Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 100


__ADS_3

"Are you ready guys?" teriak Dio pada seluruh anak buahnya.


"Ready!" teriak seluruh anak buahnya kompak.


"Oke. Sini dulu kita kumpul sebelum masuk ke dalam. Briefing sebentar ya."


Dio dan anak buahnya pun berkumpul di depan pintu masuk Dufan. Dio membagikan tiket masuk Dufan. Masing-masing mendapat 2 buah. Ada yang mengajak istrinya dan ada juga yang mengajak pacarnya.


"Ini buat kalian jajan dan makan di dalam ya. Terserah mau dihabisin atau mau disimpen buat besok-besok. Nanti kita ketemu lagi di pintu keluar jam 6 malam ya. Kita makan malam dulu di Bandar Jakarta. Makan malam akan disponsori sama Akinya Kevin. Tepuk tangan dulu dong buat Aki yang baik hati ini."


Seluruh anak buah Dio memberikan tepuk tangan untuk Papa Putra yang mau mentraktir anak buah anaknya. Papa Putra memberikan senyum atas balasan tepuk tangan yang Ia dapatkan.


Dio membagikan satu persatu amplop yang berisi uang jajan selama di dalam Dufan. Masing-masing terisi 500 ribu. Semuanya murni dari uang keuntungan Ayu Furniture. Dio tidak mau memakai uang dari Papa. Karena Dio tak enak saja menolak terus tawaran Papa makanya Ia mengijinkan Papa mentraktir mereka makan malam.


"Dio, kita foto dulu dong sebelum masuk ke dalam." kata Ayu mengingatkan.


"Oh iya lupa. Ayo kita foto. Aku minta tolong karyawan Dufan dulu ya untuk fotoin kita." Dio pun menghampiri salah seorang karyawan Dufan dan meminta tolong untuk memfoto Ia dan karyawannya.


Hari ini mereka berseragam kompak. Ayu sudah memesankan kaus bertuliskan Ayu Furniture berwarna hitam yang tampak keren dipakai. Ayu memesankan yang kualitasnya bagus. Bukan sekedar kaus sablonan biasa.


Setiap anak buah dan yang diajaknya pun dikasih baju yang sama. Papa Putra dan Mama Lia juga memakai baju yang sama. Begitu pun keluarga Ayu yang ikut serta.


"Udah dapet semua kan amplop dan tiket masuknya?" tanya Dio.


"Udah." jawab semuanya.


"Oke. Selamat bersenang-senang. Jangan takut habiskan uang yang di amplop ya karena besok kita kerja keras lagi nyari uang lagi. Sekarang waktunya senang-senang. Oke."


"Oke."


Dio mengulurkan tangannya padaku. Sambil tersenyum aku pun menggenggam tangan Dio. Kevin sudah anteng dengan duo kakek neneknya yang tidak membiarkanku dan Dio membawa Kevin. Mereka menguasai Kevin.


Aku dan Dio sih senang-senang aja. Kami mulai permainan hari ini dengan masuk ke wahana Ice Age. Udah lama aku mau main tapi karena kalau weekend penuh jadi males banget antrinya.

__ADS_1


Antrian tidak terlalu panjang, karena masih pagi dan karena weekday jadi pengunjung hari ini tidak sepadat weekend.


"Minum dulu Sayang. Nanti kamu haus." Dio memberikanku air mineral yang baru saja Ia beli. "Kentang gorengnya biar aku yang suapin ya." Dio pun menyuapiku kentang goreng.


"Cepet banget udah dapet kentang goreng aja. Kapan belinya?" setahuku tadi Dio cuma sebentar beli minum deh.


"Tadi Mama kamu nitipin buat kamu. Mereka lagi antri di depan stand kentang goreng eh ngeliat aku lalu nyuruh kasih ke kamu deh." Dio memakan kentang goreng yang entah kenapa kalau dimakan saat di Dufan rasanya lebih enak dibanding saat aku menggoreng sendiri di rumah.


"Kevin masih sama mereka?" walau aku gak perlu khawatirin Kevin tetap saja naluri seorang Ibu yang gak bisa lepas dari pengawasan terhadap anaknya.


"Masih. Malah Kevin yang minta beliin kentang goreng. Udah kamu gak usah khawatirin Kevin. Penjaganya udah cukup. Kevin aja santai gak nanyain kamu." Dio menyuapiku lagi kentang goreng.


"Sedih ya aku dicuekkin gara-gara kakek neneknya terlalu memanjakan Kevin jadi Kevin lupa sama aku. Hiks..."


"Udah biarin aja. Nanti kita bikin lagi adeknya Kevin yang banyak. Oke?"


"Oke."


Dio kaget mendengar aku menyetujui usulannya. Biasanya aku selalu nolak kalau Dio berlaku jahil ini kok tiba-tiba aku mengiyakan saja.


"Iya aku setuju. Aku juga mau punya banyak anak dari kamu." kataku dengan yakinnya.


