Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 39


__ADS_3

Aku melirik jam di tanganku. Jam setengah sebelas. Masih ada 1 jam lagi sebelum waktu janjianku dengan Pak Dhana. Semalam Pak Dhana tidak memberitahuku apa hal penting yang akan dibicarakan. Aku semakin penasaran dibuatnya.


Kerjaan yang diberikan oleh Mbak Dewi juga tidak habis-habis rasanya. Jika aku tidak ngebut ngerjainnya sekarang takut tidak akan terkejar. Huft....


"Yu, tolong kamu cek BI Checking atas nama Bapak Soesilo Budi, bagaimana statusnya?" Mbak Dewi memberikan perintah lagi.


"Iya, Mbak. Ayu buatkan memonya dulu ya. Hmm... Mbak Dewi, aku boleh ijin sebentar gak? Nanti jam setengah 12 Pak Dhana mengajak aku ketemuan di lobby kantor. Boleh tidak, Mbak?" Mbak Dewi adalah orang kedua di ruanganku, nanti Ia yang akan menghandle kerjaanku saat aku ijin nanti.


"Yasudah pergi saja. Sekalian kamu pergi makan siang. Titip salam ya sama Pak Dhana. Tapi jangan lupa hasil BI checking yang Mbak minta ya."


"Siap, Mbak." aku mengutamakan mengerjakan tugas dari Mbak Dewi sebagai prioritas utamaku. Tugas yang lain pun kukerjakan secepat mungkin dan selesai tepat waktu.


Aku mengambil dompet dan Hpku lalu berjalan menuju lift. Tak lama menunggu pintu lift pun terbuka. Kosong. Belum ada yang keluar untuk istitahat makan siang. Kurapikan pakaianku dengan melihat kaca di lift. Yes. Sudah rapi.


Seperti dugaanku, Pak Dhana datang tepat waktu. Ia adalah salah satu contoh pengusaha sukses yang benar-benar menghargai waktu. Aku pun jika ada janji dengan Pak Dhana selalu datang sebelum waktunya, itu yang membuat Pak Dhana menjadikanku salah satu matketing favoritnya.


"Siang, Pak." sapaku dengan sopan sambil menundukkan sedikit kepalaku.


"Siang Ayu. Hmm... kita ngobrol di cafe dalam saja ya?" Pak Dhana menunjuk sebuah cafe yang berada di depan ruang prioritas. Aku jarang jajan disana karena harganya yang lumayan mahal.


"Boleh Pak." aku mengikuti langkah Pak Dhana. Beliau lalu memesan es kopi 2 dan donut cokelat 2.


Pak Dhana adalah salah satu pemilik perusahaan kontraktor untuk real estate dan memiliki banyak anak perusahaan. Beliau awalnya adalah nasabah Mbak Dewi namun sejak aku masuk jadi aku yang menghandlenya.


"Yu, kemarin furniture yang kamu tawarkan itu siapa yang membuatnya?" Pak Dhana memulai percakapan kami. Aku agak khawatir dengan pertanyaannya. Apakah Ia akan komplain bahwa furniture mutunya jelek atau bagaimana. Aku juga tidak mungkin mengatakan kalau itu punya suamiku. masih ada sebulan lagi sebelum aku diangkat jadi karyawan tetap, kalau Pak Dhana bilang sama yang lain aku sudah menikah, sia-sia sudah usahaku selama ini. Di kantorku kan tembok pun bisa bicara, apa yang kami gosipkan bisa sampai ke telinga HRD. Runyam sudah urusannya.


"Itu usaha join antara saya dan teman saya Pak. Ada apa ya? Bapak mau ada komplainan?"


Pak Dhana menyunggingkan senyum. "Gak usah takut gitu, Yu. Saya tidak mau komplain kok. Furniturenya bagus, modelnya unik ada nilai seninya dan tentu saja bahan kayunya bagus. Saya suka itu."


Aku menghembuskan nafas lega. "Untunglah kalau Bapak suka. Saya senang mendengarnya." aku tersenyum senang.


"Itu usaha rumahan atau gimana, Yu?" kembali Pak Dhana bertanya padaku.


"Saat ini masih usaha rumahan, Pak."


"Siapa yang membuatnya?" Pak Dhana meminum es kopi miliknya, sedangkan punyaku masih utuh. Terlalu grogi jadi gak kepikiran untuk minum. Namun melihat Pak Dhana yang minum aku pun mengikuti. Tak enak rasanya sudah dibelikan tapi tidak kuminum.


"Teman saya Pak. Dio namanya."


"Boleh saya bertemu dengannya?"

