Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 86


__ADS_3

POV Author


Dio dengan gayanya yang maskulin menenteng koper di tangan kanannya dan sebuah paper bag besar di tangan kirinya. Paper bag berisi mainan yang Ia beli kemarin sepulang kerja. Tak lupa titipan mainan dari Mama untuk cucunya tercinta.


Sejak mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II aura bahagia tak pernah lepas dari wajah Dio. Sebentar lagi rasa kangennya akan terobati.


Ia hanya bisa 3 hari saja di Palembang. Itu pun karena long weekend. Hari biasa mana bisa Ia mengunjungi anak dan istrinya? Ia harus mengejar ketertinggalannya belajar di perusahaan Papa dengan bekerja lembur setiap hari. Belajar dan terus belajar tanpa henti. Lelahnya gak usah ditanya. Kadang pulang kerja Dio langsung tertidur tanpa sempat makan malam atau mandi terlebih dahulu.


Pagi ini, tanpa alarm yang membangunkan mata Dio langsung bangun dan buru-buru mandi. Dengan dandanan yang rapi jali Ia siap bertemu kedua belahan jiwanya tersebut.


Dio memesan taksi untuk mengantarkan ke rumah Ayu. Kalau Ia tak salah perhitungan, pagi ini Ayu masih ada di rumah. Jadi Dio meminta Pak Supir mengantarkan ke rumah Ayu langsung.


Ketika Dio turun dari taksi terdengar suara ramai dari dalam rumah Ayu. Ayu sedang kejar-kejaran dengan Kevin dan tak sadar kalau Dio sudah berdiri di depan pintu rumah mereka yang terbuka. Dio tersenyum saja melihat Ayu dikerjai Kevin saat ingin memakaikan baju. Mirip siapa ya jahilnya itu anak?


"Daddy!" Kevin langsung berteriak memanggil nama Dio begitu Ia menyadari kedatangan papanya tersebut.


Ayu menengok ke arah pintu dan melihat Dio berdiri disana dengan gantengnya. Rasanya Ia mau langsung menghambur ke dalam pelukan Dio, seperti yang Kevin lakukan. Tentu saja Ayu malu melakukannya, nanti ketahuan banget lagi kalau Ia sangat merindukan kedatangan suaminya tersebut.


"Kevin.... Daddy kangen sam Kevin. Kevin kangen gak sama Daddy?" Dio langsung menggendong anak kesayangannya tersebut.


"Kangen dong. Muach." Kevin bahkan berinisiatif mencium pipi Dio duluan. Ayu merasa kadang Ia ingin seperti Kevin yang dengan bebasnya mengekspresikan perasaannya, beda dengan dirinya yang masih malu-malu.


Ayu hanya bisa menyambut kedatangan Dio dengan sebuah senyuman. "Pagi-pagi sudah sampai sini, pesawat jam berapa?" Ayu menghampiri Dio dan membantu membawakan koper miliknya.


Dio membuka tangan dan langsung memeluk Ayu. Dio bahkan mencium kening Ayu di depan Kevin. "Aku kangen kamu." Lihat, begitu mudahnya Dio mengekspresikan perasaannya, persis seperti Kevin. Gak pakai babibubebo langsung to the point. Kangen ya kangen. Kalau gak diucapkan belum tentu orang yang kita kangenin akan sadar.


"Aku....aku juga kangen kamu." Ayu mengakui perasaannya.


"Iyalah. Aku tau kok." bisik Dio di telinga Ayu. Wajah Ayu mulai merona. Baru dibisikin begitu aja udah merah. Gimana kalau yang lain?


"Masuklah. Aku buatkan kamu minum dulu. Oh iya, kamu pasti belum sarapan kan? Aku siapin sekalian ya nanti kita sarapan bareng."


Dio mengangguk setuju. Ayu menyeret koper Dio dan membawanya ke dalam kamar. Ia lalu menyiapkan sarapan pagi ala kadarnya. Ia tak tahu kalau Dio akan datang hari ini. Kalau tahu pasti Ia akan belanja yang banyak dan menyiapkan sesuatu yang enak buat Dio.


Sementara Ayu sibuk berkutat dengan menu sarapan yang Ia buat, Dio juga sibuk bermain dengan Kevin. Melihat mata Kevin yang berbinar saat dibelikan mainan membuat Dio bahkan ingin membeli satu toko mainan untuk Kevin.

__ADS_1


"Kevin, ini dari Oma buat Kevin." Dio memberikan mainan Dinosaurus pemberian Mama pada Kevin.


"Wow.... T-rex. Kevin cuca T-rex. Daddy, Oma itu capa?"


Dio memasangkan baterai di tubuh T-rex agar bisa menyala. "Oma itu neneknya Kevin. Oma pengen banget ketemu Kevin. Kevin mau ketemu Oma gak?"


"Mau. Kevin mau ketemu Oma."


"Yaudah nanti kita bujuk Mama ya supaya mau ikut Daddy pulang ke Jakarta. Nanti Kevin bisa ketemu Oma deh. Kevin setuju?" bujuk Dio.


