
POV Ayu
Akhirnya kami sampai juga di rumah kontrakan. Mama dan Papa Dio mengantarkan kami terlebih dahulu baru pulang ke rumah.
"Ma, ini buat Mama sama Papa di rumah." aku memberika bungkusan berisi Bandeng Juwana kepada Mama.
"Kamu semalam beli ini, Yu?"
"Iya, Ma. Diantar Guntur dan Dio."
"Mama lupa loh. Padahal udah niat mau beli. Karena kecapean abis resepsi, Mama udah gak niat jalan-jalan lagi. Makasih ya Sayang." ucap Mama Lia dengan tulus.
"Iya, Ma. Makasih juga udah dianterin. Mama sama Papa mau mampir dulu apa enggak?"
"Gak usah, Sayang. Papa udah kelelahan banget tuh. Kita berdua langsung pulang aja ya."
"Iya, Ma." aku mencium tangan Mama dan Papa bergantian sebelum turun dari mobil. Dio pun melakukan hal yang sama.
Dio dengan sigap membawakan koper milikku dan miliknya. Kulihat jam di ruang tamu, jam 3 sore.
"Dio, aku mau ke rumah Mama sama Papa aku ya."
"Sekarang?"
"Nanti jam 4. Aku mau istirahat sebentar lalu mandi." aku menaruh Bandeng yang kubeli ke dalam kulkas agar tetap fresh saat kubawa besok.
"Yaudah aku antar."
"Gak usah. Aku bisa naik ojek online kok."
"Udah gak apa-apa. Aku juga udah lama gak main ke rumah orang tua kamu."
"Terserah kamulah." aku mengeluarkan baju kotor dan berniat langsung mencucinya.
"Katanya mau istirahat? kok malah langsung nyuci baju? Memangnya gak capek?" Dio tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamar mandi.
"Biar besok cuciannya dikit." kataku beralasan.
"Sini aku bantuin."
Mencuci baju bersama-sama sudah biasa kami lakukan. Lebih cepat selesai dan tidak melelahkan.
"Kamu mandi duluan aja. Biar aku rapihin koper. Udah jam 4 lewat nanti kesorean ke rumah Papanya." Dio menurut saja perintahku.
Rumah rapi, cucian bersih dan kamipun sudah mandi. Waktunya cusss ke rumah Papa dan Mama. Ah aku kangen sekali sama kedua orang tuaku.
__ADS_1
Scoopy hitam yang Dio panggil dengan nama Pajero sudah dikeluarkan dari garasi. "Nih pakai helmnya." aku menangkap helm yang dilemparkan Dio. Huh memang nih laki satu gak ada romantisnya sama sekali. Setiap hari aku disuruh nangkepin helm sebelum pergi. Gak ada akhlaknya emang.
Baru saja aku duduk di kursi penumpang Dio langsung tancap gas. Aku langsung memeluknya takut jatuh. "Pelan-pelan dong. Ngebut aja!"
"He...he..he.. kalau gak ngebut kamu gak mau peluk aku sih. Maunya pegangan besi. Emangnya besi bisa menghangatkanmu kayak aku?" ih mulai ngegombal Dia. Biasanya juga gak pernah.
"Tapi kan besi gak ngeselin kayak kamu!"
"Maca cih? Ntar kangen lagi sama aku."
"Ngarep buangeettt."
"Ciyusss nih?"
"Dio please deh. Jangan kayak anak alay deh. Muka doank ganteng kelakuan kayak MMGJ alias Mas Mas Gak Jelas."
"Makasih pujiannya. Baru tau ya kalau suami kamu tuh ganteng?"
"Ih siapa yang muji kamu?"
"Lah kan kamu yang bilang muka aku ganteng, lupa?"
Oh iya ya. Aku keceplosan. Makanya Dio makin kege-eran.
"Au ah." aku tak mau menanggapi Dio yang lagi kege-eran. Selain bikin eneq juga bikin aku senewen.
"Dio! Tangkep!" aku melemparkan helm yang kupakai. Walau agak kesusahan Dio berhasil menangkapnya.
"Neng! Jangan sembarangan lempar helm. Kalo jatuh kan lecet. Sayang tau." gerutu Dio sambil memarkirkan motornya.
"Kan kamu juga kayak gitu tadi. Satu sama ya kita." aku meninggalkan Dio dan langsung melenggang masuk setelah mengucapkan salam. Pintu depan rumah tidak ditutup.
Alya adikku yang menyambut kedatanganku. "Ma, ada Kak Ayu." teriaknya memanggil Mama yang sedang memasak nasi di dapur.
"Kak Ayu kemana aja sih gak pernah main kesini lagi." Alya langsung bermanja ria padaku. "Sombong nih mentang-mentang sudah nikah sama Kak Dio yang tajir melintir sampai lupa pulang. Huh..."
