Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 85


__ADS_3

POV Dio


Aku memperhatikan kelakuan Papa dan Mama yang masih berebutan album foto dari CCTV di Hp-ku. Lucu juga melihat kelakuan mereka. Melihat Papa yang tak kenal lelah berusaha membujuk Mama agar memberi ijin melihat cucu pertamanya tersebut.


Bagaimana kalau mereka ketemu nanti ya? Apa Papa akan menerima Kevin? Aku memang sudah tidak peduli lagi mau Papa beri restu atau tidak. Aku tidak peduli. Tapi alangkah baiknya kalau hubungan aku dan Ayu mendapat restu dan dukungan dari semua pihak. Termasuk dari Papa.


Selama 3 tahun ini aku melihat sendiri bagaimana Papa merubah dirinya. Perlahan-lahan menyerah demi cinta dan kasih sayangnya padaku dan Mama tentunya. Membuang segala gengsi dan kesombongannya sebagai pemimpin perusahaan besar sekelas Putra Group dan menundukkan kepala demi keutuhan keluarganya.


Tak bisa dipungkiri, ucapan Ayu 3 tahun silam membawa dampak dan perubahan besar dalam hidupku. Ayu yang meninggalkanku dan rumah tangga kedua orang tuaku yang terancam pupus dan berakhir di pengadilan agama.


Bagaimana Mama yang menghadapi aku yang sedang down. Bagaimana Papa hampir saja kehilangan Mama. Semua seakan balasan yang pahit yang Papa terima.


Kesepian. Itu yang Ia rasakan selama ini. Mama benar-benar termakan omongan Ayu yang memintanya lebih tegas dan berani membela anaknya sendiri. Mama benar-benar sampai rela rumah tangganya hancur demi bisa membahagiakanku dan membuatku bangkit lagi.


Bukan hanya aku yang menderita disini. Papa juga. Lelah bekerja dan berharap pulang ke rumah mendapat kasih sayang namun hanyalah kekosongan yang Ia dapatkan. Rumah besar tanpa adanya kehadiran Mama. Harta yang dulu amat Ia banggakan karena berhasilnya kerja keras selama ini tak ada gunanya.


Mau bangga tapi bangga untuk siapa? Istri gak ada yang menemani. Anak masih down dan butuh recovery serta terapi untuk sembuh. Apa gunanya hartanya? Disitulah Papa mulai menyadari kesalahannya.


Rasa terlalu puas diri yang dimilikinya justru membuat sesuatu yang amat berharga dalam dirinya pergi. Papa sadar, kalau Ia tidak berubah secepatnya maka Ia akan kehilangan segalanya. Bukan masalah harta, tapi kehilangan orang yang amat dicintainya. Istri dan anaknya.


Perlahan Papa mulai berubah. Mulai menerima kenyataan. Mulai memperbaiki kesalahannya. Mama dan aku adalah prioritas pertamanya. Mau mendapatkan hati Mama ya harus mendapatkan hati aku dulu.


Papa rajin mengunjungiku di rumah sakit. Pulang kerja aku tau Ia lelah namun Ia sempatkan mampir ke rumah sakit, mengecek sejauh mana perkembangan terapi aku. Sekalian untuk melihat wajah Mama sebelum kembali pulang ke istananya yang kosong dan dingin.


Weekend pun yang seharusnya Ia bersantai kadang jalan-jalan ke luar negeri malah Ia habiskan menonton TV di rumah kontrakkanku yang mungil. Hanya demi apa? Hanya demi bisa mencicipi masakan buatan Mama.


Memang Mama kadang-kadang keterlaluan sih. Tiap Papa datang malah disuguhin lauk tumis pare dan tumis daun pepaya. Pahit kan? Mama bilang karena Papa hidupku dan Ayu jadi pahit. Lalu aku dimasakkin apa sama Mama? Tentu saja ayam goreng lezat nyam nyam nyam seperti lagu upin ipin.


Papa tak patah semangat. Ia terus menahan sindiran serta sikap Mama yang juedesnya ampun ampunan. Aku salut sama Papa. Betapa Ia amat mencintai Mama. Tidak seperti kebanyakan pengusaha lain yang suka memiliki banyak simpanan, Papa tetap setia sama Mama.


Sama seperti Papa, Mama pun tak kalah teguh pendiriannya. Ia juga keukeuh tak mau semudah itu berbaik hati sama Papa sebelum melihat aku bahagia. Jadilah mereka berdua sama-sama tarik ulur kayak anak ABG lagi kasmaran.


Ada untungnya juga sih keadaan seperti ini. Trauma aku perlahan membaik karena melihat mereka tak lagi bertengkar seperti dulu. Mereka hanya seperti orang pacaran yang bertengkar tapi sambil bercanda. Hal itu tidak memicu traumaku. Anxiety Disorder ku perlahan membaik.


Aku yang akhirnya mengalah. Melihat perjuangan Papa selama 3 tahun ini membuatku luluh. Sama seperti Papa, aku pun merasakan bagaimana rasanya ingin menyatukan lagi keluargaku agar utuh. Hanya dengan memegang perusahaannya berarti aku turut membantunya dalam usaha menyatukan keluarganya lagi.

__ADS_1


Sekarang waktunya aku yang berusaha menyatukan keluargaku lagi. Album foto yang tadi kuberikan pada Mama adalah pancinganku untuk melihat respons Papa. Aku takut Papa masih belum menerima anak dan istriku, tapi ternyata tidak. Papa tadi malah semangat mau melihat bagaimana wajah cucunya. Tinggal membujuk Ayu untuk mau balik lagi ke Jakarta.


