Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 71


__ADS_3

⚘⚘⚘⚘ Votenya mulai kendoor nih. Ayo dunk vote dan like yang banyak. Biar semangat nulisnya dan idenya selalu fresh. ⚘⚘⚘⚘


Masih POV Dio ya


Aku memutuskan untuk mandi setelah sudah tidak berkeringat lagi. Air dingin membuat tubuhku lebih segar dan pikiranku pun makin jernih. Aku harus mengatur pola kerja karena makin cepat pekerjaan selesai maka semakin cepat pula aku dan karyawanku dapat gathering ke Palembang.


Jujur aku belum pernah kesana. Hanya mendengar cerita dari Mama kalau Guntur sekarang berdomisili disana mengurusi bisnisnya yang semakin pesat. Om Ridho juga hanya sesekali kesana mengawasi perkembangan usaha Guntur.


Aku sebenarnya ingin kesana sejak lama. Namun aku juga sibuk mengurusi bisnisku yang tak kalah maju pesatnya. Tapi hebat juga Guntur bisa semaju itu. Andai ada Ayu di sampingku, aku yakin bisnisku bisa lebih maju lagi.


Segarnya air dingin tidak serta merta membuat kepalaku jernih jika sudah kepikiran tentang Ayu. Dimanakah kamu berada, Yu? Bagaimana kabar kamu dan anak kita sekarang?


Aku memandangi foto pernikahan amat sederhana kami dulu. Tak ada gaun pernikahan mewah. Tak ada resepsi di gedung dan acara super megah. Hanya pernikahan secara agama saja. Itu pun sederhana dan tak banyak yang tamu undangan hanya kerabat dekat saja.


Rasa penyesalan terus mendera hatiku. Kenapa dulu aku begitu lemah sampai tak berdaya akan setiap keputusan yang kuambil. Aku seperti perahu kertas yang terombang ambing dan akhirnya hancur terkena air.


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun aku tidak mau hanya menyesal dan berpangku tangan saja tanpa berbuat sesuatu. Aku sering sekali mengunjungi rumah mertuaku. Awalnya pintu rumah mereka selalu tertutup akan kedatanganku, namun kini keluarga Ayu perlahan menerimaku. Tapi tetap saja mereka tidak mau memberitahukan dimana keberadaan Ayu.


Kenapa gak nyewa detektif saja. Dulu sempat berpikir seperti itu. Ini kan bukan dunia fiksi, bos besar nyuruh detektif untuk menyelidiki sesuatu. Memangnya tidak pakai uang? Memang tidak mahal? Mau bayar pakai apa? Bulu ketek?


Uang tabungan sudah kupakai untuk menyewa rumah kontrakan sebelah dan membeli peralatan untuk modal kerja. Mana ada uang untuk menyewa detektif. Sekarang kah sudah maju kenapa gak nyewa detektif saja? Gak segampang itu Malih. Setiap orang kan punya pertimbangan sendiri dalam setiap mengambil keputusan.


Seandainya dulu uang tabunganku dipakai buat nyewa detektif, lalu aku berhasil menemukan Ayu. Apa yang akan kulakukan selanjutnya? Gak ada. Karena aku masih tetap aku yang dulu dan pengecut. Menemukan Ayu namun diriku belum berubah untuk apa?


Ayu pergi meninggalkanku karena tak tahan melihatku mendapat tekanan dari banyak pihak. Ayu kasihan melihatku hidup tertekan selama dengannya karena itu Ia pergi. Walau aku waktu itu sedang kumat namun aku bisa merasakan pelukan hangat Ayu yang tetap memelukku erat dan tidak merasa jijik melihat my another person.


Karena itu aku berubah dan membuat diriku layak agar bisa menjemput Ayu pulang ke sisiku lagi. Itu pun kalau Ayu masih sendiri. Tapi aku yakin kalau Ayu tidak pergi dengan Dewa. Aku sempat mengikuti Dewa dan kulihat Ia tinggal di rumah orang tuanya setelah Ia bercerai.

__ADS_1


Lalu bagaimana perasaanku dengan Sheila? Sejak Ayu pergi dan aku dalam keadaan down, disitu aku sadar kalau selama ini ternyata Ayu sudah menggantikan posisi Sheila di hatiku. Aku mungkin sudah nyaman karena pacaran selama 7 tahun dengan Sheila namun rasa cintaku perlahan hilang, terkikis dengan kasih sayangku pada Ayu.


Sheila tak pernah tinggal diam. Ia tak akan membiarkan apa yang menjadi miliknya direbut oleh orang lain.


2 tahun setelah kepergian Ayu tiba-tiba Sheila datang ke rumah. Malam itu saat Sheila datang Mama tidak ada dirumah karena sedang pulang ke Semarang. Aku sendirian. Hujan deras mengguyur Jakarta disertai dengan kilatan petir.


