
POV Author
Ayu mencari nomor telepon Bi Neneng, asisten rumah tangga kepercayaannya sejak 3 tahun lalu. Bi Neneng sudah menjaga Kevin sejak Kevin berusia satu bulan sampai dengan sekarang. Setelah menemukan nomor Bi Neneng, Ayu langsung meneleponnya.
"Hallo, Bi. Kevin lagi apa?"
"Baru aja tidur siang, Neng. Udah mulai susah disuruh tidur siangnya. Maunya main sama anak kucing terus." lapor Bi Neneng panjang lebar.
"Tapi udah makan siang, Bi?"
"Udah kok, Neng. Kekenyangan langsung tidur Dia."
"Oh yaudah aku pikir Kevin bangun mau aku ajak ngobrol. Udah ya Bi, titip Kevin."
"Iya, Neng."
Ayu pun memutuskan sambungan teleponnya. Berpikir akan menelepon siapa lagi. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang tak ada habisnya. Niatnya menelepon Kevin untuk menghilangkan sedikit kepenatan tapi berhubung Kevin tidur lebih baik Ayu menelepon Mamanya saja deh.
Ia pun mencari mengangkat telepon kantornya hendak menghubungi telepon rumahnya di Jakarta. Agak lama telepon baru diangkat.
"Hallo." sapa Mama dari ujung telepon sana.
"Hallo, Ma. Ini Ayu."
"Walah kamu apa kabar, Nak? Kevin gimana? Sehat kan kalian?" suara Mama langsung terdengar penuh kerinduan.
"Kami berdua sehat dan baik-baik aja kok berkat doa Mama. Mama sendiri gimana? Sehat kan?"
"Mama, Papa dan adik kamu sehat semuanya. Mama kangen nih sama kamu dan Kevin. Kapan kalian pulang? Udah 3 tahun kalian gak pernah ke Jakarta lagi." sekarang suara Mama sudah diiringi dengan lirih tangisnya.
"Maaf, Ma. Mama kan tahu kalau Dio masih aja bolak-balik ke rumah Mama. Ayu takut kalau sampai ketemu lagi sama Dio, Ma."
"Mau sampai kapan kamu sembunyi dari Dio, Nak? Kamu gak usah khawatir, kemarin sore Dio datang. Dia bilang akan jarang ke rumah lagi. Dio akan memimpin perusahaan Papanya. Dio pesan kalau kamu pulang tolong kabari Dia. Dio amat ingin melihat Kevin dan tentunya kangen sama kamu, Yu."
Sekarang Ayu yang sibuk menghapus air matanya.
"Yu... Ayu? Teleponnya masih nyambung kan?" tanya Mama setelah tak didengarnya suara Ayu. Mama tak tahu Ayu sibuk menyeka air matanya yang kembali mengalir.
"Iya Ma. Masih nyambung kok. Mama mainlah ke Palembang. Nanti Ayu pesenin tiket pesawat kalau Mama mau kesini." Ayu berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Dio. Mama sering mengabarkan keadaan Dio namun sebisa mungkin Ayu tidak mau mendengarnya.
"Nanti ya Nak. Kalau liburan panjang Mama pengen kesana. Papa sekarang sibuk jadi RW sih susah banget mau diajak pergi kemana-mana takut ada yang mau minta tanda tangan. Lagaknya aja kayak pejabat penting. Mana sekarang nongkrong melulu lagi di kantor Rw. Awas aja kalau ngegodain janda gatel yang suka jualan pecel depan kantor RW. Nanti Mama sunatin sampe habis tuh Papa."
Ayu tertawa mendengar perkataan Mama yang menurutnya amat lucu. Setelah 15 menit mengobrol di telepon Ayu pun memutuskan sambungan telepon mereka.
Ayu kembali memikirkan perkataan Mama. Dio mulai memimpin perusahaan Papa Putra. Apa itu artinya Dio akhirnya memilih Sheila untuk jadi istrinya agar bisa mengambilalih kepemimpinan perusahaan?
Siapa sih yang mau menolak perusahaan sebesar Putra Group? Mungkin Dio capek hidup susah di rumah kontrakkan? Eh apa Dio sudah pulang lagi ke rumah mewahnya ya?
Kesedihan kembali melingkupi dada Ayu. Ia bahkan belum pernah berkunjung ke rumah Dio sama sekali selama mereka menikah. Pasti sangat mewah.
