
Dewa menatap gelas berisi cokelat float kesukaannya dengan pandangan kosong. Aku sudah memulihkan kesadaranku setelah menghadapi kenyataan kalau ternyata penyebab Dewa bercerai adalah karena tidak menikah denganku. Alasan macam apa itu. Kenapa malah seperti meyalahkanku atas kegagalan rumah tangganya.
"Jadi kamu sudah resmi bercerai?" aku bertanya lagi untuk memastikan.
"Besok keputusannya. Kami sudah 2 kali sidang dan aku tidak menginginkan rujuk jadi besok tinggal putusan cerai saja." Dewa tak berani menatap mataku.
"Kenapa kamu harus mengorbankan rumah tangga kamu demi cinta kita yang sudah usai sih? Wa, lihat aku!"
Dewa mengangkat wajahnya dan menatapku lekat.
"Berhenti mengharapkan cinta kita akan bersatu, Wa. Kita memang tidak jodoh. Jalani hidup kamu dengan baik. Banyak wanita diluar sana yang lebih baik dari aku. Kamu hanya cukup membuka hati kamu, Wa. Please.... demi aku.... melihat kamu kayak gini membuat aku merasa bersalah. Aku yang sudah mengkhianati kamu duluan, Wa. Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku dulu. Tapi kamu? kamu gak salah. Kamu harus jalani hidup kamu lebih baik lagi dari aku, Wa. Please....." aku menghapus setitik air mata yang menetes di pelupuk mataku.
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami. Aku menengok ke belakang dan melihat Dio datang. Peluh masih menetes di dahinya. Sepertinya Ia terburu-buru untuk sampai kesini.
"Dio. Sini duduk dulu." aku menepuk kursi kosong di sampingku. "Kenalkan, ini Dewa. Dan... Dewa kenalkan ini Dio, suami aku."
Dio menatap Dewa dari ujung kepala hingga kaki. Sedangkan Dewa dengan terpaksa mengulurkan tangannya.
"Dio." Dio menjabat tangan Dewa.
"Dewa, pacarnya Ayu." Dio langsung melemparkan pandangan tidak sukanya. Begitupun sebaliknya.
"Duduklah, io." aku menarik tangan Dio agar duduk di sampingku. Dio pun menurut.
"Kamu mau makan apa, io?" aku memberikan buku menu agar Ia bisa pesan apa yang Ia ingin makan.
Pandangan mata Dewa terus mengawasiku dan Dio. Dewa melipat kedua tangannya di dada dan seperti bos besar yang mengawasi anak buahnya dengan mata elangnya.
"Gak usah. Nanti saja beli pecel ayam pas pulang." tolak Dio. Ia mengembalikan buku menu padaku.
__ADS_1
"Yu, kamu gak pernah diajak ke restoran mewah ya?" celetuk Dewa.
"Maksudnya apa nanya kayak gitu sama Ayu?" Dio yang menjawab pertanyaan Dewa.
"Kok makannya pecel ayam pinggir jalan? Kan gak sehat, Yu. Lebih baik kamu pesan makanan di cafe ini. Tenang aku yang bayar kalau kamu gak punya uang." Dewa mulai menyulut api kemarahan Dio.
Aku menggenggam tangan Dio. Dio menatapku minta dilepaskan tapi aku menggeleng. Dio melihat kalau aku tidak mau dirinya tersulut emosi karena ulah Dewa.
"Aku yang suka, Wa. Aku suka banget pecel ayam yang jualan deket rumah. Rasanya enak. Sambelnya mantap deh. Dio tahu kalau itu kesukaanku makanya Ia beli makan disana." aku yang menjawab pertanyaan Dewa.
"Kamu juga suka makan steak di xxxx, Yu. Waktu kita pacaran dulu kamu suka sekali kalau aku ajak kesana. Kamu sudah kesana lagi belum setelah menikah?"
Aduh Dewa.... please.... jangan menyulut emosi Dio terus. Berhentilah merendahkan Dio. Kamu tidak tahu saja Dio itu anaknya Papa putra pemilik Putra Group. Kekayaan kamu tidak akan ada apa-apanya dibandingkan kekayaan Dio.
