Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 54


__ADS_3

**Votenya mulai kendor nih... Ilham menulisnya juga kendor deh jadinya 😔 Ayo dong vote lagi yang banyak ya 😊😊😊


POV Dio**


Aku dan Ayu baru saja turun dari taksi. Pak Budi dan teman-teman lainnya langsung menghampiriku. Wajah mereka menampakkan rasa keingintahuan dan penasaran apa yang terjadi dengan Ayu.


"Bagaimana keadaan Ayu, io?" Pak Budi yang pertama kali bertanya mewakili yang lainnya.


"Puji Tuhan baik-baik saja, Pak. Ayu ternyata sedang hamil."


"Wah, kamu segera jadi Bapak dong?" Yono langsung menimpali.


"Iya."


"Cie.... akhirnya... jangan berantem terus ya. Gak boleh stress loh katanya kalau lagi hamil." nasehat Pak Ari padaku.


"Iya, Pak. Tenang saja. Akan saya jagain nih Ayu dan anak dalam kandungannya. Kami masuk ke dalam dulu ya. Ayu mau istirahat soalnya." Aku pamit dan menuntun Ayu kembali ke kamar dan teman-teman yang lain kembali lagi bekerja.


"Kamu mau istirahat di kamar atau mau menonton TV di ruang TV?" tanyaku pada Ayu yang masih berdiam diri saja.


"Di kamar saja. Aku mau istirahat." kata Ayu dengan suara lemah.


"Baiklah. Kamu mau aku bawakan apa?" kataku setelah Ayu sudan berbaring di tempat tidur.


"Gak usah. Aku gak butuh apa-apa."


"Yaudah kamu istirahat ya. Ingat, jangan stress. Jangan kebanyakan pikiran. Aku mau kembali kerja ya." Aku berjalan hendak keluar namun aku berbalik lagi menghampiri Ayu.


"Makasih ya Yu sudah mau mengandung anakku." kucium bibir Ayu cepat lalu pergi meninggalkannya sendirian.


Aku kembali bergabung dengan teman-teman membuat furniture. Sedang asyik mengerjakan design pintu Hp ku berbunyi. Aku menaruh peralatan kerjaku dan melihat siapa yang menghubungi. Ternyata Papa Putra. Ada apa ya tiba-tiba menelepon?

__ADS_1


*Kenapa, Pa?


Dio, kamu pulang ke rumah sekarang. Penting. Papa tunggu.


Tapi Pa*...


Tut....tut...tut... Papa memutuskan sambungan teleponnya. Ada apa ya tiba-tiba menyuruhku pulang?


"Guys, aku mau pergi dulu ya. Ada urusan penting. Kalian lanjutkan saja pekerjaannya ya tanpaku."


"Iya. Kamu pergi aja, io. Biar kami yang lanjutkan pekerjaan kamu nanti." sahut Pak Budi.


Aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Ayu sedang bermain Hp sambil tiduran di tempat tidur.


"Yu, aku dipanggil sama Papa suruh pulang ke rumah. Aku tinggal kamu sebentar ya. Kalau kamu mau makan pesan online saja ya, takutnya lama." aku mengambil jaket dan mengganti celana pendekku dengan celana jeans.


"Iya." jawab Ayu singkat.


"Aku pergi dulu ya." kucium cepat bibir Ayu. "Biar adil. Dua-duanya aku cium." aku tersenyum dan pergi meninggalkan Ayu dengan wajahnya yang merah merona. Ah menggemaskan sekali.


*******


Motor scoopy hitamku memasuki halaman rumah tempat dulu aku tinggal. Rumah mewah dan megah dengan tiang pilar yang menjulang tinggi. Ada dua orang satpam yang berjaga bergantian shift di pintu depan. Senyum hormat selalu mereka sunggingkan kala melihatku datang.


Ya, aku tuan rumah yang sekarang diperlakukan layaknya ojek online oleh orangtuanya sendiri. Aku memarkirkan motorku di parkiran mobil. Ada 4 mobil yang terparkir disana, termasuk Ferrari Portofino warna abu-abu milikku. Mobil kesayanganku yang sudah Papa sita.


Range Rover milik Papa juga masih ada. Aku merasa motor scoopyku terlihat amat kecil diantara deretan mobil mewah yang Papa miliki.