__ADS_1
Akhirnya setelah 3 tahun Dio menyerah juga dan menerima perusahaan Papanya. Atau Papa Putra yang akhirnya menang dan berhasil mengendalikan Dio dibawah keinginannya? - Ayu.
Ayu menghapus air mata yang coba Ia tahan namun tak masih ada yang lolos. Diteguknya air putih yang tersedia diatas meja kerjanya. Ia harus kembali mengerjakan pekerjaannya. Gajinya yang besar amat sepadan dengan pekerjaannya yang segunung banyaknya. Ia membuang lamunannya dan kembali lagi fokus dengan laporan yang Ia kerjakan.
*******
Lokasi: Semarang
"Ma, Guntur besok pagi pulang ke Palembang ya?" rengek Guntur pada Mamanya. Guntur sedang tiduran di pangkuan Mama Yuli yang sedang sibuk membersihkan telinganya dengan cotton buds. Sudah kebiasaan sejak kecil Mama Yuli selalu absen anaknya untuk dibersihkan telinganya. Alesannya agar langsung denger kalau orang tua manggil jadi telinga harus bersih.
"Kenapa sih kamu pengen buru-buru ke Palembang? Kamu kangen sama Ayu ya?"
Pertanyaan Mama Yuli membuat Guntur langsung kaget.
Tau dari mana Mama tentang Ayu? Apa Papa akhirnya bocor tentang keberadaan Ayu sama Mama? Bisa gawat nih kalau Mama tahu maka tak lama lagi berita heboh akan menyebar- Guntur.
"Kenapa kaget gitu? Untung bersihin kupingnya udah kelar, kalau belum bisa kena gendang telinga kamu, Tur. Jadi bener tebakan Mama nih? Kamu udah kepincut Ayunya Palembang?"
"Ayu?" tanya Guntur bingung.
"Iya. Kan kalau orang Palembang manggil anak perempuannya Ayu. Kalau di Semarang manggilnya Mbak Yu. Memangnya kamu pikir Ayunya si Dio tuh yang udah ngilang 3 tahun gak pulang-pulang?"
Guntur menghembuskan nafas lega. Ternyata Mamanya tidak tahu tentang Ayu. "Bukan kok, Ma. Guntur lagi banyak kerjaan aja disana. Kasihan anak buah Guntur harus handle kerjaan Guntur."
"Yah kirain Mama kamu udah punya pacar di Palembang. Kapan kamu pacaran, Tur? Umur kamu udah cukup loh untuk menikah."
Belum sempat menjawab pertanyaan Mamanya datanglah Tante Lia.
"Tante apa kabar? Tante juga betah nih di Semarang. Om Putra ditinggalin melulu. Masih backstreet nih ceritanya? Tarik ulur melulu." celetukan Guntur langsung mendapat cubitan dari Tante Yuli.
"Dasar bocah nakal. Nyindir orang tua melulu. Kayak gak tau aja Tante sama Om lagi syuting film India. Tante lagi lari-lari sambil dikejar sama Om."
"Larinya kejauhan Tante sampe ke Semarang segala. Lari aja di taman rumah Tante. Biar Om gampang nangkepnya gitu." Guntur terus saja mengolok-olok Tantenya tersebut.
"Ah kamu bisa aja. Gimana bisnis kamu? Makin maju ya?"
"Ya bisa nyaingin bisnis furniturenya Dio lah Tante. Ngomong-ngomong kabar Dio gimana, Tan?"
"Dio baik. Seperti biasa, Dio lagi kabur dari kejaran ibu-ibu komplek yang pengen laru bareng sama Dia."
"Wah Dio populer ya di kalangan ibu-ibu?" masih saja Guntur menimpali omongan Tante Lia.
"Ya gitu deh. Namanya juga punya anak ganteng, banyak yang naksir." pamer Tante Lia. Guntur hanya tersenyum saja melihat Tante Lia yang begitu membanggakan Dio. Guntur tau bagaimana perjuangan Tante Lia saat Dio down dulu dan Ia merasa sangat salut dengan Tantenya tersebut.
"Tan, boleh Guntur minta Tante Yuli masakkin sesuatu gak buat Guntur? Masakan yang awet buat dibawa ke Palembang, Tan. Guntur bosen makanan siap saji terus selama disana."
"Kenapa gak minta Mama aja yang masakkin sih, Nak?" Mama Yuli merasa cemburu anaknya malah minta dimasakkin oleh Tantenya bukan dirinya.
