Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 67


__ADS_3

"DIAM!" suara teriakanku menghentikan pertikaian kedua mertuaku.


"Apa kalian tidak lihat akibat pertengkaran kalian berdua? Kalian gak kasihan melihat Dio? Apa kalian akan terus menyiksa Dio?" bentakku sambil sesegukan menahan air mata yang malah makin deras mengalir.


Tanganku tak henti terus memeluk dan mengusap punggung Dio. "Jangan buat Dio down seperti kayak gini! Apa kalian tahu, tadi pagi Dio demam tinggi? Baru saja turun panasnya kalian sudah membuat kekacauan disini! Dimana hati nurani kalian?"


Mama Lia terduduk lemas sambil menangis lirih. Ia sadar kalau Ia juga faktor penyumbang kumatnya penyakit Dio. Dio selalu kumat kalau Ia bertengkar dengan Papa. Ia memang membawanya ke psikiater, mencoba menyembuhkan Dio namun Ia juga turut andil dalam setiap kumatnya penyakit Dio.


Papa Putra juga terdiam. Tangannya terkepal menahan amarah. Entah marah pada dirinya sendiri atau marah karena menantu songong kayak aku yang dengan berani membentak Papa mertuanya yang merupakan salah seorang konglomerat di Indonesia.


Sheila. Sejak tadi pandangan jengah tak coba Ia sembunyikan. Apa yang dulu Dio bilang kalau Ia menerima Dio saat Dio kumat? Anak kecil pun bisa melihat pandangan matanya yang menatap jijik ke arah Dio.


Aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi. Dihina dina. Dibentak-bentak. Bahkan baru saja digampar sampai bibirku sobek dan mengeluarkan darah.


"Sebenarnya kalian itu siapa? Orang tua yang baik? Mertua yang baik? Atau pacar yang baik? Bullshit kalian semua!" Kubiarkan saja diriku mengeluarkan semua unek-unek yang selama 6 bulan ini aku pendam dan kujaga rapat agar jangan sampai keluar.


"Mama. Mama tuh seharusnya lebih tegas, Ma. Jangan mau selalu direndahkan sama Papa. Apa Mama yakin selama ini Papa memang mencintai Mama? Atau Papa hanya mau pamer kalau Ia berhasil mengalahkan Papa Mertuanya sendiri?" kataku ditujukan kepada Mama agar Mama lebih berani lagi dan jangan mau dihina oleh Papa lagi.


Aku mengangkat telunjuk tangan dan mengarahkannya ke Papa. "Papa. Apa hak Papa menampar mukaku sampai berdarah seperti ini? Papa kandungku saja gak pernah menyentuh dengan kasar apalagi sampai menggampar aku seperti yang Papa lakukan. Apa yang sudah Papa kasih sama aku? Cuma rumah kontrakkan murah ini saja sudah berani gampar aku! Papa kandungku saja yang menghidupiku dari lahir sampai menyekolahkanku ke bangku kuliah saja gak pernah berlaku kasar. Inget Pa, kalau aku mau aku bisa visum dan kulaporkan ke kantor polisi!"


Sekarang telunjukku kuarahkan ke Sheila. "Kamu Sheila. Kenal juga enggak sama aku kok segitu bencinya. Bukan aku yang merebut Dio dari kamu. Dio sendiri yang bilang kalau Dia yang khilaf malam itu! Dan bukan salahku kalau Dio terus ketagihan berhubungan suami istri denganku. Mungkin kamu lebih cantik, tapi aku lebih menggoda dan sexy dimatanya."


Sheila baru mau mulai membalas ucapanku tapi langsung aku sela. "Kalau memang kamu cinta Dio, terima Dia apa adanya. Terima kekurangan dan kelebihannya. Jangan cuma ngeliat Dio dengan jijik kalau Dio kumat!"

__ADS_1


Mama dan Papa spontan melihat ke arah Sheila. Mereka melihat raut wajah jijiknya yang sejak awal tak Ia coba sembunyikan.


"Sekarang aku tanya sama kalian. Apa yang selama ini kalian ributkan sampai membuat Dio tertekan seperti saat ini? Mempermasalahkan pernikahan aku dan dio? Mempermasalahkan kehamilanku? Mempermasalahkan putusnya hubungan Dio dan Sheila? Asal kalian tahu, semua itu murni keputusan yang Dio buat!"


"Kalian hanya bisa memaksakan kehendak kalian tanpa memikirkan pendapat Dio. Kalian egois tapi melabelkan diri kalian seakan kalian peduli dan sayang sama Dio. Lihat keadaan Dio sekarang. Down. Terpuruk. Apa kalian memeluknya sekedar untuk menguatkan hatinya? Kalian hanya menunggu Dio tenang sendiriya tanpa tahu yang Dio butuhkan saat ini adalah dukungan bukan waktu untuk sendiri!"


"Tapi dimana kalian? Bertengkar terus didepannya. Dengan berani Dio mengutarakan pilihannya. Kalian pikir mudah? Diantara tekanan yang Ia hadapi dengan berani Ia membuat keputusan untuk memilih aku, istri dan juga calon anaknya. Ini cara menyembuhkan Dio tapi kalian malah menekannya lagi."


