
⚘⚘⚘ Hi Semuanya! Maaf banget ya telat update. Authornya lagi ada janji. Tapi aku usahain Up kok. Jadi kalian tetap vote dan like ya😘😘😘⚘⚘⚘⚘
Dio mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambut uluran tangan Dio dan menggenggam tangannya erat seraya mengikuti langkah Papa Putra dan Kevin yang sudah berjalan duluan.
Dua orang resepsionis yang tadi kudatangi terlihat menganggukan kepala penuh hormat kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman. Mereka tidak bermaksud tidak sopan padaku, hanya saja mereka memang tidak mengenalku saja.
Banyak pasang mata yang penuh selidik melihat Dio yang terus menggenggam tanganku. Banyak juga yang langsung berbisik dibelakang kami setelah kami lewat.
Dio santai saja menanggapi pandangan mata penuh tanya dari karyawannya. Dio pernah cerita padaku, 2 bulan lalu saat mulai memimpin perusahaan bahkan tidak ada yang memandangnya dengan hormat.
Dio dianggap melakukan nepotisme. Kenaikan jabatannya semata-mata karena kekuasaan Papanya, bukan karena kemampuan yang Dio miliki. Karena itu Dio berusaha semaksimal mungkin membuktikan pada semuanya kalau Ia mampu melakukannya dengan kemampuannya sendiri.
Perlahan mereka yang memandangnya sebelah mata mulai sadar bahwa Dio juga sanggup memimpin perusahaan. Dio imajinatif, ide segar selalu Ia keluarkan sehingga perusahaan terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman. Bukan hanya menjadi old company tapi perusahaan yang selalu up to date.
Kita gak bisa memaksakan pandangan orang lain kepada kita. Begitu pula yang terjadi hari ini. Aku gak bisa memaksakan pandangan tidak percaya dari resepsionis kepadaku saat aku mengaku istri Dio. Karyawan yang lain juga tidak bisa aku paksa langsung menerima kenyataan bahwa Dio sudah menikah dan punya anak berusia hampir 3 tahun.
"Gak usah terlalu tegang begitu kali, Yu. Kayak lagi malam pertama aja." bisik Dio di telingaku ketika kami sedang menunggu lift untuk naik ke ruangannya. "Eh tapi dulu kamu enggak tegang deh waktu malam pertama." koreksi Dio lagi.
Aku mengernyitkan kening. Sekarang aku gantian membisikkan sesuatu di telinganya. "Memangnya kamu ingat bagaimana malam pertama kita dulu? Kita kan sama-sama mabuk."
Dio tersenyum penuh arti. "Ya inget lah. Aku memang mabuk tapi aku masih sadar kok bakalan lanjutin apa enggak. Dan aku mutusin buat ngelanjutin. Habisnya kamu seksi banget sih. Kasihan sama adek aku kalau aku enggak nerusin."
Aku mencubit pinggang Dio yang membuatnya meringis kesakitan. "Bohong."
"Ampun Yu. Banyak yang ngeliatin nih. Kan malu, masa atasan mereka dibilang suami-suami takut istri?" aku melepaskan cubitanku di pinggang Dio. Tak lama pintu lift pun terbuka. Security lalu mengosongkan lift untuk aku dan Dio saja, Papa dan Kevin sudah naik lift duluan tadi.
"Aku gak bohong tau Yu. Kalau ada laki-laki yang bilang mereka melakukan itu karena mabuk dan enggak sadar itu sebenarnya bohong. Karena akan ada setitik kesadaran sebelum kita melanjutkannya atau tidak."
"Ah masa sih? Buktinya kamu dulu bilang kalau kamu khilaf."
__ADS_1
"Ya emang bener. Kan aku ngakuin kalau aku khilaf. Aku gak pernah bilang loh kalau aku enggak sadar udah ngelakuin itu. Aku bilangnya khilaf. Ya khilaf akan keseksian kamu, Yu."
"Prettt... dasar gombal!" Dio lalu menarikku dalam pelukannya dan langsung mencium bibirku. Aku berusaha menolak namun Dio tidak mau melepaskannya. Jujur saja aku takut kalau ada CCTV di dalam lift ini.
Akhirnya Dio melepaskan ciumannya ketika kami mendekati lantai yang dituju. Aku memukul pelan dada Dio memberinya sedikit hukuman karena perbuatan mesumnya di muka umum.
"Tenang aja, Yu. Gak ada CCTV kok di dalam lift ini. Aku udah lama mau nyobain gimana rasanya ciuman di dalam lift. Hmm... seru juga. Ada sensasi deg-degannya juga." Dio mengelap bekas bibir merahku di bibirnya dengan sapu tangan yang selalu Ia bawa.
"Aku malu tau." kataku berterus terang.
"Kalau ciuman aja sensai deg-degannya kayak gini, gimana kalau ehem-ehem di dalam lift ya?"
