Namaku Ayu

Namaku Ayu
Epilog


__ADS_3

Aku mengantarkan Dio sampai ke depan pintu rumah. Mencium tangannya dan tak lupa memainkan sebentar kuncir di rambut Dio.


Dio tak lupa mencium keningku dan pipi Kevin lalu masuk ke dalam mobil tanpa melepaskan kuncirannya. Yono yang melihat sudah seminggu Dio memakai kunciran rambut tertawa terbahak-bahak tanpa bosannya.


Dio melemparkan pandangan setajam silet pada Yono. Memang tuh anak gak ada takut-takutnya, tetap saja Dia menertawai bossnya tersebut. Dibalik tawa Yono ada senyum puas terukir di wajahku. Indah rasanya setiap melihat Dio dengan rambut terkuncirnya, ya walau kutahu Ia akan langsung melepasnya saat sudah masuk mobil.


Aku kembali masuk ke dalam rumah. Kuambil Hp dan mulai memesan makanan. Aku sama sekali tidak makan masakan yang di buat di rumah. Melihat nasi dalam magic com saja aku mual. Maunya nasi beli di luar titik.


Mbak Romlah tetap kusuruh memasak untuk Dio dan Kevin. Aku mau mereka terjaga makannya. Waktu kontrol ke dokter kemarin aku menceritakan tentang mual dan tak nafsu makannya diriku. Dokter bilang makan apapun yang aku suka. Kalau yang beresiko tinggi sebaiknya dihindari. Yang penting kebutuhan gizi aku dan anak dalam kandunganku terpenuhi.


Aku memesan ayam geprek tapi bukan dari ayam geprek yang sedang bersengketa nama kepemilikan itu loh. Aku pesan yang gak jauh dari komplek dan sudah kutahu rasanya.


Sambil menunggu pesanan datang aku ke halaman depan dan mulai bercocok tanam. Entah mengapa aku jadi suka menanam tanaman. Terutama cabe. Semua tanaman yang kutanam adalah pohon cabe.


Aku sudah membeli bibitnya secara online. Beraneka ragam cabe aku tanam. Dio sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Ada ya orang hamil bisa aneh begini.


Dio pasrah saja dan menuruti apapun ngidamku. Baginya ini adalah rapelan dari ngidamku sebelumnya yang belum sempat Ia lakukan dulu.


Pesananku pun datang. Setelah memberikan tips pada tukang ojek online aku langsung masuk ke dalam rumah. Ayam geprek terasa amat nikmat di lidahku. Rasa pedasnya membuatku keringetan tapi aku makan dengan lahap.


Aku baru saja membuang bungkus kertas ayam geprek ketika rasa mual itu datang lagi. Aku langsung berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan lagi semua yang kumakan. Lemas rasanya tubuhku. Apa yang salah dengan makananku? Kenapa aku merasa amat mual?


Dari kemarin aku pesan martabak, roti bakar dan sop buah baik-baik saja. Kenapa saat aku mau makan ayam geprek malah muntah?


"Mual lagi Bu?" tanya Mbak Romlah.


Aku mengangguk lemah. Mbak Romlah menuangkan segelas air hangat untuk meredakan mualku.


"Anak dalam kandungannya gak suka kali Bu. Kan ada juga tuh anak yang dalam kandungannya sensitif. Ada yang gak mau makan makanan pedas, ada yang gak mau makan manis dan ada juga gak suka makanan gurih karena kebanyakan mecin." Mbak Romlah memberitahu pengetahuan yang Ia tahu.

__ADS_1


Aku berpikir sejenak. Kalau makanan manis aku doyan. Berarti aku gak bisa yang pedas atau yang mengandung mecin?


"Makasih Mbak sarannya. Nanti aku coba makanan yang lain deh."


"Apa mau saya siapin makanan yang di rebus aja Bu tanpa pakai mecin dan rasanya gak pedas?"


"Makanan apaan memangnya?" tanyaku ingin tahu.


"Banyak Bu. Ada brokoli di kulkas dan ada tahu juga. Coba aja dulu sebelum pesan makanan di luar yang gak jelas. Lebih baik makanan rumahan yang menyehatkan."


