
POV Ayu
Hari ini Dio berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Ia bilang rapat dengan klien dimulai jam 8 pagi karena kliennya akan pergi ke Qatar. Aku tak sempat menyiapkan bekal makan siang untuknya, sarapan pun hanya roti dan selai cokelat kesukaan Dio.
Dio sih gak ribet. Kalau memang aku gak nyiapin makan siang juga gak masalah. Tidak menuntut aku harus ini dan itu. Dio paham aku ibu rumah tangga yang harus mengurus anak dan rumah. Belum lagi mengurus Dio kalau malam-malam rewel minta sun ups... keceplosan.
Bagi Dio masalah aku mau masak atau tidak bukan persoalan besar. Kalau capek ya gak usah dikerjain, daripada bikin stress dan anak-anak jadi sasarannya.
Dio sudah menawarkanku untuk memakai asisten rumah tangga namun karena rumah kontrakkan ini kecil aku bingung nanti ART tersebut akan tidur dimana. Kenapa gak pindah aja? Hmm.... menurut keyakinanku rumah pertama tempat segala suka dan duka pernikahan adalah rumah yang penuh kenangan dan bawa hoky, karena itu aku yang meminta Dio tetap tinggal disini.
Dio pun mengalah. Ia juga nyaman di rumah ini dibanding rumah orang tuanya yang megah. Dio pun memutuskan membeli rumah ini dari pemiliknya beserta rumah di sebelahnya yang kami gunakan sebagai tempat karyawannya bekerja.
Next planning adalah merenovasi rumah ini, mau dibuat tingkat dua agar lebih luas. Tapi next ya bukan sekarang. Dio gak mau pakai uang yang Papa Putra kasih. Dio mau pakai uang keuntungan furniture untuk membangunnya kelak.
Tadi pagi Dio minta aku dan Kevin membawakan bekal makan siangnya langsung ke kantor. Aku langsung memasak setelah Dio berangkat. Kebetulan ada tukang sayur yang lewat depan rumah. Aku membeli ayam dan sayuran. Niatnya mau bikin ayam teriyaki ala-ala bento gitu loh, lengkap dengan sayuran dan telur ceplok tanpa minyak. Pokoknya menu sehat deh.
Jam 11 siang semua yang aku siapkan sudah siap. Kevin sudah rapi jali. Bekal makan siang pun sudah siap. Aku dan Kevin pun sudah makan jadi hanya membawakan dua buah bekal untuk Dio dan Papa Putra saja. Ya terserah sih Papa Putra mau makan belal yang aku buat atau tidak. Setidaknya aku sudah membawakannya.
Aku memakaikan seat belt ke badan Kevin yang duduk tenang sambil memainkan dinosaurus kesayangannya. Pajero milik Dio sudah kembali ke kandangnya setelah Yono ditugaskan membawa pulang, tentunya dengan iming-iming upah yang lumayan besar barulah Ia mau. Matre tuh anak emang. Tapi hanya Dia yang bisa dipercaya.
Kalau dulu berangkat kerja aku dan Dio harus pagi karena jarak jauh dan tidak bisa lewat jalan toll. Kalau sekarang perjalanan ke kantor Dio tidak jauh, tidak sampai 1 jam sudah sampai kalau lewat toll. Itulah bedanya yang ada fasilitas dengan yang tidak ada fasilitas.
Aku memarkirkan mobil di parkiran kantor. Dengan menenteng tas berisi makan siang dan tangan kanan menuntun Kevin aku berjalan memasuki gedung bertingkat tinggi tersebut.
Betapa bersyukurnya aku memiliki Kevin yang penurut. Ia dengan tenang berjalan di sampingku dan tidak lari-larian seperti anak kebanyakan. Aku sudah memberitahukan Dio tentang keberadaanku tapi belum Dio balas, mungkin masih meeting dengan kliennya.
Aku menghampiri meja resepsionis dan menanyakan tentang dimana ruangan Dio.
"Ibu sudah buat janji sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut menyelidik. Ia heran kenapa ada ibu membawa anaknya mencari Dio, atasan mereka.
"Belum sih. Tapi bilang aja istri dan anaknya datang."
__ADS_1
Kedua resepsionis itu mengerutkan keningnya. Apa benar wanita didepannya ini adalah istri bosnya? Mereka saling pandang seakan mau menyatukan pikiran. Aku bisa melihat raut keraguan dimata mereka.
Aku tahu mungkin karyawan Dio tidak ada yang tahu tentang pernikahan kami. Aku juga paham mereka bingung kenapa tahu-tahu aku datang dengan membawa anak kecil dan mengaku sebagai istri Dio.
"Aku coba telepon suami aku dulu ya, Mbak." aku menelepon Dio kembali diiringi dengan pandangan kedua resepsionis yang tidak percaya padaku. Aduh kemana sih Dio, sudah beberapa kali aku telepon masih gak diangkat juga.