Rasa kangen akan mereka berdua tiba-tiba melanda. Aku putuskan melakukan video call dengan mereka. Agak lama Ayu mengangkat teleponku, mungkin sibuk menyiapkan sarapan untuk Kevin atau sibuk memandikan Kevin? Mereka hanya tinggal berdua saja, Bi Neneng yang menjaga Kevin adalah tetangga Ayu yang pengasuh pulang pergi bukan selalu stay di rumah.


Setelah 4x kutelepon akhirnya Ayu mengangkat teleponnya.


Aku: "Hallo Sayang."


Ayu: "Iya, aku hallo. Aku lagi repot nih habis mandiin Kevin. Ada apa?"


Kebiasaan deh. Ayu memang gak ada romantis-romantisnya kalau aku telepon. Aku memaklumi kalau Ia memang ibu rumah tangga yang super sibuk.


Aku: "Gak ada apa-apa. Aku kangen sama kamu."


Ayu: "Sebentar ya, io. Kevin kabur lagi nih."


Yah begitulah. Bukannya menyambut kangen aku eh malah lari nguber-nguber Kevin dan menaruh teleponku. Aku sabar menunggu sampai akhirnya Ayu mengangkat lagi teleponnya.


Ayu: "Loh kamu masih nungguin? Aku pikir udah dimatiin Hp nya?"


Aku: "Ya masihlah. Nungguin kamu aja aku rela apalagi cuma nunggu telepon kamu?"


Aku: "Kevin mana?"


Ayu: "Sama Bi Neneng lagi disuapin makan."


Aku: "Aku kangen sama Kevin. Sama Mommynya Kevin apalagi."


Ayu: "Oh."


Aku: "Ih suami bilang kangen kok cuma ah oh aja. Dasar gak ada romantis-romantisnya jadi orang."


Ayu: "Lah kan aku memang gitu orangnya. Emangnya kamu mau aku bilang apa?"


Aku: "Ya bilang kamu kangen juga gitu sama aku. Dasar gak peka!"

__ADS_1


Ayu: "Ih itu kan biasanya perempuan yang ngomong kayak gitu kenapa malah kamu sekarang yang ngomong kayak gitu?"


Aku: "Ah tau lah. Nyebelin kamu."


Hening. Aku sebal sama ketidakpekaan Ayu. Aku juga gak tau apa yang Ayu pikirkan sekarang. Kenapa malah kami bertengkar kecil di telepon?


Ayu: "Dio."


Aku: "Hmm..."


Ayu: "Cepet kesini ya. Kevin tunggu kedatangan kamu."


Suara Ayu terdengar malu-malu. Aku tersenyum membayangkan wajahnya pasti memerah sekarang.


Aku: "Mommynya Kevin nungguin kedatangan aku juga gak?"


Ayu: "Mm.... iya. Mommynya nungguin juga. Cepet selesein kerjaan kamu terus datang kesini."


Yess. Yess. Dasar Ayu, kalau kangen mah bilang aja gak usah dipendam.


Aku: "Tunggu Daddy ya. Kiss dulu dong."


Ayu: "Aku kerja dulu ya. Dah."


Tut....tut... tut... sambungan telepon langsung dimatikan. Huh liat saja kamu nanti, Yu. Kalau ketemu aku kiss abis sampai bibir kamu bengkak. Aku janji!


Wajahku masih kutekuk karena sebal teleponku diputuskan duluan. Biasanya suasana hati atasan mempengaruhi bawahan juga. Para bawahan yang menyapaku terlihat amat takut-takut. Ah kenapa aku berubah jadi atasan yang otoriter seperti saat ini, padahal aku dulu benci dengan atasan yang kayak gitu. Tidak, aku gak boleh menjadi seperti itu. Sistem otoriter harus diubah.


Aku pasang senyum di wajahku, benar saja sedikit perubahan kecil bisa mempengaruhi lingkungan sekitar. Wajah bawahanku yang awalnya ketakutan mulai terlihat rilex, bahkan ada yang langsung bernafas lega.


Aku langsung menuju ruanganku. Ratna mengikutiku di belakang. Setelah menutup pintu ruangan Ia menghampiriku dan menyerahkan sebuah amplop cokelat besar.


"Pagi Pak. Ini akta lahir dan surat nikah yang kemarin Bapak suruh urus sudah selesai." Aku langsung mengambil amplop cokelat tersebut setelah menaruh tas ku diatasa meja.


Terlihat fotoku dan Ayu bersebelahan di dalam buku pernikahan. Sudah lama aku dan Ayu menginginkan buku nikah resmi seperti ini. Aku membuka lagi isi amplop cokelat dan mengeluarkan akta lahir Kevin. Tercantum namaku sebagai ayah kandungnya. Mataku tiba-tiba memanas. Ratna sadar diri, Ia meninggalkanku yang butuh waktu sendiri.

__ADS_1


Aku memfoto akta lahir yang baru jadi tersebut dan mengirimkannya ke Ayu. Tak lupa dengan ucapan: Tunggu aku disana ya 😘


⚘⚘⚘⚘⚘Halloo semuanya!!! Ayo udah mulai turun nih votenya, padahal aku sempetin Up loh walau sibuk. Ayo dunk vote dan like lagi biar jadi mood booster aku nulisnya, oke? ⚘⚘⚘⚘⚘


__ADS_2