Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 37


__ADS_3

Dio sudah tertidur lelap di sampingku. Entah mengapa mata ini seakan kering dan tak mau dipejamkan. Tubuhku terasa amat lelah dengan aktivitas hari ini namun kenapa malah tidak mau tidur ya?


Aku duduk dan kubuka laci nakas di samping tempat tidurku. Kuambil pil kb yang biasa kukonsumsi tersebut. Mataku terus menatap butiran pil yang baru 2 buah kukonsumsi. Masih ada 26 buah lagi. Utuh dan tersegel baik.


Aku teringat lagi perkataan Mama kalau Dio menginginkan anak dariku. Hmmm.... kontrak kerjaku akan berakhir bulan depan dan kalau aku hamil pun sudah tidak masalah. Apa aku menuruti saja saran Mama?


Kalau aku sudah hamil dan Dio kembali lagi sama Sheila gimana? Bagaimana nasib aku dan anakku nanti?


"Kamu belum tidur, Yu?"


Aku kaget Dio ternyata terbangun. Cepat-cepat kumasukkan pil KB tersebut ke dalam laci nakas kembali.


"Gak bisa tidur." jawabku jujur.


"Udah malam. Besok kamu kerja ngantuk. Sini tidur." Dio menepuk lengannya.


Seperti anak kucing aku menurut dan menaruh kepalaku di lengan Dio.


"Bobo ya. Nanti aku tepuk-tepuk punggungnya." Dio mengusap lembut rambutku lalu melakukan seperti yang Ia ucapkan menepuk-nepuk punggungku layaknya aku anak kecil yang harus dikeloni sebelum tidur.


Lengannya yang kokoh terasa seperti tembok pelindung yang akan selalu bisa kugunakan sebagai tempat berlindung. Mata Dio terpejam namun tangannya tak berhenti terus menepuk-nepuk punggungku.


Aku terus menatap suamiku yang ganteng ini. Apakah anakku akan seganteng dirinya jika terlahir laki-laki? Atau kalau akan sangat cantik jika perempuan?


Rasanya aku butuh lebih dari lengan kokohnya untuk mengatasi kegalauan hatiku ini. Dengan berpura-pura tertidur aku memeluk erat tubuh Dio. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur. Dan aroma tubuhnya yang wangi khas laki-laki dengan parfum yang menyatu dengan aromanya membuat mataku mulai mengantuk. Ditambah Dio yang sekarang ikut memelukku erat. Tanpa terasa aku sudah masuk ke alam mimpi.


*******


"Yu, bangun. Udah siang." Suara Dio membangunkanku pagi ini.


"Masih ngantuk, io"


"Udah jam 6, Yu. Kalau kamu gak mandi sekarang nanti kita terlambat ke kantor."


Aku langsung duduk. "Apa? Jam 6? Kesiangan dong? Lalu sarapan dan makan siang kamu gimana? Aku belum siapin."


"Sst... tenang dulu. Minum air putih dulu setelah bangun tidur." Aku mengambil gelas air putih yang sudah biasa kusediakan sebelum tidur. "Kamu mandi saja. Sarapan dan bekal makan siang sudah aku siapkan."

__ADS_1


"Uh... syukurlah. Ya sudah aku mandi dulu." Aku langsung menyambar handuk yang ada di jemuran handuk dan mandi.


Saat aku keluar dari kamar mandi Dio sudah memakai kemejanya dan berkaca memastikan dandanannya rapi. Aku mengambil kemeja dan celana bahan dengan motif yang senada, garis-garis.


Dio masih berkutat di depan cermin. "Yu, pakaikan aku dasi ya bisa gak? Dari tadi aku pasang susah banget."


Oh ternyata dari tadi lagi pasang dasi. Kirain ngapain ngaca lama banget.


"Iya. Aku bisa." Aku menghampiri Dio dan memakaikannya dasi. Aku lupa kalau kemejaku belum dikancingkan dan terlihat tanktop yang kupakai.


Aku kaget saat Dio mengancingkan kemejaku. "Mau ngapain?" aku menarik tubuhku menjauhinya dan melepas dasi yang sedang kupakaikan ke Dio.


"Kemeja kamu belum di kancing. Aku gak bakalan macem-macem kok. Udah kamu pakaikan aku dasi biar kemeja kamu aku yang kancingkan. Kita udah hampir kesiangan nih." Aku memakaikan lagi dasi untuk Dio dan Dio mengancingi kemejaku. Kalau bukan karena sudah kesiangan aku pasti pakai sendiri.


Dio membawa motornya dengan ngebut. Namun saat sampai di jalan protokol laju kendaraannya melambat karena jalanan mulai padat.


"Tumben hari ini pakai dasi?" aku memulai percakapan dengannya.


