Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 41


__ADS_3

POV Dio


Benar seperti yang Ayu bilang, Pak Dhana adalah salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Tutur katanya, caranya bersikap dan tentunya teknik bernegosiasinya terlihat profesional. Sama seperti Papa Putra. Walau mereka bukan dari bisnis yang sama tapi aku yakin mereka saling mengenal.


Pak Dhana menyeruput kopi Americano dual shot miliknya. Aku tidak kuat minum kopi strong seperti itu bisa tidak tidur semalaman jadi aku memesan es kopi susu gula aren saja.


"Jadi Pak Dio, intinya saya suka dengan furniture hasil karya Bapak. Rencananya saya ingin menggunakan furniture buatan Pak Dio di rumah yang saya bangun."


Aku tersenyum senang. Sudah lama aku menantikan saat dimana hasil karyaku disukai dan dihargai oleh orang lain.


"Terima kasih banyak Pak. Saya senang sekali jika furniture buatan saya disukai oleh orang lain. Jadi furniture jenis apa saja yang Pak Dhana ingin saya buatkan?" aku memberikan contoh furniture buatanku yang sudah dibuat dalam bentuk hard cover. Ini juga yang Ayu sarankan. Dulu aku menganggap remeh dan tidak percaya diri namun ternyata apa yang disarankan oleh Ayu berguna semua untukku.


Pak Dhana melihat-lihat contoh furniture buatanku. Meski dalam bentuk mini namun dengan skill fotografi Ayu tak ada yang menyangka kalau itu adalah furniture mini. Aku tersenyum bangga dengan kepintaran istriku itu.


"Hmm.... saya tertarik dengan kitchen set ini." Pak Dhana menunjuk kitchen set berwarna cokelat tua.


"Boleh Pak. Tapi harganya agak lumayan. Karena selain kualitas kayunya yang bagus juga proses pembuatannya yang agak rumit. Kami sudah menyemprotkan anti rayap juga jadi bisa dipastikan akan tahan lama. Setimpal dengan harganya."


"Bagi saya harga bukan masalah. Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk mengerjakan ini?"


Aku berpikir dan mencoba mengkalkulasi dengan perhitungan mengerjakan sendiri dan mengerjakan dengan bantuan teman-temanku di Bengkel Kayu. Aku ikut dalam komunitas pembuat furniture kayu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Papa. Nama komunitas tersebut adalah Bengkel Kayu. Kami sering berbagi kerjaan bagi yang sedang menganggur. Jika aku mempekerjakan mereka aku bisa kelar dalam waktu seminggu.


"Satu minggu, Pak." jawabku dengan yakin.


"Wah saya suka dengan keyakinan kamu. Saya mau pesan ya. Pertama kitchen set dulu. Next projek saya kabari lagi."

__ADS_1


"Siap, Pak. Jadi hanya satu furniture type 3C warna cokelat tua ya." aku mencatatnya dalam notes di HPku.


"Bukan satu buah ya."


Aku menghentikan kegiatan mencatatku. "Maksudnya Pak?"


"Saya mau kamu buat untuk satu cluster rumah yang saya bangun. Kurang lebih dalam satu cluster ada 20 rumah. Jadi saya pesan 20 pc."


Aku membelalakan mata seakan tak percaya dengan apa yang kudengar. "20 pc? Tapi pak kalau 20pc saya tidak bisa mengerjakkannya dalam seminggu. Dan juga untuk masalah modal saya ada keterbatasan."


Pak Dhana tertawa melihat kepanikanku. "Kamu tuh mirip sekali dengan saya saat memulai usaha dulu. Reaksi kaget dan tak percaya kamu mirip banget. Saya seperti melihat diri saya dalam diri kamu saat ini. Tidak salah jika Ayu merekomendasikan kamu. Mata Ayu sangat jeli dalam melihat peluang. Saya tahu kalau kalian berdua sepasang kekasih. Saya mengerti kok bagaimana posisi kalian."