"Aku gak kesana lagi soalnya jauh. Kan rumah kami juga jauh dari kantor. Macet pula." kembali aku memberikan jawaban agar Dio tidak tambah emosi.
"Lalu kamu masih perawatan di Derma**** gak? Jadwal kamu kan kesana sebulan 4x. Mau aku yang antar kesana?" ah itu lagi. Aku gak pernah perawatan selama menikah. Kan uang bulanan Dio pas-pasan. Mana cukup untuk aku perawatan lagi? Kenapa Dewa memancing emosi Dio terus sih?
"Sebenernya sih masih urusan aku. Terpaksa aku melepas Ayu, kalau menikah denganmu membuat Ia tidak bahagia ya akan aku ambil lagi. Aku lebih mengenal Ayu, apa yang Ia suka dan apa yang biasa Ia lakukan. Setelah menikah kamu tidak memberikan apa yang Ia suka dan apa yang biasa Dia lakukan berarti kamu kurang memperhatikan Dia." Wajah Dio merah padam menahan amarah. Aku harus turun tangan nih sebelum terjadi baku hantam.
"Ehm... Dewa... Dio gak tau karena aku gak pernah bilang aja. Bukan karena Dio gak perhatiin aku kok." aku berusaha membela Dio di depan Dewa dan hal itu membuat Dewa tidak suka. Tatapannya seakan mau memakanku.
"Memangnya kamu bisa mengambil istri orang? Jangan lupakan statusmu yang juga suami orang." Dio mulai menyahuti Dewa. Aku rasa Ia mulai gemas diprovokasi terus.
"Kenapa tidak? Asal tahu saja, besok aku resmi bercerai. Statusku akan single. Dan aku rasa Ayu tidak akan keberatan bila kami kembali bersama." Ya Tuhan Dewa... berhenti memanasi Dio terus!
Dio menyunggingkan sebelah senyumnya. "Ya kan itu status kamu yang single. Ayu kan masih double statusnya. Selama Ayu masih menjadi istriku, silahkan kubur semua impian bodohmu itu. Karena apa? Karena aku tidak akan pernah melepaskan Ayu. Apapun yang terjadi!" kilat amarah terlihat di sorot mata Dewa.
Dio seperti seekor singa yang habis mengaum untuk mengatakan pada musuhnya kalau aku adalah miliknya dan jangan berani menggodaku lagi. Dan Dewa tidak bisa berbuat apapun karena perkataan Dio benar adanya.
__ADS_1
Sebuah senyuman tiba-tiba terukir mengembang di wajahku. Aku senang mendengar kata itu keluar dari mulut Dio.
"Ayo kita pulang, Yu. Pecel ayam Mang Edi sudah menunggu." Dio bangun lalu mengulurkan tanganku.
Tanpa ragu kugenggam tangannya. "Maaf, Wa. Aku pulang dulu ya." Dewa memalingkan wajahnya tak mau melihatku pergi.
Sesampainya di parkiran....
"Nih, Yu. Tangkap!"
Huh... lagi-lagi aku harus menangkap helm yang dilemparkan Dio. Uhhh... kemana sikap gentlenya tadi??? Kenapa harus pakai adegan menangkap helm di endingnya??
******
Kubuang pil KB yang biasa kukonsumsi di tempat sampah dapur. Mengingat sikap Dio yang tadi amat gentle menurutku tak ada gunanya tetap mengkonsumsi pil KB. Aku siap menanggung konsekuensinya. Punya anak dari Dio saja aku sudah senang, aku sangat menyukai anak kecil. Jikalau nanti Dio kembali pada Sheila setidaknya aku akan memiliki separuh dirinya ada di anakku.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam Hpku. Aku membaca pesan yang terkirim. Dari Pak Dhana, salah seorang nasabah prioritas yang pernah kutawarkan produk juga pernah membeli furniture Dio.
"Selamat Malam, Pak Dhana." jawabku.
"Malam, Ayu. Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu. Bisa besok kita ketemu di lobby kantor kamu? Besok saya sekalian mau ke Bagian Prioritas. Ada hal penting."
"Hal penting apa ya Pak?"
******
Hayo digantungin lagi nih....
Votenya mana??? #kayakiklanxoncejamandulu
__ADS_1
#Authornyaudahtuwir