
**⚘⚘⚘ Ayo vote yang rajin ya. Hari senin nih, vote yang banyak ya biar masuk 10 besar. Nanti aku panjangin deh ceritanya kalau votenya banyak 🤭🤭🤭
POV Dio**
Sheila sudah lebih tenang sekarang. Setelah air matanya membasahi kaos yang kupakai Ia mulai menyeka air matanya. Tubuhnya tak lagi gemetar menahan emosi. Aku tahu Sheila gadis yang kuat. Aku kenal Ia sejak dulu. Ia pasti bisa melalui semua ini.
"Kalian duduklah. Kita bicarakan semuanya!" Papa memerintahkan kami berdua duduk.
Mama baru saja datang dari dapur dengan membawa teh manis untuk kami semua. Tak lupa air mineral botol Ia sediakan juga. Ia tahu pembicaraan kami membutuhkan ketenangan dan berpikir jernih.
"Iya, ayo kalian duduk dulu. Kita selesaikan semua masalah kita. Ayu tidak kamu ajak Dio?" Mama akhirnya menanyakan menantu yang tidak Ia lihat kedatangannya. Ia pikir aku akan membawa serta Ayu menemui Sheila tapi ternyata tidak.
"Tidak, Ma. Dio datang sendiri." Sheila masih menatapku dengan penuh amarah. "Ayo kita duduk, Sheil."
Aku merangkul tangan Sheila dan mengajaknya duduk di sofa namun Sheila menepis tanganku. Ia lalu duduk di samping Papa. Mencari tempat yang aman untuknya berlindung. Ia tahu kalau Papa akan membelanya nanti.
Aku memilih duduk di samping Mama. Aku yakin Mama lah yang akan mendukung apapun keputusanku kelak.
"Papa sudah menceritakan semuanya sama Sheila. Bagaimana kelakuan kamu selama ditinggal Sheila. Bagaimana kamu pada akhirnya menikahi Ayu. Dan tentang Papa yang menyuruh kamu memilih diantara 3 pilihan." Papa sekarang menatap Sheila. "Pilihan pertama Dio akan memilih Ayu dan melepaskan perusahaan Papa untuk diserahkan ke Om Lim. Pilihan kedua, Dio akan memilih kamu Sheila dan melepaskan Ayu serta mendapatkan perusahaan Papa. Pilihan ketiga, Dio akan mempertahankan kalian berdua dan mendapatkan perusahaan Papa serta bebas mendirikan perusahaannya sendiri. Menurut kamu Dio akan memilih apa, La?"
"Tentu Dio akan memilih pilihan kedua, Pa." jawab Sheila dengan penuh percaya diri. "Hubungan Dio dan Ayu hanya sebatas one night stand saja. Dio sudah menikahi Ayu saja sudah bentuk tanggung jawab Dio terhadap Ayu. Sekarang aku sudah kembali. Aku akan membawa Dio kembali ke pelukanku lagi." ucap Sheila dengan berapi-api. Aku tahu sekarang kemarahanlah yang bersemayam di hatinya bukan lagi kesedihan dan kekecewaan seperti tadi.
"Tapi mereka sudah menikah, La." Mama akhirnya ikut bersuara dan mengingatkan hubunganku dan Ayu sekarang.
"Lala gak peduli, Tante. Dio milik Lala. Selamanya akan menjadi milik Lala!"
__ADS_1
Sheila memang masih memanggil Mama dengan sebutan Tante. Mama tidak sedekat itu dengannya. Tidak seperti Papa yang memang amat menyayangi Sheila dan memintanya memanggil Papa.
"Kamu kenapa diam saja, io? Bagaimana keputusan kamu?" Papa menengahi sebelum Mama dan Sheila akhirnya ribut.
"Hmm... Sebenarnya ada yang mau Dio beritahukan sama kalian semua." Semuanya langsung diam dan menunggu perkataanku selanjutnya. "Kenapa Ayu tidak Dio ajak adalah karena Dio baru saja membawa Ayu ke UGD."
"Ayu kenapa, io? Baik-baik saja kan?" Mama langsung bertanya dengan penuh kekhawatiran. Ah hanya Mama saja yang mengingat Ayu disini selain aku. Ia benar-benar sayang sama Ayu.
"Gak usah ngebahas wanita itu disini. Yang terpenting adalah kamu milih aku, Beb. Aku aja belum maafin kamu kok malah kamu ceritain disini kalau kamu bawa Dia ke UGD. Aku gak peduli sama wanita itu!"
