Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 72


__ADS_3

⚘⚘⚘⚘ Berhubung vote dan likenya kendor, Upnya juga mundur ya. Gak mau kan? makanya vote dan like yang banyak, oke? ⚘⚘⚘⚘


POV DIO


Jam 9 pagi. Olahraga sudah, sarapan sudah, mandi pun sudah. Selanjutnya adalah membantu karyawan membuat furniture.


Aku mengantongi Hp di saku belakang celana, dengan seragam kerjaku yang bukan lagi kemeja berdasi melainkan hanya kaos dan celana pendek aku keluar kamar dan bergabung dengan para karyawan.


"Anto, pesenan yang mau dikirim sudah kamu packing belum?" Anto yang sedang asyik sarapan gorengan pun langsung menghentikan acara makannya dan melapor padaku.


"Udah, io. Tinggal 2 lagi yang belum. Lagi nunggu kiriman kardus buat packing lagi dibeli. Stok habis. Makanya ngemil gorengan dulu biar perut kenyang."


"Oke. Pak Budi mana?"


"Di rumah sebelah. Lagi bikin ukiran kayu. Pesenan online ada yang minta motifnya pakai ukiran klasik."


"Aku bantuin Pak Budi dulu ya." Aku meninggalkan Anto dan menemui Pak Budi yang asyik membuat ukiran kayu.


Aku menggambil pola yang belum digambar. Mengamati bentuk request yang diinginkan lalu mulai membantu Pak Budi. Kalau sudah membuat ukiran aku suka lupa waktu.


Suara tepukan di pundakku menghentikan kegiatanku mengukir. Sejak tadi Anto memanggil-manggilku namun karena suara disini amat berisik kalau sedang bekerja aku mendengarnya.


"Bos, kita mau makan siang dulu ya." Aku mengernyitkan keningku. Makan siang? Memang jam berapa sekarang? Aku mengeluarkan Hp dan kulihat sudah jam 12 lewat.


"Iya. Kita istirahat dulu. Aku gak sadar kalau sudah makan siang."


"Makanya Bos kalau lagi bikin ukiran jangan sambil mengenang masa lalu. Bos mah suka gitu. Keasyikan ngukir sambil melamun dan gak inget waktu." Aku tersenyum mendengar perkataan Anto. Memang benar, kadang aku terlalu asyik dengan lamunanku saat mengukir jadi lupa waktu.


Satu persatu karyawanku bubar untuk makan siang. Suasana pun kembali sepi. Aku pun memutuskan untuk menyelesaikan dulu ukiranku yang tinggal sedikit lagi.


"Dio.... Dio....." Lagi-lagi ada yang memanggilku.


"Iya, kenapa?" Aku merapihkan peralatan kerja dan berjalan menghampiri suara yang memanggilku.

__ADS_1


Ternyata Papa yang datang. Ia duduk di kursi depan rumah dan terlihat amat lelah. Dasi di bajunya pun dikendorkan.


"Tumben datang kesini siang-siang. Mau minum apa, Pa?"


"Lagi mumet. Minuman dingin aja. Biar seger."


"Dio ambilkan dulu." aku melewati Papa dan mengambilkan minuman teh kemasan dingin yang memang selalu aku stok saat belanja bulanan.


Aku menaruh satu di meja dan membuka satu minuman untuk kuminum. "Minum dulu, Pa."


Papa membuka botol teh dan meminumnya. "Kamu udah makan belum, io?"


Aku menggelengkan kepalaku. Aku memang belum makan karena sibuk dengan ukiranku. "Belum."


"Kerjaan kamu udah selesai belum? Kalau belum ayo temani Papa makan. Papa lapar nih."


"Udah selesai sih. Mau Dio pesenin makan pake delivery aja?"


"Gak usah. Kita ke restoran aja. Makan di tempat."


Aku lalu masuk ke kamar dan mengganti bajuku. Tak lupa mencuci wajahku dulu agar terlihat lebih manusiawi.


Papa yang sekarang sering sekali mengunjungiku. Sejak Mama melakukan aksi protes dengan berbuat semaunya dan mengancam akan mengajukan gugatan cerai, Papa bagai tak berdaya.


Seperti hari ini, sudah seminggu Mama pergi ke Semarang dan belum ada kabar kapan akan pulang. Papa sering menjemputnya dan membujuknya agar pulang, barulah Mama mau pulang. Namun kali ini sepertinya kerjaan Papa banyak jadi belum sempat membujuk Mama. Mereka jadi seperti anak kecil yang lagi marahan.


Aku pun menemani Papa makan siang. Ia mengajakku makan di restoran sabu-sabu. Lumayan makan siang gratis.


"Dio. Kapan kamu akan mengambil alih perusahaan Papa? Papa udah capek nih harus ngurusin perusahaan, belum lagi membujuk Mama kamu yang pundung melulu. Uban Papa makin banyak nih kebanyakan pikiran." ini adalah bujukan Papa yang sudah kesekiankalinya sejak aku resign.


