Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 50


__ADS_3

😘😘😘 Untuk merayakan vote kalian yang banyak, Aku akan update lebih banyak hari ini. Ayo terus dukung novel ini dengan like dan vote ya. Cayooooo!!!! 😘😘😘😘


Mie udon yang kami pesan sudah dingin. Tak ada lagi nafsu makan yang tersisa didiriku. Hilang sudah. Menguap bersama ratusan tetes air mata yang terus mengalir tanpa henti.


Banyak pengunjung restoran yang curi-curi pandang kepadaku. Mereka pasti berpikir kalau aku sedang diintimidasi oleh Mertuaku sendiri, seperti di sinetron. Kenyataannya tidak seperti itu.


Mama Lia tidak menyuruhku meninggalkan putranya malah menyuruhku untuk tetap mendampingi Dio sampai kapanpun. Egois memang, aku sadar itu. Walau bagaimanapun Mama Lia adalah seorang Ibu yang mementingkan kebahagiaan anaknya diatas segalanya. Bahkan diatas penderitaanku sendiri. Diatas perih dan pedihnya hatiku saat ini.


Aku berusaha bernafas normal, sudah tersumbat hidungku karena kebanyakan menangis. Suaraku pun terdengar bindeng. Aku harus bicara. Aku harus menyuarakan isi hatiku. Mungkin kalau dengan Papa Putra aku tidak punya keberanian, namun kalau sama Mama Lia aku pasti berani.


"Jujur saja Ma, Ayu gak punya kepercayaan diri yang segitu besarnya untuk tetap berada di sisi Dio. Seorang istri yang rela dirinya dipoligami biasanya memiliki suatu keyakinan, bahwa suaminya tetap akan kembali padanya suatu hari nanti. Karena apa? Karena sang istri tersebut yakin kalau ada cinta di hati suaminya untuk dirinya. Walau ada wanita lain yang disukai suaminya tetap saja cintanya hanyalah untuk sang istri seorang. Berbeda dengan Ayu dan Dio, Ma. Kami hanya memiliki rasa saling memiliki karena saling bergantung dalam masa sulit. Kami saling mendukung seperti sesama sahabat dikala susah. Bukan perasaan cinta seperti yang Dio berikan pada Sheila."


Aku menyeka beberapa tetes air mata yang kembali mengalir.


"Saat Ayu mengijinkan Dio berpoligami, maka saat itu pula Ayu siap kehilangan Dio selamanya. Dio gak mencintai Ayu, Ma. Ayu hanyalah Cherleaders yang berteriak di pinggir lapangan mendukung setiap langkah Dio. Keberadaan Ayu hanya sebagai peramai suasana saja. Ayu akan pergi saja, Ma. Ayu rasa pilihan kedua lebih baik untuk semuanya. Ayu akan mundur, Ma. Demi kebahagiaan semua orang. Terutama demi kebahagiaan Dio."


"Kamu bukan cherleaders, Yu. Kamu menantu dan anak Mama. Kamu itu pemeran utama dalam film hidupnya Dio. Mama gak mau kehilangan menantu idaman Mama seperti kamu. Jangan berkata seperti itu, Yu. Mama yakin ada nama kamu di hati Dio. Mama kenal sekali dengan sifat anak Mama sendiri. Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersabar dan menanti Dio disampingmu. Kita gak ada yang pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, Yu. Mungkin saja sebenarnya Dio mencintai kamu, hanya Dio belum menyadarinya. Kamu yang mencintai Dio dengan tulus seperti sekarang itu yang telah merubah Dio. Mama yakin itu, Yu."


Aku melirik jam di Hp-ku. Sudah terlalu lama kami berbicara sedangkan jam istirahatku akan segera habis. Percuma melanjutkan pembicaraan ini, Mama hanya akan terus membujuk aku untuk bersedia dipoligami oleh Dio.


"Ayu harus kembali ke kantor lagi, Ma. Pekerjaan Ayu menumpuk karena sejak tadi gak konsentrasi." Aku mengambil dompetku dan berdiri dari duduk.