"Mama beliin aja Guntur Bandeng Juwana 10 kilo buat dibagi-bagi ke karyawan Guntur. Lagi juga masakan Tante Lia mantap, Ma."
__ADS_1
"Yaudah nanti Tante buatin kentang mustofa ya. Jadi bisa kamu makan berhari-hari. Tante langsung belanja nih supaya besok pas kamu pulang udah mateng." Tante Lia langsung menyela percakapan sebelum Mama Yuli nyerocos panjang lebar.
"Asyik. Tante Lia emang the best deh. Makasih ya Tan. Oh iya, jangan pedes ya Tan."
"Siap. Yaudah Tante mau langsung eksekusi nih. Dah."
Selepas Tante Lia pergi Guntur langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia tahu Mamanya akan ngoceh karena Ia tidak minta dimasakkin. Lebih baik kabur daripada telinga Guntur sakit.
Keesokan harinya saat Guntur sudah bersiap-siap ingin berangkat pulang ke Palembang, Tante Lia berlari-lari mengejarnya.
"Tur. Tunggu Tante."
Guntur menepuk dahinya. Ia lupa kalau kemarin Ia minta dibuatkan masakan Tante Lia.
"Jangan lari-larian Tante. Guntur lupa sama pesenan Guntur. Untung Tante Lia bawain."
"Iyalah Tante bawain. Tante udah buatkan banyak buat kamu. Ini. Sesuai pesenan, gak pedes." Tante Lia menyerahkan paper bag berisi tupperware isi kentang mustofa.
"Wah banyak banget Tante. Kevin pasti suka nih."
"Kevin?" Tante Lia dan Mama Yuli saling berpandangan bingung.
"Oh. Kevin itu anaknya salah satu karyawan Guntur. Lucu deh. Suka diajak ke Toko sama Mamanya." kata Guntur memberi penjelasan.
"Oh kirain Kevin tuh pacar kamu." kata Mama Yuli sambil bernafas lega.
"Hush. Mama sembarangan aja. Guntur masih normal tau. Yaudah Guntur berangkat dulu, mau mampir ke Jakarta ada ketemu supplier." Guntur pun memeluk Mama dan Tantenya tersebut.
"Makasih ya Tan. Cepet pulang ke Jakarta, Tan. Kasihan Om Putra ditinggal terus."
"Kamu hati-hati di jalan ya. Titip salam buat Kevin."
"Siap, Tan. Nanti Guntur bilangin sama Kevin dapet salam dari Grand Ma."
******
Ayu sedang sibuk memeriksa laporan penjualan yang mengalami kenaikan setelah weekend kemarin. Banyak yang menghabiskan akhir pekan jalan-jalan ke kota dan menikmati berbelanja cemilan di toko milik Guntur.
Perhatian Ayu teralihkan saat sebuah kardus berisi bandeng juwana dan sebuah paper bag diletakkan di depan mejanya.
"Guntur? Kamu udah pulang?" Ayu senang menyambut kedatangan bos sekaligus temannya tersebut.
"Udah semalem. Aku udah kirimin bandeng ke orang tua kamu ya. Oh iya, ini di paper bag ada kentang mustofa bikinan Tante Lia. Spesial buat kamu aku request gak pedes biar Kevin bisa makan masakan neneknya."
Mata Ayu langsung berkaca-kaca. "Makasih banyak ya Tur. Akhirnya Kevin bisa nyobain masakan Mama Lia. Nanti aku transfer ya buat uang beli bandeng."
"Gak usah. Uang aku masih banyak. Lagi juga itu Mama Yuli yang beliin. Aku palakkin aja minta beliin 10 kg. Sekalian bagi-bagi karyawan yang lain juga."
"Dasar kamu. Bilang makasih ya sama Tante Yuli."
__ADS_1
"Siap. Aku mau ke ruanganku dulu ya." Guntur pun meninggalkan Ayu yang sedang memandangi tupperware berisi kentang mustofa buatan Mama Lia. Dulu saat Ia di kontrakkan Mama suka mengiriminya kentang mustofa yang Mama Lia buat sendiri. Ayu pun mencicipinya. Rasanya masih enak seperti dulu. Ah, kangen sekali Ayu dengan Mama mertuanya yang amat Ia sayang itu. Kalau Mama mertuanya aja kangen apalagi sama anaknya ya?