Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 9


__ADS_3

Aku masih menangis meratapi nasibku di meja makan ketika Dio datang kembali. Apakah Ia akan memeluk dan menghiburku yang sedih ini? Apakah Ia akhirnya merasa bersalah telah menyakitiku?


Dio berjalan mendekatiku. Wah kayaknya bener nih Dia akan meminta maaf padaku. Dio mendekat. Loh tapi kok Dia malah melewatiku?


Shitt..


"Kalau mau nangis matikan dulu kompornya. Takut kebakaran!" setelah mematikan kompor Dio pun kembali lagi ke kamar.


"Ih reseeeee....." aku memukul meja makan saking sebalnya. Sempat-sempatnya lagi Dia menyunggingkan senyum jahilnya. Iiihhh... dasar laki-laki gak peka.


Pokoknya aku marah sama Dio!


Aku kaget saat mendengar bunyi Hp-ku. Siapa yang telepon ya? Kulihat peneleponnya. Dewa. Aku hapus air mata yang tadi mengalir lalu berdehem untuk menstabilkan suaraku.


"Hallo Beb." Sapa Dewa riang dari ujung sana. Tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatiku. Kalau Dewa tahu pasti Ia akan sangat marah padaku. Pasti Ia akan sangat kecewa padaku.


"Hallo juga. Kamu kemana saja?" benar, sudah hampir 3 hari Dewa tidak mengabariku.


"Maaf Beb. Aku mendadak dapat tugas di luar kota. Besok aku pulang. Kamu mau aku bawain Bolu Meranti tidak?" Oh rupanya Ia ke Medan. Sebenarnya aku suka sekali Bolu Meranti tapi kali ini aku malu. Aku merasa bersalah pada Dewa atas perbuatanku.


"Tidak usah. Makasih. Cepatlah pulang. Ada yang mau aku bicarakan." kataku serius. Ya, aku harus memberitahu Dewa sebelum Ia berharap terlalu jauh pada hubungan kami.


"Kangen ya? Besok mau aku jemput pulang kerjanya?"


"Boleh saja kalau kamu tidak lelah. Kamu kan baru pulang dari luar kota."


"Buat Ayuku yang cantik mah gak ada kata lelah sayang. Aku kangen sama kamu." aku hanya diam. Tidak membalas ucapan kangennya. Sesungguhnya aku amat kangen sama Dewa. Tapi aku malu dengan perbuatanku. Dewa sudah menjaga kesetiaannya padaku tapi aku? Huh.. semua ini karena Dio sialan itu!


"Aku tutup dulu ya, ada tamu yang datang." akhirnya aku berbohong juga untuk mengakhiri percakapan kami.


Aku berdiri dan memasukkan ayam yang sudah kuungkep ke dalam wadah tupperware. Untung juga tadi Dio datang dan mematikan kompor, kalau tidak pasti sudah hangus.


*******


Sepanjang hari aku terus menghindari Dio. Aku malas melihat wajahnya. Aku nonton tv saja seharian sambil tiduran santai di sofa. Sesekali Dio keluar kamar untuk mengambil minum dan makan siang. Aku tidak jadi memasakkan Dio. Malas. Ngapain juga aku masakkin cowok kayak gitu.


Dio pun tak ambil pusing. Ia santai saja memasak sendiri makan siang dan makan malamnya. Ia sadar kok kalau aku marah dengannya.


Keesokan paginya aku sudah bangun tanpa perlu Dio bangunkan. Setelah mandi dan menyiapkan sarapan aku sudah siap bekerja. Aku memakai baju kemeja berwarna merah ketat serta menonjolkan tubuh seksiku. Rok pendek di atas lutut menambah nilai plus diriku.

__ADS_1


Dio yang baru keluar kamar mandi melihatku dengan pandangan tidak suka. "Ganti bajunya!" omelnya padaku.


"Kenapa memangnya?" tantangku balik.


"Pakaianmu itu membuat laki-laki berpikir yang tidak-tidak!"


"Yaudah gak usah dilihat!" aku tidak mau kalah.


"Nanti gimana naik motornya? Kamu mau disiul-siulin kayak kemarin di pasar?" Dio berkacak pinggang sekarang. Aduh tubuhnya yang kekar dan hanya memakai handuk dililit di pinggang membuat konsentrasiku buyar.


"Naik motor? Memangnya kamu akan mengantar aku berangkat kerja gitu?" aku berusaha fokus.


"Iyalah. Memang kamu mau naik apa berangkat kerjanya?"


"Naik taksilah. Udah pakaian begini gak mungkin aku naik angkutan umum." kataku santai.