Pinter juga nih Mbak Romlah. Pantas saja Kevin suka dari pertama mengenalnya. Selain pintar juga bisa ngemong Kevin. "Boleh deh Mbak. Tolong buatkan ya."


"Iya, Bu."


Mbak Romlah pun langsung ke dapur. Aku menunggu makanan buatannya selesai sambil menemani Kevin yang sedang menonton Youtube di TV.


"Silahkan Bu." Mbak Romlah menghidangkan sepiring brokoli rebus dan tahu rebus. Gak enak kelihatannya hanya makanan rebus saja, namun perutku yang lapar tak bisa diajak kompromi.


Mbak Romlah mengambil piring bekas kumakan dan hendak mencucinya. Aku menunggu sampai perutku mual dan ingin muntah, namun ternyata tidak terjadi.


"Gimana Bu? Mual gak?" tanya Mbak Romlah sekembalinya dari dapur.


"Enggak Mbak. Gak mual sama sekali. Enak sekarang perut saya gak lapar lagi." aku tersenyum pada Mbak Romlah.


"Berarti janin dalam kandungan Ibu sukanya makanan sehat. Besok saya buatin lagi ya Bu biar Ibu gak kelaperan lagi. Percuma beli di luar kalau ujung-ujungnya dimuntahin lagi. Malah bikin Ibu dan anaknya lemas kekurangan gizi." Tuh kan ilmu bisa didapat dari siapa saja. Gak mesti dari profesor doank, dari asisten rumah tangga juga bisa.


"Iya Mbak. Atur aja."


******

__ADS_1


Weekend ini kami sekeluarga berkumpul di rumah saja. Menikmati makan buah sambil menonton TV dan melihat ulah Kevin yang berguling-gulingan mengikuti adegan di TV.


Dio juga tidak membantu di Ayu Furniture, Ia sibuk menyuapiku buah. Aku ngapain? ya memainkan rambut Dio yang dikuncir dua lah.


Tiba-tiba ada suara yang tak asing datang dari pintu depan rumah yang sengaja tidak di tutup rapat. "Kamu lagi ngapain io? Segala rambut dikuncir dua begitu." Papa Putra dan Mama Lia yang baru semalam sampai dari jalan-jalan keliling Eropa datang dengan membawa sebuah plastik besar.


"Akiii!!!! Omaaa!!" Kevin langsung berteriak histeris memanggil kakek neneknya tersebut. Kevin berlari menghampiri dan amat bahagia bertemu mereka.


"Kapan datang Ma... Pa?" Dio menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk Mama. Kangen berat dengan mereka.


"Kemarin sore. Udah kecapean mau mampir kesini. Kamu belum jawab tuh pertanyaan Papa. Kenapa rambut kamu dikuncir dua begitu?" tanya Mama yang juga penasaran.


"Oh ini... Lagi nurutin ngidamnya Ayu nih."


"Oh... ngidam." jawab Mama dan Papa kompak. Mama dan Papa lalu menyadari perkataannya. "Ngidam? Ayu hamil?" tanya keduanya kompak.


"Iya. Udah 6 minggu."


"Wah syukurlah. Akhirnya kita bakalan punya cucu lagi Ma." Papa Putra tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Iya. Padahal mereka belum sempat liburan ke luar negeri ya. Rencana honey moon kalian batal lagi dong?" tanya Mama.


Aku lalu berjalan menghampiri Mama. Perutnya masih suka kram jadi Ia jalan pelan-pelan. Ayu memeluk Mama juga seperti yang Dio lakukan.


"Batal Ma. Biarlah bukan rejeki aku sama Dio kali." jawab Ayu pasrah.


"Padahal Mama dan Papa sudah menyiapkan dananya loh buat kalian honey moon." ada nada sedikit kecewa dalam suara Mama.


"Gak apa-apa Ma. Hmm... gimana kalau dananya disumbangin aja ke Panti Asuhan? Kan Mama sama Papa bisa dapet pahala jug?!"

__ADS_1


"Iya juga ya. Baiklah. Sekalian nanti Mama minta didoakan supaya kamu lancar dalam melahirkan nanti."


"Amin."


__ADS_2