Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 40


__ADS_3

Dio tambah merekatkan pelukannya padaku. Ia mencium lembut belakang bahuku membuat sekujur tubuhku merasa seperti dialiri gelombang listrik. Tersengat.


Dio membalikkan tubuhku dan menatapku dalam. Pandangan mata cokelatnya seakan meminta ijin namun tak memerlukan jawabanku. Tangannya membelai lembut pipiku.


Ia pun mendekatkan wajahnya padaku. Amat dekat. Cup... ciuman singkat diberikan. Ah... kenapa singkat sekali, runtuk hati kecilku. Kenapa aku kecewa ya Dio menciumku hanya sebentar saja?


Dio tersenyum. Oh Tuhan.....suamiku ini amatlah tampan. Banyak wanita diluar sana yang bahkan rela antri dan adu jotos demi mendapatkannya. Dan Dia.... kini ada didepanku. Jarak kami sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku.


Cup... pipi kananku dikecup lembut. Sudah dipastikan wajahku memerah sudah. Dio kembali tersenyum. Ia sadar wajahku memerah menahan malu. Ia pasti amat menyukainya, karena detik berikutnya Ia mencium pipi kananku. Makin memerahlah wajahku.


Tangan Dio kembali membelai wajahku. Kini Ia mendekatkan wajahnya. Aku menutup mataku siap menerima ciumannya. Tapi kok gak dicium-cium ya? Aku kan sudah memajukan bibirku?


Pelan-pelan kubuka mataku. Dio sedang tersenyum melihat bibirku yang seperti ikan mas koki. Ah betapa malunya aku. Aku menutup wajahku dengan kedu tanganku.


"Iiiihh... aku malu tau....." suara tawa Dio terdengar, tidak kencang namun cukup tertangkap telingaku.


Dio lalu membuka tanganku yang kupakai menutupi wajahku. "Aku anggap kamu kasih ijin sama aku, Yu."


Sebuah ciuman langsung Dio layangkan padaku. Ciuman lembut yang berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Dio melepaskan sebentar ciumannya saat melihat aku gelagapan. "Nafas Yu... nafas..."


Aku pun bernafas sesuai instruksinya. Kadang aku memang masih belum bisa menyeimbangi Dio jika Ia menciumku penuh nafsu seperti itu. Saat nafasku sudah stabil Dio kembali menciumku. Bertubi-tubi.


Jejak yang ditinggalkan Dio kali ini lebih banyak. Kuhitung lebih dari 10 tempat bekas kissmarknya. Dan Dio masih saja membuat jejak dimana-mana. Pakaian kami kembali bertebaran dimana-mana.


Kami melakukan lagi hubungan penuh cinta dan kasih. Kini aku terbaring lemas disampingnya yang sudah tertidur pulas. Kudekatkan tubuhku dan kupeluk erat dirinya. Akhirnya aku ikut tertidur di sampingnya. Kami bahkan lupa untuk makan malam.


******


"Heh gurrrlllllsss.... ada cogan tuh di lobby." Rini dari team marketing sebelah langsung heboh. Ia baru saja survey bertemu dengan nasabah dan datang-datang langsung heboh memberitahu rekan satu timnya.


"Yang bener? Aku turun ah mau liat." Tari yang termakan kehebohan Rini langsung turun ke bawah. Tak lama Ia naik kembali.


"Bener loh yang dibilang sama Rini. Ganteng banget gilaaa... Keliatan banget anak orang kayanya." Tari yang sekarang heboh.


"Tuh kan. Aku mah standarisasi cowok gantengnya itu tinggi. Kalau aku bilang ganteng ya pasti ganteng banget lah." seloroh Rini.

__ADS_1


"Masa sih? Aku jadi penasaran. Aku juga mau turun ah, pura-pura ke ATM biar bisa ngeliat. Pakai baju apa Doi?" Erna juga ikut-ikutan. Ramai sekali tim marketing sebelah. Setampan apa sih cowok yang mereka bicarakan?


"Pakai baju biru doungker. Jaket kulit hitam. Pakai dasi. Liat aja deh sendiri." jawab Tari.


Aku tak menyimak lagi obrolan mereka karena HP-ku berbunyi. Dio menelepon.


"Hallo, kenapa io?"


"Aku udah di lobby nih. Tapi Pak Dhana belum sampai juga."


"Yaudah aku turun temenin kamu ya. Aku ijin Mbak Dewi dulu."


Aku mematikan sambungan telepon lalu meminta ijin ke bawah pada Mbak Dewi.