"Ada meeting sama Papa. Semua yang berkepentingan harus datang. Tak terkecuali aku. Kalau aku gak rapi nanti kena omel. Males banget." Dio mengemudikan motornya menyalip dengan lincah diantara kemacetan Jakarta. Akhirnya aku sampai di kantorku dengan selamat tidak telat. Tinggal Dio berjuang sendiri semoga tidak telat sampai kantornya.


Aku menunggu kedatangan Dio yang biasanya jemput jam 5 lewat 15 menit namun sudah jam 6 sore masih belum kelihatan batang hidungnya. Aku sudah mengiriminya pesan sejak tadi namun belum Ia baca, apalagi membalasnya. Sepertinya Ia sangat sibuk sekali.


Tin. Suara klakson mobil ditujukan padaku. Mobilnya Dewa. Sedang apa Dia disini?


"Hai Yu. Ngapain berdiri di pinggir jalan jam segini? Lagi nunggu bus?" sapa Dewa dengan ramah. Sorot matanya tak pernah berubah sejak dulu. Sorot mata penuh cinta yang hanya Ia tujukan untukku. Walau aku pernah membuat sorot mata ini kecewa padaku namun sekarang sorot mata itu kembali lagi menatapku penuh cinta.


"Lagi nunggu di jemput."


"Nunggunya di cafe depan aja. Kita makan malam dulu yuk?" aku mempertimbangkan ajakan Dewa. Disini banyak nyamuk dan sejak tadi ada saja bus yang berhenti menawariku naik. Belum lagi siulan-siulan menggodaku.


"Yaudah deh." Dewa langsung turun dari mobilnya dan membukakan pintu untukku. Dewa selalu memperlakukanku layaknya ratu, hal kecil seperti membukakan pintu pun selalu Ia lakukan. Ini yang aku suka.


Dewa juga memakaikan seat beltnya padaku. Senyum bahagia terlukis dari wajahnya.


Aku langsung mengirimkan pesan pada Dio. Memberitahunya kalau aku menunggu di cafe dekat kantor. Dio tahu tempatnya.


Mobil Dewa memasuki parkiran cafe tempat dulu kami putus. Dewa kembali membukakan pintu mobil untukku. Dewa ingin merangkulku namun aku berusaha menghindar. Dewa sadar kalau aku bukan miliknya lagi dan tak berusaha merangkul lagi. Aku juga menjaga posisi Dio sebagai suamiku. Aku tidak mau dianggap sebagai istri yang berselingkuh.

__ADS_1


Dewa memesankan pesanan kami pada pelayan.


"Keadaan kamu gimana Yu setelah menikah?"


"Baik."


"Bahagia?"


Aku mengernyitkan keningku. "Kenapa kamu mau tahu?"


"Karena aku gak mau ngelihat kamu tidak dibahagiakan oleh suami kamu. Aku orang yang paling tidak ikhlas menerima kamu disakiti orang lain."


"Dio bukan orang lain, Wa. Dio suamiku."


"Iya aku tahu. Gak usah kamu pertegas lagi. Kamu bahagia gak hidup dengan suami kamu saat ini? Bagaimana Dia memperlakukan kamu?"


"Dio baik padaku. Masalah bahagia dan bagaimana Dio memperlakukanku, aku rasa itu bukan urusan kamu deh Wa. Ada batasan diantara kita yang gak bisa kita lewati. Seperti masalah rumah tangga kita masing-masing. Aku mau kamu menghormati privacy aku." kataku dengan tegas sebelum Dewa mencampuri urusan rumah tanggaku.


"Maaf, Yu. Aku...hanya belum bisa move on dari kamu." Dewa tertunduk malu.


"Wa... please.... kita udah bahas ini sebelumnya. Kamu sudah menikah juga, Wa." aku mengingatkan Dewa akan statusnya yang suami orang.


"Aku.... sudah bercerai, Yu." Aku menatap Dewa seakan tak percaya dengan perkataannya.


"Jangan bohong deh. Kamu kan baru 2 bulan berumah tangga, Wa."


"Aku gak bohong, Yu. Aku... sudah mengajukan gugatan cerai pada istriku. Aku...gak bisa menjalani pernikahan ini lagi."


"Tapi kenapa? istri kamu selingkuh?"


"Bukan. Karena.... wanita yang kunikahi bukan kamu, Yu. Aku gak bisa menikah selain dengan kamu."


Rasanya ada kilat yang menyambar dadaku. Dewa cerai karena bukan aku yang dinikahinya?


*****


Kenapa ya? kok gak banyak yang vote? Gak suka ya dengan novel Namaku Ayu ini? Kalau suka vote dan like dong. Jangan lupa kasih tahu yang lain juga ya. 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2