
POV Dio
Sudah 2 minggu lebih Ayu ngambek sama aku. Pagi-pagi sekali Ia sudah berangkat ke kantor dengan naik angkutan umum. Pulang kerja pun sama, Ia langsung pulang jam 5 tanpa menunggu aku menjemputnya.
Di rumah pun Ia lebih banyak berdiam diri di kamar. Nonton drama korea dan youtube favoritnya. Namun satu yang membuatku salut dengan Ayu, semarah apapun Ia selalu menyiapkan sarapan dan makan malam untukku. Rumah selalu bersih dan rapi serta pakaianku sudah dicuci bersih hanya tinggal menunggu weekend baru Ia akan menyetrikanya.
Aku tahu Ia marah padaku. Bahkan lebih ke arah mendiamkanku. Aku tak putus asa, walau Dia menyuekkiku tapi tetap saja aku sering ajak bicara.
Aku masih mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Aku juga tetap menjemput Ayu di kantor siapa tahu Ia berubah pikiran dan rasa marahnya terhadapku hilang. Di antara kesibukanku, membuat mini furniture juga tetap kulakukan. Ini sebagai bukti keseriusanku atas ide dan pembelaan yang Ayu lakukan terhadapku.
Aku tidak menyangka kalau Ayu memiliki keberanian membelaku di depan Papa waktu itu. Hal itu yang membuatku sedikit demi sedikit mulai melawan Papa.
Aku pikir kalau mau melawan Papa, aku harus punya modal terlebih dahulu. Karena itulah aku makin rajin membuat mini model untuk furniture-ku.
Setiap weekend aku selalu menghabiskan waktu di halaman belakang. Proses menghaluskan kayu sudah selesai, tinggal di cat dan diberi pelitur agar mengkilap dan menarik perhatian pembeli. Ketika semua koleksiku sudah selesai, aku pun ingin menunjukkannya kepada Ayu.
Kucari Ayu di kamar namun keberadaannya tidak ada. Di ruang tamu pun tidak ada. Kamar mandi dan depan rumah tak ada. Kemanakah Ia pergi? Aku masih celingukan mencari keberadaannya di depan rumah ketika Ayu akhirnya datang.
Ayu santai saja berjalan sambil memakan es krim. Bekas es krim cokelat ada yang menempel di pipi dan bibir atasnya tapi sepertinya Ia tidak menyadarinya.
"Darimana kamu Yu? Aku cari di sekeliling rumah gak ada."
"Oh. Dari indomar*t depan komplek jajan es krim. Mau?" Ayu lalu masuk ke dalam rumah dan menaruh memberikan kantung plastik berisi es krim yang jumlahnya sekitar 10 buah dengan beraneka rasa.
"Mau dong." Aku pun maju dan mengecup bekas es krim di bibir atasnya. "Hmm.. enak ternyata. Manis."
Wajah Ayu langsung memerah melihat perbuatan spontanku. "Ih apaan sih. Main nyosor aja. Nih es krimnya. Sisanya masukkin frezer aja. Buat stok ntar malam."
Aku buru-buru memasukkan es krim ke frezer, tak lup mengambil satu buatku. Aku lalu mengejar Ayu mumpung Ia sudah mulai mau bicara sama aku lagi.
"Yu...yu... sini deh ikut aku." aku langsung menggenggam tangan Ayu dan mengajaknya ke halaman belakang.
"Ada apaan sih?" kata Ayu tak sabaran.
__ADS_1
"Lihat deh." Aku menunjukkan koleksi lemari baju mini terbaru. "Bagus gak?"
Ayu memegang hasil karya seniku dengan wajah terpukau. "Wah bagus banget. Mirip banget aslinya. Keren ini mah." Ayu terdengar amat antusias.
"Yaudah cepat fotoin. Aku sudah membuat perhitungan harganya nih."
"Mana... mana... sini aku cek." Ayu lalu memeriksa catatan hitung-hitungan biaya yang aku keluarkan untuk membuat lemari baju, meja dan nakas kreasiku. Ayu terlihat amat serius dan inilah yang ku suka dari dirinya. Hanya Ayu lah yang benar-benar mendukung hobbyku agar mendapatkan keuntungan.
Aku suka melihat wajahnya yang excited setiap kali aku menunjukkan hasil karyaku. Seakan terpukau dan menganggap hasil karyaku hebat. Aku merasa benar-benar dihargai.
"Hmm... hitungannya masuk akal kok. Bahannya juga berkualitas. Tapi ada satu kekurangannya."
"Apa? Kemahalan ya harga jualnya?"
Ayu menggelengkan kepalanya. "Ini kayu dengan kualitas bagus yang kamu bilang waktu itu kan?"
Aku menganggukan kepalaku. "Iya."
"Kalau gitu justru harganya kemurahan."
"Kan kita gak mau keluar modal. Kalau kamu membuat satu jenis dan hanya untung sekecil ini maka kamu tidak menghargai hasil karya seni yang kamu buat. Kan kita sepakat akan menjual dengan harga tinggi karena menjual kualitas dan seni."
