
POV Ayu
Loh kok tiba-tiba Dio menciumku? Dan ada apa sama tubuhku kok aku juga membalas ciuman Dio? Kami sedang berbalas ciuman ketika akhirnya Dio seperti tersadar dan menyudahi ciuman kami.
Kecewa? tentu saja.
Mengharap yang lain? hmm... mungkin.
Kenapa kedua hal itu yang aku rasakan sekarang?
Dio masih membelai lembut pipiku. "Bibir kamu manis, Yu. Maaf aku takut tidak bisa menahan diriku. Kita sudahi sampai disini saja ya."
Dio berbalik badan lalu menyelesaikan pekerjaannya sebelum kejadian ciuman berlangsung. Kecanggungan sekarang melingkupi kami.
Aku ingat sekarang. Tadi kan aku lagi memikirkan strategi marketing untuk furniture Dio sebelum Dio memberikan ciuman memabukkan yang membuatku lupa segalanya.
Tak ingin ide yang kupikirkan hilang tanpa pernah tersampaikan maka aku memutuskan mengakhiri kecanggungan kami dengan membahas furniturenya saja.
"Mmm.. Dio." panggilku ragu-ragu.
"Iya. Kenapa?" Dio mengangkat wajahnya dan menatapku.
" Aku punya ide."
"Ide apa? Ide gaya dalam membuat anak?" guraunya yang sukses mendapat cubitanku di pingganggnya.
"Mesum." Dio pun mengaduh kesakitan. Kulepaskan cubitanku.
"Iya.. gitu aja ngambek. Becanda kali. Kalo gak becanda nanti aku nafsu mau nerkam kamu lagi. Kamu mah seneng, aku yang susah nahaninnya tau." kata Dio dengan santainya.
"Iih apaan sih. Udah dong serius. Nanti ide aku keburu lupa nih!" kenapa sih Dio mikirnya hal mesum melulu? Apa semua laki-laki begitu? Aku jadi gak percaya kalau Dio memang pertama kali melakukannya denganku. Mengingat betapa nafsuannya Dia padaku.
"Iya kenapa? Sini ngomongnya deketan. Kalau perlu sini duduk di pangkuanku." Dio lagi-lagi mulai menggodaku.
"Tuh tadi katanya udahan biar gak lost control eh malah kamu sendiri yang ngungkit terus dari tadi."
"Iya..iya.. Aku serius nih sekarang. Mau ngomong apa?" Dio meletakkan alat kerjanya dan menunggu aku bicara.
"Aku berpikir gimana caranya menjual produk kamu. Menurut aku sih apa yang kamu buat itu keren. Unik dan bernilai seni. Bukan hanya sekedar furniture biasa."
"Lalu modalnya?" Dio mulai pesimis lagi.
__ADS_1
"Pakai gaji ak-"
"Aku gak mau pakai gaji kamu. Aku kan udah bilang. Kamu aku yang tanggung jawab. Gaji kamu simpan saja buat kamu senang-senang dan jajan."
"Yaudah kalau kamu gak mau pakai gaji aku. Kita pikirin cara lain." aku menghargai keputusan Dio. Aku malah bangga karena Dia penuh tanggung jawab padaku.
"Cara apa? pinjem duit di bank? gak lolos aku udah coba. Kalau pun ada pinjaman online yang bunganya gede. Klo kredit tanpa agunan juga paling dapat limit kecil. Buat modal gak akan cukup."
Aku diam sejenak. Ide dalam otakku pun tercipta dengan mudahnya. Mungkin sudah jalan Tuhan memudahkan rumah tangga kami mencari rejeki.
"Yaudah gak usah pakai modal."
Dio mengerutkan kedua alisnya. Ia pasti bingung dengan jawabanku. "Bagaimana caranya?"
"Pembelinya aja yang modalin dulu. Kita jual agak mahal tapi dengan kualitas bagus. Biar aku yang promosi di sosial media. Gimana?"
Dio terlihat sedang berpikir. Apa mungkin apa yang Ayu katakan benar bisa diwujudkan? Bisnis tanpa modal?
"Kamu yakin Yu? Memang bisa?"
"Aku yakin bisa. Coba aku lihat salah satu miniatur furniture kamu yang sudah jadi."
Dio memberikan salah satu rak dapur yang bentuknya unik padaku.
Setelah mengambil gambar aku tunjukkan pada Dio.
"Coba lihat hasil fotoku. Apakah kamu tahu kalau ini hanya miniaturnya saja? Gak keliatan kan? Nah kita jual yang versi besar tinggal kamu kasih keterangan aja sizenya berapa."
Dio diam dan terlihat berpikir. Dio menatapku lagi seakan tak percaya. "Cerdas kamu, Yu. Kenapa aku gak kepikiran bikin usaha tanpa modal ya? Terus aku harus bagaimana lagi?" kata Dio dengan penuh semangat.