"Yang bener? Bikin sekarang aja apa nih?"


"Nanti. Jangan macem-macem deh. Kita lagi jalan-jalan nih hari ini. Kita nikmatin rekreasi hari ini. Masalah bikin anak mah bisa kapan aja."


"Nah itu.... aku suka itu. Sikap kamu yang pasrah begitu membuat aku merinding disko sekaligus membuatku dag dig dug." Dio lalu membisikkan sesuatu di telingaku. "Tapi nanti kamu yang diatas ya."


Wajahku langsung merona merah. Kucubit pinggang Dio yang langsung merintih kesakitan. "Jangan ngomong yang macem-macem ya. Ini tempat umum."


"Siap Nyonya." kulepaskan cubitanku setelah Dio menyerah untuk menggodaku lagi.


Selesai Ice Age aku dan Dio ke Arung Jeram. Sekalian basah-basahan gitu niatnya. Habis itu lanjut Niagara gara.

__ADS_1


Aku dan Dio lalu menghampiri Kevin dan kakek neneknya. "Keviiin." panggilku pada anak ganteng yang asyik minum susu.


"Mommy... Kevin abis macuk ke istana boneca. Bagus deh Mommy." Kevin langsung bercerita padaku pengalaman barunya tersebut.


"Wah seru dong. Kevin gak ajak-ajak Mommy ya?"


"Mommy pelgi sama Daddy sih. Mommy kok bajunya basah. Cepet ganti baju nanti satit."


Kakek dan nenek Kevin pun tertawa mendengar kepintaran Kevin. "Iya Sayang. Mommy sama Daddy habis main arung jeram makanya basah semua. Mommy ganti baju dulu ya." Aku mengambil tas bajuku yang kutaruh di stoller Kevin.


"Kevin mau ikut Mommy sama Daddy gak?" tanyaku.


"Gak mau." jawab kedua kakek Kevin kompak.


"Kevin sama Aki aja ya. Jangan ikut Mommy. Nanti Aki beliin mainan. Kalo sama Mommy gak dibeliin." bisa banget kan Papa Putra membujuk Kevin?


"Kevin ikut Aki aja. Gak mau sama Mommy." hiks... sedih aku tuh ditolak anak sendiri.


"Yaudah deh Mommy pergi lagi deh sama Daddy. Kevin jangan nakal ya."


"Iya Mommy. Dadah..."


Aku dan Dio melanjutkan naik Halilintar. Tentunya setelah mengganti baju kami terlebih dahulu. Suaraku sampai serak teriak teriak terus sejak tadi. Hampir semua permainan ekstrim aku dan Dio naiki. Kadang kami berpapasan dengan karyawan Dio. Siapapun yang kami temui semuanya berwajah bahagia karena jalan-jalan hari ini.


"Aku senang Yu bisa memberikan banyak kebahagiaan untuk karyawanku. Semoga kedepannya Ayu Furniture makin maju lagi dan lagi. Agar aku bisa membahagiakan karyawanku lebih sering lagi." kulihat sorot mata Dio amat berbinar karena semangat dan kebahagiaan.


"Amin. Aku juga mendoakan yang sama seperti kamu. Semoga rumah tangga kita juga semakin harmonis sehingga membawa kebahagiaan untuk kita sekeluarga dan orang di sekitar kita juga." doaku dengan tulus.


"Amin." Dio pun memelukku erat.


Sekarang tibalah kami naik ontang anting. Kami memilih tempat duduk bersebelahan namun beda kursi agar nanti bisa berpegangan tangan sesekali. Kami pun foto bersama sebelum permainan dimulai. Senyum bahagia terpancar dari wajar kami berdua.


Ya Tuhan... semoga rumah tangga kami selalu bahagia. Semoga kami bisa semakin sabar dan kuat dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang kau berikan. Semoga kami bisa semakin dewasa dalam menghadapi setiap permasalahan. Dan yang pasti semoga cinta kami selalu abadi selamanya.

__ADS_1


T A M A T


⚘⚘⚘⚘ Hi semua pembacaku tersayang. Akhirnya novel Namaku Ayu tamat juga. Tenang aja aku masih akan kasih tambahan episode sebagai bonusnya. Kalo ada yang nanya kenapa gak dilanjutin sampai panjang jawabannya adalah ide aku udah mentok. Udah gak fresh lagi. Gak ada sensasinya dalam menulis. Karena itu aku buat novel baru yang judulnya WARM YOUR HEART, jangan lupa mampir ya. Like dan vote di novel WARM YOUR HEART aja ya. Sekali lagi makasih banget udah ngikutin novel aku. Seneng banget ada yang suka sama novel ini. Ada yang gregetan juga dan ada yang kritik. Gak apa-apa, bagiku itu wujud kepedulian kalian. Pokoknya makaaaassssiiiihhh banget ya. Luv u all. 😘😘😘😘⚘⚘⚘⚘⚘


__ADS_2