Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 87


__ADS_3

POV Author


"Jangan lupa ya Ma tema kamar untuk Kevin Dinosaurus. Gak usah terlalu lebay, biasa aja. Dan satu lagi Ma. Jangan bilang sama Papa kalau Ayu dan Kevin akan pulang dulu. Jangan ketemuin mereka dulu. Mama suruh Papa ngapain kek, pokoknya jangan ke kontrakkan Dio dulu. Biar Ayu tenang dulu dan biar mereka siap bertemu. Oke Ma? Yaudah Dio tutup dulu ya teleponnya. Makasih banyak Ma." Dio memutuskan sambungan teleponnya dengan Mama Lia.


Dio meminta tolong sama Mama menyiapkan kamar untuk Kevin. Sekalian beresin rumah Dio juga gitu maksudnya. Biar pas nanti Ayu datang rumahnya dalam keadaan bersih dan rapi, padahal mah ada andil Mama yang beresin. Dio mana sempat?


Dio kembali sibuk dengan Hp nya. Kali ini Ia memesan tiket pesawat untuk besok. Dio memasukkan lagi Hp ke saku celananya setelah memesan tiket. Ia menghampiri Ayu yang sedang membuat surat pengunduran dirinya.


"Udah selesai belum?" Dio melirik jam tangannya. Jam setengah 12 siang. Kevin sudah tidur di kamarnya setelah Bi Neneng meninabobokannya.


"Udah. Ayo kita berangkat." Ayu memasukkan surat pengunduran dirinya dan memasukkannya dalam amplop. Ia mengambil tas selempangnya dan berjalan menghampiri Dio. "Aku bilang Bi Neneng dulu ya. Kamu tunggu di mobil aja."


Dio pun mengikuti perkataan Ayu. Ia memanasi mobil Pajero yang sudah sangat Ia kangenin. Mobil pertama yang Ia beli dengan jerih payahnya sendiri. Rencananya Dio akan menyuruh salah seorang anak buahnya membawa pulang mobil ini ke Jakarta.


Ayu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Dio membantu Ayu memakaikan seat belt. "Udah siap Nyonya?"


"Ih apaan sih. Udah ayo jalan. Nanti Kevin keburu bangun."


Dio pun mengemudikan mobilnya menuju Toko oleh-oleh milik Guntur. Ia menyuruh Ayu masuk duluan sementara Ia mencari tempat parkir. Maklumlah long weekend begini pasti tempat parkirnya penuh karena banyak bis-bis pariwisata yang sedang membawa turis lokal belanja oleh-oleh.


Suasana dalam toko begitu ramai. Ayu sudah tidak kaget lagi dengan pemandangan ini. Ayu mencari keberadaan Guntur diantara banyak pengunjung.


"Ayu!" ternyata Guntur duluan yang melihat kedatangan Ayu. Guntur melambaikan tangannya agar Ayu melihat posisinya saat ini. Ayu tersenyum melihat teman sekaligus bosnya tersebut dan berjalan menghampiri Guntur.


"Dari mana aja jam segini baru dateng? Gak tau apa kalau toko tuh ramai banget kayak gini?" omel Guntur begitu Ayu sudah berada di dekatnya.


"Hmm.. Tur, kita bisa bicara sebentar gak?"


Guntur mengernyitkan dahinya. Firasatnya gak enak. Ayu gak biasanya telat. Dan sekalinya datang langsung minta bicara berdua. Pasti ada sesuatu deh. "Ada masalah apa? Kita ngomong di ruangan aku aja."

__ADS_1


Ayu mengikuti langkah Guntur. Ia sambil memberi pesan ke Dio kalau Ia ada di ruangan Guntur. Takut Dio bingung mencarinya diantara ratusan pengunjung yang datang.


"Duduk, Yu." Guntur mengambil minuman dingin dari kulkas di ruangannya dan memberikan Ayu milo kotak dingin. "Ada apa? Kayaknya hal yang kurang bagus nih buat aku kalau ngeliat dari gerik gerik kamu saat ini."


"Hebat banget kamu Tur sudah bisa menebaknya. Ini." Ayu menyerahkan amplop berisi surat pengunduran dirinya pada Guntur.


Guntur membuka isi amplop dan kaget melihat isinya. "Kamu mau pindah kerja di tempat lain?"


Ayu menggeleng. "Aku....aku mau balik ke Jakarta, Tur. Aku dan Dio sudah balikkan kembali. Aku udah mutusin berhenti kerja dan mengurus keluargaku saja." Ayu memainkan kuku jarinya tak berani menatap mata Guntur. Ia malu dan menganggap dirinya bagai kacang lupa akan kulitnya.


Guntur menghembuskan nafas kesal. Ternyata sia-sia saja penantiannya selama ini. Memisahkan dua orang yang saling mencintai dan mencari celah agar bisa masuk diantara hubungan mereka dan hasilnya sia-sia saja. Walau mereka terpisah namun mereka bahkan tidak membiarkan orang lain masuk dalam hubungan mereka.


Ayu memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap mata Guntur. "Maafkan aku, Tur. Aku sudah berusaha memulai hidup baru disini bersama Kevin. Mungkin memang sudah jalanNya kami akhirnya bisa bertemu lagi. Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Tur. Terima kasih banyak atas semua bantuan kamu selama ini. Aku berhutang budi selamanya sama kamu, Tur."