Pak Dhana kembali menyeruput kopinya. Mungkin haus kebanyakan bicara. "Masalah waktu pengerjaan tidak masalah. Saya tahu waktu seminggu sudah lumayan cepat untuk perusahaan start up seperti kamu. Jadi kalau 20 rumah berarti 20 minggu ya pengerjaannya. Lalu masalah biaya, saya akan DP 50 persen terlebih dahulu, bagaimana?"


.


"Nanti minta tolong sama Ayu buatkan kontrak kerja sama kita. Setelah jadi saya akan tanda tangan dan langsung transfer sejumlah DP yang kita sepakati tadi. Tolong kerjakan secepatnya ya. Biar cepat rampung. Next project sepertinya meja TV dan Lemari."


"Siap, Pak."


Aku masih tak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Setelah Pak Dhana pergi aku menelepon Ayu kembali dan mengajaknya makan siang bareng. Tak lama Ayu pun turun.


"Bagaimana pertemuan dengan Pak Dhana? Lancar?"


Aku tak menjawab pertanyaan Ayu dan langsung merangkul pundaknya. "Kita makan di luar, Sayang. Aku traktir."

__ADS_1


"Ih tumben-tumbenan bilang sayang. Ada apa nih? Kayaknya lancar nih pertemuannya. By the way, lepasin dulu dong rangkulannya, gak enak nih di lingkungan kantor." Ayu berusaha melepaskan rangkulanku di pundaknya. Aku pun melepaskan rangkulanku seperti keinginannya dan mengganti dengan menggenggam tangannya.


Aku mengajaknya makan di kantin kantor Ayu. Kami gak bisa lama-lama pergi makan siang karena kerjaan kantorku pasti menumpuk. Ayu memesankan dua buah soto ayam dan nasi beserta es teh manis.


"Dio, banyak banget yang ngeliatin kita nih. Kamu sih dandanannya udah kayak Oppa korea." Ayu tertunduk malu. Benar sih perkataannya, sekeliling kami banyak yang melihatku. Mereka tahu kalau aku bukan karyawan disini.


"Biarin aja. Kalau aku gak rapi Papa bisa ngomel. Oh iya jadi tadi hasil pertemuanku dengan Pak Dhana berjalan sukses, Yu. Pak Dhana memesan kitchen set buatanku." Aku mengambil jeruk nipis dan memerasnya ke dalam kuah soto. Soto tersebut terasa segar karena ada asem dari jeruk nipis.


"Wah kitchen set kan mahal. Untung besar kamu, io"


"Aku belum selesai bicara, Yu. Beliau pesan kitchen set untuk satu cluster rumahnya. 20 biji. Bukan untung besar lagi aku, mega besar."


"Yang bener? tuh kan aku bilang furniture kamu tuh bagus pasti laku keras." sorot mata bahagia Ayu tak dapat Ia sembunyikan lagi.


Aku ikut tersenyum melihatnya. "Ini semua karena kamu, Yu. Aku gak akan punya kepercayaan diri sebesar ini kalau bukan karena kamu. Kamu tuh pembawa rejeki untuk aku. Makasih ya, Sayang."


"Kamu jangan ngomong gitu ah. Tiap kali kamu bilang Sayang bulu kuduk aku merinding tau."


Aku tersenyum lagi mendengar perkataannya. Ternyata Tuhan punya rencana indah mempersatukan kami dalam ikatan pernikahan. Aku mendapatkan seorang bidadari suci yang tak dapat digantikan dengan apapun.


"Aku bakal bilang Sayang terus sama kamu, biar merinding kamu lama-lama hilang sendiri. Oh iya nanti buatkan surat perjanjian kerjasama ya. Pak Dhana bilang aku minta tolong kamu buatkan sesuai syarat yang kami sepakati."


"Siap. Yaudah kamu cepat makan nanti keburu dingin. Dan kamu juga harus balik lagi ke kantor. Nanti kerjaan kamu numpuk loh. "


"Iya, Sayang."

__ADS_1


"Iiiiihhh...." aku tersenyum saja menatap wajah Ayu yang memerah malu. Aku menghabiskan soto ayam lalu mengucapkan selamat tinggal sama Ayu. Aku harus kembali lagi ke kantor dan menyelesaikan tugasku agar bisa menjemput Ayu tepat waktu.


*******


__ADS_2