Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 30


__ADS_3

Aku berjalan seorang diri menuju tempat resepsi. Senyum manis kupasang menutupi sedihnya hatiku. Belum ada tamu yang datang, hanya sanak saudara Mama yang sudah memenuhi tempat resepsi.


Lapangan basket ini sebenarnya adalah rumah jatah warisan milik Mama. Karena Mama menolak tinggal di Semarang maka Ia berinisiatif mengubah lahan miliknya menjadi lapangan basket dan taman bermain di sampingnya. Bisa dibanyangkan dong luasnya tanah yang seharusnya menjadi milik Mama?


Lapangan Basket sudah diubah dekorasinya dengan dipasang tenda bertema tokoh favorit Andi, yakni hulk. Dengan tenda warna hijau tua berhiaskan balon besar bergambar Hulk. Walaupun terkesan childist namun setelah didekor dengan baik malah jadi keren.


Taman bermain diubah layaknya pesta kebun. Mungkin yang di lapangan khusus untuk temannya Andi dan taman bermain khusus untuk tamu undangan Tante Irma dan suaminya.


Pelayan berseragam catering sudah stand by menyiapkan makanan dan menatanya dengan indah. Ini sih acara khitanan berbudget kawinan. Mahal sudah pasti. Inilah mengapa orang kaya akan tetap kaya, karena mereka juga menikahkan anaknya dengan orang kaya juga agar kekayaannya makin bertambah. Begitupun sebaliknya.


Aku teringat lagi dengan nasibku. Alasan aku belum mau memiliki anak dari Dio dan selalu mengkonsumsi pil KB adalah aku tak mau anakku lahir karena dianggap aku yang orang biasa saja ingin memiliki anak dari orang kaya. Selain itu alasan utama adalah aku tak mau anakku kekurangan kasih sayang karena Papanya pasti akan lebih memilih pacarnya dibanding Mamanya.


Huft.... berat sekali nasibku. Sudah kayak naik roller coaster saja. Kadang bahagia banget punya suami yang terlihat sayang sama aku namun sekejap bisa berubah dan sadar aku hanya istri yang mungkin hanya sementara.


Kalau waktu itu Dio tidak bertanggung-jawab dan memberikanku rumah mewah sebagai ganti rugi mungkin aku akan menuntut Dia ke pengadilan dan berakhir kalah juga. Mana mungkin aku bisa menang melawan Papa yang banyak duit dan koneksinya. Atau aku sudah menyantet Dio karena sudah mempermalukanku. Akan kubuat Dio tidak nafsu lagi sama siapapun kecuali aku ha..ha..ha...


Kalau kupikir-pikir apa yang Dio lakukan sudah benar. Dengan menikahiku setidaknya Ia sudah bertanggung-jawab atas perbuatannya dan tidak akan menambah sakit hati keluargaku karena menghina dengan memberikan rumah mewah.


Mau bagaimanapun tetap saja aku yang terlalu banyak berharap. Aku sudah kehilangan Dewa, ya walau Dewa ngajak balikan sih tapi tetap saja aku sudah melepaskan Dewa. Dan aku akan kehilangan Dio juga. Apa aku siap menerimanya?


Dio berbeda dengan Dewa. Dewa selalu memperlakukanku seperti ratu. Apapun yang kumau selalu diturutinya. Bunga dan cokelat tak pernah lupa Ia berikan di moment istimewa kami.


Sedangkan Dio.... hmm... Dio tidak romantis. Jahil malah. Tapi Dio mau berkorban demi aku ditengah keterbatasannya namun Ia rela melakukannya. Contohnya demi mengantar dan menjemput aku pulang kerja Ia rela pulang kerja masih harus bekerja lagi hal itu dilakukan agar Ia tidak diomeli atasannya karena pulang tenggo. Dio tak pernah memberikanku cokelat dan bunga, uang dari mana? Namun Ia memberikanku hampir seluruh gajinya dan hanya menyimpan sedikit saja untuk uang ongkosnya sebulan. Dio juga membantuku mengerjakan pekerjaan rumah tanpa harus malu kalau dirinya seorang laki-laki.


"Dorr.... bengong aja Neng." Seorang laki-laki seumuran denganku tiba-tiba mengagetkanku dari belakang. Aku mengerutkan kedua alisku mengingat siapa laki-laki ini, aku belum pernah bertemu dengannya.


"Hmm... siapa ya?" tanyaku dengan kebingungan.


Laki-laki itu menepuk dahinya karena sudah sok kenal namun lupa memperkenalkan diri. "Kamu Ayu istrinya Mas Dio kan? Perkenalkan namaku Guntur, aku anaknya Papa Ridho dan Mama Yuli."


"Oh anaknya Om Ridho dan Tante Yuli. Aku Ayu istrinya Dio." aku menjabat tangan Guntur yang terulur padaku.


"Ternyata benar kata Andi. Kamu cantik." wajahku langsung memerah malu mendengar pujian Guntur.


"Enggak lah. Andi bisa aja. Namanya juga anak-anak jangan di dengerin."kataku merendah.

__ADS_1


"Justru omongan anak-anak tuh paling jujur tau. Oh iya, mana Dio? Aku belum ketemu dengannya sejak Ia datang."


