
Dua garis.
Beneran dua garis.
Testpack pertama yang seharga 30 ribuan dua garis.
Pakai yang murah cuma goceng juga dua garis.
Masa iya secepat itu?
Aku menghitung tanggal terakhir aku menstruasi. Saat di Dufan aku udah hari terakhir menstruasi dan sekarang sudah sebulan lebih sejak liburan ke Dufan dan aku masih belum menstruasi.
Aku tadi sengaja mampir ke apotek setelah pergi ke minimarket membeli minuman dingin untuk karyawan Dio. Perutku terasa kram sejak kemarin.
Niatku ingin membeli kiranti agar lancar datang bulannya tapi segera kuurungkan. Aku lebih baik cek dulu dengan testpack. Aku beli yang agak mahal dan yang paling murah. Sengaja, untuk perbandingan.
Sampai rumah aku langsung cek. Agak ragu karena aku ngeceknya sudah jam 10 pagi bukan dengan air pipis saat baru bangun tidur.
Test pack yang mahal langsung menunjukkan dua garis. Masih penasaran, kucoba pakai test pack yang murah dan ternyata juga dua garis.
Ternyata aku memang benar hamil. Setelah hampir 3 tahun lalu merasakan hamil seorang diri, kini aku hamil lagi. Ada anak Dio lagi di dalam rahimku.
"Mommy!! Kevin mau beli bakso." aku meletakkan dua test pack diatas wastafel kamar mandi lalu keluar menghampiri Kevin yang berteriak memanggilku.
Benar saja Kevin sudah memberhentikan tukang bakso yang biasanya lewat depan rumah. "Bikinin aja Bang. Jangan pakai saus sambal ya. Pakai mie kuningnya dikit aja."
Aku menghampiri Mbak Romlah, asisten rumah tanggaku dan memberikannya uang 50 ribuan. "Mbak Romlah pesen juga ya sekalian buat Mbak. "
"Iya, Bu. Ibu mau bakso juga gak?" tanya Mbak Romlah.
Aku sudah membayangkan mualnya aroma kuah bakso langsung menolaknya. "Gak usah, Mbak. Buat kalian berdua aja."
Mbak Romlah pun mengajak Kevin ke depan dan makan bakso bareng. Aku kembali melanjutkan memeriksa laporan penjualan Ayu Furniture.
Aku merasa sudah beberapa hari ini tak ada nafsu makan. Gak ada yang terasa enak di lidahku. Aku mengusap lembut perutku seraya terus mendoakan kesehatan dan keselamatan untuk anak dalam kandunganku. Hal yang sama seperti yang kulakukan saat hamil Kevin dulu. Mengusap perut sambil berdoa.
Aku memutuskan berhenti kerja sejenak. Kuambil susu cokelat dari kulkas dan langsung kuminum. Segar rasanya. Aku mencari cemilan yang kurasa tidak akan membuatku mual.
Dan pilihanku jatuh pada keripik kentang. Rasa gurih mungkin akan membuatku jadi nafsu makan. Itu yang kupikirkan. Ternyata kenyataannya tak seindah itu.
__ADS_1
Saat keripik kentang sudah termakan setengah bungkus, rasa mual melandaku. Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh makanan yang baru saja kumakan.
Apa yang salah ya? Makan masakan rumah aku gak nafsu. Cemilan yang biasanya aku doyan pun tak nafsu. Apa begini rasanya mual saat hamil? Kenapa dulu waktu hamil Kevin tidak pernah merasakan seperti ini?
Aku menuangkan segelas air hangat untuk meredakan mualku. Kayaknya aku harus konsul ke dokter kandungan secepatnya deh.
******
Aku menugaskan Mbak Romlah untuk memasak makan malam untuk Dio. Mualku kembali saat mencium bau tumisan duo bawang. Jadinya aku menyuruh Mbak Romlah melanjutkan pekerjaanku.
Aku gantian yang menjaga Kevin. Untungnya Kevin tidak rewel. Ia asyik bermain dengan mainan Thomasnya sementara aku kembali berkutat dengan laporan keuangan Ayu Furniture.
Tak terasa Dio sudah pulang kerja. Ia langsung menghampiri Kevin dan mengusap rambutnya pelan. Dio tidak mau mencium Kevin sebelum dirinya mandi dan membersihkan tubuh.
Dio pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Baju dan handuk sudah aku siapkan tadi. Belum lama Dio masuk kamar mandi, Dio pun berteriak memanggilku.
Aku menghampiri Dio. "Kenapa Sayang? Sabunnya habis?" tanyaku.
Dio keluar kamar mandi dengan busa shampoo masih di kepalanya dan melilitkan handuk di pinggang dengan asal saja.
