
⚘⚘⚘ Yang sudah emosi jiwa dan raga.... sabar bu ibu.... Hidup tuh gak cuma tentang mimpi manis dan indah aja. Its reality ada manis, asam dan asin. Apakah hidup kita pun akan terus indah? Yuks kita lanjutin cerita Ayu. Jangan lupa vote dan like ya darling....😘😘😘😘
POV Dio
Pertengkaran antara Mama dan Sheila masih terus berlanjut. Semua kata-kata mereka seakan berputar-putar di kepalaku. Keringat dingin kembali keluar dari kening dan tanganku. Papa pun ikut andil. Ia yang awalnya memisahkan Mama dan Sheila malah menjadi satu kubu dengan Sheila dan bertengkar memarahi Mama. Walau dengan air mata yang mengalir, Mama tak gentar terus membelaku.
Aku mengangkat kedua tanganku dan kugunakan untuk menutup kedua telingaku. Terlalu bising. Terlalu berisik. Aku takut....
Tanganku mulai gemetaran. Aku terus menunduk dan menutup telingaku makin erat. Aku tidak mau mendengarnya.
"Papa... Dio minta maaf....."
"Papa.... Dio akan rajin belajar lagi...."
"Ampun Pa.... Ampuni Dio...."
"Dio salah, Pa... "
"Dio yang salah...."
"Maafin Dio, Pa...."
"Maaf Pa...."
"Maaf....."
Aku merasakan bahuku diguncang dengan kencangnya. Suara tangis Mama pecah membuatku semakin merasa bersalah.
"Ampun, Pa.... "
__ADS_1
"Jangan sakiti Mama, Pa...."
"Dio akan belajar lagi, Pa...."
"Dio akan dapat nilai matematika 100, Pa... Dio janji...."
Kurasakan pelukan hangat Mama. Tangan lembutnya mengusap lembut punggungku. "Dio Sayang... Sadar Nak.... Dio.... Mama mohon.... "
Kubuka mataku perlahan. Mama melepaskan pelukannya padaku. Tangan Mama memegang tanganku yang masih menutup telingaku sendiri dengan rapat. Perlahan aku membuka tanganku dan mulailah terdengar suara Mama.
"Gak apa-apa Sayang. Lihat Mama." Aku yang masih kebingungan menatap mata Mama. "Tenang ya Sayang. Tarik nafas kamu dan hembuskan perlahan."
Aku menuruti perkataan Mama. Setelah beberapa kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya aku mulai tenang.
Kuhapus air mata yang telah membasahi wajahku. Kapan aku menangis sampai seperti ini? Aku menatap Mama kebingungan. Apa yang terjadi?
Mama memegang tanganku dan menggenggamnya lembut. "Gak apa-apa Sayang. Kamu bisa melewatinya lagi kali ini. Kamu kuat."
Sheila menatapku tajam. Ia paling benci kalau aku kumat seperti ini. Tatapan marah dan benci tertuju padaku. "Maafin aku, La." Sheila membuang mukanya tak mau menatapku lagi.
Pandanganku beralih ke Papa. Ia menatap kosong seakan menyesali semuanya. Aku bangkit dari dudukku. "Aku mau menenangkan diri dulu."
Aku pergi ke halaman belakang rumah. Ada kolam renang indoor yang sengaja Papa buat sebagai tempat favoritku. Kugulung celanaku sampai ke lutut. Aku duduk di tepi kolam renang dan memasukkan kakiku ke dinginnya air kolam renang.
Aku kumat lagi. Penyakit yang sudah lama sekali berhasil kusembuhkan tapi akhirnya kumat lagi hari ini. Aku tahu kalau aku tidak dapat sembuh secara total tapi tak kusangka Aku akan kumat lagi seperti hari ini dan Sheila melihatku yang seperti ini untuk kedua kalinya.
Aku masih teringat wajahnya yang menyiratkan kebencian saat aku dalam fase seperti itu. Ada perasaan malu dan kecewa di matanya yang tak bisa Ia sembunyikan.
Aku menderita Anxiety Disorder atau lebih dikenal dengan gangguan kecemasan. Aku tidak seperti khayalan orang lain tentang tuan muda kaya raya yang hebat segalanya. Aku bukan seperti dalam cerita novel yang isinya tentang khayalan indah mengenai tuan muda yang mampu melakukan segalanya dan terlihat keren.
__ADS_1
Itu kan hanya cerita fiksi yang melihat indahnya saja. Aku tidak seperti itu dan tidak mungkin hidup sebagai tuan muda tanpa cela jika memiliki orang tua seperti Papa Putra.