"Kasih Om Lim aja, Pa. Dulu katanya Papa mau kasih ke Om Lim kalau Dio gak mau pegang?!"


"Ya kan itu dulu. Sekarang Papa lihat kamu udah bisa pimpin perusahaan kamu sendiri. Sudah mandiri. Papa tenang kalau meninggalkan perusahaan dipimpin kamu."

__ADS_1


"Gak usahlah, Pa. Dio lebih baik bangun perusahaan Dio sendiri." tolakku dengan halus.


Papa meletakkan sendok makannya. "Kamu masih belum maafin Papa, io? Karena itu kamu gak mau pegang perusahaan lagi?"


"Bukan gitu, Pa."


"Papa beneran nyesel sama keegoisan Papa. Dulu Papa pikir dengan memaksakan kehendak Papa maka semua akan berjalan sesuai yang Papa mau. Tapi ternyata semua berubah setelah Ayu pergi. Mama yang dengan berani menentang Papa bahkan mau menceraikan Papa. Kamu yang makin down dan hampir depresi. Serta rongrongan Sheila yang membuat kepala Papa makin pusing."


Papa menghela nafas berat. "Papa sadar apa yang Ayu ucapkan waktu itu sama Papa benar adanya. Papa udah egois banget. Memaksakan kemauan Papa malah membuat semuanya berantakan. Sekarang bahkan perusahaan yang Papa bangun dari nol dengan tujuan ingin membahagiakan kamu dan Mama malah kalian dengan terang-terangan menolaknya. Papa sekarang tinggal di rumah besar namun tanpa kehadiran kalian rasanya sepiiii sekali."


"Papa kesepian di hari tua Papa, io. Selagi Papa masih punya waktu, Papa mau memperbaiki semuanya. Papa mau memperbaiki hubungan dengan Mama terlebih dahulu. Tolong pimpin perusahaan agar Papa bisa fokus mendapatkan hati Mama kamu lagi. Hanya kamu yang bisa menolong Papa. Setelah kamu memimpin perusahaan, Papa tidak akan memaksakan lagi keinginan Papa sama kamu. Kamu mau bikin usaha kamu dari modal Papa juga gak apa-apa. Kamu mau.... mau.... mencari anak dan istrimu lagi juga.... Papa gak akan larang lagi."


Aku tertegun mendengar perkataan Papa. Benarkah sekarang Papa sudah membuka pintu restu untuk aku dan keluarga kecilku bersatu lagi?


Papa meraih tanganku dan menepuknya lembut. "Biarkan Papa menikmati masa tua Papa dengan tenang dan bisa menebus semua kesalahan Papa di masa lalu, io. Kasih Papa kesempatan untuk melakukannya. "


Aku melihat wajah Papaku yang sudah berumur senja. Wajahnya yang kuingat dulu sangat gahar dan menakutkan sekarang hanyalah sesosok Pria paruh baya kesepian yang mulai banyak keriput disana-sini. Papa walaupun otoriter tapi adalah seorang suami yang setia. Walau dulu Ia menyuruhku poligami namun Ia tidak seperti pengusaha lain yang memiliki wanita simpanan dimana-mana. Bagi Papa hanyalah Mama seorang wanita yang Ia cintai.


Kesalahannya adalah terlalu otoriter dan memaksakan semua keputusannya. Melihat keadaannya saat ini hati kecilku merasa kasihan.


"Papa hanya ditinggal Mama sesekali ke Semarang saja sudah melow, apalagi kalau Papa diposisi Dio yang sudah ditinggal istri dan tak pernah melihat anaknya selama 3 tahun?"


Yang tak kusangka terjadi. Papa menangis. Papa yang dulu selalu kuanggap laki-laki nan gagah namun sekarang menangis menyesali perbuatannya selama ini. Tangisannya terdengar amat lirih dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Kesepian Papa adalah karma yang harus Ia bayar akibat kesalahannya dulu.


"Papa menyesal, io. Papa sadar, Papa salah memperlakukan kamu dan Mama selama ini. Papa sadar, Papa sudah menyakiti Ayu dan calon anak kamu. Entah dengan apa Papa dapat menebus segala kesalahan Papa selama ini sama kalian. Beri Papa kesempatan melakukannya ya, io?" sinar mata Papa memancarkan ketulusan dan penyesalannya yang teramat dalam.


"Mau ya, io?" tanya Papa setelah aku tak juga mengatakan sepatah kata pun.


"Tolong, io....."


Siapa yang akan tega melihat Papanya yang dulu gagah bahkan sering membentak dan mengomel sekarang bahkan memohon meminta dimaafkan dan diberi kesempatan?


Tiba-tiba aku teringat perkataan Ayu. "Baiklah, Dio akan memimpin perusahaan Papa. Dengan syarat biarkan Dio memilih sendiri dengan siapa Dio akan berumah tangga kelak."

__ADS_1


"Iya, Papa janji tidak akan memaksa kehendak Papa lagi. Tolong urus perusahaan, Papa mau meluluhkan hati Mama kamu lagi. Dan satu lagi, carilah istri dan anak kamu."


__ADS_2