"Heh Non, lupa ya kalau kontrakkan ini tuh jauh dari kantor kamu? Mau habis gaji kamu untuk membayar taksi saja?"


Benar juga yang dikatakannya. Aku lupa kalau sekarang kontrakkanku tidak dekat kantor seperti rumah Papa.


"Kenapa? Baru sadar? Udah cepet ganti baju. Nanti aku anterin." Dio lalu menuju lemari pakaian dan mengambil kemeja kerjanya.


Dengan terpaksa aku mengganti rokku dengan celana panjang dan menutupi kemeja seksiku dengan jaket agar tidak bau asap knalpot. Tak lupa rok yang tadi aku bawa untuk ganti di kantor.


"Udah cepetan nanti telat." omel Dio.


"Iya bawel." gerutuku.


*******


Ternyata benar kata Dio, jarak ke kantor lumayan jauh dan macet. Aku yang awalnya hanya pegangan besi motor belakang akhirnya memeluk Dio agar saat aku tidur tidak terjatuh. Lumayan juga tidur di motor rasanya enak.


Dio menggerakkan bahunya untuk membangunkanku. "Udah sampe?" kataku sambil menguap.


"Udah. Cepet turun. Berat nih bahu aku. Gak tau apa kalau bawa orang tidur di motor itu bikin bahu pegal?" omel Dio.


"Iya maaf. Abisnya ngantuk liat jalanan macet. Yaudah aku masuk dulu." aku mengembalikan helm pada Dio namun Dio memanggilku sebelum aku pergi.


"Tunggu sebentar. Mana nomor Hp kamu?" aku lupa kalau ternyata kami belum bertukar nomor hp sejak pertama kenal. Aku lalu menyebutkan nomor Hpku dan Dio lalu misscall untuk bertukar nomor.

__ADS_1


*****


Kedatanganku di kantor ternyata disambut oleh teman-teman teamku.


"Ayu...."


"Kamu gak apa-apa Yu?"


"Aku udah nyari kamu di diskotek tapi gak ketemu."


"Aku takut kamu dibawa pulang sama om-om. Tapi kamu baik-baik saja kan?"


Bergantian Mbak Dewi, Laras , Dini dan Lusi menanyaiku. Huh.. andai mereka tau apa yang sudah kualami. Tapi tak ada untungnya juga aku cerita. Kalau berita tentang pernikahanku tersebar dan aku sampai dipecat itu akan merugikanku.


"Aku gak apa-apa kok Mbak. Aku pulang duluan soalnya sakit perut. Aku gak mau ganggu kalian." semoga mereka tidak menyadari kebohonganku.


"Oh syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Kami khawatir sama kamu. Next kabarin ya kalau pulang duluan." pesan Mbak Dewi.


"Iya. Maaf ya udah bikin kalian khawatir." aku lalu melanjutkan pekerjaanku. Produk baru yang kami luncurkan butuh perhatian extra karena target yang ingin dicapai amatlah tinggi. Aku membuat strategi pemasaran produk beserta draftnya agar gampang dalam memasarkan.


******


Aduh badanku sakit semua nih. Dulu di rumah Papa bangun tidur tinggal sarapan eh ini harus nyuci baju dan bikin sarapan terus berangkat kerja. Belum nanti setrika baju. Huft...


Aku baru saja melangkahkan kaki keluar dari gedung kantor hendak pulang ke rumah ketika ada suara klakson mobil mengagetkanku. Aku menengok ke arah mobil tersebut. Ternyata Dewa. Aku langsung tersenyum lebar dan setengah berlari menghampiri mobilnya.


"Hi!!" sapaku.


"Hi cantik. Ayo masuk. Aku anterin pulang." Deg.. kesadaranku mulai penuh. Kan aku sudah tidak pulang ke rumah Papa lagi. Kalau Dewa tahu aku sudah menikah gimana ya?


"Heh kok malah bengong saja? Cepet naik!" ucapan Dewa mengagetkanku. Aku langsung masuk ke dalam mobil.


"Hmm.. Dewa.. kita ngobrol di cafe dekat sini aja ya. Gak usah antar aku pulang ke rumah." kataku sambil memakai seat belt.


"Loh memang kenapa?" tanya Dewa heran.


"Ada yang mau aku bicarakan." jawabku serius. Ya. Aku harus memberitahukan kebenarannya walau sesakit apapun itu.


Mobil yang dikendarai Dewa pun melaju meninggalkan kantorku. Tanpa aku sadari ada sepasang mata yang memperhatikanku di atas motor scoopy. Ternyata Dio sudah menjemputku namun aku lebih memilih pulang bersama Dewa.

__ADS_1


__ADS_2