Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 79


__ADS_3

⚘⚘⚘ Makasih ya semuanya karena banyak yang suka sama kisah Ayu dan Dio... Luv...luv deh buat semuanya. Yuks vote dan like lagi yang banyak ya 😘😘😘⚘⚘⚘⚘⚘


POV Author


"Kamu gak salah, io. Aku yang salah. Aku yang udah ninggalin kamu. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu." Ayu melipat buku menu yang tadi Ia pakai untuk menutupi wajahnya tersebut.


"Kamu gak akan buat keputusan seperti itu kalau kamu gak mikirin keadaan aku. Aku tau kamu kayak gitu karena gak mau lihat aku terus menerus ditekan oleh Papa. Tapi satu yang pasti Yu. Maaf aku gak bisa mendampingi kamu saat kamu hamil dan melahirkan Kevin." Ayu melihat tatapan mata Dio yang penuh dengan penyesalan.


Ayu menghembuskan nafas berat. Ia tahu suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi, entah kapan. Ia selalu membayangkan saat ketemu Dio dirinya akan kabur dan menghindar sebisa mungkin. Tapi tadi saat Dio menariknya ke dalam pelukan, keinginan untuk kabur seakan sirna. Ayu merasakan nyamannya pelukan Dio lagi yang membuat Ayu seakan boleh bernafas sejenak dari segala beban yang Ia tanggung.


"Gak usah kamu pikirin, io. Aku yang memutuskan memiliki anak dari kamu. Aku menjalaninya dengan ikhlas kok. Memiliki Kevin di sisi aku adalah obat yang menyembuhkan segala luka hati aku. Kevin adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan. Penguat aku dalam menghadapi kerasnya kehidupan."


Ayu dan Dio menghentikan percakapan mereka ketika pelayan datang membawa pesanan mereka. Tak ada yang menyentuh makanan yang Dio pesan. Akhirnya Ayu berinisiatif meminum es teh manis untuk lebih menenangkan dirinya.


"Kenapa kamu bersama Guntur?"


Benar kan dugaan Ayu. Ia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum Dio mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang benar. Kalau salah bisa runyam. Istilahnya salah dikit bacok deh. Mengingat hubungan Dio dan Guntur yang memang saudara sepupu, jangan sampai bertikai karena Ayu.


"Menurut kamu gimana? Aku saat itu melanggar kontrak untuk tidak menikah. Kalau perusahaan tau aku akan kena pinalty. Aku kalut dan tanpa diduga Guntur telepon saat aku di taksi. Aku mendiskusikan langkah ke depannya bagaimana. Setelah memikirkan secara matang, aku pikir lebih baik aku ikut Guntur. Apalagi waktu aku pergi kan aku habis bentak-bentak Papa Putra. Bisa habis keluargaku kalau sampai mereka ribut. Jadi kupikir lebih aman kalau aku di Palembang." Ayu merasa penjelasannya sudah cukup beralasan dan masuk akal.


"Lalu?" pertanyaan Dio membuat Ayu bingung. Setelah memikirkan sesaat barulah Ayu sadar kalau Dio masih mau mendengar kisah Ayu selama 3 tahun ini.


"Ya aku kerja di toko oleh-olehnya Guntur. Aku dan Guntur merintis dari awal sampai jadi seperti sekarang. Guntur baik, io. Ia memberikanku tempat tinggal dan pekerjaan. Kalau gak ada Guntur, aku gak tau bagaimana nasibku kelak."


"Ya kan itu karena Dia ada maksud terselubung sama kamu. Aku beberapa kali ketemu Guntur, tapi apa Guntur memberitahu aku dimana keberadaan kamu dan Kevin? Enggak Yu. Bahkan sabtu kemarin aku juga ketemu Kevin pertama kali Guntur gak bilang kalau Kevin adalah anakku. Pantas saja Dia langsung buru-buru menghilang. Mau bawa kabur kamu dan Kevin ternyata. Huh dasar licik. Lihat saja kalau ketemu." Dio mengepalkan tangannya menahan rasa kesal dan marah dalam dadanya.


"Please, io. Jangan bertengkar dengan Guntur. Walau bagaimanapun aku berhutang budi sama Guntur. Ia yang telah membantu aku dan Kevin selama ini. Bicarakanlah baik-baik sama Guntur."


Dio memikirkan kembali perkataan Ayu. Benar juga sih, bagaimana nasib anak dan istrinya kalau tidak ada Guntur? Walau kesal tapi Guntur punya jasa merawat anak dan istrinya selama 3 tahun ini.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan melepaskan Guntur kali ini." Dio akhirnya memutuskan walau terasa gak sreg di hatinya.


"Makasih, io."


Hening lagi. Ternyata masih ada kekakuan diantara mereka. Banyak yang Dio mau tanyakan tapi bingung memulainya dari mana. Tiba-tiba Dio teringat sesuatu.


"Ini, Yu." Dio menyerahkan kunci mobil Pajero miliknya. "Surat-suratnya di Jakarta."


Ayu mengernyitkan keningnya. Apalagi ini yang Dio lakukan? "Apa ini, io? Kunci mobil? Untuk apa?"


