
Ternyata Guntur mengajakku ke taman belakang rumahnya. Ia memberikan jus Buahvita dingin rasa lecy. Tau saja Dia kalau hampir semua orang suka rasa lecy.
"Diminum, Yu. Mau aku ambilkan cemilan juga?"
"Gak usah. Ini sudah cukup kok. Nanti kan akan makan di acara resepsi sunatan."
Aku melihat-lihat taman belakang rumah Guntur. Ada kolam ikan berisi ikan koi dengan ukuran besar. Guntur mengambil pakan ikan dan menebarkannya di kolam, membuat ikan-ikan berebut memakannya. Aku paling suka kalau melihat ikan diberi makan kayak gini.
"Sorry ya Yu, aku ngajaknya malah ke kolam ikan. Bukannya jalan-jalan keliling kota Semarang. Eh, nanti malam saja kita jalan-jalan habis maghrib. Kamu mau gak?"
"Boleh. Aku juga sekalian mau beli oleh-oleh buat teman kantorku." lagi-lagi aku mengiyakan saja ajakan Guntur. Ah bodo amat, aku mau minta ijin sama siapa coba? Dio? Dia aja tadi cuek bebek.
Aku masih melihat keseruan ikan koi yang memakan umpannya tanpa menyadari sejak tadi Guntur menatapku.
"Kamu tadi belum jawab, Yu. Kenapa sampai kamu yang akhirnya menikah dengan Dio dan bukannya Sheila?"
"Ih kepo banget." aku masih membawa santai percakapan kami.
"Aku serius, Yu. Aku kenal Dio. Hubungannya dengan Sheila sudah lama dan aku tahu betul kalau Ia cinta mati sama Sheila. Pernikahan kalian yang tiba-tiba membuat aku kaget. Aku baru tahu tadi dari Andi saat mengantarnya sunat. Andi bilang ada istrinya Om Dio yang cantik namanya Tante Ayu. Tadi saat kamu keluar dari rumah Tante Irma aku yakin kalau kamulah yang Andi ceritakan."
Aku bimbang antara tetap membiarkannya jadi rahasia atau menceritakannya saja. Sepertinya Guntur tipikal cowok yang setia kawan walau playboy cap badak.
"Kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa, Yu. Aku gak akan maksa. Itu hak kamu. Aku cuma gak mau aja kamu sampai terluka berada diantara cinta mereka berdua yang-"
"Aku menikah karena terpaksa. Karena suatu kejadian yang tanpa kami sengaja telah terjadi." kataku memotong ucapan Guntur.
Guntur menghentikan memberi makan ikan. Menaruh pakan ikan di tempatnya dan berjalan menghampiriku. "Aku udah duga. Aku lihat kesedihan di sorot mata kamu dan sudah bisa menerka apa yang terjadi. Sudah tanggung, ceritakanlah semua. Aku siap mendengarkan sebagai temanmu." Guntur melipat kedua tangannya di dadanya yang atletis tersebut.
"Tapi janji ya jangan cerita sama siapapun?"
"Iya. Aku janji."
Aku akhirnya memberanikan diri menceritakan bagaimana awal mula kejadian sampai akhirnya aku dan Dio menikah serta perjanjian antara Dio dan Papanya.
"Rumit juga ya masalah kalian. Lalu rencana kamu ke depannya gimana?"
Aku menggelengkan kepala. "Gak tau."
"Loh? ini hidup kamu loh, Yu. Kamu masih muda. Jalani hidup kamu sesuai kemauan kamu."
__ADS_1
"Kalau kemauanku adalah terus bersama Dio sedangkan Dio lebih memilih Sheila aku bisa apa?" kataku dengan putus asa.
Guntur menghela nafas berat. Ia ikut pusing dengan masalahku.
"Lepaskan saja Dio. Jangan biarkan kebebasanmu terbelenggu. Jangan khawatir, aku akan menemani kamu menghadapi setiap masalah. Aku janji!"
"Kenapa kamu melakukannya?" tanyaku heran dengan perhatian yang Guntur berikan padaku.
"Ya karena aku gak bisa tinggal diam saja melihat kamu diperlakukan seperti itu. Pergilah, Yu. Melangkah yang jauh. Aku yakin kamu masih bisa hidup normal. Banyak kok yang wanita yang sudah menjadi janda namun tetap menikmati hidupnya. Kamu cantik, Yu. Masa sih gak ada yang mau sama kamu?"
"Makasih ya kamu udah support aku. Senang rasanya ada yang mengerti dengan keadaanku. Kita lihat saja nanti saat Sheila pulang nanti. Apapun keputusan Dio, aku akan terima."
"Baiklah. Aku akan menghormati setiap keputusanmu. Ayo kita kembali lagi ke tempat resepsi. Suara musiknya udah terdengar berarti sudah mulai ramai."
