
"Stop! Jangan melewati batas. Walau Ayu sudah menceritakan semuanya sama kamu, yang tahu keadaan sebenarnya adalah kami berdua. Biarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri." Dio menatap ke arahku seakan tak percaya aku dengan mudahnya menceritakan permasalahan keluarga kami dengan orang lain.
"Ayo kita masuk, Yu. Jangan biarkan Papa curiga ada sesuatu diantara kita. Bisa ribet urusannya." Dio menarik tanganku, bisa kurasakan tangan dinginnya saat tangan tersebut menggenggam tanganku.
Konon kalau kita emosi, kepala boleh panas, hati boleh panas, namun tangan tetap dingin. Jangan sampai tangan ikut campur dalam setiap permasalahan.
Aku mengangguk memberi jawaban pada Guntur kalau aku akan baik-baik saja. Sinyal dariku membuat Guntur sedikit lega. Semoga tidak ada lagi pertengkaran diantara kami lagi.
Aku dan Dio memasuki area resepsi. Dio masih menggenggam erat tanganku. Kucoba sesekali mencuri pandang ke arahnya. Rahangnya masih mengeras menahan emosi.
"Dio..." kataku dengan suara bergetar. Aku takut juga melihatnya marah seperti itu.
"Jangan mengajak aku bicara. Aku sedang menahan emosi karena ulah kamu. Dan jangan jauh-jauh dariku!" kali ini Dio menatapku tajam, lebih tepatnya memelototiku.
Dio melepaskan pegangan tangannya dan menjulurkan lengannya. "Gandeng lenganku dan tetaplah tersenyum seakan semua baik-baik saja!"
Aku menurutinya. Kulingkarkan tanganku di lengannya yang kokoh. Dio lalu membawaku menemui keluarganya. Mama Lia melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku.
"Kamu cantik banget sayang." puji Mama Lia terhadapku.
"Ah Mama bisa aja. Mama tuh yang cantik. Keliatan awet muda banget." aku memuji mertuaku dengan tulus.
"Andi tuh nyariin kamu terus. Katanya Tante Ayu cantik mana? Andi mau pamer kalau Andi udah disunat. Lucu tuh anak gendut. Baru kenal aja sudah jadi fans berat kamu."
"Oh. Ayu nemuin Andi dulu ya, Ma. Kasihan nyariin Ayu dari tadi."
Dio hanya diam saja dan mengikuti kemauanku menemui Andi.
"Tante Ayu...." Andi meneriakkan namaku dengan kencang. "Cini..cini... " Ia melambaikan tangannya memintaku mendekat.
Aku baru saja hendak melepaskan pegangan tanganku pada Dio ketika menatapku tajam. Aku batalkan niatku. Jadilah aku menghampiri Andi sambil berpegangan tangan dengan Dio.
"Wah Andi hebat ya sudah berani di sunat?" puji aku membanggakan keberanian Andi.
"Iya dong. Kan Andi hebat soalnya Andi pacalnya Tante Ayu." kata Andi dengan malu-malu. Aku tertawa mendengar perkataannya.
"Pacal...pacal.. Ngomong huruf R aja masih cadel udah kenal pacar." omel Dio.
"Ih Om Dio silik aja sama aku. Tante Ayu, mau liat gak kalau Andi udah di sunat?" Aku langsung menutup mataku ketika Andi hendak membuka sarungnya.
"Heh anak kecil. Jangan mesum masih kecil udah pamer-pamer aja. Tutup. Kasihan tuh Tante Ayunya malu." Dio yang mengomeli Andi.
"Huh... Om Dio mah pelit! Andi jadi pacal Tante Ayu gak boleh. Nunjukkin yang udah di sunat juga gak boleh. Yaudah Tante Ayu sini duduk deket Andi." Andi lalu menepuk kursi di sampingnya tempat seharusnya Tante Irma berada.
