
POV Author
"Hubungan aku dan Sheila udah benar-benar berakhir, Yu. Jujur aja waktu kamu pergi Sheila selalu mendekatiku. Dan aku biasa aja dengan keadaan itu karena kupikir toh memang kami berpacaran sudah lama. Kedatangannya tak pernah aku tanggapi karena saat itu aku lebih memikirkan tentang kamu. Sampai akhirnya Dia.... Dia memancingku. Dia berusaha menggodaku dan jujur.... aku hampir tergoda. Namun.... aku akhirnya sadar, aku sudah tidak mencintai Sheila lagi. Merasa ditolak olehku, Sheila marah dan pergi meninggalkanku."
Dio menatap langit-langit kosong. Mengingat kenangan yang terjadi antara dirinya dan Sheila. Dio tahu Ayu lebih suka Ia jujur tentang cerita sebenarnya walau menyakitkan daripada Ia harus berbohong.
"Sheila masih tidak putus asa. Ia lalu balik lagi dan lagi mencoba membujukku agar melanjutkan hubungan kami. Tapi semuanya terasa hambar bagiku. Aku mengatakan padanya dengan tegas, kalau aku gak bisa lanjutin hubungan kami lagi. Dengan meminta maaf, aku mohon sama Sheila agar melepaskanku dan mengikhlaskan kandasnya hubungan kami."
"Perlahan Sheila mulai menerima dan akhirnya Ia mengambil pekerjaan lagi di luar negeri untuk menyibukkan dirinya agar lupa dengan luka di hatinya. Sekarang sih yang kudengar Ia sudah punya pacar lagi. Pengusaha sukses juga di Paris. Sheila juga memintaku mengejar kamu lagi, Yu. Sheila bilang Dia sedih melihat aku yang bagai raga tanpa jiwa."
Dio kembali menatap kedalam mata Ayu. "Dua kegelisahan kamu sudah berhasil teratasi. Lalu apalagi yang kamu khawatirkan?"
Ayu menundukkan pandangannya. Rasanya tak mampu Ia menatap Dio jika ingin mengungkapkan isi hatinya. "Guntur."
"Memang kenapa sama Guntur? Kamu gak suka kan sama Guntur?" selidik Dio.
"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" Ayu mulai merasa tersinggung dengan pertanyaan Dio.
"Ya bukan apa-apa, Yu. Kalau kamu suka kan aku juga jadi repot. Kalau kamu gak suka kan aku tenang gitu jadinya. Gak usah kebanyakan saingan."
Ayu mencoba merenggangkan pelukan Dio pada tubuhnya namun susah mengingat Dio memeluknya amat erat seakan tak mau lepas. "Aku gak enak sama Guntur. Aku hidup dengan nyaman selama disini semua berkat kebaikan Guntur. Kok rasanya kalau aku pergi seperti habis manis sepah di buang gitu."
Dio tahu semua ini memang sudah Guntur rencanakan. Sejak mereka bertemu dulu di Semarang, Dio tahu kalau Guntur sudah tertarik sama Ayu. Dio tak menyangka kalau Guntur bahkan sampai rela menyembunyikan keberadaan Ayu dan anaknya selama ini hanya demi memikirkan perasaan pribadinya saja.
"Biar aku yang bicara nanti sama Guntur. Lalu ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Bagaimana dengan akta lahir Kevin? Apakah tercantum di keluarga Papa kamu atau atas nama.... Guntur?" Dio tidak akan rela kalau anaknya diakui anak oleh Guntur.
"Bukan atas nama Guntur kok. Tenang saja." jawab Ayu cepat.
__ADS_1
"Lalu?"
Ayu tertawa cengengesan. "Hmm... belum aku bikin. He...he..he... aku belum sempat mengurusnya."
"Ya ampun, Yu. Itu hal penting loh! Sebentar lagi Kevin mau sekolah." Dio langsung mengomel atas sikap Ayu yang terlalu bodo amat terhadap sesuatu yang penting.
"Niatnya pas aku ke Jakarta akan aku urus. Sekalian minta surat-surat ke Papa."
"Alesan aja. Udah besok siapin surat-suratnya biar aku yang urus. Oh iya, besok aku pulang ya ke Jakarta. Kamu tolong anterin aku ke Bandara ya."
Ayu menatap Dio tidak percaya. Sebal karena baru sebentar Dio bertemu Kevin tapi sudah mau pergi. "Pulang aja sana, kenapa harus minta antar aku?" Ayu tak bisa menyembunyikan lagi kekesalannya.
"Aku ada meeting dadakan besok lusa di kantor Papa. Aku baru sebulan pegang perusahaan Papa. Masih banyak belajar. Nanti aku kesini lagi. Aku janji." Dio berusaha membujuk Ayu yang sedang ngambek.
"Yaudah pulang aja. Memangnya aku ngelarang kamu? Enggak kan?" suara Ayu sudah mulai meninggi.
Dio menatap wanita cantik dalam pelukannya. Wajahnya kalau ngambek tuh bener-bener menggemaskan. Tapi Dio menikmatinya. Bagi Dio itu pertanda kalau Ayu masih menginginkan keberadaannya disini.
"Gak usah. Kamu mau nyogok aku pakai mobil? Aku gak butuh!"
