Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 96


__ADS_3

Perut kenyang, hati pun riang. Dio sudah memakan habis bekal makan siang yang kubawakan ditambah makan cemilan di kantin yakni rujak buah dan gorengan.


"Kalau begini caranya, bisa-bisa perut aku balik jadi buncit lagi nih, Yu." keluh Dio saat kami berjalan hendak kembali ke ruangannya dari kantin.


"Jangan! Nanti aku gak ada mainan lagi." langsung kutolak pemikiran Dio yang mau buncit seperti dulu lagi. "Nanti malam kamu naik tread mill lagi aja ya. Terus nanti malam aku siapin makan malamnya salad aja, gimana?"


"Yu, kalau udah kena masakkan kamu, terus aku disuruh makan salad, rasanya tuh aku jadi kayak kambing yang harus makan sayuran. Padahal sebelumnya kan aku kucing orens yang bar-bar, segala macem makanan aku makan." aku tertawa mendengar penuturan Dio.


"Kalau kamu kucing orens berarti kamu kiyuuut dong?" ledekku.


"Iya. Makanya aku suka makanin daging kamu juga hehehehe..." kusikut perut Dio dengan lenganku. Awas aja kalau ada karyawannya yang mendengar perkataannya tersebut, aku tambahin nanti dengan cubitan.


"Yaudah nanti malam kamu gak usah buatin aku salad. Bikinin aja aku telur rebus. Biar gak lapar-lapar banget gitu. Tapi telornya 2 ya." Dio menunjukkan dua jarinya untuk mempertegas perkataannya tersebut.


"Tenang, 2 biji doank mah gampang. Nanti aku rebusin." kataku menyanggupi permintaannya.


"Bukan 2 biji Yu. Tapi dua puluh biji." mataku langsung terbelalak mendengar perkataan Dio.


"Heh, kira-kira ya kalau makan. Dua puluh biji telor mah bisa bikin kamu bisulan. Jangan macem-macem deh." omelku sambil memukul pelan lengan Dio.


Dio pun tertawa terbahak-bahak mendengar omelanku. "Becanda, Yu. Ya kali aku makan sampai 20 biji. Eneq juga kali."


Percakapanku dengan Dio berhenti ketika mendengar ada suara memanggil kami. "Mommy.... Daddy...."


Aku dan Dio langsung menengok ke arah asal suara teriakan tersebut. Kevin dengan senyum mengembangnya melambaikan tangan padaku dan Dio. Papa Putra juga ikut tersenyum melihat kebahagiaan cucu pertamanya tersebut.


Aku menunggu Papa Putra dan Kevin berjalan mendekati kami yang sudah di depan lift. Hendak menghampiri tapi ternyata mereka terlebih dahulu menghampiri kami duluan.


"Mommy liyat! Aki beyiin aku pedang-pedangan. Aki juga beyiin mobil yang bisa jayan buat Kevin. Aki baik loh Mommy cama Kevin." cerita Kevin begitu dekat denganku. Aku mengulurkan tangan berharap Kevin mau aku gendong tapi sedihnya hatiku, Kevin menolak uluran tanganku. "Kevin mau digendong sama Aki aja."

__ADS_1


"Kasihan Aki. Kan Kevin berat." kataku berusaha membujuk Kevin yang keras kepalanya mirip sekali dengan Daddynya tersebut.


"Gak mau. Mau sama Aki aja." tuh kan mirip Daddynya. Aku mengerlingkan mataku pada Dio, memberi kode pada Dio untuk membantuku membujuk Kevin.


Sebelum Dio turun tangan Papa Putra sudah membela Kevin. "Biarin aja, Yu. Gak berat kok. Kevin maunya sama Aki kan?" malah Papa Putra yang minta dukungan Kevin.


"Iya. Mau cama Aki aja."


"Yaudah ayo kita ke ruangan Aki lagi. Nanti mainanya disana aja. Tapi main mobilannya di rumah Kevin aja ya. Apa mau main di rumah Aki yang ada kolam renangnya?" tuh kan Papa Putra mulai membujuk Kevin lagi. Ah mereka cepet banget akrab sih. Aku seakan dijauhi oleh Kevin.


Dio mengusap lenganku pelan. Seraya memberikan aku banyak kesabaran dan agar aku membiarkan Papa dan Kevin mendekatkan diri mereka lagi.


"Ada koyam lenang Aki? Kevin mau belenang. Ayo kita ke rumah Aki." Kevin yang diiming-imingi langsung kayak cacing kepanasan. Gak sabaran mau segera ke rumah Akinya.


"Tanya Mommy kamu dulu. Boleh apa enggak?" pinternya Papa Putra. Gimana caranya mengajak Kevin ke rumahnya tanpa bisa aku tolak.


"Boleh. Nanti ya kalau Papa Putra dan Daddy libur kerja. Kita main ke rumah Aki." kataku akhirnya mengalah. Dio tersenyum bangga atas keputusan yang kubuat. Ia bangga melihat kebesaran hatiku melawan keegoisan diriku sendiri.


