Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 49


__ADS_3

Hi Semuanya!!! Nungguin update ya? Ayo dong vote dulu yang banyak biar aku semangat nulisnya. Jangan lupa vote ya 😘😘😘


******


🎶 Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu


Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku


Sukmaku berteriak menegaskan kucinta padamu


Terima kasih pada Maha cinta menyatukan kita


Saat aku tak lagi di sisimu


Kutunggu kau di keabadian.....🎶


Lagu merdu yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari terdengar mengiris hatiku. Sudah menjadi kebiasaan di ruangan bekerja sambil mendengarkan musik. Entah mengapa lagu yang diputar sejak tadi adalah lagu-lagu sendu.


Lagu pun berganti. Ternyata kali ini yang mengalun lebih menyayat hati lagi.


🎶 Desir pasir di padang tandus


Segersang pemikiran hati


Terkisah 'ku di antara


Cinta yang rumit


Bila keyakinanku datang


Kasih bukan sekedar cinta


Pengorbanan cinta yang agung


Kupertaruhkan


Maafkan bila 'ku tak sempurna

__ADS_1


Cinta ini tak mungkin kucegah


Ayat-ayat cinta bercerita


Cintaku padamu...🎶


Tes.... setitik air mata menetes tanpa bisa kucegah lagi. Cepat-cepat kuhapus agar tak ada yang melihatnya. Untunglah kubikel kerjaku agak tinggi jadi teman-teman teamku tidak bisa melihatku saat menangis.


"Yu! Ayu! Ayu Febriana!" Lambaian tangan Mbak Dewi di depan wajahku membuyarkan lamunanku.


"Eh... Iya, Mbak kenapa?" Aku langsung gelagapan karena kaget.


"Kamu kenapa sih Mbak lihat dari tadi melamun aja. Ada masalah?" Mbak Dewi sungguh peka sebagai sesama wanita. Ia tahu saat rekan kerjanya dilanda masalah. Aku hanya menggelengkan kepala lemah.


"Nanti cerita ya kalau sudah siap. Mbak selalu ada buat kamu kok." Mbak Dewi tersenyum tulus padaku. Ia memang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, namun entah kapan aku bisa menceritakan semuanya pada Mbak Dewi. Aku jenis orang yang tertutup. Aku tidak suka menceritakan masalah yang kualami pada orang lain, biar kutanggung sendiri.


"Tuh kan melamun lagi." Mbak Dewi membuyarkan kembali lamunanku.


"Maaf, Mbak. Aku lagi ada masalah. Aku akan berusaha konsentrasi lagi." kataku penuh penyesalan.


"Siapa Mbak?" Sangat jarang ada yang ingin menemuiku. Paling Nasabah, itu pun kalau ada masalah saja mencariku, atau saat mereka ingin mencairkan pinjamannya.


"Gak tau. Ibu-ibu katanya."


Aku mengernyitkan keningku. Siapa yang mencariku?


"Aku ijin ke depan dulu ya Mbak." Pamitku pada Mbak Dewi.


"Udah sekalian bawa dompet kamu sana! Cuci mata biar mumet kamu ilang. Udah mau jam istirahat juga. Nanti balik istirahat kamu udah seger lagi, oke?" Baik sekali Mbakku ini, aku mau ijin ke depan saja malah disuruh sekalian istirahat.


Aku tersenyum. "Makasih, Mbak."


Aku berjalan ke meja resepsionis. Aku mencari tamu yang ingin menemuiku di kursi tunggu.


"Mama?"

__ADS_1


Mama Lia tersenyum melihatku.


"Ada apa Mama nyari Ayu? Sampai ke kantor Ayu segala."


"Mama mau bicara sama kamu. Kita bicara dimana ya yang enak?" Mama celingak-celinguk mencari tempat yang nyaman untuk kami bicara empat mata.


Aku tahu Mama pasti akan membicarakan masalah kemarin. Cepat atau lambat aku pasti akan menghadapi masalah kemarin, tak perlu aku sembunyi lagi.


"Kita keluar kantor aja ya Ma. Aku dibolehin keluar kok karena sudah mau jam istirahat."


"Baguslah. Ayo kita ke Mall disana." Mama menggandeng tanganku.


Mama menelepon supir pribadi yang mengantarnya. Sebuah mobil Alphard berwarna putih berhenti di lobby tak lama setelah Mama meneleponnya.


"Ayo, Yu." Aku mengikuti Mama menaiki mobil Alphard yang sudah dibukakan pintunya oleh supir Mama.


Aku hanya diam saja sepanjang perjalanan menuju Mall. Tidak jauh jarak dari kantor ke Mall. Sekitar 10 menit. Mobil Alphard Mama berhenti di lobby. Kami pun turun setelah supir Mama membukakan pintu untuk kami.


