
"Cepat ganti baju, Yu." perintah Dio padaku. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang dililitkan di perutnya Ia berjalan santai bertelanjang dada.
Tak ada perut sixpack seperti yang biasa ada dalam drama korea. Walau begitu tubuh Dio termasuk atletis. Otot bisepnya menyembul sedikit. Kalau Ia rajin latihan pasti akan semakin macho dan hot. Hush... aku mikir apa coba. Jauh-jauh mikir yang enggak-enggak dari otakku.
"Jadi pergi memangnya?"
"Iyalah. Kita harus malam mingguan. Kayak pasangan pada umumnya." Dio memakai kaus garis-garis warna merah putih. Kalau dipakai orang lain mungkin akan terlihat seperti Kang sate, namun kalau Dio yang pakai lebih mirip model.
"Yaudah aku ganti baju dulu." Aku mengambil atasan berbahan katun warna pink dan celana jeans putih. Tak lupa tas selempang warna pink dan sepatu sandal pink juga.
"Ayo!" aku berjalan keluar rumah dan menunggu Dio yang mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
"Helmnya mana?" aku sudah siap menangkap jika Dio melemparkan helm seperti biasanya. Namun kali ini Dio turun terlebih dahulu dari motor dan memakaikanku helm.
Klik. Helmku terpasang rapat. "Tumben dipakein. Biasanya juga disuruh nangkep dulu."
"Itu kan hari kerja. Ini malam minggu, beda."
Muach. Dio mencium bibirku cepat. Aku belum pulih dari rasa kagetku atas tindakannya yang tiba-tiba tersebut.
"Ayo naik. Nanti malam aku cium lagi yang lebih lama.Tenang aja, he..he..he..."
Aku memanyunkan bibirku. "Dasar mesum!"
"Pegangan dulu dong. Biar kayak orang-orang." Dio menarik tanganku agar memeluknya lebih erat lagi.
"Udah cepetan. Mau malam nih." omelku karena kami tak juga jalan.
"Emang kenapa kalau malam? Langsung check in aja di hotel kalau gak mau kemalaman pulang." jawab Dio dengan santainya.
"Gak lah yauuww. Mending uangnya buat belanja mingguan. Bisa buat 3 minggu."
__ADS_1
"Kamu sekarang kayak emak-emak pola pikirnya he..he..he.."
"Jadi jalan gak seeeehhhh?" Dio langsung ngegas sebelum aku batal pergi jalan-jalannya.
Malam minggu lalu lintas Jakarta bukannya makin sepi malah makin ramai. Semua mobil yang biasanya anteng di dalam garasi akan keluar kandang. Kemacetannya dimana-mana. Parkiran mall akan penuh. Lebih lama mencari parkiran dibanding di dalam mallnya.
Aku pikir Dio akan mengajakku ke mall dan nonton bioskop seperti orang pacaran pada umumnya. Namun saat Dio melewatkan beberapa mall, harapanku untuk nonton bioskop sirna sudah. Apa yang Dio rencanakan kali ini?
Candle light dinner udah pasti gak mungkin. Bisa habis uang jajan Dio sebulan hanya untuk candle light dinner di restoran bintang 5.
Motor scoopy yang diberi nama Pajero ini terus melaju menembus kemacetan Jakarta di malam hari. Mau dibawa kemana aku?
Motor berbelok ke arah Kemayoran. Wah mau nongkrong di cafe nih pasti. Loh kok cuma lewatin doang?
Ternyata eh ternyata.... Dio memberhentikan scoopy Pajero kesayangannya di.... Tansu Kemayoran. Please deh Dio.....
"Kita jauh-jauh dari rumah macet-macetan cuma mau kesini?" gerutuku.
Dasar laki-laki gak peka! Cewek udah dandan rapi serba pink eh cuma diajak makan ketan susu doang. Mana rame banget lagi. Yang nyebelinnya banyak yang sambil nongkrong dan merokok. Huh... bau asap deh rambut dan bajuku.
Dengan wajah memberenggut kesal aku mengikuti Dio ke dalam. Ia sudah duduk dan memesan dua buah ketan susu. Mulutnya asyik mengunyah gorengan dan minum susu jahe hangat.
