
"Hmm... Dio... aku mau nanya sesuatu." tanyaku ragu-ragu. Tapi rasa penasaran yang mengusikku membuat aku tidak nyaman.
"Mau nanya apa? Tapi nanti ya. Aku gerah mau mandi."
"Tapi... cuma sebentar aja nanyanya kok."
"Aku maunya mandi dulu gimana dong? Mau ikut mandi bareng? Itu udah masuk pahala karena melayani suami loh!" Dio menyunggingkan senyum jahilnya.
"Eh.. enggak usah deh. Aku nyari pahalanya lewat beresin barang-barang aja. Makasih." aku langsung kabur keluar kamar sebelum aku disuruh mandi bareng.
Bisa jantungan aku kalau tiap hari Dio menagih janji berhubungan suami istri denganku. Aduh, gimana ya cara menghindarinya?
Tidur terpisah? Gak mungkin. Di rumah ini hanya ada satu kamar tidur. Tidur di ruang tamu berarti terang-terangan menolak melayani suami dan itu artinya aku memperbolehkan Dio melampiaskan nafsunya di luar.
Gimana ya cara menghindarinya tanpa membuat Dio curiga? Aduh mana malam ini adalah malam pertama kami sebagai suami istri lagi. Biasanya kan kalau di drama korea, malam pertama tuh pasti...
Aku berjalan bolak-balik mencari ide yang tak kunjung datang. Sampai aku dengar suara Dio keluar dari kamar mandi. Kuambil handuk yang tadi sempat aku jemur di jemuran baju. Lebih baik aku mandi saja. Badanku lengket sekali rasanya.
Tanpa melihat ke arah Dio yang hanya memakai handuk yang terlilit di pinggang, aku buru-buru masuk ke kamar mandi. Untunglah kamar mandinya ada di dalam kamar, kalau malam aku mau pipis tidak jauh jalannya.
Dio yang melihat aku jalan mengendap-endap langsung berbalik badan. Untungnya aku sudah masuk ke dalam kamar mandi jadi Dia tidak komentar apapun.
Biasanya ide tuh suka datang kalau aku mandi. Oh mungkin air dingin akan membuat ide segar keluar dari kepalaku. Aku menyalahkan shower yang ternyata tidak ada pilihan air panasnya. Ya maklumlah kontrakkan kami sederhana.
Air dingin yang mengguyur kepalaku membuat aku bisa berpikir jernih. Logikanya, kalau Dio tidak nafsu berarti kan Dia tidak akan mengajakku melakukan hubungan suami istri. Cara agar Dio tidak nafsu mungkin dengan tidak makeupan di depannya. Lalu hm... kalau tidur lebih baik pakai baju tidur panjang kali ya.
Satu lagi. Aku lupa. Aku terbiasa tidur tanpa memakai bra. Mulai sekarang aku harus biasakan tidur dengan memakai bra. Apakah aku bisa?
Aku menghentakkan kakiku di lantai. Semalam saja aku masih trauma tiba-tiba sudah tidak perawan. Eh sekarang malah terancam sering berhubungan?
Aku sudah selesai mandi. Kukeringkan tubuhku dengan handuk dan memakai baju tidur yang sebelumnya sudah aku siapkan. Untunglah aku mengambil baju tidur celana dan tangan panjang.
Kamar tidur sudah gelap. Sepertinya Dio sudah tidur. Untunglah. Aku mengendap-endap tanpa suara agar tidak membangunkannya. Pelan-pelan aku tidur di sampingnya dan memakai selimut menutupi tubuhku.
Dio yang awalnya membelakangi tubuhku tiba-tiba berbalik badan. Aku amat kaget. Apalagi saat tau ternyata Ia tidak tidur.
"Tadi mau nanya apa?" Dio menagih pertanyaanku ternyata.
__ADS_1
"Oh. Gak jadi." kalau di tempat tidur kayak gini lebih baik aku gak usah nanya apakah waktu melakukan hubungan suami istri denganku Dia sadar apa tidak. Bisa saja pertanyaanku akan menginspirasi Dio untuk melakukannya lagi. Ah lebih baik aku simpan pertanyaannya untuk besok saja.
"Aku gak bisa tidur kalau penasaran kayak gini. Udah cepet mau nanya apa?"
Aku memutar otakku. Aku harus menanyakan pertanyaan tapi tidak menjurus ke arah ranjang.
"Hmm... kamu kerja dimana?" akhirnya pertanyaan umum yang kutanyakan. Toh kami memang belum saling mengenal.
"Oh nanya itu. Kirain penting sampai melarang aku mau mandi segala." Dio menopang kepalanya dengan tangannya lalu menatap ke langit-langit kamar. Ia sudah tidak menghadapku lagi. Setidaknya aku bisa sedikit bernafas lega.
"Ya kan kita harus mulai saling mengenal sekarang. Walau bagaimanapun kita akan tinggal bersama."
"Aku kerja di salah satu anak perusahaan Papa." jawab Dio singkat.