Aku teringat tadi meninggalkan Dio karena sangat emosi. "Oh Dio masih siap-siap di kamar." semoga kebohonganku tidak kelihatan.


"Kita ngobrol di ayunan itu yuk. Daripada kamu bengong sendirian disini." Guntur lalu menarik tanganku tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Aku menurut saja tanpa melawan. Toh aku tidak ada teman disini.


Kami pun duduk di ayunan dan seperti anak kecil yang asyik memainkan ayunan. Untuk rambutku hanya aku sanggul simple saja dan kebayaku dipadankan dengan rok pendek jadi aku bebas bermain ayunan.


"Kamu kerja Yu di Jakarta? atau jadi ibu rumah tangga aja?"


"Aku kerja. Kalau kamu?" aku tak enak jika tidak balik bertanya. Agar obrolan kami bisa dua arah.


"Aku juga kerja tapi di Semarang. Tapi ke depannya perusahaan Papa akan buka cabang di Jakarta. Nanti aku boleh ya main ke rumah kamu dan Dio."


"Tentu saja. Saudara Dio kan juga saudara aku juga." kataku berusaha bersikap ramah.


"Kok Dio bisa nikahnya sama kamu, Yu? Setahu aku Dio pacarannya sama Sheila si model yang sombong dan urakan itu."


"Kamu kenal Sheila?" bukannya menjawab pertanyaan Guntur aku malah balik bertanya.


Hmm.. ternyata Guntur sama keponya kayak Tante Yuli ya. Tapi Guntur asyik anaknya. Walau Dio lebih tampan, namun Guntur gak kalah ganteng kok. Guntur tinggi dan badannya atletis. Dengan rambutnya yang di spike dan bulu halus di jenggotnya membuatnya terkesan macho dan maskulin. Pasti playboy cap badak juga nih kayaknya.


"Sst... sst... Yu...malah bengong lagi. Terpesona ya sama kegantenganku?"


Aku tersenyum mendengar perkataan Guntur. "Ge er kamu."


"Kamu belum jawab loh Yu kenapa malah kamu yang nikah sama Dio bukannya Sheila?" Guntur masih keukeuh dengan pertanyaannya.


"Mau tau?"


"Iyalah."


"Bener?"


"Ih udah cepetan. Bikin penasaran aja."

__ADS_1


"Kepo." aku langsung tertawa ngakak melihat perubahan ekspresi Guntur yang bete mendadak.


"Kalau bukan bininya Dio udah aku cium kamu, Yu." gerutu Guntur pelan namun aku bisa mendengarnya.


"Siapa yang mau kamu cium, Tur?" Dio yang muncul secara mendadak mengagetkan aku dan Guntur.


"Eh Dio. Apa kabar Bro?" Guntur langsung turun dari ayunannya dan memeluk saudara sepupunya tersebut. Mereka saling melepas kangen.


"Kalian sudah langsung akrab aja." komentar sekaligus sindiran Dio untuk aku dan Guntur.


"Weits... sama cewek cantik mah aku langsung bisa akrab. Iya gak Yu?" perkataan Guntur kembali membuat wajahku memerah malu. Dio melihat perubahan wajahku dan menatapnya dengan tidak suka.


"Pacarmu mana, Tur? Gak dibawa kesini?" Dio sengaja menanyakan tentang pacar Guntur agar Ia tidak kecentilan padaku.


"Udah putus. Posesif banget jadi cewek. Kebanyakan nuntut ini itu. Malesin banget."


"Memangnya kalau cowok segampang itu ya mutusin sesuatu. Kalau udah gak suka ya putus aja gitu?" tanyaku pada Guntur.


"Tergantung cowoknya sih Yu. Tapi kalau kamu yang jadi istri aku mah gak bakalan aku putusin. Bakalan aku kekepin terus sampe punya anak selusin. Ha..ha..ha.."


Aku tertawa mendengar perkataan Guntur. Lucu dan ceplas ceplos banget. Berbeda denganku, Dio malah cemberut dan dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya atas perkataan Guntur.


"Kenapa io? Jealous bininya aku gombalin?"Guntur langsung menembak Dio tepat sasaran.


"Ah. Enggak. Biasa aja. Aku mah santai orangnya. Gak cemburuan." sreeettttt... bagai disayat sebilah pisau hatiku... sakittt mendengar jawaban Dio.


"Oh kirain cemburuan. Dulu kan kamu sama Sheila suka marah kalau aku godain Sheila." jawab Guntur santai sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ya kan beda. Gak semuanya bisa dicemburuin." uuuhhhhh... pengen aku getok kepalanya Dio pakai high heelsku ini. Nyebeliiiiinnn... Kalau gak punya perasaan jangan koar-koar kayak gitu dong. Bikin aku kesannya ngarepin banget.


"Yaudah kalau gak cemburu mah. Aku mau ngajak Ayu dulu ya muter-muter komplek. Mumpung tamunya belum banyak. Boleh kan bapak suami yang tak cemburuan?"


Dio menganggukkan kepalanya. "Okey. Ayo Yu kita cabut."


Guntur mengulurkan tangannya padaku. Kesal dengan jawaban Dio dengan yakin kusambut uluran tangan Guntur tanpa menatap lagi meminta ijin padanya. Huh. Rasakan!

__ADS_1


__ADS_2