Mama kembali menggandeng tanganku. Sikapnya yang hangat dan keibuan membuatku lebih nyaman. "Kita belum pernah jalan bareng berdua ya Yu? Maaf ya Mama terlalu sibuk. Kapan-kapan kita ke salon bareng ya. Mama suka deh ada yang menemani Mama ke Mall kayak gini. Papa dan Dio mana mau jalan-jalan di Mall nemenin Mama shopping? Untung Mama sekarang punya kamu, anak perempuan Mama."


Aku membalas senyuman Mama. Beruntungnya aku memiliki mertua sebaik Mama Lia.


Mama mengajakku ke restauran Marugam* Ud*n. Mama memesan Beef Curry Udon untuknya dan Nikku Udon untukku.


"Lingkaran mata kamu terlihat jelas, Yu. Pasti kamu semalam gak tidur ya memikirkan masalah kemarin? Mama tau pasti berat bagi kamu dan Dio mengatasi masalah ini. Mama kalau di posisi kamu belum tentu akan sanggup menjalaninya."


Aku hanya menunduk dan diam. Mama menggenggam tanganku dan mengusapnya lembut. Kehangatannya memberikan sedikit rasa haru di dadaku. Aku terisak dan tak kuasa membendung air mataku.


"Maafin Mama ya. Mama gak bisa berbuat apapun untuk membantu kalian. Jujur, Mama sangat menyukai kamu, Yu. Mama bersyukur Dio menikah denganmu bukannya dengan pacarnya Sheila. Mama senang dengan perubahan Dio sejak bersama kamu. Dulu mana mau Dia memikirkan perusahaan apalagi orang di sekitarnya. Dio sekarang sudah berubah jadi laki-laki dewasa yang bertanggung-jawab. Mama sangat berterimakasih sama kamu, Yu."


Mama meminum es ocha untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Mama tahu apa yang Papa lakukan sama kamu tuh jahat. Mama gak bisa berbuat apa-apa Yu. Dulu yang menolong Papa adalah Papanya Sheila. Ada hutang budi yang selamanya tidak bisa Papa bayar. Hanya dengan menikahkan Sheila dan Dio maka hutang Papa sudah terbayar."


Mata Mama menatap pemandangan luar Mall yang terlihat dari jendela gedung. Ia mengenang kisah masa lalu suaminya tersebut. "Dulu Papa Putra tidak sekaya sekarang. Mirip sekali dengan Dio saat ini. Merintis usaha dari nol. Usahanya sempat bangkrut dan Papa Putra merasa amat malu karena mengajak Mama hidup susah. Papa bahkan tak mau ke rumah Mama di Semarang karena malu bertemu orang tua Mama. Gengsinya tinggi. Untunglah Papanya Sheila membantunya. Mereka sahabat sejak muda. Papa berjanji sama Papa Sheila kalau anaknya laki-laki akan Ia nikahkan dengan anak perempuan Papanya Sheila."


"Ternyata Dio dan Sheila berpacaran tanpa sepengetahuan Papa. Saat akhirnya Papa mengetahui mereka pacaran, Papa amat senang. Apalagi janji mereka akan tunangan setelah pemotretan Sheila selesai. Namun takdir berkata lain. Dio akhirnya menikahi kamu, dan merubah sifatnya yang manja menjadi mandiri."


Mama menepuk pelan tanganku. "Kehadiran kamu dalam hidup Dio sudah merubah segalanya yang bahkan tidak bisa Mama dan Papa ubah. Dulu Dio kerja hanya main-main saja. Surat teguran dan Surat Peringatan dari kantor tidak pernah Ia gubris. Ancaman Papa tak pernah Ia takuti. Namun Mama melihat sorot matanya ketakutan saat Papa mengancamnya kemarin. Sorot mata ketakutan akan kehilangan kamu. Andai, Yu.... Andai Mama bisa membuat janji Papa dibatalkan. Namun Mama tidak bisa. Janji itu sudah terukir di hati Papa. Inilah saatnya Papa harus membayar segala hutang janjinya di masa susah dulu."

__ADS_1


Aku sudah kembali terisak sekarang. Sudah banyak tissue yang kupakai untuk menghapus air mataku yang tak kunjung berhenti mengalir.


"Terus temani Dio, Yu. Jangan pernah meninggalkannya. Dio akan hancur dan terpuruk jika kamu meninggalkannya sekarang. Yang Dio butuhkan bukan Sheila pacar yang Ia cintai. Yang Dio butuh adalah kamu istrinya yang membuatnya bangkit dan merasa hidup. Mungkin takdir ini terlalu kejam buat kalian. Tapi Mama yakin, akan ada pelangi setelah badai."


__ADS_2