Guntur tak bisa marah melihat wanita yang dicintainya ingin pergi dari sisinya. Guntur tak punya hak untuk melarang Ayu mengejar kebahagiaannya. "Pergilah, Yu. Aku akan bahagia kalau melihat kamu bahagia. Kejarlah kebahagiaan kamu. Kebahagiaan kamu bukan di samping aku, melainkan di sisi Dio. Aku gak apa-apa kok. Malah aku yang berterima kasih. Kalau bukan karena kamu aku gak akan bisa mengelola toko sampai sebesar sekarang."


"Tur. Maaf nih aku mau bawa Ayu dan Kevin ke Jakarta." kata Dio dengan santainya.


"Gak usah pamer kali. Ayu aja bilangnya biasa aja. Gak pamer kayak kamu, io."


"Siapa yang pamer? Aku serius nih. Makasih banyak ya Tur. Makasih udah jagain istri dan anak aku selama ini. Kamu emang saudara aku ter-the best deh." Dio mengacungkan kedua jempolnya pada Guntur.


Guntur tersenyum melihat ulah sepupunya tersebut. "Bisa aja Kang Furniture mujinya. Udah sana bawa pergi sebelum aku bawa kabur nih Ayunya!" ancam Guntur.


"Weits... jangan coba-coba! Kamu gak tau apa kalau sekarang aku sudah berotot kayak kapten amerika? Nanti aku panggil teman-teman Avengers aku buat serang kamu, mau?"


"Dih anceman apaan kayak gitu? Dasar bocah. Udah sana pulang. Titip salam sama Tante Lia. Suruh kirimin kentang mustofa juga buat aku."


"Iya nanti aku bilangin. Aku pulang dulu ya."

__ADS_1


Guntur menaruh kepalanya diatas meja setelah sepasang kekasih itu pergi. Baterai di tubuhnya seakan langsung drop. Sepertinya Ia butuh obat sakit kepala untuk menghilangkan pusingnya.


*******


"Silahkan masuk Ibu Ratu dan Pangeran." Dio membukakan pintu rumah kontrakkannya untuk istri dan anaknya tersebut.


Ayu masih melihat-lihat keadaan sekitarnya. Tak ada yang berubah. Tanaman kesayangannya dulu masih hidup ternyata dan dipelihara oleh Dio. Rumah kontrakkan di sampingnya sudah dipenuhi dengan tumpukan kayu yang sebagian sudah hampir jadi furniture dan sebagian lagi masih berupa kayu utuh.


"Kemana karyawan kamu, io?" bukannya masuk Ayu malah bertanya keadaan rumah kontrakkan sebelah yang sepi.


"Lagi istirahat. Makan di warteg depan komplek biasanya. Nanti juga dateng. Ayo masuk. Kasihan Kevin kepanasan." Ayu pun membawa Kevin masuk ke dalam rumah. Benar-benar tidak ada perubahan sejak Ia tinggal dulu. Mungkin Dio sengaja tidak merubahnya agar tetap merasakan kehadiran Ayu di rumahnya.


Kevin masih tertidur pulas di pelukan Ayu. "Kevinnya taruh di kamarnya aja Yu. Tuh di samping kamar kita." Dio sibuk dengan koper dan barang-barang milik Ayu dan Kevin dan menaruhnya di kamar. Ayu menuruti perkataan Dio dan menaruh Kevin di kamar yang terlihat sekali baru direnovasi tersebut. Dulu kamar ini tempat menaruh hasil design Dio namun sekarang sudah diubah menjadi kamar anak bertemakan dinosaurus.


Ayu menghampiri Dio yang sibuk menata baju milik Ayu di lemari pakaian. "Biar aku aja, io." Ayu menggantikan pekerjaan Dio.


Selesai menata baju Dio langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ayu sambil memeluknya erat. "Makasih ya Yu. Makasih kamu sudah mau dampingin aku lagi. Mari kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita buang semua kenangan buruk kita dan membuka dengan hal yang baik-baik saja. "


Suara Dio yang terdengar amat lembut di telinga Ayu. "Iya, kita mulai semuanya lagi dari awal." Dio membalikkan tubuh Ayu agar bisa menatap wajahnya langsung.


Dio mencium lembut bibir Ayu. Bak gayung bersambut, Ayu pun membalas ciuman Dio. Ciuman pun semakin memanas. Suasana sudah mendukung, Kevin tertidur pulas di kamar sebelah dan para karyawan Dio sedang istirahat. Dio merasa inilah saat yang tepat melampiaskan rasa kangennya sama Ayu selama ini.


Dio mencium Ayu makin hot. Baru saja tangan Dio hendak membuka baju Ayu ketika terdengar pintu depan rumahnya terbuka.


"Dio! Mama datang! Mana cucu dan menantu Mama?" teriak Mama dari ruang tamu.


"Shit! Gagal lagi deh meetingnya. Makin terancam nih kestabilan negara!" Dio melepaskan ciumannya dan langsung menghampiri Mama sebelum Mama memergoki dirinya dan Ayu sedang bercumbu mesra.


"Iya Ma." Ayu tersenyum melihat Dio yang lagi-lagi harus menahan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2