"Sebenarnya sudah ada yang beli juga aku sudah senang Yu. Ada yang suka aja aku merasa dihargai." kataku pesimis. Semenjak segala kreatifitasku dilarang oleh Papa, aku menjadi tidak percaya diri dan menganggap kalau hasil karyaku tak ada nilainya.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu? Kamu harus semangat dong. Kalau aku bilang ini tuh bagus ya bagus. Percaya aja deh sama aku. Aku koreksi ya harga jualnya." Ayu lalu duduk di kursi dan menghitung ulang catatanku.
Aku memperhatikan apa yang Ayu lakukan. Hatiku senang sekali karena amat dihargai dan apa yang Ayu lakukan membuatku merasa kalau furniture buatanku layak jual bahkan dengan harga jual tinggi.
Aku dan Ayu lalu membahas tentang perencanaannya dan aku pun menyepakati karena menurutku sangat masuk akal perhitungannya. Selanjutnya seluruh hasil kreasiku di foto oleh Ayu.
"Nih hasil fotoku. Aku kirim ya. Jadikan status di WA. Siapa tahu ada yang tertarik dan mau beli."
"Tapi....."
__ADS_1
"Tapi apa lagi?" tanya Ayu tak sabaran.
"Kalau Papa lihat bagaimana?" inilah ketakutan terbesarku. Papa akan marah kalau melihatnya dan mungkin akan secepatnya menyuruhku menikahi Sheila.
"Kamu hide aja dari Papa dan orang yang mungkin akan melaporkan sama Papa. Gitu aja kok repot."
"Bener juga ya. Pinter kamu, Yu." Aku lalu mengatur agar statusku tidak terbaca oleh Papa.
"Aku udah pasang di statusku. Tinggal tunggu pembelinya aja. Udah ya aku mau mandi." Ayu lalu berdiri.
"Yu."
"Hemm.." Ayu menoleh sebelum melangkah ke dalam rumah.
"Ikut." kataku manja.
"Ogah!" Ayu lalu membuang muka dan meninggalkanku yang tersenyum senang. Akhirnya aku baikkan lagi jadi nanti malam aku bisa tidur sambil memeluk Ayu lagi deh.
Huft... semoga semuanya baik-baik saja. Keadaan damai seperti ini yang aku inginkan dalam hidup. Sebenarnya aku sudah mulai membuat surat lamaran untuk dimasukkan ke perusahaan-perusahaan lain. Aku mau belajar mandiri dan tidak bergantung pada Papa lagi.
*******
Menikah dengan Ayu dan hidup sederhana seperti ini mengajarkanku tentang arti cukup. Gaji yang kupikir amat kecil ternyata mampu membiayai kehidupan kami selama sebulan. Ayu bahkan bisa menghemat dan menabung dari sisa uang belanja yang kuberikan dan tentunya gaji hasil kerja Ayu tetap utuh. Ayu sudah membelikan celengan ayam untuk tabungan kami berdua. Itulah arti cukup untukku.
Kalau dulu aku selalu menganggap uang gajiku kurang untuk sebulan. Bahkan habis dalam seminggu saja. Sisanya? ya kadang Mama diam-diam transfer atau Sheila yang jajanin aku.
Sekarang usia pernikahanku dengan Ayu sudah menginjak 3 bulan. Cepat dan tak terasa aku menjalaninya. Hubunganku dengan Papa masih kurang baik. Bahkan Papa tidak mau main ke kontrakkanku lagi. Hanya Mama yang kadang-kadang masih mampir dan membawakan banyak belanjaan untuk mengisi stok bahan makanan di kulkas kami.
Mama dan Ayu terlihat sangat akrab, bahkan terlalu kompak menurutku. Hampir setiap weekend Mama menghabiskan waktunya disini. Mereka memasak bersama dan terkadang menonton drama korea bersama.
Orangtua Ayu malah jarang kesini karena lebih sering kami yang berkunjung ke sana. Papa dan Mama Ayu memperlakukanku dengan baik layaknya putranya sendiri.
Bisnisku dan Ayu berjalan sepi. Hanya ada satu orang pembeli dan itupun dari nasabah Ayu. Tidak apa-apa itu saja sudah membuatku senang. Uang hasil penjualannya di simpan oleh Ayu dengan alasan akan menjadi modal usaha kami selanjutnya. Aku menurut saja. Ada yang laku terjual saja aku sudah senang. Ayu terus menyemangatiku, katanya memulai usaha memang tidak mudah, banyak kerikil yang mengganggu namun justru membuatku makin banyak pengalaman.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan hubunganku dengan Ayu? Kami tidak pernah lagi melakukan hubungan suami istri sama sekali. Aku dan Ayu layaknya teman dan sahabat sekarang. Ya kadang aku suka curi-curi cium sih tapi hanya sebatas itu. Aku tidak mau menyakiti Ayu lagi dengan memberikan harapan tinggi. Ayu juga takut jika hubungan kami semakin dalam dan saat Sheila kembali Ayu merasa akan menyerah saja dengan pernikahan kami. Hubungan yang semakin dalam akan menyakitinya kelak jika ternyata aku tetap memilih Sheila. Karena itulah kami masih menjaga jarak.