Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 64


__ADS_3

⚘⚘⚘⚘ Maaf ya baru Up sekarang. Seharian super sibuk + lagi berburu diskon di ol shop 🤭🤭🤭 Jangan lupa vote dan like ya... 😘😘😘😘⚘⚘⚘⚘


POV Author


Dio terburu-buru mengganti celana pendeknya dengan celana jeans. Ia lalu mengambil jaket dan bergegas pergi. Ia tahu semakin lama membiarkan Sheila di depan rumah maka akan semakin banyak masalah yang akan Ia timbulkan.


Pandangan mata Ayu sejak tadi terus tertuju padanya. Ayu mengukuti setiap langkahnya sejak masuk ke dalam rumah, berganti pakaian dan saat Ia akan pergi dari rumah. Wajahnya penuh kecemasan. Terlihat jelas Ayu berusaha menyembunyikan air matanya yang hendak mengalir deras jika tidak Ia cegah sejak tadi.


"Kamu tunggulah di rumah. Kalau aku belum pulang kamu langsung kunci pintu dan tidur saja. Pesan makan online saja. Tak usah menunggu aku langsung makan saja." pesan Dio sebelum pergi meninggalkan Ayu.


Ayu melepaskan kepergian Dio dengan usapan di punggungnya dari sang mertua. Mama mengusap punggung Ayu. Memberikan kekuatan agar Ayu kuat menghadapi cobaannya.


Ayu menatap Mama mertuanya seakan meminta dukungan. Suaminya akan pergi dengan wanita lain tapi Ia harus membiarkannya. Hatinya sakit. Amat sakit malah.


"Biarkan Dio menyelesaikan semuanya, Yu. Kamu tunggu dan lihat saja hasil akhirnya gimana." kata Mama Lia.


"Tapi Ma...." Ayu ingin membantah dan menyuarakan isi hatinya namun Ia tak punya keberanian itu. Ayu sadar kalau Dia-lah orang ketiga yang sebenarnya merusak hubungan Dio dan Sheila. Benar kata Sheila tadi, faktanya memang Ia merebut Dio dari Sheila. Ia yang menghancurkan hubungan mereka yang sudah bertahun-tahun.


"Sheila kalau kelamaan disini bisa bikin ulah, Yu. Bisa mengamuk Dia. Ingat dengan kehamilan kamu. Karena tahu bagaimana sifat asli Sheila makanya Dio membawanya pergi dari sini."


Alasan Mama memang masuk akal. Tapi Ayu merasa perkataan Sheila yang akan mengajak Dio ke hotel sungguh mengusik pikirannya. Apa mungkin mereka sering check-in. Mengingat bagaimana bernafsunya Dio terhadap Ayu. Apa dulu Dio biasa mendapat jatah dari Sheila? Apa mereka biasa melakukan free sex sebelum menikah?


Ayu melihat dari balik jendela saat Dio berjalan menghampiri Sheila. Dio menarik paksa lengan Sheila dan berjalan menghampiri mobil Sheila yang terparkir di depan rumah beriringan dengan mobil Alphard putih milik Mama Lia.


Dio menadangkan tangannya "Mana kunci mobil kamu?"


Bukannya kunci mobil yang Sheila berikan tapi... Plak... Sebuah tamparan melayang ke pipi Dio.


"Apa-apaan kamu, La? Kenapa kamu tampar aku?" Dio memegang pipinya yang terasa perih dan panas terkena tamparan Sheila.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu, io. ********!" maki Sheila. Ia tak peduli akan tatapan mata penuh rasa ingin tahu dari karyawan Dio yang melihat pertengkaran mereka. Ia juga tak peduli melihat Ayu yang mengkhawatirkan suaminya yang mendapat tamparan dari pacar yang amat Ia cintai.


"Kamu kenapa sih marah-marah melulu. Pake acara tampar aku lagi. Kenapa? Aku berbuat apa sama kamu?" Dio mulai tersulut emosinya.


"Pura-pura gak tau lagi. Memangnya aku gak liat bekas kissmark di leher Ay-" Dio langsung membekap mulut Sheila sebelum Ia melanjutkan kata-katanya.


"Kita bahas nanti. Mana kunci mobilnya?"tanya Dio dengan emosi.


Sheila menyerah dan memberikan kunci mobilnya pada Dio. Dio membuka pintu mobil dan mendorong Sheila masuk dengan kasarnya. Ia tak pernah memperlakukan Sheila seperti ini sebelumnya. Ia selalu memperlakukannya dengan lembut, namun kali ini apa yang Sheila lakukan seakan ingin mempermalukannya di depan umum sudah keterlaluan.