"Ya buat kamulah. Kan aku udah janji mau beliin kamu mobil. Dulu kita naiknya Pajero KW sekarang aku udah beliin Pajero beneran buat kamu. Dulu aku mau beliin kamu mobil second dari keuntungan pesanan pertama Pak Dhana tapi kamu keburu pergi. Akhirnya uangnya aku pakai buat memperluas bisnis dan aku bisa beliin Pajero yang beneran deh buat kamu. Ini belinya baru loh Yu bukan second. Ambillah. Ini punya kamu."


Ayu menatap kunci mobil dan STNK yang Dio letakkan diatas meja. Matanya kembali memanas. Ayu teringat perjuangan Dio setelah bekerja harus bekerja lagi membuat furniture. Waktu istirahat Dio yang terbatas karena sibuk bekerja bahkan weekend pun Ia tak ada istirahatnya masih bekerja di Bengkel Kayu.


"Aku pikir kamu meninggalkan Bengkel Kayu dan meneruskan perusahaan Papa." Ayu menghapus air mata yang berhasil lolos padahal sudah Ia tahan.


"Aku baru aja sebulan pegang perusahaan Papa. Selama ini aku cuma jalanin Ayu Furniture."


"Apa? Ayu Furniture?"


"Iya. Habis banyak orderan jadi aku kasih papan nama Ayu Furniture aja. Kan nama itu bawa hoki."


"Bisa aja kamu." akhirnya Ayu bisa tersenyum lagi.


"Ih orang bener kok. Orderan terus berdatangan sampai karyawan aku tambah jadi 10 orang sekarang. Nama kamu bawa hoki, yu."


"Syukurlah. Jadi bisa membuka lapangan pekerjaan buat orang lain." Ayu tersenyum senang melihat kemajuan Dio. Benar dugaan Ayu, saat Ia tinggalkan Dio dulu Ayu yakin Dio pasti akan bisa bangkit lagi.


"Aku kan hanya meneruskan impian kamu aja Yu." Dio meminum es teh manisnya. Tak ada diantara mereka yang menyentuh makanan yang sudah tersaji sejak tadi. Rasanya bahkan makanan tersebut tak bisa menggoda mereka yang asyik melepas kerinduan 3 tahun ini.

__ADS_1


"Kenapa gak meneruskan impian kamu sendiri io dibanding meneruskan mimpi aku. Aku.... aku bahkan sudah....ninggalin kamu." pandangan mata Ayu tertunduk merasakan rasa bersalah yang teramat dalam.


"Karena impian aku cuma mewujudkan impian kamu. Dengan mewujudkan impian kamu berarti aku udah mewujudkan impian aku sendiri." Dio sudah berharap besar Ayu akan luluh dengan perkataannya kali ini bahkan akan menangis sedih seperti tadi. Tapi perkataan Ayu malah membuat Dio merasa gagal sudah.


"Cih. Gombalan kamu tambah jago aja. Kebanyakan belajar sama Yono sih!" celetuk Ayu.


"Ah gagal deh buat kamu terbang. Kamu udah tau banget taktik aku sih." kata Dio malu-malu.


Ayu pun tertawa lepas. Ah Ayu lupa kapan terakhir kali Ia tertawa selepas ini. "Dasar Don Juan. Gak mempan aku pakai kata-kata dramatis. Weeekkk."


Dio bangun dari duduknya dan.... "Cup." diciumnya pipi Ayu. Ayu pun langsung berhenti tertawa. Wajahnya langsung memerah.


"Kalau kayak gini masih mempan kan?" Dio masih berdiri di dekat Ayu. Ayu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu. Bukan hanya karena dicium Dio namun dilihatin sama pengunjung dan karyawan restoran membuatnya amatlah malu.


"E.... Em... Kita makan aja kali ya. Nanti keburu dingin." Ayu menyendokkan nasi untuk Dio. Ia reflek melakukan kebiasaan yang dulu selalu Ia lakukan. Ayu pun menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri.


"Aku makan duluan ya nanti Kevin keburu bangun susah makannya." Ayu mengoceh aja menghilangkan kecanggungannya karena sejak tadi Dio berdiri di sampingnya sambil terus menatap wajah Ayu yang memerah.


"Hmm.... kepitingnya enak loh, io. Ayo makan mumpung masih hangat. Kalau dingin gak enak nanti. Aku sendokkin ya buat kamu." Ayu menyendokkan kepiting saus padang ke piring Dio. Berharap Dio segera kembali ke tempat duduknya lagi.


Dio pun duduk di tempatnya lagi. "Suapin. Kalo gak disuapin aku cium lagi nih!" Dio kangen menggoda Ayu seperti ini. Dulu Ia sering menggoda Ayu sampai wajahnya memerah bak kepiting rebus.


"Malu, io. Ini kan di tempat umum." kata Ayu sambil melirik ke kanan dan ke kiri melihat banyak pengunjung yang datang.


Melihat Ayu menolak permintaan Dio bangun lagi dari duduknya. Tinggallah Ayu yang panik. Dio kan kalau jahilnya kumat suka gak lihat tempat.


"Oke... oke... aku suapin." Ayu pun kalah.


Dio tersenyum akan kemenangannya kali ini. "Dio dilawan... he...he...he..."

__ADS_1


__ADS_2