__ADS_1


Pak Dhana ingin bertemu dengan Dio? Untuk apa?


"Maaf Pak ada apa ya mau ketemu sama temen saya?"


"Kamu tuh cemas kayaknya itu bukan teman biasa kamu, Yu. Tenang saja. Saya cuma mau membicarakan tentang bisnis dengannya. Sekali lihat saya langsung tertarik dengan furniture buatannya."


"Beneran Pak?" tanyaku seakan tak percaya.


"Iya. Kapan saya bohong sama kamu? Jadi kapan saya bisa bertemu dengan temanmu?"


"Kapan saja bisa, Pak. Bapak bisanya kapan? Kita ikutin skedul Bapak saja. Kan Bapak sibuk susah nyari waktu luangnya."


"Bisa aja kamu. Begini saja, besok saya mau ke prioritas lagi. Bisa saya ketemu teman kamu ya kira-kira jam seginilah? Saya tunggu disini."


"Bisa Pak. Pasti bisa. Kalaupun gak bisa pasti diusahakan."


Pak Dhana tertawa terbahak-bahak. "Lucu kamu, Yu. Ini salah satu yang saya suka dari kamu. Sikap antusias kamu tuh natural banget. Baiklah ketemu besok ya. Saya mau kembali ke kantor lagi."


"Baik, Pak. Terima kasih."


******


"Dio, besok kamu bisa ke lobby kantor aku gak?"


"Jam berapa?"


"Jam makan siang. Bisa gak?"


"Ngapain? Mau makan siang bareng sama aku? Posesif banget sih makan siang aja maunya sama aku juga." aku langsung mencubit perut Dio.


"Aduh...duh... sakit, Yu. Aku lagi bawa motor nih. Ntar nabrak aja."


"Makanya jangan ge er dulu. Besok ada yang mau ketemu sama kamu."


"Siapa?" Dio memberhentikan motornya saat lampu merah. Tangannya mencari tanganku yang seperti biasa pegangan dengan besi di belakang jok. Diraihnya tanganku lalu ditariknya agar aku memeluk erat pinggangnya. Ini sudah kebiasaannya jadi kubiarkan saja. Namun karena lampu merahnya agak lama jadi Dio masih saja menggenggam tanganku.


"Pak Dhana."


"Siapa tuh? Aku gak kenal?!"


"Itu loh yang kemarin beli furniture kamu. Lupa?"

__ADS_1


"Ngapain ngajak aku ketemuan?"


"Katanya mau ngomongin masalah bisnis sama kamu. Aku juga gak tau pastinya apa. Yang jelas Beliau bilang kalau furniture kamu bagus dan suka sama furniture kamu."


"Yang bener?" tanya Dio lagi memastikan.


"Bener kok. Masa aku bohong. Kamu tuh yang sering bohongin aku." kataku sekalian menyindir.


"Yaudah besok aku ijin makan siang keluar." Dio melepaskan genggaman tanganku dan memegang stir motor lagi karena lampu sudah berubah hijau.


"Kapan aku bohong sama kamu, Yu. Aku aja jujur kalau aku lagi kepengen sama kamu."


Duuk... Sebuah jitakkan langsung kulayangkan ke helmnya.


"Eh sama laki gak boleh gitu. Gak sopan. Masa lakinya dijitak?"Dio menarik lagi tanganku agar lebih erat lagi aku memeluknya.


"Biar sel-sel ngeres di otak kamu rontok makanya perlu dijitak dikit."


"Tapi kamu suka kan kalau aku lagi ngeres kayak gini?"


"Au amat, io." Dio tertawa melihat reaksiku.


********


Aku menguncir tinggi rambutku. Baru saja selesai mandi dan aku hendak menyiapkan makan malam untuk Dio. Aku memakai celana pendek ala-ala dedek gemes dan kaus warna putih. Aku sedang memilih apa yang hendak kumasak ketika Dio memelukku dari belakang.


"Ih ngagetin aja. Ada apa sih?" Aku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di tubuhku.


"Kan aku bilang tadi kalau aku lagi kepengen." aduh gimana nih? mana pil KB sudah aku buang. Dan terakhir aku meminumnya adalah hari jumat, berarti sudah 3 hari aku tidak minum. Kalau kami melakukan hubungan suami istri apakah akan langsung hamil. Tidak mungkin kan?


"Ehem... kamu gak mau makan dulu?" kucoba mengalihkan pikirannya.


"Maunya makan kamu."


********


Ah gantungin lagi ah.....


Kalau udah vote banyak baru lanjut lagi...


Hehehe...

__ADS_1


__ADS_2