"Enak ya. Aku saja sampai susah payah untuk dapat kerjaan. Itu pun akhirnya jadi marketing. Bukan pekerja kantoran kayak manager atau staff lah minimal."
"Kata siapa enak? Aku cuma jadi kacung kampret saja di sana. Aku gak boleh ketahuan kalau anak pemilik. Bisa-bisa semua karyawan malah menjilat agar bisa dekat dengan Papa." gerutu Dio. "Oh iya mumpung kamu bahas tentang kerjaan. Aku mau beritahu sesuatu."
"Apa?" biarlah kuajak ngobrol kau Dio agar kau ngantuk dan langsung tidur, begitu pikirku.
"Bagiku sih tidak masalah. Toh aku juga kerja. Tolong rahasiakan pernikahan kita dari orang kantorku ya. Kontrakku masih 6 bulan lagi baru aku boleh menikah. Karena itulah aku sebenarnya berencana akan menikah dengan Dewa 6 bulan lagi." Aku memainkan kedua jariku. Mencoba mengusir sedih di hatiku.
"Iya. Aku gak akan bilang siapa-siapa kalau kita sudah menikah. Toh tidak ada untungnya buat aku. Sudahlah aku ngantuk. Ngobrolnya besok saja. Atau kamu mau..."
Aku yang tau kemana arah pembicaraan Dio langsung pura-pura tertidur bahkan mendengkur pelan.
"Bohongnya ketahuan Mbak. Aku juga ngantuk."
Tak lama Dio pun tertidur. Aku tahu Ia tidak bohong. Suara dengkuran halus terdengar saat Dia tertidur. Perlahan aku pun tertidur karena lelah atas kejadian yang menimpaku hari ini.
******
"Yu... yu... bangun."
"Nanti dulu Ma... masih ngantuk. 5 menit lagi ya." aku mau lanjut tidur lagi tapi kakiku terus saja ada yang menendang-nendang.
"Iiihhh.... apaan sih?" aku langsung bangun karena merasa terganggu.
__ADS_1
"Bangun. Udah siang." Dio sudah berdiri di samping tempat tidur. Ternyata benar tadi Ia membangunkanku dengan menendang-nendang kakiku dengan kakinya. Gak sopan banget. Kan bisa membangunkan baik-baik.
"Apa sih? sekarang kan hari minggu. Aku mau bangun siang." gerutuku. Aku biasa bangun siang kalau hari minggu dan Mama tidak pernah ngomel apalagi membangunkanku sekasar ini.
"Laper nih. Bikinin sarapan dong." pinta Dio.
Aku lupa kalau sekarang aku sudah menikah. Tapi kan di khayalanku tuh sehari setelah menikah biasanya orang bermesraan di tempat tidur. Peluk-pelukan. Eh malah dibangunin secara kasar lagi.
"Beli aja sih. Aku masih ngantuk nih." protesku. Memangnya masih jaman ya pagi-pagi membuatkan sarapan kayak di novel-novel? Mama saja biasanya tinggal beli nasi uduk dekat rumah saja lalu berangkat senam deh.
"Gak mau. Lagi juga gak tau beli dimana. Ayo bangun. Kita belanja ke pasar."
"Pasar?" aku paling malas diajak Mama ke pasar. Kenapa juga harus ke pasar sih?
"Iya ke pasar. Cepat mandi sana!" perintah Dio.
"Ke supermarket maksudnya?" tanyaku lagi meyakinkan.
"Pasar Sayang. Pasar tradisional. Belanja buat seminggu ke depan."
"Gak mau ah. Bau. Kotor lagi!" tolakku.
Dio lalu duduk di tempat tidur di sampingku. "Kamu tahu harga kontrakkan kita setahun?"
Aku menggelengkan kepala. Mana aku tahu. Aku kan selama ini gak pernah bayar kontrakkan.
"25 juta. Kita cuma dibayarin sama Papaku setahun. Tahun depan kita harus bayar sendiri. Belum biaya listrik, air dan keperluan sehari-hari. Gajiku dan gaji kamu tidak akan cukup jika kita kebanyakan gaya. Kita harus hemat. Kalau kita tidak mau tahun depan ngontrak di rumah yang hanya satu kamar saja."
"Ya udah minta Papa kamu bayarin aja tahun depannya lagi." kataku seenaknya saja.
"Aku kenal sifat Papa. Beliau amat keras mendidik aku. Kalau Ia bilang tahun depan kita harus bayar ya kita bayar sendiri. Udah cepat aku tunggu di motor."
"Motor? Memang kita punya motor?" tanyaku heran.
"Iya. Motorku. Tadi pagi orang suruhan Papa mengantarkannya. Sudah cepat mandi. Nanti keburu siang, sudah tidak dapat sayuran segar lagi."
"Iya, bawel." dengan menggerutu aku mengambil handuk dan segera mandi. Laki-laki kok bawel banget sih kayak ibu-ibu.
__ADS_1