"Iya. Mama akan antar kamu." Mama pun mengikutiku berdiri.


"Tunggu sebentar, Yu." Aku menghentikan langkahku di depan sebuah toko kue. "Mama mau beli kue dulu."


"Ayu tunggu disini aja ya Ma." Mama masuk ke dalam toko kue dan tak lama kemudian keluar dengan membawa 1 paper bag besar dan 1 paper bag kecil.


"Ayo. Supir Mama sudah di lobby."


Aku hanya diam saja sepanjang perjalanan. Setidaknya rasa mumet di kepalaku berkurang sedikit setelah bicara dengan Mama. Ya, hanya sedikit. Sisanya rasa sesak di dada yang makin bertambah.


"Yu, pikirkanlah lagi matang-matang. Mama akan mengundur waktu yang Papa berikan sampai Sheila pulang. Kamu pikirin baik-baik ya."


"Ayu tidak dapat menjanjikan apa-apa, Ma." Aku tak mau membuat Mama berharap lebih akan keputusanku.


"Iya Sayang. Oh iya, ini." Mama memberikan dua buah paper bag yang Ia bawa. "Kamu tadi gak makan. Mama beli roti dan cake. Makanlah bersama teman-teman kamu."


"Makasih, Ma." Aku turun dari mobil dan masuk ke kantor.


Sesampainya aku di ruangan, Mbak Dewi yang pertama langsung berkomentar saat melihatku. "Ya ampun, Yu. Mbak kira setelah jalan-jalan kamu lebih fresh. Ini malah mata kamu bengkak, jauh lebih bengkak dari tadi. Kamu numpang nangis dimana?"


"Gak kok Mbak. Oh iya, ini dari Mama Mertuaku buat kalian semua." Aku tidak tau kenapa teman satu timku melihat semuanya ke arahku. "Aku beneran gak apa-apa kok. Kenapa semuanya ngeliatin aku kayak gitu?"


Mbak Dewi langsung berjalan menghampiriku. "Yu, kamu gak salah ngomong? Mama mertua? Kamu udah nikah, Yu?"

__ADS_1


Ucapan Mbak Dewi menyadarkanku. Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Oh Tuhan.... Kenapa mulut ini bahkan gak bisa diajak kerjasama?


Mas Adi, Mas Bagus dan Mbak Dewi langsung mengelilingiku. Mereka mengambil kursi dan menatap ke arahku. Aku seperti hendak di sidang.


"Jadi, kamu udah nikah Yu?" Mbak Dewi bertanya lagi tapi dengan suara pelan agar tak ada yang mendengarnya selain tim kami saja.


Aku menggigit bibir bawahku. Gak mungkin aku menyembunyikan lagi kenyataan ini. "Iya, Mbak. Aku udah menikah." Kataku sambil menunduk. Aku tak berani menatap mereka semua.


"Kapan?" Mbak Dewi kembali menginterogasiku.


"Hampir 6 bulan lalu." Mereka bertiga kompak menghembuskan nafas berat. Aku tahu karena ulahku mereka bisa kena masalah dengan HRD.


"Tapi aku baru nikah secara agama saja, Mbak. Aku belum mendaftarkan pernikahan kami. Dan hari ini aku akan tanda tangan surat pengangkatan jadi karyawan tetap jam 2 siang nanti. Tapi terserah sama kalian sih. Kalau kalian mau mengadukanku sama HRD aku gak apa-apa kok."


Mbak Dewi memegang kedua bahuku. "Kita akan rahasiakan kok, Yu. Kita juga gak mau kehilangan kamu. Nanti aku bisa kecapean ngerjain kerjaan kamu lagi." Aku memberanikan diri mengangkat kepalaku dan melihat Mbak Dewiku tersenyum layaknya bidadari.


"Makasih, Mbak." Aku beralih menatap Mas Adi dan Mas Bagus yang terlihat sedih. "Lalu Mas Adi dan As Bagus gimana? Mau melaporkan aku ke HRD?"