Ting. Lift sudah sampai di lantai yang dituju. Aku menatap tajam Dio atas perkataannya barusan. "Jangan macem-macem. Gak usah pake sensasi-sensasi segala juga udah bikin merem melek." Aku pun melangkah keluar lift diiringi dengan tawa Dio yang berkumandang disertai wajahku yang memerah.
"Kita coba aja gimana?" masih aja Dio berusaha tak kenal lelah. Aku berkacak pinggang dan memelototkan mataku. Suatu bentuk penolakan yang hakiki.
"Iya... ampun nyonya. Becanda doang. Tapi kalau kamu setuju sih aku seneng-seneng aja." tuh kan masih usaha. Dio tuh kalau udah bertekad sesuatu tak akan goyah pendiriannya.
Papa Putra sedang duduk di samping Kevin yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan alat-alat kerja Papa.
"Kevin. Jangan diacak-acak mejanya." aku langsung memperingatkan Kevin agar tidak mengacak-acak meja Papa Putra.
"Gak apa-apa kok, Yu. Biarin aja. Yang penting Kevin senang." jawab Papa Putra dengan wajah berseri-seri.
Aku yang tidak enak dibuatnya. Oh iya aku teringat dengan bekal makan siang yang kubuatkan untuk Papa Putra dan Dio. Aku mengeluarkan bekal tersebut dan menaruhnya di meja Papa.
"Ini, Pa. Ayu bawain makan siang buat Papa." kataku dengan takut-takut.
"Oh iya. Kebetulan Papa belum makan. Kamu sudah makan belum Dio?"
__ADS_1
"Belum, Pa. Ini mau makan bekal makan siang yang Ayu bawa." Dio menunjuk bekal yang sejak tadi aku tenteng.
"Yaudah kalian makan saja di ruangan Dio. Habis makan siang Papa mau ngajak Kevin jalan-jalan beli mainan. Kalian gak usah khawatirin Kevin." aku menatap Dio meminta jawaban Dia atas permintaan Papa Putra. Aku hanya takut Kevin akan berbuat nakal dan merepotkan Papa Putra di mall nanti. Bagaimanapun Kevin kan anak kecil. Kalau sudah ngambek kadang aku saja suka kerepotan apalagi Papa yang membawanya nanti?
Seakan bisa membaca pikiran aku, Dio pun menanyakan Papa apa yang aku cemaskan. "Beneran nih Papa mau bawa Kevin? Kalau Kevin gak bisa diem di mall gimana, Pa?"
"Ah tenang aja. Kevin tuh anaknya kalem. Masih badungan juga kamu waktu kecil. Sampai guling-gulingan di lantai mall kalau gak dibeliin mainan. Sudah kalian tenang aja. Percayakan Kevin sama Papa."
Dio tak bisa berkata apa-apa. Keputusan Papa sudah bulat. Ia pun mengajakku ke ruangannya.
Ruangan Dio tidak jauh dari ruangan Papa Putra. Sekeretaris Dio menyapa dengan hangat kepadaku. Tak lupa senyum penuh hormat Ia tujukan padaku. Melihat sekretaris Dio yang berbeda dari di sinetron-sinetron ada rasa tenang sedikit di hatiku, setidaknya rasa cemasku berkurang sedikit.
Dio menitip pesan pada sekretarisnya untuk tidak diganggu kecuali kalau Papa dan Kevin sudah pulang dari jalan-jalan. Kebetulan hari ini sudah tidak ada meeting lagi jadi Dio sedikit santai.
Aku masuk ke dalam ruangan Dio. Ruangannya lumayan besar. Ada TV berukuran 40 inch beserta kursi sofa untuk tamu di dalamnya. Tak ada tempat tidur seperti kisah drama. Hanya meja kerja besar dan beberapa filling cabinet di sampingnya.
Dio merapihkan meja kerjanya dari berkas yang sudah diperiksanya dan yang belum di periksa. Aku mengeluarkan bekal makan siang dan menghidangkannya di meja kerja Dio.
"Suapin." Aku menghembuskan nafas sebal. Manja sekali memang Dio sekarang padaku. Sebagai istri yang baik aku pun menuruti perintahnya.
Aku menyuapinya dan langsung Ia makan dengan lahap. Sepertinya meeting tadi amat menguras pikirannya sehingga lapar pun melanda. Dio dengan cepat menghabiskan bekal makan siang yang kubuat.
"Enak gak?" aku menunggu jawaban Dio seperti di ajang memasak TV.
"Hmm... ada yang kurang." kritik Dio.
"Kurang apa?" tanyaku penasaran.
Aku yang sejak tadi menyuapi Dio sambil berdiri di samping kursi Dio pun memikirkan kekurangan apa dalam masakan aku.
__ADS_1
"Kurang apa? Kurang asin? atau malah keasinan? Atau kurang enak? Kalau Papa Putra gak suka gimana?" tanyaku bertubi-tubi.
"Kurang... kasih sayang." Dio pun menarik tubuhku agar duduk di pangkuannya. Dio pun langsung memelukku erat. Tak peduli aku yang berusaha melepaskannya karena takut ketahuan orang lain.