"Baru tau apa kalau aku ini selain cantik juga cerdas?" kataku menyombongkan diri.
"Jadi gemes deh. Sini ciun dikit." Dio melambaikan tangannya agar aku mendekat.
"Tuh udah dikasih ide masih aja mesumin aku."
"Dikit doang, Yu. Biar semangat kerjanya. Sini cepet."
Karena aku istri yang baik, aku pun menurut saja. Aku menghampiri Dio dan langsung mendapat ciuman di pipi. Loh kok di pipi? Aku pikir.....
"Nah aku udah semangat. Ayo kita harus apa lagi. Bikin aku sibuk mikir ya biar aku gak mesumin kamu terus. Kamu soalnya bikin aku mau terkam kamu terus sih!"
__ADS_1
"Ih gitu. Yaudah kita buat perencanaan bisnis dulu. Pertama, barang yang kamu buat itu bahannya harus berkualitas, karena kita akan menjual barang yang berkualitas dengan harga tinggi. Kita menjual hasil karya seni juga soalnya, jangan mau hasil seni kita dijual dengan harga murah."
"Aku makin salut sama kamu Yu. Terus apa lagi?" Dio memujiku terus membuat aku makin merona merah pipinya.
"Kamu pikirin deh kayu apa yang akan kamu pakai. Minimal kayu jati yang sudah terkenal bagus."
"Tenang saja. Aku tau bakal pakai kayu apa. Aku pakai yang kualitas bagus. Next."
"Ambilin minum dulu. Aku haus nih ngomong melulu." kali ini aku yang tersenyum jahil. Gantian aku kerjain Dio.
"Ya ambil aja sendiri. Kenapa nyuruh suaminya ngambilin. Gak sopan." gerutu Dio.
"Ya udah aku gak lanjutin nih presentasinya." ancam aku lagi.
"Kalau gak lanjutin nanti aku cium dan aku bawa ke kasur nih. Mau?" Dio sekarang yang tersenyum jahil.
"Iiihhh.. nyebelin banget!" lagi-lagi aku kalah kalau masalah jahil dan berdebat dengan Dio.
"Iya aku ambilin." ternyata Dio berinistiatif mengambilkanku minum.
Tak lama Dio kembali membawa dua buah jus buavita dingin rasa mangga dan memberikanku.
"Makasih." kataku dengan senyum setengah tulus setengah jahil.
"Apaan itu senyum kayak gitu. Jangan mancing nafsu orang deh." aku langsung menghilangkan senyum di wajahku cepat-cepat. Dio tertawa terbahak-bahak melihat perubahan ekspresiku ini.
"Rese."
"Yaudah lanjut lagi. Masalah pertama udah beres. Lalu masalah kedua apa?" tanya Dio tak sabaran.
"Kedua, berapa harga jualnya. Kamu harus tahu hitung-hitungan berapa modal dan upah kamu kerja. Anggap saja yang mengerjakannya bukan kamu tapi orang lain kira-kira kamu akan membayarnya berapa? Lalu berapa keuntungan yang akan kamu dapatkan dari setiap produk yang kamu jual, misalnya 20 % atau 15 % atau malah 50%?" Aku membuka sedotan Buavita dan menusukkannya di lubang untuk sedotan. Kuminum jus dingin tersebut yang terasa segar sekali di tenggorokanku.
"Kalau aku hitung harga jualnya jadi mahal, Yu. Lebih murah furniture yang di toko dekat pasar." Dio mulai pesimis lagi.
"Kamu lupa tadi aku bilang apa. Kita menjual produk berkualitas dan bernilai seni tinggi. Pangsa pasar kita berbeda dengan mereka. Jangan khawatir, masalah rejeki sudah Tuhan atur."
"Yu, kok kamu jelasin kayak gitu malah bikin aku tambah nafsu ya sama kamu? Jadi pengen nih."
"Iiihh.. kamu ya mesum banget. Orang tuh dimana-mana kalau lagi ngomongin bisnis tuh konsentrasi penuh. Ini malah mikir mesum melulu. Nyebelin banget!" omelku panjang lebar.
"Ya habis gimana? Kalau kamu terlihat pintar banget kayak gitu aku makin mupeng gimana dong? Cium lagi aja deh baru aku konsentrasi lagi."
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas kesal. Walau kesal tapi aku harus menuruti kemauan Dio. Kan aku harus melayani suamiku daripada Dio minta cium sama pacarnya Sheila. Ups, tunggu. Kok aku malah tidak terima sih Dio sama Sheila. Masa aku cemburu sih? Tidak-tidak. Pasti ini karena aku takut kalau akan di poligami sama Dio. Aku yakin itu. Bukan karena aku cemburu.