"Kamu gak boleh gitu dong, La. Dengarkan dulu penjelasan Dio. Biar bagaimanapun Ayu tetap ada andil dalam keputusan yang akan Dio ambil kelak." Mama mulai mendebat perkataan Sheila.
"Mama kok membela wanita itu terus sih? Mama gak mau ya kalau Dio memilih aku?" Sheila masih saja terus melawan perkataan Mama.
Aku menghembuskan nafas berat. Belum bilang saja mereka sudah ribut, apalagi kalau aku kasih tau. Biarlah. Aku juga pusing. Ribut...ribut..deh.
"Ayu tadi pingsan. Ayu tau kalau Papa akan menyuruh Dio kesini dan menagih jawaban Dio. Ayu pingsan karena..... Ayu sedang hamil."
Sheila langsung membelalakan matanya. Semuanya kaget namun hanya Mama yang langsung tersenyum bahagia. "Syukurlah... Akhirnya Mama akan punya cucu." Mama langsung memelukku erat. "Mama tak sabar mau menggendong cucu Mama nanti. Pasti akan secakep kalian berdua deh."
Wajah Sheila memerah menahan amarah. "Jadi kamu bukan hanya one night stand sama Dia, io? Kamu melakukannya berkali-kali sama Dia? Kamu suka sama Dia? Kamu..." Sheila bicara sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya padaku. Ia memang biasa seperti itu, kalau marah ibaratnya sudah seperti setan yang tidak mempedulikan keadaan sekitar walau didepan kedua orang tuaku sekalipun.
"Memangnya kenapa? Gak masalah dong? Toh mereka sudah resmi menikah! Mereka sudah sah secara agama sebagai suami istri. Wajah dong kalau Dio bahkan melakukannya lebih dari sekali. Siapa yang tidak akan tergoda memiliki istri secantik Ayu. Selain cantik wajah juga cantik hatinya." Mama kembali menyatakan perang dengan Sheila.
"Ma, sudah. Kamu jangan mengompori lagi. Kamu malah mengipasi api agar makin membesar." Papa sekarang menegur Mama.
__ADS_1
"Papa kenapa sih gak bisa berbuat adil? Hanya membela Sheila aja. Inget Pa, dalam perut Ayu sekarang ada cucu kita!" Mama tak mau kalah sekarang. Keberaniannya Ia keluarkan. Tak terima dirinya melihat anak satu-satunya ditunjuk-tunjuk oleh wanita yang belum sah menjadi menantunya itu.
"Bukan gak adil, Ma. Sheila juga calon menantu kita!" sekarang Papa yang berdebat dengan Mama.
"Kan baru calon, belum tentu jadi. Yang sudah pasti tuh Ayu yang sudah jadi menantu kita. Ada cucu kita lagi di dalam perutnya."
"Sudah...sudah... Biar Dio yang memutuskan!" Papa menengahi agar dirinya tidak ribut parah dengan Mama.
"Ya Dio tetap pilih Lala lah, Pa. Dio kan pacar Lala. Masih untung Lala gak ninggalin Dio!" Sheila melipat kedua tangannya di dada dan menatap Mama dengan tatapan tidak sukanya. Mama balik memelototinya.
"Masih untung? Dio tuh gak sama kamu juga masih bisa dapet Ayu yang lebih baik lagi!" ketus Mama.
"Kalau kamu gak kasih keputusan kamu sekarang, bisa terjadi pertumpahan darah antara Mama Sheila! Apa keputusan kamu?" Papa memaksaku membuat keputusan secepatnya.
Tanganku keluar keringat dingin. Apa keputusan yang harus aku ambil?
"Aku.... gak mau kehilangan Sheila..."
"Yes! berarti kamu pilih aku dong?" Sheila menyunggingkan senyum kemenangan.
"Aku belum selesai, La. Aku gak mau kehilangan kamu dan juga... Ayu." jawabku sambil menunduk dan tak mau menatap siapapun.
Sheila bangun dan... plak... pipiku kembali mendapat tamparan darinya. "Kamu gila, io! Kamu pikir aku mau di poligami? Gila kamu!"
"Hei! Jangan seenaknya kamu ngatain anak saya! Pake acara ngegampar segala! Saya saja ibunya gak pernah gampar dia, kamu yang baru pacarnya sudah berani main fisik segala!" Mama berdiri dan memasang badannya untuk membelaku. Keadaan semakin memanas saja kala kulihat Mama makin beradu argumen dengan Sheila.
__ADS_1