Mama berjalan menghampiri Dio dan mulai memeluk Dio seperti yang aku lakukan sejak tadi. Wajahnya penuh penyesalan melihat Dio yang terus menutup telinganya dengan tubuh masih gemetar ketakutan.


"Aku sayang sama Dio. Bagaimanapun Dio adalah papa anakku. Aku gak mau melihat Dio terus menerima tekanan dari kalian."


Aku menarik nafas panjang. Kuhapus air mataku dengan penuh keyakinan. Aku siap dengan keputusan ini. "Biar aku yang mengalah diantara keegoisan kalian. Aku akan pergi dan menghilang dari hidup Dio. Biar kalian lihat sendiri apakah Dio akan bahagia dengan keputusan yang telah kalian paksakan selama ini!"


Dio menggelengkan kepalanya menolak keputusan yang telah aku ambil. "Tidak, Yu. Jangan tinggalin aku. Please Yu...."


Aku menangkupkan kedua tanganku ke wajah Dio. "Dio, dengarkan aku. Aku gak mau ninggalin kamu. Tapi kalau aku terus bersama kamu, trauma kamu akan terus kumat. Kamu akan terus hidup dengan tertekan. Lepaskan aku, io. Aku gak mau menjadi orang yang menyumbang setiap trauma dalam hidup kamu."


"Aku gak mau Yu. Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpa kamu? Kita udah merintis usaha dari nol dan kini sudah mulai berkembang. Ini semua demi kamu, Yu. Aku udah janji akan membahagiakan kamu dengan jerih payahku sendiri. Jangan, Yu. Jangan dengarkan Papa. Aku akan melindungi kamu. Aku kan sudah berjanji sama kamu." pinta Dio dengan suara lirih dan air mata yang terus mengalir dari mata cokelatnya nan indah.


"Lanjutkan terus usaha ini, io. Buktikan sama Papa kamu yang egois kalau kamu bisa berhasil walau tanpa bantuannya sekalipun. Buktikan sama Papa kamu yang selalu menekan kamu kalau kamu gak akan menjadi seperti dirinya. Kamu pasti lebih hebat dari Dia. Karena kamu.... kamu adalah Papa anakku yang hebat." aku tak kuat menahan derai air mataku yang kembali mengalir.


Dio memelukku erat. Seakan tak rela aku pergi meninggalkannya. Aku menepuk punggung Dio memberi tahu dalam bahasa isyarat kalau aku akan baik-baik saja. Perlahan kulepas pelukannya.

__ADS_1


Aku menatap tajam Papa Putra. Tatapan mengancam lebih tepatnya. "Aku lepaskan Dio pada Anda Bapak Putra yang terhormat. Tolong jaga Dia. Jangan sampai Ia berubah menjadi monster yang mengerikan seperti Anda. Monster yang hanya punya ambisi dan tak punya hati nurani. Ingat satu hal. Cucu Anda saya bawa. Anak ini murni hanya milik saya karena gak ada ikatan pernikahan yang sah di mata hukum. Anda tidak akan pernah bisa menuntut untuk mengambilnya kelak!"


"Ma, Ayu pergi. Maaf sudah memarahi Mama seperti tadi. Kalau anak ini sudah lahir, Mama akan Ayu kirimi fotonya. Jaga Dio baik-baik ya Ma."


Aku melepaskan genggaman tangan Dio. Aku berdiri dan masuk ke kamar. Kuambil koper yang kuletakkan di samping lemari baju dan mengemas semua baju milikku.


Aku sudah memesan taksi online. Aku berjalan keluar saat supir taksi sudah sampai. Dengan menyeret koper aku berjalan keluar. Dio masih duduk di lantai dengan pandangan kosong. Papa Putra dan Sheila masih berdiri tak mengucapkan sepatah katapun. Mama Lia masih berada di samping Dio sambil menangis sesegukan.


Melihat aku keluar dengan koper Dio langsung berdiri dan menghampiriku. "Jangan pergi Yu. Jangan tinggalin aku... Aku mohon...." Dio menangis sambil memelukku erat.


"Kamu bisa, io. Kamu pasti kuat. Maafin aku gak bisa mendampingi kamu lagi. Ceraikan aku, io." Aku melepaskan pelukan Dio dan kembali menyeret koperku meninggalkan rumah kontrakan yang penuh kenangan ini.


Aku menutup pintu taksi dan menyuruh supir taksi jalan. Dio bahkan berlari mengejar di belakang taksiku. Maaf io. Pada akhirnya memang aku yang harus pergi. Aku gak mau hidup kamu penuh dengan tekanan kalau kamu terus bersamaku.


*********


\-**Season 1 End**\-


⚘⚘⚘⚘⚘ **Udah selesai nih season 1. Mana vote dan likenya? Masih mau lanjut season 2? Vote dulu yang banyak 🤣🤣🤣🤣🤣 ⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Sheila**


__ADS_1


__ADS_2