
"Hmm... Ma."
"Kenapa, io?" Mama yang sedang asyik ngemil brownies dan menyeruput teh manis pun menatap Dio.
Aku sedang memotong kue bika ambon yang mama bawakan dan hendak membagikan ke teman-teman Dio. Aku hanya mendengarkan saja percakapan mereka tanpa ikut campur.
"Dio boleh pinjam kartu keluarga Mama gak?"
"Kartu keluarga? Untuk apa?"
"Untuk mendaftarkan pernikahan Dio dan Ayu, Ma. Salah satu syaratnya harus pakai kartu keluarga. Semua dokumen milik Ayu sudah diberikan sama Papanya Ayu waktu kami nikah dulu. Tinggal Kartu Keluarga milik Mama yang belum."
Tunggu. Dio mau mendaftarkan pernikahan kami? Untuk apa? Selama ini Ia santai saja.
"Nanti Mama ambil di SDB (Save Deposit Box) di Bank A dulu ya. Semua surat-surat penting Mama taruh disana soalnya. Kenapa kamu mau daftar pernikahan sekarang? Kemarin kayaknya cuek-cuek aja." pas banget. Perkataan Mama sesuai isi hatiku. Memang kita satu hati Ma.
"Ya kan Ayu sekarang sedang hamil, Ma. Kalau anak Dio lahir nanti gimana? Kan Dio harus membuatkan akta kelahiran untuknya. Salah satu syaratnya ya kartu keluarga itu. Makanya Dio harus mendaftarkan pernikahan agar bisa membuat kartu keluarga Dio sendiri yang terpisah dari Mama dan Papa."
Mama menepuk dahinya. "Oh iya. Mama lupa. Mama gak kepikiran sampai situ. Yaudah besok Mama ke Bank deh buat ambil."
"Iya, Ma. Yaudah Dio lanjutin kerjaan di depan dulu ya." Dio pun meninggalkan Mama dan aku.
Mama melirik ke arahku sambil menyeruput teh manisnya. Mulutnya gatel pengen mengutarakan sesuatu.
"Yu."
"Iya Ma."
"Boleh Mama nanya yang agak personal gak?"
Aku mengerutkan keningku. "Nanya apa Ma?"
"Tapi jangan marah ya. Janji?"
"Iya. Janji."
"Kata Dio kamu hamil sudah 4 mingguan. Hmm... berarti kalian melakukan hubungan suami istri lagi ya selain tragedi malam itu?"
Wajahku langsung merona merah dengan pertanyaan Mama. Aku hanya bisa mengangguk malu.
__ADS_1
"Kenapa atuh Mama nanya kayak gitu?"
"Udah sama Mama mah cuek aja. Santai. Mama kan juga perempuan. Mama tahu bagaimana laki-laki. Kalian sering melakukan hubungan suami istri?"
Aku mengangguk lagi. Ah Mama bikin aku makin malu nih.
Tiba-tiba Mama tersenyum senang. "Kenapa Ma?" tanyaku bingung dengan sikap Mama.
"Dio sudah cerita belum sama kamu apa yang terjadi di rumah kemarin?"
Aku menggelengkan kepala lagi. "Belum, Ma."
"Sudah Mama duga. Dio gak mau kamu kepikiran deh. Emang tuh anak agak tertutup kalau ada masalah. Makanya penyakitnya kumat kemarin."
"Memang apa yang terjadi Ma kemarin?" tanyaku penasaran.
"Dio udah bilang ke Papa kalau kamu hamil. Di depan Sheila lagi."
Loh aku pikir hanya depan Mama dan Papa aja bilang kalau aku hamil. Depan Sheila juga ternyata. Kenapa Dio melakukan itu? Kan kalau begitu Dia gak bisa balikkan lagi sama Sheila?
"Terus Ma?"
"Sheila marah besar dong. Jadi pas Sheila baru sampai Papa udah jemput dari bandara terus ceritain ke Sheila tentang awal mula kenapa kalian bisa sampai menikah. Sheila udah nangis pas dengernya eh si Dio malah nambahin minyak di bara api. Pake bilang kalau kamu hamil. Makin emosi deh tuh Sheila. Sheila sampai marah-marah. Dia gak terima. Dikiranya kamu cuma sekali aja berhubungan suami istri eh malah sering. Ketagihan juga Dia. Ha..ha..ha..."
"Terus kan Mama sama Sheila berantem tuh sampai Dio akhirnya kumat pas denger Papa yang akhirnya berantem sama Mama. Nah pas Dio nenangin diri di kolam renang Sheila nyamperin lagi. Sheila bujuk Dio buat ceraikan kamu tapi kamu lihat sekarang. Dio malah mau mendaftarkan pernikahan kalian. Bukannya ini kemajuan yang pesat untuk hubungan kalian?"