Dio sedang berdiri di lobby menunggu kedatangan Pak Dhana. Penampilannya rapi dengan kemeja biru doungker dan dasi hitam yang ditutupi dengan jaket kulit warna hitamnya. Tunggu, tadi bukannya ciri-ciri yang disebutkan oleh Tari mirip dengan Dio?


Mataku celingak-celinguk mencari sosok yang mereka bicarakan. Tak ada lagi yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan selain Dio. Apa mungkin kalau orang yang mereka maksud adalah Dio?


"Yu." Dio melambaikan tangannya memanggilku. Ia pikir aku tidak melihatnya karena aku masih celingukan mencari seseorang.


"Pak Dhana masih belum datang juga?" sapaku saat bertemu suamiku Dio.


"Belum. Katanya janjian jam setengah 12. Ini sudah jam 12 kurang masih belum datang." Dio melirik jam di arlojinya. Salah satu jam bermerk yang kutahu harganya puluhan juta. Dio bilang itu hadiah dari Mama saat Ia berulang tahun tahun lalu.


"Tumben banget. Pak Dhana ngaret. Biasanya selalu ontime?"


Dio tersenyum. "Kamu cantik banget Yu pakai pakaian kerja begini."


Wajahku langsung memerah mendengar pujiannya. "Kamu juga ganteng. Kenapa kalau pulang kerja kamu udah kucel gak se-klimis ini?"


Dio tertawa mendengar komentarku. "Yaiyalah. Pulang kerja kan aku udah berjibaku sama kerjaan yang segunung, belum lagi kena asap knalpot tambah kucel lah aku. Kenapa? tersepona ya sama kegantengan aku?" Dio mendekatkan tubuhnya padaku lalu membisikkan sesuatu di telingaku. "Mau lanjutin yang semalem lagi? Semalem kan baru satu kali, biasanya kita 2 kali."


Aku memukul bahunya pelan. "Rese. Sempet-sempetnya ngomong mesum disini. Ini tuh kantor tau." omelku seraya memegang wajahku yang memanas mendengar omongan Dio.


Dio tertawa lagi. "Tapi suka kan?"

__ADS_1


"Au ah. Oh iya, aku lupa. Tadi diatas anak marketing sebelah kayakny ngomongin kamu deh. Heboh banget."


"Ngomongin apa?"


"Katanya ada cowok gan...teng dibawah." yah aku sebut Dio ganteng. Makin kegeeran deh Dia.


"Aku maksudnya?"


"Kayaknya. Bilangnya sih pakai baju biru doungker jaket jeans hitam. Siapa lagi disini yang pakai kayak gitu selain kamu. Nyebelin banget." gerutuku pelan namun dapat Dio dengar.


"Kok nyebelin?"


"Ya males aja denger mereka kayak gitu. Kecentilan banget jadi cewek. Kalau pun ada yang ganteng gak usah pakai pura-pura mau ke ATM segala cuma mau ngeliat seganteng apa. Kayak gak ada harga dirinya banget jadi cewek." cerocosku tanpa henti. Perempuan memang seperti itu, kalau sudah nyerocos seperti Valentino Rosi lagi ngebut, gak kenal berhenti. Nguuinnnggg...


"Kenapa kamu jadi marah-marah? Kamu cemburu?" Dio melipat kedua tangannya di dadanya. Membuatnya makin terlihat cool kayak oppa di film drakor. Ah pengen aku peluk rasanya. Lihat saja nanti malam aku mau bobo sambil terus memeluk Dio.


"Ya mereka gak tau aja kalau kamu tuh suami orang. Gak mandang istrinya banget sih kecentilan begitu."


"Jadi cemburu ceritanya?"


"Apaan sih nanya itu melulu."


"Habis belum dijawab. Cemburu ya? Cemburu nih ye." Dio tersenyum jahil. Aku memelototkan mataku menyuruhnya berhenti tersenyum jahil terus.


"Ih nyebelin juga kamu." Mataku melihat mobil Pak Dhana berhenti di lobby. "Itu Pak Dhana."


Pak Dhana keluar dari mobil dan langsung tersenyum ke arahku.


"Maaf sekali saya telat. Meeting saya molor setengah jam jadinya saya telat deh. Maaf sekali ya." katanya begitu sampai di dekatku.


"Gak apa-apa, Pak. Saya ngerti kok kalau Bapak orang sibuk. Santai saja. Oh iya kenalkan ini Dio. Rekan bisnis saya di bidang furniture." aku memperkenalkan Dio dan Pak Dhana. Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing.


"Mari kita bicara di cafe dalam." ajak Pak Dhana.


*****

__ADS_1


Maaf ya telat update. Lagi super sibuk nih. Jangan lupa like dan vote ya darling... luv u 😘😘😘


__ADS_2