"Ya enggaklah, Yu. Kita berdua lagi sedih. Kita kehilangan bidadari lagi deh. Padahal aku udah ngincer kamu. Ah andai saja aku belum nikah." Ucapan Mas Bagus berhasil membuatku tertawa.


"Jadi, kamu diapain sama mertua kamu? Kok malah makin sedih?" Perkataan Mbak Dewi membuat Mas Bagus dan Mas Adi yang cekikikan langsung terdiam dan memasang kuping untuk mendengar jawabanku.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku memang ada masalah, Mbak. Kalian tenang saja. Aku baik-baik saja kok."


*******


Jam 5 lewat 20 menit. Aku sengaja keluar kantor lebih lama dari biasanya. Biarlah Dio menungguku sambil digigit nyamuk seperti yang biasanya kurasakan.


Dengan malas aku melangkah ke halte tempat biasa menunggu. Benar saja, Dio sudah menunggu diatas motor scoopynya. Ia langsung tersenyum melihat kedatanganku.


Dio turun dari motor dan memasangkan helm ke kepalaku. "Tumben kamu lama, Yu. Biasanya udah nungguin aku disini. Banyak kerjaan ya?"


"Lagi males aja." Aku langsung duduk di kursi belakang dan tetap diam. Aku juga tak lagi memeluk Dio, aku berpegangan pada besi di belakang jok.


"Yu, mau makan dulu gak?" Dio berbasa-basi padaku.


"Enggak." Jawabku singkat.


Dio tak lagi mengajakku bicara. Ia sadar kalau aku sedang marah. Entah marah dengan dirinya atau marah dengan keadaan.


Dio ternyata tidak langsung membelokkan motornya ke arah rumah, namun Ia malah memberhentikan motornya di taman dekat rumah. Ia melepas helmnya dan turun dari motor.


"Turun yuk, Yu."


Dio terus berjalan ke dalam area taman. Ia duduk di ayunan yang kosong tak ada yang mainkan. Jelas saja kosong, jam 7 malam mana ada orang tua yang membiarkan anaknya berkeliaran di taman sebesar ini? Bisa diculik Kalong Wewe kalau kata Mama mah.

__ADS_1


Bukan Jakarta namanya kalau jam 7 tidak banyak yang nongkrong di taman. Banyak pasangan yang sedang berpacaran di taman. Aku berjalan mendekati Dio dan duduk di ayunan di sampingnya.


Dio mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api gas dari tasnya. Sejak kapan Dio merokok? Selama menikah dengan Dio tak pernah sekalipun aku melihatnya merokok. Aku juga tak pernah mencium bau rokok dalam tubuhnya. Apa Ia melampiaskan stressnya dengan cara merokok?


Dio mengepulkan asap rokok dengan kasar. Tampak Ia tak menikmati rokok seperti perokok lainnya.


"Bagaimana dengan pengangkatan karyawan kamu hari ini? Udah tanda-tangan?"


"Udah."


"Akhirnya. Kamu jadi karyawan tetap juga. Selamat ya."


"Hemm." Jawabku dengan malas.


"Sheila akhirnya membalas pesanku setelah hampir ribuan pesan yang kukirimkan padanya. Ia bilang pemotretannya di Swiss dan Paris hampir selesai. Ia akan pulang secepatnya." Dio menyesap lagi rokoknya.


"Bagus dong. Jadi kamu akan lebih cepat menikahinya? Kamu pasti udah kangen banget kan sama Dia?" Kataku dengan sinis.


"Entahlah, Yu. Aku tuh terbiasa ditinggal-tinggal olehnya. Karirnya sebagai model internasional mengharuskan Ia sering pemotretan keluar negeri. Awalnya aku sangat bangga dengan profesinya. Teman-temanku sering menyebut kalau aku sangat beruntung memiliki pacar seorang model cantik seperti Sheila. Tak munafik, aku juga senang mendengar pujian mereka."


Mata Dio menerawang jauh. Ia sedang mengenang sesuatu. "Aku kenal Sheila sejak SMA. Ia kembang sekolahku. Berkat hasutan teman-temanku akhirnya aku berani PDKT dengannya. Kami akhirnya jadian. Pacaran kami berlangsung cukup lama. Tahun ini kami genap 7 tahun berpacaran. Aku juga yang mendukung karirnya sebagai model."