"Ini punya siapa?" Dio mengangkat dua buah test pack yang tadi aku tinggalkan di washtafel dan lupa kubuang.
"Ya punya aku lah.Tadi aku lupa buang." kirain ada apa. Aku baru saja hendak berbalik meninggalkannya ketika tangan Dio menghalangiku.
"Ya kalo 2 garis sih berarti hamil. Tapi kan harus periksa dulu ke dokter biar pasti." jawabku santai.
"Kok kamu gak kasih tau sih? Kalau kamu buang dua test pack ini aku gak bakal tau kalo kamu hamil kan?" terdapat kekecewaan dalam nada bicara Dio. Buru-buru aku meluruskannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Bukan gitu. Itu kan jorok. Makanya aku mau buang. Nanti sehabis kamu mandi juga akan aku kasih tau. Niatnya malah aku mau ngajak kamu buat periksa ke dokter kandungan besok."
Dio langsung tersenyum. Alasanku masuk akal. Tak ada alasan baginya untuk marah padaku. "Oke. Aku akan kosongkan jadwal besok. Yaudah aku mandi dulu habis ini kita ngobrol lagi ya."
"Iya." aku keluar dari kamar mandi dan melanjutkan pekerjaanku.
Tak lama Dio datang menghampiri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Harum sabun mandi langsung menguasai hidungku. Dio pun duduk di depanku. Dia menatap wajahku yang sedang memeriksa laporan.
"Jadi kamu mau makan apa?"
Aku mengangkat kepalaku dan menghentikan pekerjaanku. "Gak usah. Percuma. Aku gak nafsu makan."
__ADS_1
Dio mengernyitkan keningnya. "Udah mulai mual?"
Aku mengangguk. "Dari tadi aku tiap makan selalu muntah. Lama-lama capek yaudah aku gak usah makan aja sekalian."
"Jangan gitu dong. Harus dipaksa makan. Biar aku pesankan ya pakai ojek online. Mau makan apa? seafood, chinese food atau tradisional food?"
Aku membayangkan makanan yang Dio sebutkan. Kenapa tidak ada yang terasa enak yan bagiku. "Roti bakar aja deh. Atau martabak. Aku gak mau makan yang berminyak, rasanya langsung mual."
"Baiklah. Aku pesankan ya." Dio pun memesakan makanan yang kuingin makan.
"Kamu makan dulu, Sayang. Bukan aku yang masak sih. Mbak Romlah yang masak. Tadi aku mual pas numis duo bawang."
Dio mengangkat wajahnya dari layar hp. "Kayak waktu hamil Kevin dulu ya. Kamu inget gak waktu itu kamu mau bikin risol tapi aku yang disuruh menumis isiannya?"
"Oh iya ya. Aku lupa. Bener...bener... mirip waktu hamil Kevin. Tapi ini lebih mual lagi." keluhku.
"Besok kita periksa ya di dokter. Sementara kamu gak usah masak. Nanti aku isiin saldo kamu buat beli makanan. Pesan apapun yang kamu mau. Jangan paksakan diri memasak, nanti makin mual, oke?"
Aku tersenyum mendengar perhatian Dio. "Oke, boss."
"Oh iya satu lagi, pekerjaan di Ayu Furniture jangan sampai buat kamu kelelahan ya. Lebih penting kesehatan kamu dan anak dalam kandungan kamu. Pekerjaan nomor sekian. Oke?"
"Iya bawel."
"Bawel-bawel tapi suka kan?"
"Iya...iya... suka kok. Hmm... Sayang. Aku mau sesuatu nih." aku membayangkan sesuatu yang tiba-tiba melintas di pikiranku.
"Mau apa? Akan aku usahakan selama aku bisa." janji Dio.
"Hmm... tapi jangan marah ya." aku agak takut meminta permintaan ini pada Dio.
"Tenang aja, aku gak bakal marah kok."
"Aku... mau tiap lihat kamu.... rambut kamu di kuncir dua. Kalau rambut kamu begitu aku sebal."
Dio mencerna perkataanku. Apa ini yang dinamakan ngidam tapi bukan ngidam makanan? Karena Dio sudah berjanji maka Ia harus menepati.
"Baiklah. Kamu yang kuncirin ya?"
__ADS_1
"Iya. Aku ambil kunciran dulu." Aku ke kamar dan mengambil karet rambut. Senyum di wajahku mengembang bahagia melihat Dio dikuncir dua. Rasanya amat indah dipandang mataku.
Dio yang melihatku terus tersenyum tak mempermasalahkan permintaanku yang sepele ini. Toh hanya di rumah. Jarang ada orang yang akan melihatnya.