Aku mengikuti langkah Guntur.
"Yu, kami kerja di perusahaan apa?"
"Aku di salah satu Bank Swasta. Kalau kamu perusahaannya bergerak dalam bidang apa?"
"Aku ekspor impor bahan makanan. Ada juga bisnis makanan hewan. Pokoknya yang bisa aku jual ke luar negeri aku lakuin."
"Tenang saja. Apalagi wanita Indonesia yang cantik kayak kamu mah gak bakalan aku jual."
"Ih gombal." kami pun tertawa bersama. Tanpa terasa kami sudah sampai di tempat resepsi. Tante Yuli yang melihat kedatanganku dengan anaknya terlihat heran.
"Loh, kok kalian malah dateng berdua? Dio sendirian saja di dalam Kalian darimana?" interogasi Tante Yuli.
"Habis kasih makan ikan koi di belakang rumah, Ma. Ayu anaknya udah cantik, asyik pula. Enak diajak ngobrol." puji Guntur yang langsung membuat wajahku memerah lagi.
"Ish.. kamu gak boleh gitu, Nak. Ayu tuh istrinya Dio loh, sepupu kamu." omel Tante Yuli sambil memukul pelan lengan Guntur.
"Guntur kalah cepet nih sama Dio. Coba kalau Guntur yang ketemu duluan sama Ayu, pasti udah Guntur pepet terus jangan sampai lepas."
"Anak bandel!" omel Tante Yuli. "Jangan dengerin, Yu. Agak gesrek nih anak Tante."
Aku tertawa melihat anak dan ibu yang terlihat seru di depanku itu.
"Udah jalan-jalannya?" tanya Dio yang tiba-tiba datang sambil memelukku dari belakang. Aku kaget melihat perubahan sikapnya. Tadi dingin sekarang sok mesra. Huh...
__ADS_1
"Tuh kan, Nak. Yang punya dateng. Kamu sih bawa istri orang jalan-jalan. Nyariin tuh suaminya." omel Tante Yuli lagi.
"Ih apa sih, Ma. Guntur udah minta ijin tadi sama Dio. Kalau Guntur bawa kabur mah gak ke halaman belakang rumah liat ikan, sekalian aja kawin lari ke luar negeri he..he...he..."
"Hush! kalau ngomong nih anak suka seenaknya aja." kali ini Tante Yuli mencubit pinggang Guntur agak kencang sampai Guntur meringis kesakitan.
"Maaf ya, Dio. Kamu tahu kan Guntur suka becanda. Jangan diambil hati ya." Tante Yuli meminta maaf pada Dio karena tidak enak akan perkataan anaknya pada Dio.
"Gak apa-apa kok, Tante. Dio tau kok Guntur cuma becanda. Soalnya Dio yakin, cinta Ayu cuma buat Dio seorang." Dio lalu memasang senyum penuh kepercayaan diri.
"Ehem... iya deh pengantin baru. Tante ke dalam dulu ya. Oh iya, Ayu kamu tadi dicariin sama Andi."
"Iya, nanti Ayu temui Andi, Tante." Tante Irma pun meninggalkan kami bertiga.
Ternyata Guntur masih belum puas mengerjai Dio.
"Dio, nanti malam aku sama Ayu mau jalan-jalan ya. Sekalian antar Ayu beli oleh-oleh buat teman kantornya." Guntur meminta ijin pada Dio untuk mengajakku jalan.
"Loh kamu kok bukannya minta antar sama aku, Yu? Kan aku bisa antar kamu kemana saja." Dio malah mempertanyakannya sama aku bukan menjawab pertanyaan Guntur.
"Sudahlah, io. Ayu sudah cerita semuanya sama aku. Kalau cuma tinggal kita bertiga saja gak usah main akting suami-istri segala. Santai saja." perkataan Guntur sontak membuat wajah Dio memerah karena emosi.
"Maksudnya apa? Kami memang suami-istri dan bukan buat main-main." ucap Dio dengan wajah serius.
"Berarti kalau kalian suami-istri kamu akan mempertahankan rumah tangga kamu dong?" Guntur kembali memancing emosi Dio.
"Tentu saja."
"Dan tidak akan menduakan Ayu kan?"
Dio hanya diam. Ia tak lagi menjawab pertanyaan Guntur.
"Itu bukan urusan kamu. Masalah rumah tanggaku biar aku yang urus. Orang lain tidak berhak ikut campur!"
Guntur menyunggingkan sebelah senyumnya. "Aku gak ingin ikut campur. Tapi aku bersedia kok mendapatkan jandanya Ayu."
*****
Ayo yang minta lanjut udah vote belum? Ayo vote dong yang banyak. Nanti aku cuti lagi nih kalau gak banyak votenya 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1