"Hi cantik! Gabung sama kita yuks." salah seorang diantara yang sedang nongkrong dengan teman-temannya menggodaku.
Huh... makin sebal aku!
"Sayang! Sini..." Dio melambaikan tangannya padaku. Ih beneran deh nih orang, bukannya langsung nyamperin dan jemput aku agar terlepas dari godaan cowok tongkrongan malah asal teriak aja.
Aku menghentakkan kakiku sebal.
"Kenapa sih? Pundungan aja jadi orang?"
__ADS_1
Kududukkan pantatku di kursi yang Dio tepuk. Wajahku masih cemberut.
"Nih coba susu jahenya. Enak deh."
Aku masih tak bergeming dari posisiku saat ini.
"Nah ini coba deh ketan susunya udah dateng. Kamu coba dulu. Aku suapin ya?"
Aku masih diam. Dio mengambil sesendok ketan susu lalu meniupnya supaya dingin.
"Buka mulutnya. Aaaa...." dengan malas aku membuka mulutku.
"Gimana? Enak kan?"
Sebenernya biasa aja sih. Tapi karena banyak yang nongkrong jadinya rame.
"Aaa lagi...." Dio menyodorkan lagi sesendok ketan padaku. Masih dengan wajah cemberut aku membuka mulutku.
"Udah ngapa. Jangan ngambek melulu. Aku udah bosan pacaran ke mall. Nonton. Candel light dinner di restoran bintang 5. Nongkrong di cafe. Aku mau pacaran seperti orang lain. Keseruan tuh bukan karena tempatnya tapi dari diri kita sendiri." Dio menyuapiku lagi.
"Jalan-jalan malam naik motor berdua sama kamu aja aku udah seneng. Nongkrong di sini makan gorengan dan ketan, mungkin bagi kamu biasa aja, namun bagiku luar biasa. Dulu waktu aku kuliah di luar negeri mana pernah aku nyobain makanan kayak gini?"
"Memangnya gak pernah pacaran sama Sheila kesini?" aku sengaja membawa nama Sheila sebagai pelampiasan atas kekesalanku.
"Mana mau Sheila diajak kesini Yu. Jangankan diajak kesini, naik motor aja Dia gak mau. Sama siapa lagi aku kesini coba kalau bukan sama kamu?" Dio menghabiskan ketan susunya yang mulai dingin.
"Oh jadi kalau sama aku ngajaknya ke tempat-tempat kayak gini, terus ke pasar tradisional gitu? Aku gak layak giti diajak ke mall atau hotel bintang lima?" Aku tidak bermaksud ngambek, aku hanya mau mempertegas sesuatu. Yakni bagaimana posisi aku di hidup Dio.
"Kamu kan beda, Yu. Dulu aku ngajak Sheila jalan ke mall dan restoran bintang lima (bukan hotel ya! tolong dibedakan) pakai uang papa. Kalau sama kamu aku gak mau. Sejak aku mutusin nikahin kamu, aku maunya menafkahi kamu pakai hasil kerja keras aku. Kamu tahu sendiri gaji aku sekarang belum bisa ngajak kamu ke restoran bintang lima." Dio menggenggam tanganku dan menatap ke dalam mataku. "Tapi nanti kalau aku sudah punya uang dari hasil kerja kerasku, aku akan mengajak kamu bukan hanya restoran bintang lima saja tapi keluar negeri kalau perlu. Itu janji aku. Tolong kamu tagih kalau aku lupa ya."
Deg... Jantungku berdebar kencang. Bukan karena kata-kata manis Dio. Namun karena aku melihat kesungguhan di dalam ucapannya dan aku juga melihat keyakinan dalam setiap perbuatannya. Ah... kalau bukan di tempat umum sudah aku cium duluan deh Dio.
__ADS_1
Aku tersenyum senang. Wajahku sudah tidak ditekuk lagi. Aku mengambil sebuah tempe goreng dan menikmatinya dengan hati riang. Aku bahkan menikmati suara sumbang pengamen jalanan yang menemani malam ini di Tansu Kemayoran.