Aku tidak baik-baik saja menjadi anak salah satu orang terkaya di Indonesia. Apa kalian pikir aku hidup enak bergelimang harta dan tinggal tunjuk sana dan tunjuk sini lalu semuanya akan aku dapat? Apa kalian pikir aku tinggal angkat Hp lalu bodyguardku akan melakukan apapun yang aku suruh termasuk membunuh orang yang aku benci?
Hidup tidak seindah itu, Dude. Memiliki Papa yang sangat sukses apa kalian pikir standar hidup yang Papa tetapkan tidak tinggi? Jika nilai matematikaku mendapat 80 maka aku akan dihukum tidak boleh makan siang dan harus belajar sampai waktunya makan malam tiba. Bayangkan kalau nilaiku lebih rendah lagi, apa hukuman yang akan kuterima tidak lebih berat lagi?
Aku tidak pernah dikelilingi banyak bodyguard seperti di film-film. Hanya seorang supir yang mengantar jemputku sekolah. Bagaimana Ia bisa merasa aman kalau aku hanya didampingi seorang supir saja? Aku diikutkan pelajaran bela diri seperti taekwondo dan wingchun jadi aku bisa membela diriku sendiri.
Apa yang menyebabkan aku mengalami Anxiety Disorder ? Aku juga tidak tahu apa, sepertinya aku merasa amat tertekan dengan sikap Papa.
Papa bukanlah berasal dari orang kaya seperti Mama. Tekanan dari keluarga Mama membuat Papa memecut dirinya sendiri agar bisa sukses. Kerja keras dan kedisiplinan yang Ia lakukan membuahkan hasil. Perusahaannya sukses besar, bahkan dengan sombongnya Ia menghibahkan rumah mewah milik Mama di Semarang untuk dijadikan lapangan basket dan taman bermain.
Kesuksesan Papa berpengaruh dengan kami keluarganya. Sikapnya semakin otoriter. Semua yang Ia inginkan harus diwujudkan. Dan keinginannya yang terbesar adalah menjadikanku sebagai penerusnya yang bisa diandalkan untuk melanjutkan memimpin perusahaannya.
Papa yang awalnya lembut dan penyayang mulai berubah. Ia mulai keras terhadapku. Sejak SMP aku mulai ditekan Papa untuk selalu belajar. Papa bahkan memanggilkan beberapa guru les yang datang silih berganti untuk mengajarkanku.
Aku yang masih dalam masa remaja awalnya selalu memberontak. Aku iri melihat teman-teman sekelasku yang tiap pulang sekolah suka main game bareng atau nongkrong di suatu tempat. Jiwa mudaku ingin memberontak, aku kabur dari supirku dan ikut main games di warnet tak jauh dari sekolah.
Sudah bisa ditebak saat aku pulang sekolah hukuman sudah menantiku. Papa dengan wajahnya yang gahar menunggu di depan pintu rumah. Semua koleksi mainan batman milikku sudah hancur. Bukan itu saja, Papa bahkan membentakku dengan amat keras.
Merasa terpukul dan kecewa berat aku pun mulai mengalami gejala seperti keluar keringat dingin. Tangan dan dahiku keluar keringat dingin lalu aku mulai menutup kedua telingaku. Aku takut mendengar bentakan demi bentakan Papa. Mulutku terus meracau meminta maaf agar Papa tidak murka.
Mama yang baru saja tiba dari Semarang langsung memelukku. Setelah ditenangkan Mama akhirnya aku kesadaranku kembali lagi. Mama merasa ada yang tak beres dengan keadaanku, Ia pun membawaku ke psikiater.
Aku didiagnosis menderita gangguan kepanikan. Tak kuat dengan tekanan bisa mengakibatkan penyakitku kumat lagi. Sudah lama sekali penyakit ini tidak kambuh.
Apakah Sheila tau tentang penyakitku? Ya, Sheila tau. Karena itu aku mencintainya. Ia menerima kekuranganku ini. Walau terkadang raut wajah sebal tak bisa Ia sembunyikan kala melihat penyakitku kumat.
Gak ada pangeran berkuda putih nan kaya raya seperti kisah dongeng. Pangeran pun punya kekurangannya sendiri. Aku memang kaya dan tampan, namun seumur hidup aku harus mengontrol emosiku agar penyakitku tidak kumat. Ya, ini kenyataannya. Bukan hanya khayalan indah bak roman picisan yang amat laku di luaran sana.
__ADS_1
Satu yang masih kupikirkan. Apakah Ayu juga bisa menerima kekuranganku? Apakah anakku nanti tidak akan malu memiliki sosok ayah yang sepertiku?