"Iya sih. Kamu lebih butuh sama kehangatan cinta kasih sayang dari aku dibanding dikasih mobil. He..he..he.."
"Gak lucu!" Ayu sudah benar-benar marah sekarang. Gombalan Dio bahkan tak mempan. Ayu melepaskan pelukan Dio dan berbalik badan memunggungi Dio.
Dio memeluk Ayu dari belakang. "Aku gak mau kita bertengkar lagi, Sayang. Kalau kamu gak mau pisah dari aku, ayo ikut ke Jakarta. Aku gak mau paksa kamu harus ikut sekarang, karena itu aku pulang dulu ke Jakarta. Aku mau urus akta lahir Kevin. Aku mau beresin kerjaan di kantor Papa dulu. Supaya Papa gak bisa gangguin rumah tangga kita lagi dengan rengekannya. Mengertilah, Sayang. Aku juga maunya setiap hari bersama kamu dan Kevin. Mengisi banyak hari yang sudah kulewati bersama kalian. Kamu mau kan nunggu aku balik lagi?"
Ternyata Dio memang sudah berubah. Sudah lebih dewasa dalam bersikap. "Baiklah. Besok aku akan antar ke Bandara." Ayu akhirnya mengalah. Mengalah demi kebaikan mereka bersama.
__ADS_1
"Nah gitu dong. Sini peluk lagi. Aku kan masih kangen." Ayu membalikkan tubuhnya menghadap Dio. Membiarkan Dio semalaman tidur sambil memeluknya erat.
*******
"Kevin, Daddy pulang dulu ya. Nanti Daddy kesini lagi. Oke?" pamit Dio pada anak gantengnya.
Kevin langsung menangis. Anak kecil memang lebih mudah menunjukkan emosinya. Kevin yang baru mengenal Dio seakan tak rela berpisah dari Daddynya tersebut. "Kevin mau icut Daddy." tangis Kevin pecah.
"Sst... Cup..cup...cup... Daddy gak lama kok pulangnya. Nanti Daddy balik lagi bawa mainan yang banyak buat Kevin. Kevin mau kan? Atau nanti Daddy datang lagi buat jemput Kevin dan ikut Daddy tinggal di Jakarta. Kevin mau yang mana?" Dio melirik Ayu. Sebenarnya Ia membujuk Kevin sekaligus menyindir Ayu. Biar Ayu tahu bagaimana keinginan Kevin.
"Kevin mau icut Daddy aja. Gak mau mainan!"
"Boleh. Kevin bujuk Mommy dulu ya biar Mommy mau ikut Daddy tinggal di Jakarta lagi, oke?" Dio mengerling penuh arti pada Ayu.
Perhatian Dio teralih ketika ada suara ketukan di pintu rumah Ayu. "Yu...Yu...." suara Guntur memanggil Ayu.
Ayu membukakan pintu untuk Guntur. "Iya. Kenapa ya?"
"Itu mobil siapa di garasi kam....u?" Guntur membelalakan matanya kaget melihat Dio yang sedang menggendong Kevin dan menatap tajam ke arahnya. "Dio? Bagaimana kamu? Kok kamu bisa ada disini?" tanya Guntur dengan gelagapan.
Dio berjalan menghampiri Guntur. "Kenapa? Kamu gak nyangka ya aku bisa ketemu sama aku dan anakku pada akhirnya? Kamu juga gak nyangka ya kalau usaha kamu nyembunyiin mereka akhirnya gagal?"
"Bu...bukan itu, io. Siapa yang nyembunyiin? Ah kamu terlalu berburuk sangka sama aku!" wajah Guntur sudah pucat pasi.
"Lalu? Kenapa kamu sekaget itu melihat kehadiran aku disini? Aku masih sabar menahan amarahku karena permintaan Ayu. Tapi aku gak akan menahan kesabaranku kalau kamu sampai berani menjauhkan istri dan anakku lagi!" ancam Dio dengan tegas. Nyali Guntur pun ciut. Ia tak bisa berkutik lagi. Dio sekarang adalah pemegang Putra Group. Bukan lagi Dio Kang Furniture. Kalau Dio menggunakan kekuasaan yang dimiliki oleh Putra Group, bisa habislah bisnis milik Guntur dan keluarganya.
"Enggak kok. Siapa juga yang bakal ngumpetin Ayu. Kevin! Main sama Uncle Guntur yuks?" Guntur berusaha mengalihkan pembicaraan yang mulai memanas tersebut.
__ADS_1
"Gak mau. Kevin mau cama Daddy aja. Kevin kan anak Daddy." tolak Kevin. Bagai dipotek-potek hati Guntur. Ditolak Ayu dan sekarang bahkan ditolak sama anak sekecil Kevin. Ah.... sungguh sial nasibnya.
⚘⚘⚘⚘ Hi Semua! Kemarin banyak yang request crazy up nih, maaf banget ya aku gak sempet. Kerjaan di akhir dan awal bulan buanyak. Dan yang terpenting, aku bukan penganut crazy up, oke? Aku gak mau idenya gak ngalir karena kurang ide fresh. Jadi nikmatin aja oke? jangan lupa vote dan like kalian ya. Luv u all... 😘😘😘😘😘⚘⚘⚘⚘