"Aduh Andi, itu kan tempatnya Mama Andi. Tante Ayu duduk disana aja ya. Banyak tamu yang antri mau salamin Andi nih. Tante Ayu gak enak."
"Yaudah deh. Tapi Tante Ayu jangan pulang ya."
"Iya, Sayang. Tante Ayu baru pulang besok kok. Andi gak usah khawatir."
"Iya, Tante cantik."
"Kecil-kecil udah ngegombal aja." gerutu Dio.
Aku langsung mengajak Dio mengambil makanan agar Ia tidak menimpali Andi yang berakhir mereka saling ejek kayak anak bocah.
__ADS_1
"Kamu gak mau kambing guling, Yu? Kamu kan suka makan daging kambing?" aku tau arah pembicaraan Dio akan kemana.
"Gak ah. Bosen makan kambing melulu. Aku mau dimsum aja."
"Yaudah aku yang makan ya kambing gulingnya?" Dio sepertinya mulai mau mengajakku becanda namun aku sudah terlanjur sebal dengan sikapnya.
"Terserah. Aku mau ngambil dimsum dulu." baru saja aku hendak melepaskan pegangan tanganku dari lengannya eh Dio mendelikkan matanya lagi kepadaku.
"Kata siapa kamu boleh lepasin pegangan tangan kamu?"
"Ya kan susah ambil dimsumnya kalau sambil pegangan tangan." kataku beralasan.
"Biar aku yang ambilin. Ayo."
"Tapi kamu kan mau makan kambing guling?" aku masih berusaha mengelak agar lepas dari kungkungan Dio.
"Gak jadi. Kayaknya dimsum lebih enak. Lagi juga antri panjang, males." yah aku mau alesan apa lagi coba?
Benar saja Dio tidak memperbolehkanku melepas pegangannya. Dio memegan piring dimsum dan menyuapiku. Pokoknya bagaimanapun caranya aku gak boleh deh lepasin pegangan tanganku. Hadeh....
Guntur yang sejak tadi memperhatikanku bertanya dalam bahasa isyarat. Ia tanya ada apa? kujawab tidak ada apa-apa agar Ia tidak khawatir.
Namun bukan Guntur namanya kalau tidak pantang menyerah. Ia lalu menghampiriku dan membawakanku satu cup es krim.
"Nih, Yu. Kamu pasti suka es krim." Ia sengaja menyodorkan cup es krim agar kuambil dan melepaskan pegangan Dio.
"Mau ngapain?" Dio mendelik lagi kepadaku.
"Mau ambil es krim."
Guntur yang melihat keribetannya langsung saja mengambil satu sendok es krim. "Aku suapin aja, Yu. Aaaa...."
Aku membuka mulutku dan memakan es krim yang Guntur suapi. Dio kembali mendelik ke arahku. "Aku bilang kan jangan makan es krim nanti batuk!"
Aku tak menghiraukan ucapannya dan malah bicara ke Guntur. "Es krimnya enak. Hagen Dazs kan? Mau lagi dong."
"Kalau kamu minta suapi lagi nanti aku cium kamu di depan umum. Kamu mau?" Dio mulai mengancamku dan aku tahu Dio serius dengan perkataannya. Bisa malu aku kalau Ia sampai nekat melakukannya.
"Gak jadi, Tur. Ada yang rese!" kataku dengan wajah ditekuk.
"Suami kamu cemburuan ya Yu? Emangnya Dia cinta sama kamu? Kalau gak cinta ngapain cemburu coba?" Guntur kembali memanas-manasi Dio. Mereka ini sepupuan tapi kok ya berantem melulu, gimana sih?
"Siapa yang cemburuan? Kamu gak liat kalau Ayu yang posesif sampai gak mau melepaskan pegangannya dari lenganku?" yes, Dio termakan emosi. Salah jawab kamu, Dio.