"Wajah dan tubuhnya yang proporsional banyak menarik minat agensi untuk mengontraknya sebagai model. Ia pun menerima tawaran mereka. Awalnya hanya sekali dua kali pemotretan, tapi ketenaran mulai menguasainya. Ia pun berhenti kuliah dan fokus menjadi model."


"Kami mulai jarang bertemu. Mulanya 2 minggu sekali. Lalu sebulan sekali. Kadang 3 bulan sekali. Dan terakhir sekarang, 6 bulan. Aku sudah melarangnya pergi, namun Ia tetap keukeuh ingin mengejar karirnya. Baginya ini kesempatan langka dan akan semakin mendongkrak karirnya."


Dio membuang puntung rokok yang sudah habis dihisapnya. Ia menyalakan lagi sebatang rokok dan menyesapnya kembali.


"7 tahun bersama bukan waktu yang sebentar. Aku sudah bertekad akan menikahinya. Banyak khayalan indah yang sudah kurangkai dengannya. Berkhayal akan memiliki banyak anak dengannya. Berkhayal akan makan di rumah dan menikmati masakannya. Berkhayal akan jalan-jalan ke luar negeri dengannya."


"Semua berubah. Sheila tak bisa dihubungi karena Hpnya dipegang Manajemennya. Kerjaan di kantor membuatku stress akan tekanannya. Surat peringatanpun dikeluarkan, membuat aku makin stress. Dan akhirnya kita dipertemukan dengan keadaan yang luar biasa sampai jadi menikah. Dalam pikiranku setelah kita menikah adalah bagaimana aku harus menghidupi istriku dengan hasil kerjaku sendiri. Aku memperbaiki pekerjaanku di kantor sampai akhirnya atasanku mengakui hasil kerjaku."


"Aku juga merasakan salah satu khayalanku terwujud yakni bisa makan dan menikmati masakan istriku di rumah, dan bukan Sheila yang menjadi istriku saat ini tapi kamu. Aku memang belum bisa jalan-jalan keluar negeri. Tapi jalan-jalan di pasar aja sama kamu sudah membuatku senang. Keluar masuk pasar tradisional demi mencari harga termurah demi menghemat uang bulanan. Itu bukan sesuatu yang ada dalam khayalanku Yu."


"Justru bagus dong. Nanti Sheila pulang kamu bisa mewujudkan khayalan kamu yang lainnya. Maaf aja deh kalau sama aku kamu gak bisa mewujudkannya." Kataku dengan kesal.


Dio kembali mematikan puntung rokoknya. Ia lalu tersenyum kepadaku. "Gak usah cemburu dulu dong. Aku kan belum selesai ceritanya."


"Ih siapa yang cemburu?" Aku melipat kedua tanganku di dada dan memanyunkan bibirku.


"Aku lanjutkan ya." Aku tak menjawab perkataan Dio. Ia pun melanjutkan ceritanya. "Aku mulai menikmati hidup sederhana dengan kamu. Makan Bacol. Makan dengan lauk tempe dan tahu. Kok bisa ya begini aja terasa asyik? Aku seperti punya teman baru, teman seperjuangan."


"Lalu kamu mulai mendorongku agar melangkah lebih jauh lagi untuk menggapai mimpiku. Membuat sesuatu dari nothing menjadi something. Membut mainan kayu kecilku bahkan memiliki harga jual yang fantastis. Disitu aku mulai kagum sama pola pikir kamu. Awalnya aku mikir kamu cantik, makin kesini kamu makin tambah cantik. Cantik hati dan segalanya."


"Mungkin kamu bukan khayalan terindah yang aku impikan Yu, tapi kamu kenyataan terindah yang ada disisiku saat ini. Khayalan bisa hilang dan berganti dengan khayalan baru. Namun saat kenyataan hilang, akan sulit menjalani hidup yang baru."

__ADS_1


__ADS_2