Tiba-tiba Kevin yang sejak tadi aku pegang tangannya berlari sambil berteriak memanggil seseorang yang Ia kenal.
"Akiiiiiii." aku menengok ke arah yang Kevin tuju.
Papa Putra sedang bersalaman dengan kliennya diikuti oleh beberapa orang bawahannya yang memakai setelan jas khas atasan pada umumnya. Papa Putra menengok mencari asal suara yang Ia kenal.
Benar saja seorang anak kecil berlari kencang ke arahnya. Papa Putra langsung melepaskan jabat tangannya dan membuka tangannya siap menerima pelukan cucu pertamanya tersebut.
"Kevin...."
"Akiiiiii."
Aku segera menghampiri namun posisi Papa Putra yang lebih dekat dengan Kevin yang terlebih dahulu membangunkannya dan memeluk Kevin.
"Atiit Akiii. Kevin jatuh.... huaaa...."
"Cup...cup..cup... Jangan nangis. Cucu Aki kan anak hebat. Jagoan mah jangan nangis." Papa Putra berusaha mendiamkan tangis Kevin yang perlahan berhenti.
Aku hanya diam saja menikmati pemandangan langka di depanku. Sama seperti anak buah di sekeliling Papa yang tidak percaya seorang Putra yang dikenal tegas dan kecakapannya dalam bisnis bisa terlihat lembut dan pasrah dipanggil Aki.
Lagian Kevin kegayaan banget pake lari-larian kayak film india aja. Kenyataannya mah anak kecil kalau laki suka jatuh.
"Pak Putra siapa nih anak kecil ganteng ini?" tanya klien Papa yang tadi berjabat tangan dengannya.
"Oh ini cucu kesayangan saya. Anaknya Dio. Dan itu menantu saya yang cantik." Papa melambaikan tangannya padaku dan menyuruhku mendekat.
__ADS_1
Aku berjalan mendekat dan mencium tangan Papa. Aku juga berjabat tangan dan tersenyum pada klien Papa. Ah rasanya aku masih tidak percaya kalau Papa baru saja mengakui aku sebagai menantunya. Dibilang cantik pula. Wah senangnya kayak habis dapat lotere saja.
"Wah pantas saja cucunya Bapak Putra ganteng kayak gini. Papanya ganteng dan Mamanya cantik rupanya." puji klien Papa yang kutahu bernama Bapak Ali tersebut setelah tadi berkenalan.
"Iya dong. Wajahnya tuh mirip sama saya waktu masih muda. Kan saya juga dulu ganteng. He...he..he.." aku agak tidak percaya. Ternyata Papa Putra orangnya pede banget. Pantas Dio kayak gitu wong Papanya juga kayak gitu. Mirip abis. Semoga Kevin gak kayak gitu juga.
"Iya deh saya percaya. Masih keliatan kok sisa-sisa kegantengannya." Papa dan kliennya pun tertawa bersama.
Tinggalah aku yang harap-harap cemas melihat ulah Kevin sejak tadi. Kalian pikir anak kecil akan diam saja gitu pas digendong? Terus dari tadi Kevin ngapain aja? Kevin lagi asyik memainkan jenggot akinya yang memutih tersebut sambil sesekali tertawa karena kegelian. Ya Tuhan Kevin.... kamu kok masih gak bisa bedain mana zona bahaya dan mana zona aman sih?
Papa Putra pun melepas kepergian kliennya dengan senyuman. Sekarang gantian aku yang ketakutan. Namun seperti biasa, Avengersku datang. Kali ini Thor datang sambil berlari-lari menghampiriku. Terlihat peluh membasahi dahi Dio.
"Maaf aku dari tadi meeting jadi telepon kamu gak diangkat deh. Kamu sama Kevin udah nunggu lama ya?" tanya Dio dengan nafas terengah-engah sehabis berlari.
"Enggak kok. Belum lama." aku tak mau membuat Dio khawatir.
Dio melihat Kevin yang masih anteng memainkan jenggot Papa. "Tuh anak mirip aku banget ya Yu? Demen banget nyerempet-nyerempet bahaya? Gak ada takut-takutnya sama Papa. Terlalu santuy." Aku ikut tersenyum mendengar perkataan Dio.
Papa Putra pun berjalan menghampiriku dan Dio yang sedang menahan tawa kami agar tidak terlepas.
"Kevin, ayo sama Daddy." Dio membuka tangannya agar Kevin mau Ia gendong.
"Tada mau (tidak mau). Kevin mau cama Aki aja."
Lah sejak kapan Kevin sedekat itu dengan Akinya? Papa Putra pun tersenyum.
"Oke. Ayo main ke ruangan Aki. Nanti kita beli mainan yang banyak, oke?"
"Oce."
Papa Putra dan Kevin pun berlalu meninggalkan aku dan Dio yang masih menatap tak percaya.
__ADS_1