Pintu lift pun terbuka. Kami semua satu lift namun berpisah ruangan saat keluar lift. Aku dan Dio ke ruangan Dio, sedangkan Kevin masih setia mengikuti kemanapun Akinya berada.


Aku yang awalnya hanya berniat sebentar ke kantor Dio dan langsung pulang terpaksa harus menunggu sampai Kevin mau diajak pulang. Kevin maunya pulang bareng Aki dan Daddy. Aku lagi-lagi mengalah. Aku menunggu sampai jam pulang kantor Dio tiba.


Aku menunggu di kursi sofa sambil menonton drakor kesukaanku, sementara Dio kembali lagi bekerja memerikas berkas yang harus Ia periksa dan setujui. Aku tak mau mengganggu Dio. Aku mencari keasyikan sendiri saja.


Tanpa terasa sudah mau jam 5 sore. Papa Putra mengantarkan Kevin yang ternyata tadi sudah tertidur pulas di ruangannya. Bangun tidur Kevin mencari keberadaanku dan menangis. Papa Putra berusaha menenangkan namun gagal.


Namanya juga anak kecil. Walau Ia tergoda akan sesuatu pasti selalu akan mencari Mamanya. Sambil berusaha menenangkan Kevin, Papa Putra pun masuk ke dalam ruangan Dio.


Aku langsung sigap mengambil Kevin dari gendongan Papa Putra. "Mommy...huuuhu...." Kevin langsung memelukku erat. Mungkin Ia bingung dimana Ia berada dan karena tak menemukanku Ia jadi ketakutan.

__ADS_1


"Gak apa-apa Sayang. Ada Mommy disini. Mommy masih nemenin Kevin kok. Kevin lupa ya kalau tadi Kevin main sama Aki. Jalan-jalan sama Aki?" kuhapus air mata yang masih mengalir dari pelupuk mata Kevin.


Perlahan ingatan Kevin pulih. Ia pun mulai tersenyum. "Iya. Tadi Kevin dibeliin mobil-mobilan sama Aki. Kevin lupa."


"Nanti Kevin mainin mobil-mobilannya di rumah ya. Sekarang Kevin pulang sama Mommy dan Daddy. Sabtu besok ke rumah Aki ya. Kita berenang bareng, oke?" Papa Putra berusaha mendekatkan diri lagi sama Kevin.


"Oce." mereka berdua pun berhigh-five bareng.


Dio yang menengahi percakapan kami. "Kita pulang yuk. Daddy mau pulang sama Mommy. Kevin mau ikut pulang apa ikut sama Aki?" goda Dio. Ia tahu kali ini Kevin gak mau lepas dari Mommynya.


"Mau sama Mommy aja." Kevin lalu melingkarkan tangannya di leherku dan memelukku makin erat.


"Yaudah ayo kita pulang." Dio membawakan mainan Kevin yang tadi Papa Putra belikan. "Kita pulang duluan ya, Pa."


"Iya." jawab Papa.


Aku mengikuti langkah Dio tapi tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hatiku kalau tidak diungkapkan. Aku menghentikan langkahku ketika akan berpisah arah dari Papa Putra. Langkah Dio juga berhenti melihat aku yang sempat ragu tapi akhirnya memutuskan berhenti melangkah.


Aku berbalik badan dan dengan mengumpulkan seluruh keberanianku kupanggil Papa Putra. "Papa."


Papa Putra pun berbalik badan mendengar panggilanku. Ia menunggu aku berjalan menghampirinya sambil menggendong Kevin. Dio memperhatikan apa yang aku lakukan. Ia kenal benar dengan sikap aku yang tak suka ada sesuatu yang dipendam.


"Makasih ya Pa udah ajak jalan-jalan Kevin. Maafin Ayu kalau selama ini Ayu banyak berbuat salah." kuulurkan tanganku hendak mencium tangannya.


Papa sempat bingung sejenak namun Ia akhirnya tersenyum juga. Ia memberikan tangannya yang langsung kucium tangan Papa. Aku juga menyuruh Kevin mencium tangannya.


"Kita pulang dulu ya, Pa. Nanti sabtu besok kita main ke rumah Papa." Aku lalu menyuruh Kevin mengucapkan say goodbye pada Papa. "Dadah dulu sama Aki."


"Dah Aki..." Kevin pun melambaikan tangannya. Papa Putra kembali tersenyum. Kali ini senyum bahagia dan senyum penuh kelegaan.

__ADS_1


Kuhampiri Dio yang tersenyum bangga akan keberanianku. Bangga akan sikapku yang berani mengalahkan keegoisan dan harga diri. Dio pun merangkulku dan kami bertiga tertawa bersama.


⚘⚘⚘Hi semua. Habis ini mampir yuks ke novel baruku yang berjudul WARM YOUR HEART. Aku akan bikin yang lebih bagus lagi dari novel Namaku Ayu ini. Vote yang banyak ya. Oh iya makasih banget buat semuanya yang udah dukung novel ini dari awal sampai mau habis. Ini udah tamat tapi aku masih mau kasih extra tambahan part buat kalian. Maacih semuanya. Luv u all 😘😘😘⚘⚘⚘⚘


__ADS_2