"Aku? posesif? sama kamu? Bukannya dari tadi kamu yang gak perbolehin aku lepasin peganganku? Jangan memutarbalikkan keadaan deh, io." aku yang menjawab perkataan Dio, tak perlu Guntur lagi. Cukup Ia yang menggiring bola dan aku menendangnya ke gawang dan goll... wajah Dio memerah kembali menahan kekesalannya.
Dio lalu menarik tanganku dan membawaku ke halaman belakang rumah Tante Irma yang sekarang sepi karena semua orang sedang di tempat resepsi.
"Kenapa kamu malah membela Guntur, Yu. Bukannya membela aku, suami kamu?"
"Loh kamu sendiri kenapa lebih memilih pacar kamu dan bukan istri kamu sendiri?"
"Jangan membalikkan pertanyaanku!"
"Kamu juga jangan mau seenaknya saja dong menggantung status orang."
__ADS_1
"Siapa yang menggantung status orang? Aku gitu maksud kamu menggantung status kamu?"
"Jangan pura-pura gak tau deh." aku melipat kedua tanganku di dada, tak lagi menggandeng tangan Dio.
"Kamu statusnya ya istri aku, Yu. Dari awal aku jelas tidak menggantung status kamu. Aku nikahi kamu ya dengan tujuan agar status kamu jelas tidak digantungi. Dari mana kamu punya pikiran aku menggantung status kamu?" kami kembali bertengkar, hal yang sudah lama tidak kami lakukan.
"Iya saat ini aku istri kamu, walau istri siri. Lalu setelah Sheila pulang bagaimana? Aku mau kamu depak gitu kayak selir raja yang sudah tidak berguna lagi?!"
"Kenapa lagi-lagi kamu membahas kalau Sheila pulang. Sheila belum pulang Yu. Dan kita masih menjadi suami istri seperti biasa."
"Kenapa aku bahas kalau Sheila pulang terus? Ya karena kamu gak pernah kasih jawaban yang jelas dan meyakinkan buat aku. Kalau kamu memang tegas, cukup saja kamu jawab : aku pilih kamu, Yu bukan Sheila. Simple kan? Tapi kamu hanya muter-muter saja tanpa jawaban jelas."
Kupikir jawabanku akan membuat Dio mengatakan seperti kemauanku. Tapi ternyata Dio tersenyum. Entah kenapa aura kemarahannya seolah lenyap tiba-tiba. Apa yang salah dengan perkataanku barusan?
"Oh... jadi kamu cemburu, Yu? Kamu buat aku jengkel seharian karena kamu cemburu?" kata Dio sambil menyunggingkan senyumnya.
"Jangan membahas hal lain, io."
"Aku gak bahas hal lain. Kamu tahu itu. Kamu cemburu kalau Sheila balik dan berpikir aku akan ninggalin kamu, Yu?"
Aku diam dan tak mau menjawab pertanyaan Dio.
"Yu?"
Aku masih diam. Tak ada gunanya aku jawab. Siapa juga yang cemburu? Enggak deh.
"Kamu sudah mulai menyukaiku Yu?"
*****
Hi semua!!!
Berikut sesi tanya jawab tentang novel Namaku Ayu ini:
Thor Up 2x sehari dong?
* Hmmm... sehari sekali aja udah makan waktu buatnya apalagi 2x?
Thor crazy up dong?
\* Aku bukan penganut crazy up ya.. maaf banget. Aku menulis novel karena hobby dan bagiku novel itu harus berkualitas. Jangan karena mengejar uangnya kualitasnya gak terjaga. Big no. Lebih baik 1 episode tiap hari tapi bermutu.
Thor aku mau vote dong?
* Oh boleh banget. Gratis tis tis tis... cukup vote halaman depan pakai poin ya free... aku ikhlas deh kalau kalian vote yang banyak.
Sekali lagi selamat membaca semoga suka... dan jangan lupa like dan vote, oke? 😘😘😘😘
__ADS_1