"Iya sih Ma. Tapi entah mengapa Ayu merasa hatinya Dio masih milik Sheila seorang. Ayu awalnya gak mau berharap Dio akan mencintai Ayu. Tapi seiring berjalannya waktu Ayu mulai nyaman berada di samping Dio. Ayu mulai takut kehilangan Dio, Ma. Ayu sadar diri Ma. Karena itu Ayu mutusin untuk membuang pil KB yang selama ini Ayu konsumsi. Ayu berpikir walaupun Ayu pada akhirnya gak bisa memiliki Dio tapi Ayu punya sebagian dalam diri Dio yang ada di hidup Ayu, yakni anak ini." Aku mulai tak kuasa menahan perihnya air mata yang mulai memaksa untuk tumpah ruah.
"Sayang.... Mama yakin. Di dalam hati Dio ada nama kamu. Mama bisa lihat betapa Dio amat menyayangi kamu dan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi kamu. Kamu jangan berkecil hati ya, Nak. Mama inget dulu salah satu alasan Dio mencintai Sheila adalah karena Sheila tak meninggalkannya saat melihat Ia kumat. Tapi kemarin Dio kecewa karena melihat tatapan Sheila yang begitu membencinya dan tak menerima kekurangannya seperti dulu. Apalagi Dio juga lihat bagaimana Sheila begitu kurang ajar sama Mama. Kamu tenang saja ya Yu. Kamu pasti akan menang dalam pertarungan ini. Semangat! Fighting!"
Aku tersenyum mendengar perkataan Mama yang begitu menenangkan hati. "Makasih ya Ma. Mama udah buat Ayu lebih percaya diri lagi."
"Tentu dong Sayang."
Sedang asyiknya mengobrol dengan Mama aku mendengar suara mobil berhenti lagi di depan rumah. Aku keluar untuk melihat siapa yang datang. Apa mungkin Papa?
"Suit...suit...." goda Yono.
"Widih bening bener. Ada yang lebih bening lagi dari Ayu ternyata." Aku melihat subyek yang dipuji oleh Anto.
__ADS_1
Seorang wanita yang berambut panjang. Aku mengenali wajahnya yang biasa terpampang di majalah mode. Apakah itu Sheila? Kata Dio rambutnya pendek? Apa Ia menggunakan hair extention?
Wanita cantik dan tinggi bak model itu pun menginjakkan kakinya ke halaman rumah kami. Dengan memakai dress tanpa lengan berwarna putih Ia berjalan dengan angkuhnya. Menatap dengan sinis ke arah Yono yang menyiulinya.
Dio berjalan menghampiri. "Kenapa kamu kesini, La?"
Sheila menatap Dio dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kamu pakai baju apa itu? Gak oke banget!"
"Aku lagi kerja, La. Gak mungkin bikin furniture pakai jas. Kamu belum jawab pertanyaan aku. Ngapain kamu kesini?"
Sheila mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Matanya beradu pandang denganku. "Mau melihat situasi aja. Sekalian mau kenalan sama perempuan yang sudah ngerebut kamu dari aku."
Sheila mengacuhkan Dio dan berjalan ke arahku. Tangan Dio langsung mencekal pergelangan tangannya. "Mau apa kamu?"
"Mau kenalan. Kenapa? Gak boleh?" Sheila menghentikan langkahnya dan menatap Dio.
"Jangan macam-macam deh La. Ayu gak ngusik kamu. Kamu jangan ganggu Dia!" ancam Dio.
"Dia gak ngusik aku? Dia udah ngerayu kamu dan ngerebut kamu dari aku masih kamu bilang gak ngusik? Itu namanya bukan ngusik lagi, tapi nyari ribut!"
"Ayo kita pergi dari sini! Aku gak mau kamu buat keributan di rumahku." Dio hendak menarik tangan Sheila namun dihempaskannya.
"Pergi kemana? Ke hotel? Aku mau kalau ke hotel bareng kamu."
Dio memelototkan matanya memarahi Sheila. Aku tahu Sheila memanas-manasiku. Tapi tetap saja hatiku terasa panas. Apa benar Dio akan pergi check in ke hotel bareng Sheila?
Tanpa kusadari mataku mulai memanas. Enggak. Aku gak boleh nangis. Aku gak boleh menampilkan kelemahanku di depan Sheila. Selama ini aku hanya dengar tentangnya dan akhirnya aku bertemu langsung dan ternyata Ia tak secantik di foto. Hatinya amat angkuh. Bisa kulihat dari tatapan matanya yang memandang rendah teman-teman Dio.
"Jangan macam-macam. Kamu mau apa?"
"Mau kamulah. Pake ditanya lagi!"
"Kamu tunggu disini. Aku akan ganti baju dan mengantar kamu pulang!"
Dio berbalik dan melihatku sedang menatap sendu ke arahnya. Ia menarikku dan Mama Lia untuk masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
"Kamu diam didalam saja. Aku mau pergi dulu."
Dio mengganti bajunya dan keluar rumah. Meninggalkan aku dan Mama penuh tanda tanya dan rasa penasaran. Kemanakah Ia akan pergi? Ke hotel seperti perkataan Sheila?
__ADS_1
*****
⚘⚘⚘⚘Kemanakah yang vote dan like? Kenapa menghilang dan berkurang???? ⚘⚘⚘⚘