"Setuju!"


"Tos dulu dong!" Mereka lalu berhigh five sambil tertawa bareng.


Ayu yang sudah selesai menyiapkan sarapan hanya bisa tersenyum melihat pemandangan yang menurutnya amat indah tersebut. Melihat Dio dan Kevin bermain bersama sambil bercanda tawa membuatnya bahagia.


"Sudah becandanya. Ayo kita sarapan!" panggil Ayu.


"Ayo Kev kita mamam." Dio langsung menggendong Kevin dan membawanya ke meja makan.


"Hmm... kamu gak kerja kan hari ini, Yu?" tanya Dio sambil menyuapi Kevin makan.


"Kerjalah. Ini habis sarapan aku mau siap-siap berangkat kerja." Ayu menikmati sarapannya dengan santai karena Kevin ada yang menyuapi. Memang tuh anak manja banget, kalai disuapin Dio aja langsung diem gak banyak lari-larian.


Ayu menuangkan air minum untuk Dio dan Kevin. Ia sudah selesai makan. "Aku mandi dulu ya. Kalian lanjutkan saja makannya ya."


"Iya, Mommy." Dio yang menjawabnya, bukan Kevin loh.


Selesai makan, Dio membisikkan sesuatu ke Kevin.


"Kevin, Daddy mau ngomong sama Mommy dulu ya. Kevin jajan es krim sama Bi Neneng ya ke Alfamart. Oke?" Dio menyerahkan uang seratus ribuan pada Bi Neneng dan menyuruhnya jajan di Alfamart dekat depan komplek.


Setelah Bi Neneng pergi Dio pun masuk ke dalam kamar Ayu. Ayu yang sedang memakai make up melirik sekilas Dio yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kopernya.


"Nih, Yu."

__ADS_1


Ayu membuka amplop cokelat dan agak kaget melihat surat nikah, kartu keluarga dan juga akta lahir Kevin. "Kemarin katanya mau bikinin akta lahir aja. Kenapa sama semua ini?"


Dio merebahkan tubuhnya diatas kasur. Rasanya nyaman banget ada wangi bekas Ayu tidur. "Ya kan syarat bikinnya kayak gitu. Sekalian aja aku bikin semua."


"Tapi-"


Dio langsung memotong ucapan Ayu. "Yu, tolong berhenti kerja ya. Ikut aku ke Jakarta. Kita pulang, Yu."


Ayu memasukkan kembali semua dokumen ke dalam amplop cokelat. Ia sudah menduga Dio akan menagihnya untuk ikut serta ke Jakarta. Ayu pun berjalan menghampiri Dio dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa? masih ragu?" Dio menaruh kepalanya di pangkuan Ayu. Secara refleks Ayu langsung mengusap lembut kepala Dio.


"Nanti Papa gimana kalau ngeliat aku? Kan aku... aku pernah kurang ajar sama Papa. Apa beliau gak akan semakin membenci aku nantinya?"


Dio dapat melihat dengan jelas sorot mata Ayu yang ketakutan. Ternyata Ayu belum bisa melupakan kenangan menyakitkan tersebut. Dio menarik tangan Ayu dan menciuminya.


"Ada aku, Yu. Kamu gak usah khawatir. Aku yang sekarang bisa ngelindungin kamu. Percaya sama aku. Aku akan ngelakuin apa aja untuk melindungi kalian berdua. Gak akan ada yang berani mengusik kalian. Aku janji!"


Ayu bimbang. Dia memang ingin ikut ke Jakarta. Ia kanget sama kedua orang tuanya. Ia kangen dengan Jakarta kota kelahirannya. Dan yang terpenting, Ia ingin terus berada di sisi Dio. Di Palembang Ia merasa amat kesepian. Ia memang punya teman disini namun hati dan pikirannya tertinggal di Jakarta.


"Bagaimana? Mau ya?"


Akhirnya Ayu mengangguk. "Iya, Mau."


Dio menghela nafas lega. Dio langsung bangun dan memeluk Ayu. Baru saja Dio hendak mencium Ayu suara Kevin terdengar memanggilnya.


"Daddy! Aku punya es klim."


"Yah... gagal lagi deh!" gerutu Dio. "Bi Neneng, ajak Kevinnya bisa agak lamaan gak? 2 jam gitu? Mommy sama Daddynya Kevin mau ada meeting penting nih. Menyangkut kestabilan negara." teriak Dio.


"Sst! Bikin malu aja. Jangan bilang kayak gitu!" omel Ayu.


"Ih bener kok. Aku kasih 100 ribu cepet banget baliknya. Aku kasih 500 ribu aja biar diajak Bi Neneng seharian." Dio langsung keluar menghampiri Kevin.


Ayu buru-buru mengejarnya. "Dio, please. Jangan bikin malu." omel Ayu.

__ADS_1


Ternyata Dio hanya menggoda Ayu. Buktinya Dio sedang suap-suapan es krim sama Kevin. Huh... sia-sia saja kekhawatiran Ayu tadi. Dasar, bapak sama anak sama aja!


__ADS_2