Aku menaruh helmku diatas motor lalu masuk ke dalam rumah. Bi Dar pembantu rumah tangga sejak aku masih kecil tergopoh-gopoh menyambut kedatanganku.


"Den Dio pulang. Aduh Bibi kangen banget sama Aden." senyum merekah di wajahnya yang mulai beranjak usia senja. Panggilang Aden sudah Ia tujukan padaku sejak kecil.

__ADS_1


"Dio juga kangen sama Bibi. Bi Dar gimana kabarnya?" Aku menyambut pelukan hangatnya. Udah lama banget aku gak pulang ke rumah. Walau tinggal di apartemen tapi aku masih suka pulang. Namun sejak sering bertengkar dengan Papa aku sudah tidak pernah pulang lagi sama sekali. Mama dan Papa yang kadang mengunjungiku.


"Bibi baik, Den. Den Dio kurusan nih. Gak dimasakkin ya sama istrinya?" selidik Bi Dar. Ia memang sudah menganggapku anaknya sendiri makanya kalau aku kurusan dikit Ia yang lebih perhatian dibanding Mama.


"Dimasakkin kok, Bi. Masakkan Ayu enak banget. Dio lagi banyak kerjaan makanya jadi agak kurusan. Dio masuk dulu ya, Bi."


"Iya, Den."


Aku membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi dengan ukiran bernilai seni tinggi pula. Aku langsung menuju ke dalam mencari keberadaan Papa.


Papa dan Mama sedang duduk di ruang keluarga. Aku berjalan menghampiri mereka.


"Ma, Pa-" ucapanku berhenti kala melihat seorang wanita keluar dari kamar mandi. Wanita yang sudah 6 bulan ini tidak pernah kutemui. Wanita yang sudah 7 tahun lamanya menjadi pacarku.


Sheila Anastasia Leonard. Gadis cantik dengan tinggi 175 cm dan tubuh yang amat proporsional. Wajahnya blasteran Indonesia Jerman. Matanya berwarna biru dengan hidungnya yang bangir. Rambut panjangnya sekarang sudah dipotong pendek, mengingatkanku pada penyanyi Rihanna saat video clip umbrella. Ia tidak meminta ijin dariku untuk memotong pendek rambutnya. Ia tetap saja cantik dengan rambut pendek ataupun panjang tapi aku lebih menyukainya saat berambut panjang. Terlihat lebih cantik menurutku.


Sheila membalikkan tubuhnya dan melihat ke arahku. Dapat aku lihat kini matanya yang bengkak sehabis menangis. Ah, pasti Papa dan Mama sudah menceritakan semuanya pada Sheila.


Sheila berjalan menghampiriku lalu... Plak.... Sebuah tamparan melayang ke wajahku. Terasa amat panas. Aku memegang bekas tamparanny di pipiku.


"Kamu tega, io! Kamu udah khianatin aku! Mana janji kamu dulu? Kenapa kamu lakuin ini, io? Kenapa?" Aku hanya bisa terdiam dan menundukkan wajahku saat Sheila mengguncang-guncang dan memukul dadaku dengan tangannya yang terkepal. Pukulannya tidak terasa sakit namun tangisannya terasa amat pedih terdengar sampai ke hatiku.


Aku sudah menyakiti hati dua orang wanita. Tadi pagi Aku menyakiti hati Ayu sampai Ia pingsan. Sekarang aku menyakiti hati pacar yang kucintai, Sheila.


"Maaf...."


"Maafin aku...."


Hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulutku. Tak ada ribuan alasan untuk membela diri. Aku tahu aku salah. Akulah yang membuat kesalahan dan dua orang wanita di sisiku lah yang terluka sekarang.


Aku memeluk tubuh Sheila yang masih saja menangis sampai membasahi kaos yang kupakai. Wanginya masih sama. Masih Sheila yang dulu kukenal namun entah mengapa aku merasa ada yang berbeda. Bukan lagi Sheila yang dulu kukenal. Atau mungkin aku yang telah berubah? Aku bukan lagi diriku yang dulu saat bersamanya? Entahlah, bahkan jutaan maaf tak akan bisa mengobati hati dua orang wanita yang ada di sampingku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2