Dio pun masuk ke dalam mobil Sheila dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Kamu berubah, io. Kenapa kamu jadi bersikap kasar sama aku?! Kamu gak pernah gituin aku sebelumnya."


Dio diam saja dan fokus mengemudikan mobil. Ia tak menanggapi perkataan Sheila.


"Oh... jadi kamu juga cuekkin aku ya sekarang? Aku akan telepon Papa Putra dan mengadukan kekasaran kamu hari ini sama aku!" Sheila mengeluarkan Hpnya berniat mengadu dengan Papa. Secepat kilat Dio langsung merebut Hp dari tangan Sheila dan menyembunyikannya di kantong celananya.


"Gak akan!" jawab Dio tegas. Ia tak mau kalah sama ulah Sheila.


"Balikkin gak!"


Dio menepikan mobil Sheila di pinggir taman. Wajahnya sudah merah padam menahan amarah.


"Jangan kebanyakan mengadu sama Papa. Ini masalah diantara kita. Gak usah bawa Papa dalam pertengkaran kita!"


"Biar saja. Biar Papa Putra tau bagaimana kelakuan kamu setelah menikahi wanita sundal itu. Kamu cuma jadi anak pembangkang dan kasar setelah menikah dengannya!"


"Jangan mengatai wanita yang akan menjadi ibu dari anakku. Aku gak mau kamu ganggu Dia!"

__ADS_1


"Cih... aku ganggu Dia? Gak salah? Justru Dia yang mengganggu hubungan kita. Dia yang menggoda kamu sampai kamu berpaling dari aku! Semalam pun Ia menggoda kamu sampai kamu membuatkan kissmark di lehernya. ******** kamu, io!"


Sheila memukuli dada Dio dengan tangan kosongnya. Tangisnya mulai pecah. Dio membiarkan saja Sheila memukulinya. Berharap Ia dapat meluapkan kemarahannya hanya pada dirinya tak perlu mencari Ayu untuk cari masalah lagi.


Sheila mengusap air matanya. Kesedihannya berganti menjadi kemarahan yang semakin membuncah. "Sekarang jawab aku, kenapa kamu mau melakukan itu dengan Ayu? Selama ini aku meminta kamu melakukan hubungan itu dengan kamu tapi selalu kamu tolak. Apa alasan kamu? Kamu bilang mau menjaga aku sampai kita menikah. Tapi apa? Kenapa kamu malah merusak cewek jelek itu! Apa kurangnya aku dibanding Dia?"


"Aku... Aku... khilaf." kata Dio sambil menunduk.


"Kamu pikir aku bodoh? Khilaf gak mungkin sampai berkali-kali! Bahkan sampai bikin anak orang hamil!"


Dio menghembuskan nafas dalam. "Terus sekarang kamu mau apa?" tak ada perkataan apapun lagi yang sanggup Dio ucapkan. Ia seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.


"Tinggalkan wanita itu!" satu kata yang sebenarnya sudah Dio duga akan Sheila ucapkan.


"Berapa kali aku harus bilang sama kamu, Ayu sedang mengandung anak aku!"


"Ya sudah gugurkan saja. Simple kan?"


Wajah Dio memerah. Ia sudah terlalu marah sekarang. "Jadi kamu menyuruh aku membunuh anakku sendiri? Gila kamu, La!" bentak Dio kencang.


"Tuh bahkan kamu sekarang berani menyebutku gila dan berani membentakku!"


"Kamu duluan yang memancing emosi aku. Kamu duluan yang datang ke rumahku dan membuat keributan disana!"


"Kamu pikir aku hanya diam saja melihat apa yang menjadi milikku dicuri orang lain? Gak pernah dan gak akan pernah, io!"


"Apa dengan mempermalukanku akan membuat semuanya kembali dari awal? Gak bisa! Hubungan kita udah rumit. Eh malah kamu buat tambah rumit."


"Apa? Aku buat tambah rumit? Gak salah? Kamu yang memulai hubungan terlarang dengan wanita itu duluan! Kalau saja kamu bisa menahan hawa nafsu kamu malam itu hubungan kita akan baik-baik saja!" bentak Sheila tak mau kalah.

__ADS_1


Dio terdiam. Memang dari awal dirinyalah biang kerok segala kerumetan hidupnya saat ini. Dirinya yang tergoda kecantikan Ayu. Dirinya yang tak bisa menahan hawa nafsunya saat melihat Ayu. Sekarang Ia sendiri yang harus meluruskan benang kusut yang Ia buat. Entah dimulai dari mana, yang pasti benang yang kusut tak mudah dirapihkan kembali. Akan ada yang harus digunting untuk merapihkan kembali benang tersebut dalam gulungan. Namun bisakah Ia memilih mana benang yang harus Ia gunting?


__ADS_2