"Kamu sotoy banget, Ya. Kakak tuh sibuk tau. Ini aja Kakak baru pulang jam 3 sore tadi dari Semarang."
"Ngapain Kak ke Semarang?" Masih penasaran rupanya anak ABG ini.
"Saudara Kak Dio ada yang sunatan." Dio yang baru masuk langsung aja menjawab.
"Eh, ada Kak Dio ganteng." Alya langsung mencium tangan Dio.
"Ih apaan sih kamu, Dek. Pake manggil Dio ganteng segala. Bisa gede kepala nanti Dia." bukan, aku bukan cemburu loh. Aku males aja kalau nanti Dio mengulang-ulang tentang Alya yang memujinya ganteng. Males pake banget.
__ADS_1
"Tuh kan, Alya aja mengakui kan kalau Kak Dio ganteng? Kakak kamu masih malu-malu kucing tuh mau bilang Kak Dio ganteng. Gengsinya digedein." Alya mengangguk tanda ikut satu kubu sama Dio sekarang.
"Ini apa sih ribut-ribut. Pasti Alya deh biang keroknya." sambil menenteng centong nasi mama keluar dari dapur.
"Mama....Ayu kangen..." aku langsung memeluk erat Mama tercintaku.
"Kalau kangen makanya main. Ini sejak nikah baru main sekarang. Kamu sudah terpesona sama suami kamu ya sampai lupa sama orang tua sendiri?" sindir Mama.
"Iya, Ma. Ayu memang sudah tersihir oleh pesona Dio." Dio menyalami Mama lalu menjulurkan lidahnya padaku.
"Ge-er." aku balas menjulurkan lidahku.
"Heh... sudah...sudah... Ayo duduk dulu. Mama mau kecilkan kompor dulu. Takut nasinya gosong. Kalian duduk dulu. Alya, kamu ambilin tuh teh kotak di kulkas sama keluarin peyek kacang yang ada di toples di meja makan." Mama kembali lagi ke dapur, Alya menjalankan titah Mama.
Mama termasuk yang terbiasa memasak nasi di dandang namun setelah matang ditaruh di magic com agar tetap hangat. Ribet, iya. Katanya lebih enak kalau masak di dandang.
Alya datang membawakan 2 buah teh kotak dingin dan setoples peyek kacang. "Ya, nih kasih Mama. Oleh-oleh dari Semarang."
"Mama doang nih? Alya gak dapet oleh-oleh pulsa?" Dasar anak jaman sekarang, kebutuhan hidupnya sandang, pangan, pulsa.
"Iya, nanti Kak Ayu beliin. Udah sana kasih Mama dulu."
"Siap kalau gitu mah. Lumayan buat nonton streaming." Alya pun mengambil kantong berisi bandeng yang kuberikan lalu membawanya masuk ke dalam.
"Diminum sama dimakan peyeknya, io." Aku mengambil teh kotakku dan langsung menyeruputnya. "Besok-besok kalau kesini terus kamu mau makan dan minum ambil aja ya sendiri. Jangan disuguhin, kayak masih pacaran aja."
"Gak ah. Maunya diambilin sama kamu." sekarang Dio yang bermanja ria menggantikan Alya.
"Iyuuuuuuuhhh... ogah..."
"Apa sih Yu. Ogah-ogah. Kalau sama suami tuh ya dilayani. Ngomongnya juga harus halus tata kramanya. Hormatilah suami kamu. Memangnya Mama pernah mengajarkan kamu tidak sopan begitu?" Apesnya aku.. Mama begitu keluar langsung kasih ceramah panjang lebar. Dio hanya menahan tawanya melihatku. Uh rasanya pengen aku gigit kupingnya.
"Iya, Ma..."
"Bagaimana kalian selama berumah tangga? Akur kan?" Mama mulai mengintrogasi kami. Ini yang membuatku menghindar untuk pulang ke rumah. Aku tidak bisa berbohong depan Mama.
"Meski awalnya tidak saling kenal, tapi kita berdua kompak kok, Ma. Ya sering becanda kayak tadi. Tapi Ayu aslinya menghormati Dio kok. Mama gak usah khawatir." Mulai deh Dio yang bijaksana keluar. Nih orang labil ye. Kadang jahil, kadang bijaksana dan kadang kayak kapal oleng, gampang disetir orang.
"Wah bagus itu. Mama senang dengernya. Jadi kapan nih Mama akan punya cucu?"
*****
Hayo kapan????
Ah yang vote dikit nih. Ayo dong vote yang banyak. Ide cerita tuh kadang langsung ada saat liat hasil vote banyak he..he..he...
__ADS_1
Ayo vote...ayo vote... ayo vote....
😉😉😉😉😉😉