Suara ketukan di pintu mengagetkanku yang sedang membuat sketsa model furniture yang baru. Aku meninggalkan kerjaanku dan membuka pintu depan. Melihat siapa yang datang di waktu hujan ini.


Aku membuka pintu dan melihat Sheila datang. Ia mengenakan baju dress dengan model seperti yang biasa Ayu pakai. Sejenak aku sempat berpikir kalau Ayu pulang. Ternyata kusadari itu bukan Ayu melainkan Sheila.


"Ada apa kamu La malam-malam kesini? Hujan lagi?" tanyaku dengan nada sinis.


"Setidaknya biarkan aku masuk dulu, io. Dingin di luar."


Aku mempersilahkan Sheila masuk. "Masuklah. Aku buatkan susu cokelat hangat buat kamu."


Sheila menutup pintu rumah dan duduk di ruang tamu. Aku meninggalkannya dan pergi ke dapur. Kunyalakan kompor dan memanasi susu cokelat diatas panci.


"Kenapa kamu berubah, io? Dulu kamu amat senang dipeluk aku seperti ini?" Bukannya melepaskan pelukanku Sheila malah makin memeluk erat.


"Aku mau menuang air panas, La. Lepas dulu." Sheila akhirnya menuruti perkataanku. Ia melepaskan pelukannya. Aku berbalik badan hendak mengambil gelas untuk dituangkan susu hangat.


Kupikir Sheila sudah menyerah dengan usahanya. Namun melihat aku berbalik Ia malah mengalungkan tangannya di leherku. "Apa lagi sekarang, La?"


Sheila langsung mencium bibirku. Tinggi kami yang tidak berbeda jauh memudahkannya langsung menciumku. Wajar saja Dia kan model, jadi pasti tinggi. Ia terus menciumiku dengan penuh nafsu. Memaksa sampai aku membuka mulutku.


Usahanya berhasil, saat aku ingin protes Ia malah menciumku makin bernafsu lagi. Bukan hanya mencium paksa, Ia pun melepaskan kancing gaunnya dan menarik tanganku untuk meraba tubuhnya.

__ADS_1


Apa ini? kenapa Sheila seagresif ini? Walau bagaimanapun aku seorang laki-laki normal yang pasti akan tergoda, apalagi aku sudah 2 tahun tidak pernah berhubungan suami istri sejak ditinggal Ayu.


Aku mulai membalas ciumannya. Aku pikir aku akan terbakar nafsu seperti saat mencium Ayu dulu. Setelah kurasakan ternyata ciuman Sheila yang penuh nafsu hanya terasa hambar bagiku.


Sheila terus saja menggoda nafsu lelakiku. Tiba-tiba ada pesan sms yang masuk di hp yang kutaruh diatas meja. Kulihat wallpaper yang bergambarkan putraku dengan Ayu. Wajah bayi mungil itu menyadarkanku dari perbuatan khilaf yang mungkin akan kulakukan sebentar lagi.


Aku melepaskan ciumanku. Sheila amat kaget dengan perbuatanku yang tiba-tiba. Aku juga melepaskan tangan Sheila di leherku dan tangan satunya lagi sibuk memaksaku menjelajahi tubuhnya.


"Dio-"


"Maaf, La. Aku gak bisa."


Sheila melihatku dengan pandangan penuh kecewa dan malu. Air matanya mulai keluar dari pelupuk mata hitamnya. Aku mengancingkan kembali kancing baju yang Ia buka tadi.


"Jangan harapkan aku lagi, La. Aku... udah gak punya perasaan lagi buat kamu."


"Tapi tadi kamu membalas ciumanku, io? Kamu tuh masih suka sama aku!" kata Sheila dengan suara bergetar diselingi dengan derai air matanya.


Aku mengacak-acak rambutku. Aku memang bodoh. Kenapa tadi aku membalas ciumannya? Seharusnya aku tolak saja sejak awal Sheila mencoba merayuku. Dio bodoh!


"Dio...." Sheila mencoba melingkarkan lagi tangannya di leherku namun langsung aku tepis.


Aku menghembuskan nafas berat. "Maaf, La. Tadi..... tadi aku hanya mengetes saja perasaanku sama kamu. Dan... aku yakin... aku gak mencintai kamu lagi."


Plak. Sebuah tamparan melayang di wajahku. Lama-lama aku terbiasa mendapat tamparan di wajahku.


"Maaf, La." kataku sambil tertunduk.

__ADS_1


Dengan kesal Sheila pergi meninggalkan rumahku. Dibantingnya pintu rumahku dengan penuh amarah.


Aku mengambil Hpku. Sebuah sms dari operator yang masuk langsung kuhapus, tak penting. Kutatapi lagi wallpaper bayiku. "Terimakasih sayang, kamu sudah menyelamatkan Papa dari kekhilafan yang akan Papa buat. Kamu juga sudah menyadarkan Papa siapa yang selama ini ternyata Papa cintai."


__ADS_2