu. Setidaknya Mama memiliki sebagian dari diri Papa dalam diri kamu.
Suara motor Dio terdengar memasuki halaman rumah. Terdengar Dio sedang memasukkan motornya ke dalam garasi dan mengunci pintu garasi. Tak lama pintu rumah pun Ia buka.
Tanpa sadar aku melangkah menghampirinya. Dio kaget melihat aku yang masih terjaga.
"Loh kamu belum tidur, Yu?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Udah makan?"
Aku kembali menggelengkan kepalaku.
"Yah kalau tau kamu belum tidur aku belikan nasi goreng gila satu lagi. Yaudah kita makan berdua aja ya. Banyak kok ini porsinya."
Aku hanya mengangguk saja.
Dio mengambil piring dan sendok. Sebelumnya Ia mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Buka mulut kamu. Aaaa...." Dio pun menyuapiku. Penuh dengan kelembutan seperti biasanya.
"Makan yang banyak ya Sayang. Supaya kamu dan Mama kuat!"
Aku tersenyum melihat perhatian yang Dio berikan. Aku tak mau kehilangan momen berharga seperti ini. Aku pun mengurungkan niatku bertanya tentang apa yang terjadi hari ini. Biarlah. Terkadang sesuatu gak perlu diceritakan prosesnya. Cukup melihat hasil akhirnya saja.
****
End
#Tapiboong
Ayo vote yang banyak. Gak mau kan endingnya ngegantung? vote dan like sebuanyaaakkk mungkin. Ya...ya...ya... 😘😘😘😘
Ayu
Sheila
Dio mana? Belum ada ilham. Nyari cowok yang matanya cokelat susyeh juga ternyata 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1